
Lorong ini akan tembus di ruang bawah tanah toko kue sejauh seratus empat puluh kilometer. Tera memakai korek api untuk menerangi jalannya. Jika Ken menyuruhnya untuk melindungi Erikson yang asli, dia pasti membawa Erikson yang palsu. Tera tidak mengerti apa yang Ken rencanakan, kalau membawa Erikson pergi dari sini, kenapa dia membawa yang palsu kesana? Pikirnya
Tera akan menuju ke tempat Easd. Banyak anggota geng nongkrong di sana dan beberapa ada yang tinggal. Penghuni yang dikenal termasuk Ken Lunark. Mereka pasti akan mengabarkan beritanya di sana, termasuk Tera yang akan menceritakan hasil misinya.
Lorong bengkok terdapat beberapa preman, pencuri, dan penjahat lainnya. Rumah-rumah dibangun tanpa fondasi, sebagian rumah cendelanya ada yang bolong, sehingga jika hujan atau salju bisa masuk. Bangunnya tampak miring dan seram seperti mau roboh. Lorong asap dijadikan satu untuk bangunan empat tingkat, tapi Easd tempat yang aman karena kering. Sekarang area itu tidak ramai sampai menjelang sore, hanya waktu jam malam mereka bergaduh. Tera masuk ke dalam rumah mungilnya, sedangkan diatasnya adalah rumah Krista. Sama saja mungilnya. Setidaknya pas untuk berbaring tidur dan lemari kecil.
Rumah Ken ada di paling atas. Dia tinggal di loteng yang awalnya benar-benar loteng. Atapnya berbentuk segitiga yang tidak sempurna dan dinding-dindingnya rusak. Ken mengorek dompetnya sendiri untuk memperbaiki istana kecilnya, dari menambal atap dan menambal dinding hingga kering untuk terisolasi. Dimana awalnya loteng, menjadi kantor dan rumah Ken sendiri, meskipun kecilnya sama.
Lamanya Tera menunggu, akhirnya ujung hidung Krista kelihatan. "Bagaimana misimu?" Tanyanya
"Bisa dibilang, hancur lebur." Tera mengaruk-garuk kepalanya yang botak. "Kau sendiri? Dimana juga Ken?"
Krista duduk dan menghela nafas. "Sejak awal dia tidak mengincar Erikson, tapi si aktor."
Tera tertawa dari lirih menjadi terbahak-bahak, dia terlihat seperti orang idiot. "Jadi si asli tidak ada untungnya sama sekali? Aku sampai menjadi artis drama di sana tadi." Sekarang Tera benar-benar jijik disaat dia tidak ingin meninggalkan Erikson. "Terus, Ken berhasil menangkapnya. Maaf, membunuhnya?"
"Ya, Ken berhasil membunuhnya," Krista menundukkan kepalanya. "Riper, dia lah orangnya."
Tera menengok ke arah Krista perlahan-lahan. "Itu tidak benarkan?"
Krista hanya diam saja.
"Sampai kapan dia membunuh temannya sendiri?" Tera memprotes seolah-olah Ken ada di sana. Dia memang akan menghentikan seseorang yang menghambat kami. Tapi, dia itu teman kami.
__ADS_1
"Lalu, apa yang akan kita lakukan?" Tanya Tera. "Menunggu hingga Ken datang. Mungkin akan lama, dia menyuruhku untuk memberitakan ini kepada Lin. Tampaknya dia belum ada di sini."
Setelah Tera pikir panjang. Mungkin ini semua demi kami, atau hanya demi Ken. Tera tidak peduli, yang penting hanya menurut saja kepada intruksinya dan, impiannya akan terwujud untuk membanggakan ayahnya. Kematian Riper membuat Tera terkenang dimana Ken menembak Boiler. Sialan, kenapa aku mengingat orang itu. Dasar teman ****. Tera jengkel kepada Boiler dan agak banyak belas kasih. Bagaimana pun juga, dia telah menghianati kami. "Kenapa Ken bisa tahu kalau Riper itu adalah si aktor, jelaskan hingga akhir Krista."
Krista akan menjelaskan betapa menegangkan di luar sana tadi, begitu juga dengan Tera. Krista menjelaskan serinci-rincinya dan persis apa yang Ken bicarakan sewaktu dia bertanya kepadanya. Tera bangkit berdiri ingin mencari suasana yang nikmat. "Rasanya aku ingin bersantai Krista, aku akan ke kelab rubah. Berjaga-jaga saja kalau Ken mencariku." Tera pergi dan melambaikan tangannya tanpa menoleh ke belakang.
>><<>><<>><<
Detik ini tempat kelab rubah tidak begitu bising, sebagian besar hanya para petualang. Mereka mencari tempat untuk beristirahat sembari minum. Tera tetap menahan hasrat supaya tidak ikut bermain judi. Hutangnya sudah segunung dan tiap kali tera bermain judi, dapat dijanjikan bakalan kalah.
"Mau minum apa?" Anak remaja menghampiri Tera yang sedang duduk bersantai.
"Tunggu, aku tidak pernah melihatmu sebelumnya, kau bekerja di sini sejak kapan?" Kelab rubah dipimpin oleh Ken, dan Tera adalah timnya. Jelas kalau Tera juga bagian dari kelab.
Tera mengingat-ingat hari sebelumnya. Ternyata bocah itu kemarin yang menjadi bandar sewaktu Ken menerima stor uang dari pria kekar. "Apa ada orang yang membawamu ke sini?"
Orang itu mencoba mengingat-ingat sambil mellihat ke atas. "Dia dingin, tatapannya ke mata menyengat, berbaju jas hitam pasti dia pengusaha, orang yang menang judi kema---"
"Ya sudah-sudah." Tidak salah lagi, itu pasti Ken. Tera tidak menyangka ternyata Ken membutuhkan orang lagi untuk bekerja di kelab. Katanya memboros-boroskan uang. Orang itu kelihatan muda sekali, kalau Tera pikir pasti dia berkelana dari desa luar dan mencari uang untuk desanya, tapi impiannya berakhir karena tertipu. Sungguh mulia, tapi ini di Krisbow.
"Salam kenal aku pemilik kelab ini," kata Tera.
"Bukanya orang kemarin yang menang ju---"
__ADS_1
"Aku kru orang itu jadi tenanglah," sahut Tera. "Orang itu memintamu untuk apa? Bekerja di sini?" Biasanya Ken mempekerjakan orang baru untuk sementara saja."
"Ya itu benar, ini hari terakhirku di sini." Jawabnya.
"Aku belum tahu namamu, siapa?"
"Zack."
Jelas dari desa luar, namanya asing.
"Jam berapa kau pulang? Duduklah layaknya orang." Tera ingin mengobrol panjang lebar hari ini, dia mengalami hari yang berat dan butuh sesuatu yang segar.
"Sampai orang itu datang untuk menggajiku," Zack duduk di kursi.
"Aku tidak tahu pasti teman, bisa saja kau ditipu olehnya." Tera mengangkat bahunya. Ken memang suka mengusik bocah-bocah yang datang di Krisbow, salah satunya orang ini.
"Dia sudah berjanji," Zack mencondongkan kepalanya ke depan dan menempelkan kedua telapak tangannya ke meja. Suaranya agak tinggi dari sebelumnya.
"Selamat datang di Krisbow," Tera tersenyum. "Kecuali dia benar-benar menganggapmu penting. Jika hanya bekerja di sini, kau bisa jadi terjebak di kelab ini."
Mendadak bocah itu seperti orang yang mau dibunuh. Tangannya menyisir rambut dan menggenggam, layaknya frustasi. "Aku tadi bekerja hingga hampir terkencing-kencing di sana, menyamar menjadi orang tua aku kira pekerjaan yang mudah. Tapi aku malah dibawa ke medan perang. Sepanjang hari, aku tidak pernah melihat orang mati. Tidak-tidak, tapi orang membunuh." Zack menjelaskan dengan matanya terpaku ke meja.
Tera memperhatikan Zack, dia tersenyum sambil bengong. Ternyata selama ini dia bicara dengan orang yang seharusnya dia lindungi. "Dengar bocah, dia pasti datang. Harimu pasti sungguh berat." Tera tidak mengerti, sejak kemarin atau hari ini ada-ada saja yang dia temui. Setiap orang yang dia ajak ngobrol sebenarnya di sanalah uangnya berada. Mungkin ini pertanda hujan uang.
__ADS_1