
"Apa itu?" Bisik Ken.
"Torvegen," kata Reader pelan. "Untuk menjalankannya, tidak butuh kuda. Mereka masih menyempurnakan desainnya sewaktu aku pergi."
"Tidak perlu kuda?"
"Tank," gumam Tera. "Aku melihat purwarupanya ketika aku bekerja dengan pandai senjata di Ru Kraina. Di dalam kubahnya, terdapat lebih dari satu senapan. Dan moncong besar di bagian itu? Kekuatan tembaknya dasyat."
Dalam kurungan tersebut, terdapat pula senjata artileri berat yang memanfaatkan gaya gravitasi, rak-rak penuh senjata, amunisi, dan bom hitam kecil yang disebut grenatye oleh orang-orang Juwel. Pada dinding di balik kaca, senjata-senjata lebih tua terpajang rapi---kapak, tombak, busur panjang. Di atasnya, terbentang spanduk perak-putih: MARK DUSHENKAN.
Ketika Ken melirik Reader, sang lelaki besar bergumam, "Mandraguna Bärchen."
Ken menyipitkan mata ke kaca tebal. Dia mengetahui serba-serbi pertahanan dan alhasil menyimpulkan bahwa Silva benar, kaca ini adalah hasil karya Fabrikator---tahan peluru dan tak tertembus. Selagi masuk atau keluar penjara, para tahanan akan melihat senjata, amunisi, mesin perang---yang kebrutalannya mengingatkan mereka akan kekuatan negara Bärchen.
Silahkan pamer, pikir Ken. Percuma saja bersenjata besar kalau tidak tahu kemana harus mengarahkannya.
Di seberang, di balik kaca kurungan sebelah sana, dia melihat titian kedua yang tengah disusuri oleh tahanan perempuan.
Krista bakal baik saja. Ken harus tetap waspada. Mereka sekarang di wilayah musuh, tempat yang amat berbahaya. Tanpa kecerdikan dan konsentrasi penuh, mustahil meloloskan diri dari sini. Sempatkah tim Frederic sampai sejauh ini sebelum mereka ketahuan? Dan Rav Frederic sendiri di mana? Apakah dia duduk aman dan tenang di Kalterville, atauhkah dia menjadi tahanan Bärchen juga?
Semua itu tidak penting. Untuk saat ini, Ken harus memfokuskan perhatian kepada rencana mereka dan menemukan Erikson. Dia melirik yang lain. Reyn kelihatannya hendak mengompol. Reader tampak muram seperti biasa. Tera malah cengar-cengir dan berbisik, "Wah, kita berhasil menjebloskan diri ke dalam penjara paling aman di dunia. Entah kita ini genius atau kepar*t paling tol*l yang pernah menghirup udara."
"Kita akan segera tahu jawabannya."
__ADS_1
Mereka dituntun ke dalam ruangan putih lainnya, yang lain diperlengkapi bak-bak kaleng dan selang.
penjaga mengucapkan sesuatu dalam bahasa Bärchen, lalu Ken melihat Reader dan sebagian tahanan lain mulai menanggalkan pakaian. Ken menelan cairan empedu yang naik ke kerongkongannya. Dia pantang muntah.
Dia pasti bisa---dia harus bisa. Dia teringat akan Keiko. Apa yang akan Keiko katakan andai sang adik kehilangan kesempatan untuk menagih keadilan karena tak sanggup menaklukan rasa mual nan bodoh di dalam dirinya? Namun, memikirkan Keiko berarti mengingat-ingat dagingnya yang dingin, kulitnya yang menggelambir di air asin, tubuh-tubuh yang mengerumuninya di danau berlunas datar. Pengelihatan Ken mulai kabur.
Kendalikan dirimu, Lunark, dia memarahi diri sendiri dengan sengit. Teguran ternyata tak membantu. Dia akan pingsan kembali dan kemudian, tamatlah semua ini. Krista sempat menawari untuk mengajarkannya cara jatuh. "Intinya adalah jangan sampai jatuh," Ken berkata sambil tertawa. "Bukan, Ken," kata Krista. "Intinya adalah bagaimana supaya bisa bangun lagi." Lagi-lagi kata-kata mutiara Zemeni, tapi entah bagaimana mengenang suara Krista justru membantu. Dia lebih tangguh dari pada yang ini. Harus begitu. Bukan cuma demi Keiko, melainkan juga demi krunya. Dia sudah membawa orang-orang ini ke sini. Dia sudah membawa Krista ke sini. Dia bertanggung jawab mengeluarkan mereka dari sini.
Intinya adalah bagaimana supaya bisa bangun lagi. Ken mempertahankan suara Krista dalam kepalanya, mengulangi kata-kata itu, berkali-kali, sementara dia menanggalkan sepatu bot, pakaian, dan akhirnya sarung tangan.
Dia melihat Tera memperhatikan tangannya. "Apa yang kau harapkan?" hardik Ken.
"Cakar, setidaknya," kata Tera sambil memalingkan pandang ke kaki telanjangnya sendiri yang ceking. "Barangkali jempol berduri."
Penjaga kembali setelah membuang pakaian mereka ke dalam tong yang tak diragukan akan dibawa ke tungku pembakaran. Si penjaga memiringkan kepala Ken ke belakang dengan kasar dan memaksanya membuka mulut, lalu menyogok mulutnya ke sana-kemari dengan jari nan gendut. Bintik-bintik hitam merekah di pengelihatan Ken sementara dia berjuang agar tetap sadar. Jari si penjaga melewati celah di gigi Ken tempatnya menyelipkan Baloon, kemudian mencubit dan menusuk sebelah dalam pipinya.
Ketika dia keluar, dalam keadaan basah kuyup dan menggigil, seorang penjaga lain memberi Ken celana penjang penjara yang tak bewarna dan tunik dari tumpukan di sampingnya. Ken mengenakan pakaian tersebut, lalu terpincang-pincang ke area penahanan beserta para tahanan lain. Pada saat itu, dia rela menyerahkan setengah dari jatah imbalannya demi merasakan bobot tongkatnya yang familier.
Sel tahanan sementara lebih mirip dengan penjara yang dia bayangkan---tak ada batu putih atau panel kaca, cuma batu kelabu lembap dan jeruji besi.
Mereka digiring ke dalam sel yang sudah penuh. Reader duduk sambil memunggungi dinding, matanya yang disipitkan mengamat-amati para pria yang mondar-mandir. Ken bertopang ke jeruji besi sambil memperhatikan para penjaga yang menjauh. Dia bisa merasakan gerak tubuh di belakangnya. Ruang yang tersedia memang mencukupi, tapi masih terlampau sesak. Tahan sebentar lagi saja, kata Ken dalam hati. Tangannya serasa kosong melompong.
Ken menunggu. Dia tahu akan ada apa. Dia sudah menaksir yang lain begitu mereka memasuki sel dan tahu berapa yang akan mendatanginya adalah si orang Knuddelbär gempal bertanda lahir. Orang itu gelisah, penggugup, dan kentara sekali mengamat-amati kaki Ken yang pincang.
__ADS_1
"Hei, pincang," kata si orang Knuddelbär dalam bahasa Bärchen. Dia mencoba lagi dalam bahasa Kalterville, logatnya kental. "Hei, cacat." Dia tak perlu repot-repot. Ken mengetahui kata pincang dalam banyak bahasa.
Sesaat berikutnya, Ken merasakan udara bergerak saat si orang Knuddelbär menggapainya. Dia melangkah ke kiri dan terhuyung-huyunglah si orang Knuddelbär ke depan, terbawa oleh momentumnya sendiri. Ken membantu dengan menyambar lengan pria itu dan menjejalkannya ke sela jeruji, sampai ke pundak. Si orang Knuddelbär menggerung keras-keras saat wajahnya membentur jeruji besi.
Ken mengimpit lengan bawah pria itu ke besi. Dia menumpukan bobotnya ke tubuh sang lawan dan merasakan letupan nan memuaskan saat lengan si orang Knuddelbär tergeser dari badannya. Saat pria itu membuka mulut untuk menjerit, Ken menutupi mulutnya dengan satu tangan dan menjepit hidungnya dengan tangan yang sebelah lagi. Begitu jarinya bersentuhan dengan kulit telanjang, dia merasa ingin muntah.
"Sssst," kata Ken, menggunakan cengkeraman di hidung pria itu untuk menggiring ke belakang sampai ke bangku yang merapat ke dinding. Para tahanan lain buyar untuk membuka jalan.
Pria itu terempas ke bangku, matanya berair, napasnya mengap-mengap. Ken terus memegangi hidung dan mulutnya. Si orang Knuddelbär gemetaran di bawah cengkeramannya.
"Kau ingin kubetulkan?" tanya Ken.
Si orang Knuddelbär merintih.
"Mau, tidak?"
Pria itu merintih lebih keras sementara para tahanan lain menonton.
"Kalau kau menjerit, akan kupastikan lenganmu takkan bisa dipakai lagi, mengerti?"
Ken melepaskan mulut pria itu dan menjejalkan lengannya kembali ke persendian. Si orang Knuddelbär berguling ke samping, lantas meringkuk di bangku dan mulai menangis.
Ken mengusap tangannya ke celana panjang dan kembali ke tempatnya di jeruji. Dia bisa merasakan tatapan mata yang lain, tapi kini dia tahu dirinya takkan diusik-usik.
__ADS_1
Van menghampirinya. "Apa yang barusan terjadi benar-benar perlu?"
"Tidak." Padahal perlu---supaya yang lain membiarkan mereka melakukan apa pun yang harus mereka lakukan dan demi mengingatkan diri sendiri bahwa dia masih berdaya.