
...[Sembila Dentang]...
"Bagaimana kalau kubilang tidak, Lunark?" Reader tahu dia cuma berlagak. Waktunya protes sudah berlalu. Mereka sudah berlari-lari kecil menuruni atap kedutaan yang melandai untuk menuju ke sektor Dushenka, Reyn tersengal-sengal kecapekan, Tera melesat dengan enteng, sedangkan Lunark menyamai kecepatan mereka sekalipun jalannya terpincang-pincang dan tanpa tongkat. Namun, Reader tidak suka pencuri ini ternyata lihai sekali membacanya. "Bagaimana kalau aku tidak mengorbankan secuil terakhir integritas dan kehormatanku?"
"Kau pasti mau, Reader. Silva sedang dalam perjalanan ke Pulau Putih saat ini. Apa kau akan sungguh-sungguh akan menelantarkannya di sana?"
"Kau ini banyak berasumsi."
"Rasanya asumsiku sudah pas."
"Yang sebelah sini itu pengadilan, kan?" kata Tera selagi mereka berpacu di atas atap, sesekali melihat pekarangan asri yang berkelabat di bawah, masing-masing dibangun di seputar air mancur yang menggelegak dan ditanami pohon-pohon dedalu berlapis es yang daun-daunnya mendesir. "Menurutku ini bukan tempat yang jelek untuk divonis mati."
"Air di mana-mana," kata Reyn. "Apa air mancur itu menyimbolkan Syel?"
"Mata air," celetuk Ken. "Tempat semua dosa tercuci bersih."
"Atau tempat mereka menenggelamkan kita dan memaksa kita mengaku," ujar Reyn.
Tera mendengus. "Reyn, pikiranmu sekarang gelap betul. Aku takut Geak memberimu pengaruh buruk."
Mereka menggunakan tambang yang diketuk menjadi dua dan kait panjat untuk menyebrang ke atap sektor Dushenka. Reyn mesti menyangkutkan dirinya ke cantelan. "Silahkan tertawa, Tera. Keselamatan nomor pertama." Tapi Tera dan Ken merambati tambang dengan mudah dan teramat cepat, menggerakan tangan mereka satu-satu. Reader menyeberang dengan lebih berhati-hati dan, sekalipun tidak menampakkannya, pemuda itu tidak suka karena tambang berderit dan menggelendot keberatan bobotnya.
Yang lain menariknya ke atas batu di atap sektor Dushenka dan, saat Reader berdiri, vertigo mendadak melandanya. Lebih daripada tempat lain di seluruh dunia, inilah yang serasa bagai rumahnya. Namun, rumah ini serasa diputar balik, kehidupannya seolah-olah tengah dipandangi dari sudut yang keliru. Selagi menyipitkan mata ke kegelapan, Reader melihat jendela langit-langit berbentuk piramida mahabesar. Dia disergap oleh perasaan tidak enak, seakan-akan jika dia menengok ke balik kaca maka dia akan melihat dirinya tengah melatih diri di ruang latihan, duduk di balik meja panjang di ruang makan.
Di kejauhan, dia mendengar serigala-serigala menggongong dan menyalak di dekat pos jaga, bertanya-tanya ke mana majikan pergi malam itu. Akankah mereka mengenali Reader apabila dia mendekat dengan tangan terulur? Dia bahkan tidak yakin mengenali dirinya sendiri. Di wilayah utara yang berselimut es, pilihan Reader sepertinya sudah jelas. Namun, kini benaknya ruwet gara-gara para preman dan pencuri ini, gara-gara keberanian Krista, kenekatan Tera, dan gara-gara Silva, selalu Silva. Reader tak bisa menyangkal rasa lega yang terbit di hatinya ketika gadis itu keluar dari cerobong tungku, acak-acakan dan tersengal-sengal, ketakutan tapi masih bernyawa. Ketika Reader dan Reyn menarik Silva dari cerobong, dia mesti memaksa diri untuk melepaskan pemudi itu.
Tidak, dia tidak mau melihat ke balik jendela langit-langit. Dia tidak boleh takluk lagi terhadap kelemahannya, terutama tidak pada malam ini. Sekarang adalah waktunya untuk maju terus.
Mereka sampai di bibir atap yang menghadap ke parit es. Dari sini permukaan parit tampak padat, berkilauan seterang cermin dan diterangi oleh lampu dari menara-menara pengawas di Pulau Putih. Padahal air di dalam parit senantiasa bergerak, hanya disembunyikan oleh selapis tipis es.
Ken mengikatkan seutas tambang lain ke tepi atap dan bersiap-siap turun ke parit.
"Kalian tahu harus mengerjakan apa," katanya kepada Tera dan Reyn. "Sepuluh dentang dan tidak lebih awal."
"Kapan aku pernah lebih awal daripada jadwal?" tanya Tera.
Ken mengambil ancang-ancang untuk melompat dan menghilanglah dia ke samping. Reader mengikuti, tangannya mencengkeram tambang, kakinya yang telanjang menapak ke tembok. Ketika melirik ke atas, dia melihat Reyn dan Tera memandanginya. Namun, kali berikut dia mendongak, mereka sudah menghilang.
Parit es bertepian sempit dari batu putih licin. Ken bertengger di sana, menempel ke dinding sambil memandangi parit dengan dahi berkerut.
"Bagaimana caranya menyeberang? Aku tidak melihat apa-apa."
"Karena kau tidak layak menyeberang."
"Aku juga tidak rabun jauh. Tidak ada apa-apa di sini."
Reader mulai beringsut-ingsut menyusuri dinding sambil meraba-raba tembok batu setinggi panggulnya. "Saat Üdeshleg, Dushenka merampungkan pelantikan," katanya. "Kami naik tingkat dari calon Dushenka menjadi pemula dalam upacara di pohon voda keramat."
__ADS_1
"Saat itulah pohon berbicara kepada kalian."
Reader menahan hasrat untuk mendorong Ken ke dalam air. "Saat itulah kami berharap mudah-mudahan bisa mendengar suara Syel. Tapi, itu langkah pemungkas. Pertama-tama, kami harus menyeberangi parit es tanpa terdeteksi. Jika kami nilai layak, Syel akan menunjukkan jalan."
Sebenarnya Dushenka tetua secara turun-temurun menyampaikan rahasia untuk menyeberang kepada para calon yang mereka harapkan memasuki ordo tersebut; demikianlah cara untuk memangkas orang-orang yang lemah atau yang semata-mata tidak cocok di dalam kelompok. jika kita sudah mendapat kawan, jika kita telah membuktikan diri, salah seorang bruder akan mengajak kita menepi dan memberitahukan bahwa pada malam pelantikan, kita mesti mendatangi tepi parit es dan menelusurkan tangan ke tembok sektor Dushenka. Di tengah-tenggah, kita akan menemukan ukiran serigala yang menandai lokasi jembatan es lainnya---tidak megah dan melengkung seperti yang membentang di parit sektor kedutaan, tapi datar, rata, dan hanya selebar beberapa kaki. Jembatan itu terletak di bawah selapis permukaan beku, tak kasatmata jika kita tidak tahu mesti mencari di mana. Komandan Dionisius sendirilah yang memberi tahu Reader cara menemukan jembatan rahasia tersebut. Tentara tidak menangis karena kematian, tapi menangis karena pengkhianatan. Reader cemberut sebab telah mengingat kata-kata komandannya, dia telah membuka trik untuk menyeberanginya tanpa terdeteksi.
Reader perlu menyusuri tembok dua kali sebelum jemarinya menemukan garis-garis ukiran serigala. Dia menumpukan tangan ke sana sekejap saja, merasakan tradisi yang menghubungkannya dengan ordo Dushenka, yang setua Royalemerald itu sendiri.
"Di sini," katanya.
Ken beringsut-ingsut menghampiri dan menyipitkan mata ke parit. Dia mencondongkan badan dan serta-merta ditarik ke belakang oleh Reader.
Reader menunjuk menara-menara pengawas di puncak tembok yang mengelilingi Pulau Putih. "Nanti kau kelihatan," katanya. "Gunakan ini."
Dia mengusap dinding sehingga telapak tangannya menjadi putih. Pada malam pelantikannya, Reader membubuhkan serbuk kapur serupa itu ke pakaian dan rambutnya. Dalam keadaan tersamarkan dari pandangan para penjaga di menara, dia menyeberangi titian sempit ke pulau untuk menjumpai saudara-saudara seordonya.
Kini dia dan Ken berbuat serupa, sekalipun Reader memperhatikan bahwa Ken menyimpan sarung tangannya baik-baik terlebih dahulu. Sarung tangan itu pasti dikembalikan oleh Krista.
Reader menjejak ke jembatan rahasia, lalu mendengar Ken mendesis ketika air es dari parit menyelubungi kakinya.
"Kedinginan, Lunark."
"Coba kita punya waktu untuk berenang. Ayo bergerak."
Walaupun sempat mengolok-olok Ken, begitu mereka sudah setengah jalan ke pulau, kaki Reader sendiri nyaris mati rasa total dan dia sadar sekali akan menara pengawas yang menjulang tinggi di atas parit. Dushenka pasti sudah lewat sini tadi. Dia tidak pernah mendengar ada calon Dushenka yang kelihatan atau ditembak di jembatan, tapi apa pun mungkin terjadi.
"Ini hanya satu bagian dari Üdeshleg."
"Ya, aku tahu, ketika pohon memberi tahu kalian jabat tangan rahasia."
"Aku mengasihanimu, Lunark. Tiada yang sakral dalam hidupmu."
Setelah hening berkepanjangan, Ken berkata, "Kau salah."
Tembok luar Pulau Putih menjulang di hadapan mereka, berselimut motif berupa sisik-sisik yang bergelombangan. Butuh waktu untuk menemukan sisik-sisik menggunung yang menyembunyikan gerbang. Tidak lama sebelum, Dushenka pasti berkumpul di ceruk dinding sebelah sini untuk menyambut saudara-saudara baru mereka di tepi parit, tapi tempat itu sekarang kosong, pagar besinya yang berjeruji dirantai. Ken mencermati gembok singkat saja dan, sesaat berselang, mereka sudah berada di jalan setapak sempit yang akan mengantarkan mereka ke taman di belakang barak pengawal kerajaan.
"Apa kau sudah sejak awal mahir mengutak-atik kunci?"
"Tidak."
"Bagaimana caramu belajar?"
"Sama seperti semua orang. Dengan memeretelinya."
"Kalau trik sulap?"
Ken mendengus. "Jadi, kau tidak lagi menganggapku iblis?"
__ADS_1
"Aku tahu kau iblis, tapi trikmu manusiawi."
"Sebagian orang melihat trik sulap dan mengatakan, 'Mustahil' Mereka bertepuk tangan, menyerahkan uang, dan melupakannya sepuluh menit kemudian. Sebagian yang lain menanyakan cara melakukan trik itu. Mereka pulang, naik ke tempat tidur, membolak-balik badan di kasur sambil menekuri caranya. Setelah tidur nyenyak semalaman, baru mereka melupakannya. Ada juga orang-orang yang begadang semalaman, mengulas trik itu berkali-kali, mencari-cari celah dalam persepsi mereka, ratakan pada ilusi yang akan menjelaskan bagaimana ceritanya samapai mata mereka terkelabui; orang-orang seperti mereka tidak bisa beristirahat sampai mereka sendiri menguasai trik kecil-kecilan itu. Aku termasuk golongan tersebut."
"Kau menggemari tipu muslihat."
"Aku menggemari teka-teki. Tipu muslihat semata-mata adalah bahasa ibu bagaiku."
"Taman," kata Reader sambil menunjuk pagar tanaman di depan. "Kita bisa menyusuri sampai ke balairung."
tepat saat mereka hendak keluar dari jalan setapak, dua penjaga mengitari pojokan---keduanya berseragam hitam perak Dushenka, keduanya membawa senapan.
"Perjenger!" salah seorang berteriak kaget. Tahanan. "Sten!"
Tanpa berpikir, Reader berkata, "Vodle, Syel commenden!" Tunduklah, atas kehendak Syel. Itu adalah kata-kata perwira Dushenka dan Reader menyampaikannya dengan seluruh ketegasan yang mampu dia kerahkan.
Kedua prajurit bertukar pandang bingung. Keraguan yang hanya sesaat sudah cukup. Reader menyambar senapan prajurit pertama dan menyundul kepalanya kuat-kuat. Tumbanglah sang Dushenka.
Ken menghajar prajurit yang satu lagi hingga jatuh, sang Dushenka terus memegangi senapannya, tapi Ken menyelipkan diri ke belakangnya dan menjepit leher prajurit dengan lengan bawahnya, menekan sampai prajurit itu memejamkan mata, lalu kehilangan kesadaran sebagaimana tampak dari kepalanya yang tertunduk.
Ken menggulingkan tubuh sang prajurit dari tubuhnya dan langsung berdiri.
Reader merasa bak di tampar saat dia tiba-tiba tersadar akan situasi mereka. Ken tidak memungut senjata. Reader memegang senjata api di tangannya, Sedangkan Ken Lunark tidak bersenjata. Mereka berdiri menjulang di hadapan dua Dushenka tergeletak tak sadarkan diri, pria-pria yang semestinya adalah saudara Reader. Aku bisa menembaknya, pikir Reader. Mencelakai Silva dan yang lain dengan satu tindakan saja. Reader lagi-lagi mendapatkan firasat aneh, seolah-olah sedang memandangi hidupnya dari perspektif yang keliru. Dia berseragam penjara, menjadi penyusup di tempat yang dia sebut sebagai rumah. Siapa aku ini sekarang?
Reader memandangi Ken Lunark, pemuda yang masa hidupnya adalah kepentingannya sendiri. Biarpun begitu, Ken adalah seorang penyintas dan, bisa dibilang, seorang prajurit juga. Dia menghormati kesepakatannya dengan Reader. Sebelum ini, dia bisa saja memutuskan bahwa Reader sudah tidak berguna lagi---begitu si orang Bärchen membantu mereka menggambar denah, begitu mereka keluar dari sel tahanan sementara, begitu Reader mengungkapkan rahasia jembatan. Reader tidak tahu siapa dirinya sekarang, tapi dia takkan menembak seseorang yang tidak bersenjata. Dia belum terpuruk sejauh itu.
Reader menurunkan senapan.
Senyum tipis membayang di bibir Ken. "Aku tidak yakin kau akan melakukan apa kalau sampai ini terjadi."
"Aku juga sama," Reader mengakui. Ken mengangkat alis dan kebenaran sontak menghantam Reader. "Yang barusan itu ujian. Kau sengaja tidak memungut senapan."
"Aku perlu memastikan apakah kau sungguh-sungguh berada di pihak kami. Kami semua."
"Bagaimana kau tahu aku takkan menembak?"
"Karena kau berbudi luhur, Reader. Aku bisa membauinya."
"Kau sinting."
"Tahukah kau rahasia judi, Van?" Ken menjejakkan kakinya yang sehat ke gagang senapan prajurit yang tumbang. Senjata itu mencelat ke atas. Dalam kurun satu tarikan napas, Ken sudah memegang senjata dan menodongkannya kepada Reader. Ken tidak pernah berada pada posisi rawan. "Main curang saja. Nah, sekarang mari kita bersih-bersih dan kenakan seragam itu. Kita harus menghadiri pesta."
"Suatu hari kelak, kau akan kehabisan trik, Chötgör."
"Mending kau berharap semoga bukan hari ini."
Kita lihat saja nanti malam, pikir Reader sambil membungkuk untuk melucuti seragam prajurit. Tipu muslihat bukan bahasa ibu bagiku, tapi siapa tahu aku bisa mempelajarinya.
__ADS_1