Six Of Foxes (Enam Rubah)

Six Of Foxes (Enam Rubah)
Silva


__ADS_3

Silva punya dua persoalan: kue dan bajunya. Dia seharusnya bekerja di bawah sekarang, jika tidak atasannya akan berapi-api lagi. Tapi hari ini dia malah luntang-luntung di kursi nyamannya sambil menyikat setoples kue. Persoalan yang berat bagi Silva, jika terus-terusan dia makan, kuenya akan segera habis. Tapi jika dia tahan, kue ini terlalu enak untuk ditunda. Dia menggasak sepotong kue dari toples dan berguman dengan mulut penuh. "Apa maumu, Ken?"


    "Ada remah-remah di belahan dadamu."


    "Tidak peduli," kata Silva sambil memungut roti lagi.


    "Apakah orang tadi merasa gagal menjadi manusia?" Tanya Ken.


    "Dia telah kehilangan orang yang ia cintai."


    Ken sedikit geleng-geleng kepala, mungkin dia geli. Silva tak butuh lari kemana-mana untuk cari uang, dia menciptakan ketenangan, kegembiraan, membuat hari baru bagi orang-orang yang cengeng. Dia tidak butuh ranjang untuk membuat pasiennya puas. Sebagian besar Juwel mencurahkan keahlian mereka untuk menyembuhkan atau membunuh. Jadi, rupa-rupanya harus mempertaruhkan nyawa dan mendapatkan upah yang besar bagi tentara bayaran. Silva butuh pekerjaan untuk bertahan hidup di Moontown.


    Silva dapat mengontrol pikiran manusia, membuat mereka menjadi anjing pesuruh berguling sana-sini. Dapat melemaskan otot-otot, menghentikan pernapasan. Silva menjalani bisnis sampingan sebagai perombak, dia juga dapat merubah wajah manusia dengan tujuan menghilangkan jejak dan mata-mata. Memancungkan hidung, membuat wajah berkeriut ala Kalterville, mengutak-atik sesuai yang mereka mau. Tapi pekerjaan utamanya sebagai pembuat suasana hati orang menjadi baik. Orang yang datang dalam keadaan sedih, kehampaan, kekosongan, dapat hilang setelah menemui Silva. Tidak berlaku lama, rasa kegembiraanya hanya sebentar dan rasa kekecewaannya akan datang kembali. Tapi ilusinya dapat membuat mereka mempunyai hari yang baru. Ketika Ken menanyakan alasannya, Silva sempat berkata, "Aku tidak mau ada yang berpikir macam-macam."


    "Laki-laki tak butuh ranjang untuk berpikir macam-macam, Silva."


    Silva memasang wajah tidak yakin, "Kau tau apa Ken? Coba lepaskan sarung tanganmu dan kita buktikan dari mana asalnya macam-macam."


    Ken hanya terus menatap Silva dengan dingin sampai gadis itu menatap padangannya ke bawah.


    "Apakah kau tau banyak tentang, arta mortem?"


    Silva menggelengkan kepala. "Tidak banyak, aku hanya mendapatkan kabar angin kalau itu hanyalah obat untuk penambah semangat, dan lama kelamaan berita itu mulai pudar, seperti omong kosong saja."


    Ken duduk di kursi empuk dan kaki kanannya memangku kaki kirinya. "Obrolan itu bukan basa-basi," kata Ken. "Dan itu benar-benar nyata. Ditambah lagi, jika kau sungguh seorang prajurit Juwel baik-baik seperti yang kukira, kau tidak akan rela jika mendengar kaummu menjadi uji kelinci."


    Silva tidak paham apa yang Ken maksud, jika bertentangan dengan kaumnya, Silva harus campur tangan. "Ceritakan."


    Ken mulai berbicara. Dia sengaja menutup-nutupi masalah Etz Djel demi nama baiknya, tapi dia menceritakan Silva masalah Erikson, arta mortem, efek samping ramuan itu sampai titik nol. Secara khusus menggarisbawahi wanita yang ia temui di gang. Sengaja Ken tutupi.


    "Kalau begitu, bukannya Erikson sudah dilenyapkan?" Silva berani bertaruh, jika Erikson sudah berada di Royalemerald, dia pasti sudah dienyahkan.


    "Juragan tidak mau repot-repot memberi imbalan sebesar ini jika mereka mengira Erikson sudah mati, dia kelihatan mengkhawatirkan," Ken berkata sambli memejamkan mata. "Aku telah menerima seluruh informasi agen-agennya, dan semuanya dapat dipercaya. Jika semuanya itu benar dan Erikson masih hidup, kenapa kita tidak mengambil jatahnya," Ken mengangkat kedua tangannya.


    "Saudagar memanggilmu?" Tanya Silva, "jika dia masih hidup, berarti kita harus melenyapkannya."


    "Bukan itu tugas kita, Silva."


    "Uang tidak penting, Ken.


    Justru di benak Ken uang yang paling penting, tapi hal ini menjadi dua tekanan baginya. Silva mencintai negeri dan bangsanya, dia berpegang teguh akan masa depan Juwel dan tentara pertama, para kaum elite Juwel. Kisahnya yang diserang oleh pasukan Bärchen meyakini teman-temannya bahwa Silva benar-benar sudah mati. Dan untuk sampai ini, Silva masih ingin mereka berpikir demikian. Tapi suatu saat dia berharap dapat kembali lagi bersama mereka.


    "Silva, aku akan mengeluarkan Erikson dari Royalemerald, dan untuk itu aku butuh seorang Soulvalin, aku ingin kau menjadi salah satu anggotaku."


    "Di manapun dia bersembunyi, dan pada akhirnya kau menemukannya lalu membebaskannya, itu tindakan yang amat keterlaluan, aku menolak."


    "Aku juga membutuhkan seseorang yang tahu luar-dalam Royalemerald."


    Seketika dia berhenti memalingkan wajanya. Dia melompat dari kursinya dan mondar-mandir sambil mengerutkan dagunya. Sesekali memandangi wajah Ken yang sedang menatapnya, lalu menggelengkan kepalanya. Alis Ken tidak terangkat sama sekali, tapi kakinya mulai tidak berpangku.


    "Kau memang b*jing*n\, Ken. Sudah berapa kali aku mendatangimu memohon supaya kau membebaskan Reader? Dan kali ini kau menginginkan sesuatu dariku\, kau bisa saja membantuku kalau kau mau\," Silva membalikkan badannya supaya bisa menatap lelaki itu.


    "Untuk apa?"


    "A... aku bisa saja membantumu jika... jika..."


    "Sejak kapan aku melakukan sesuatu secara percuma,Silva?"


    Silva membuka mulut, lalu menutupnya kembali.


    "Apakah kau tahu, Silva. Berapa banyak orang yang harus aku butuhkan? Berapa banyak sogokan yang harus aku bayar demi kebebasannya? Harga kebebasannya terlampau tinggi."


    "Dan sekarang?"


    "Mulai dari sekarang kebebasan Reader baru bernilai."


    "Hei, bukannya dari awal---"


    Ken mengangkat tangan kanannya untuk menyetop Silva. "Bernilai untuk aku."


    Silva memutar-mutar pipinya. "Jika kau sempat berhasil membebaskannya, Van tidak akan menyetujui rencanamu."


    "Aku ahli tawar-menawar, Silva."


    "Tidak untuk Reader, Ken. Kau tidak mengenalnya."


    "Masa? Dia manusia, itu artinya dia sama dengan yang lain. yang didorong oleh kehormatan dan kepedihan. Kau seharunya lebih memahami daripada yang lain."


    "Kehormatan sudah cukup, dan kau tidak bisa berunding dengannya."


    "Dulu memang begitu, Silva, tapi dia telah melewati hari-hari yang panjang. Reader sudah banyak berubah."


    Mata hijaunya berbinar kaca-kaca. "Kau pernah bertemu dengannya?"


    "Ya," respon Ken cepat.


    Silva menarik napas dalam-dalam dengan bergemetar. Dia tidak ingin memberitahu Ken soal apapun mengenai Reader, tapi keinginan untuk membebaskan Reader seolah-olah dikontrol oleh hatinya sendiri. "Dia ingin balas dendam, Ken."


    "Itu bukan kebutuhannya, tapi itu yang dia mau." Kata Ken seakan-akan telah melewati berbagai hal kepedihan.


    "Jika kita ingin mendongkrak tawar-menawar, kita harus tahu perbedaan mereka."


    "Serahkan saja kepadaku."


>><<>><<>><<


    Arus membuat perahu dayung menjadi tambah cepat. Perut Silva terasa mual karena goyangan air yang kuat beserta kecipak spontan dayung yang menampar air. Kabut menutupi pandangan mereka, tapi samar-samar ini dibantu dengan lampu-lampu Moontown. Kelihatan dari jauh dan lenyap dari jauh, Silva memfokuskan perhatian kepada lampu-lampu itu. Helf mendayung dengan cepat dan agresif untuk mengantar mereka ke Toram, salah satu pulau terkecil di Moontown, semakin dekat dengan Raregate dan Reader.


    Silva bertemu dengan Ken dan Helf di pelabuhan keempat. Mereka akan membuat kekacauan di penjara, bukan untuk bersenang-senang. Jadi kenapa kita berpakaian seperti ingin berpesta? Ken memberinya jubah sifon ungu cerah dan topeng yang serasi, kain setingkat lebih mewah dan klasik---kostum para saudagar yang menghujani uang dari atap. Sedangkan Ken memakai jubah hijau dengan topeng beraut gila, begitu pula dengan Helf.     "Turunkan kedokmu," Ken sekarang menyikut Silva, dan dia mengenakan sendiri topeng bermulut besar dengan mata yang memelas.


    Sekarang Silva hampir saja menyerah dan tidak bertannya alasan kenapa kita memakai kostum? Ia sadar, ternyata dia tidak hanya bertiga di jalan ini. Ada perahu-perahu lainnya yang mengangkut Si Gila lain, Si Tuan Merah, Pengantin, Raja Api. Acara apa yang membuat mereka datang ke Raregate? Ken menolak untuk menyampaikan misinya secara spesifik. Ketika Silva Bersikukuh, "Naik saja ke atas perahu," itu ujarnya. Begitulah Ken.


    Silva tidak perlu mengatakan apa-apa, kebebasan Reader selalu meronta-ronta di kepalanya, pikirannya melibas habis daya Silva.


    Ketika sekoci mereka menggesek pasir, kedua orang penjaga langsung berlari ke arah mereka dan menyeret perahu supaya lebih melekat di dasar pasir. Pengelihatan Silva samar-samar buram karena topengnya. Jika tidak salah, dia melihat tato di bawah lengan mereka yang berbentuk elemen Es dan tulisan Death dengan huruf latin. Tidak salah lagi kalau mereka adalah anggota Es Death, atau juga bisa disebut Deal.

__ADS_1


    "Uang," kata salah satu dari mereka.


    Ken memberikan segepok uang untuk mereka. Dan setelah uang itu dihitung Anggota Es Death mempersilahkan mereka masuk kedalam gerbang.


    Silva melangkah maju mengimbangi jalan Ken. Mereka masuk kedalam pintu besar, tidak aneh kalau Raregate ternyata punya dapur yang rapi. Es Death membimbing mereka masuk ke Raregate lebih dalam. Mereka diantar menuju anak tangga melingkar supaya naik memasuki menara kedua.


    "Kita hendak kemana?" Tanya Silva, tapi Ken hanya diam.


    Angin berhembus kencang di atas ini, pengelihatan Silva tidak seratus persen benar karena terhalang sipit mata topengnya. Sementara mereka masuk ke pintu berikutnya, sebuah sosok muncul dari balik bayang dan Silva nyaris menjerit.


    "Krista?" Katanya gelagapan. Gadis itu memakai jubah berkerudung ala pembunuh, tapi sifat pembunuhnya serasa ditutupi dengan tanduk iblis yang lucu. Jasnya dibiarkan terbuka supaya pergerakannya bebas. Meskipun wajahnya tertutup Silva bisa memahami betul, tidak ada orang lain yang bisa bergerak seperti itu. Seakan-akan wilayah ini bagaikan taman bermain hanya khusus untuknya.


    "Naik apa kau ke sini?" Kata Silva lirih.


    "Aku ke sini duluan, pakai tongkang pembakar mayat."


    Gigi Silva bergetar-getar. "Apa mereka pulang-pergi ke Raregate sekadar jalan-jalan?"


    "Ya, semingu sekali," kata Krista dengan tanduknya yang ke atas dan ke bawah mengikuti irama langkahnya.


    "Apa maksudnya se---"


    "Diam," Ken angkat bicara.


    "Jangan perintah aku sesukamu, Lunark." dengus Silva. "Ternyata masuk ke Raregate segampang ini---"


    "Yang sukar itu keluarnya," lanjut Ken. "Sekarang tutup mulutmu dan buka matamu lebar-lebar."


    Mau selebar mungkin hasilnya tetap saja sipit. Di depannya ada penjaga pintu yang kemungkinan di sanalah kurungan Reader.


    Si anggota Es Death menyandang senapan dan berteriak, "Empat orang lagi." Perkataanya seperti mengandeng riuh khalayak.


    Kemudian dia menoleh Ken. "Jika kita keluar dari tempat ini, penjaga akan mengirim pengawalkan? Supaya kita tidak bisa keluyuran."


    "Ah, tentu-tentu, aku saja tidak berani membayangkan itu." Kata Ken di balik topeng anehnya.


    "Selamat menikmati," kata penjaga itu dan membuka pintu lebar-lebar.


    Silva masuk ke dalam dan seketia merasa terpuing-puing dalam angin nan mimpi buruk yang nyata. Mereka sedang berdiri di tempat penonton tubir batu. Menara itu ternyata telah dikeruk dan diciptakan sebuah arena. Obor terhempas-hempas, Silva melihat pria dan wanita menggertakkan kaki mereka ke dasar, berteriak-teriak dengan tangan mengepal serta uang kertas remuk di genggamnya. Atapnya dihancurkan hingga ludes, lantas dengan kuasa melihat awan tebal yang menutupi bintang-bintang di angkasa. Silva mengap-mengap melihat mereka yang sedang bertaruh uang, manusia atau hewan yang akan menang.


    "Jelaskan," hardik Silva.


    "Selamat datang di Hellgame, Rav mendapatkan transaksi dan menaruhnya kepada dewan dengan tepat," Ken bercerita.


    "Saudagar tahu?"


    "Tentu saja, Silva. Jalan bisnisnya menjanjikan."


    Silva menguatkan kepalan tangannya, gaya bicara Ken patut dihadiahi tamparan. Asap masih muncul dari cuilan-cuilan tubuh petarung, tapi khalayak malah saling mencemooh. Bukannya mereka senang malah mengeluh.


    "Kenapa mereka mengeluh? Bukannya mereka datang kesini untuk melihat hal seperti ini?" Tanya Nina marah.


    "Mereka menginginkan pertarungan," kata Ken, "mereka berharap pria itu bisa tahan lebih lama."


    "Ken, mereka adalah tawanan."


    "Pencuri dan pengecoh seperti kaummu."


    "Silva yang manis, mereka bertarung bukan karena dipaksa. Mereka justru mengantre demi mendapatkan pertarungan ini. Para petarung akan dihadiahi makanan yang lebih mewah, duduk dengan gadis-gadis, dan hal menarik lainnya."


    Helf melemaskan tangannya. "Sepertinya menarik, malah lebih baik dari Krisbow."


    Pria itu pasti sudah gila, Krisbow memang seperti neraka buatan manusia, tapi ini benar-benar neraka sungguhan. Mungkin benar, mereka mengantre demi mendapatkan kesempatan ini. Tapi yang mendapatkan uang sungguhan adalah Rav Frederic.


    "Reader... Reader tidak akan ikut pertarungan ini, kan?" Kata Silva pelan.


    "Kita ke sini bukan untuk menerima air mata." Ujar Ken.


    Orang itu bukan cuma patut ditampar. "Kau jelas sudah sadar bukan, kalau aku bisa saja membuatmu mengompol di celana."


    "Surutlah, Silva. Aku suka celana ini dan, kalau kau macam-macam dengan organ vitalku, Van Reader akan kupastikan tidak punya keturunan mulai dari besok."


    Silva bisa melotot ke arah Ken. Napasnya tersendat-sendat karena geram.


    "Silva---" Krista memulai


    "Jangan mencampuri, Krista."


    "Bukan masalah, tapi biarkan Ken melakukan keahliannya."


    "Dia kejam."


    "Tapi ampuh. Kalau kau marah karena dia kejam dan tak kenal ampun, itu sama saja kau marah dengan kompor karena panas. Kau tahu sifat Ken, bukan?"


    Bibir Silva merapat membentuk seperti garis. "Aku juga ingin membuatmu mengompol di celana."


    "Aku? Kenapa?"


    "Tidak tahu, aku hanya ingin."


    Gadis itu meremas pundak Silva, dan lantas juga memegangi tangan Krista.


    Sementara itu gerbang dibuka selanjutnya demi selanjutnya. Silva hanya bengong sepanjang pertarungan dan bergumam kalau sebentar lagi dia akan bertemu dengan Reader. Berdoa supaya hal kemungkinan yang terjadi tidak separah yang Silva bayangkan. Para petarung memilih lawan mereka, dan yang paling buas hadiahnya setimpal juga. Dia hanya bisa meratap duduk manis bersama Krista yang mendampinginya. Sedangkan Ken melihat setiap pertarungan. Silva tidak tahu pasti bagaimana reaksi orang itu, yang jelas dia diam seperti batu. Dan jika Reader berhasil dikeluarkan, Silva tetap akan menamparnya.


    Tapi, ketika Reader keluar dari mulut goa, keadaan langsung berubah. Silva mengenalinya lebih dari teman-temannya, dan sosok itu tidak asing lagi kalau pria itu adalah Reader. Rambutnya yang panjang keemasan dan rahangnya mustahil salah dikenali. Silva tahu kalau dia itu keliru, ujar Ken ternyata benar: Reader sudah banyak berubah. Matanya yang menyala-nyala dan memandang seperti serigala adalah orang asing.


    Silva jadi keingat dulu waktu dia bertemu dengannya untuk pertama kali. Saking rupawannya Reader, Silva jadi menyalahkan dunia bahwa takdir itu tidak adil. Waktu itu dia tersesat di hutan serta badai salju yang lebat. Reader kebetulan lewat malam itu dan melihat seorang gadis yang sedang berjalan terpatah-patah sendirian. Dia adalah seorang prajurit yang amat begitu loyal dengan Ratunya dan berhati murni, tugasnya adalah memburu penyihir-penyihir juwel. Dia memang akan menangkap setiap penyihir, tapi dia tidak begitu tegar ketika melihat Silva sedang berjuang hidup-hidupan di badai salju. Reader membawanya ke kereta saljunya dan menghangatkan tubuh Silva yang mengigil. Pria itu bertanya-tanya kenapa Silva hanya sendirian? Seharusnya penyihir Juwel tidak bejalan sendirian, melainkan berkelompok. Keajadian itu tepat satu tahun silam, Silva didiamkan di rumah kecil serta segar api yang melelehkan beku di tubuhnya.


    Kini Reader tercermin sebagai pembunuh sejati. Ketika rantai dilepaskan, dia melompat ke bawah serta gemuruh khalayak yang menyorakinya. "Buka gerbangnya!" Gerbang di putar oleh algojo. Berbagai raksasa berada di dalam goa, itu namanya bukan hewan, itu adalah monster-monster. "Bisa jauh lebih parah," ujar Helf dibelakangnya.


    "Tidak," kata Silva menggeleng-geleng dengan arti ingin semua ini berhenti. Dia menyambar tangan Ken dan merasakan bahwa otot-otot pemuda itu menegang ketika Silva menyentuhnya. "Ken, kumohon, kau harus menghentikan ini."


    "Lepaskan aku, Silva." Suaranya pelan dan parau, tapi Silva bisa merasakan ancaman di dalamnya.


    "Kumohon, Ken. Kau tidak menger---" Ken berhasil melepaskan tangannya dari genggaman Silva.

__ADS_1


    "Jika dia selamat, akan kukeluarkan Reader hari ini juga, tapi bagian ini kita harus bergantung dengannya."


    "Kau tidak mengerti," Matanya yang berapi-api serasa percuma jika digabungkan dengan pemuda itu.


    Tidak jika serigala, hewan itu sahabatnya, hewan yang dikenal sebagai keluarga di Bärchen. Seketika para serigala lepas dari kandang mereka, dan berlomba-lomba mencaplok Reader. Jika tidak menghindar, kedua lengannya akan membekas luka berat. Pemuda itu meloncat kebelakang dan menendang salah satu serigala yang dekat dengannya. Untuk pertama kalinya Silva melihat serangan pemuda itu menyakiti serigala. Reader mengambil tombak di belakangnya dan hendak mendamparkan tombak itu. Gerakannya lambat, sehingga hewan itu lebih dulu menerkam siku Reader. Silva tahu kalau pemuda itu tidak mengerahkan seluruh kemampuannya, dia loyo dan tidak bersemangat.


    Reader menyeringai dan membanting keras serigala itu, bisa-bisa tangannya lepas sebab momentum ayunan tadi. "Hindari itu, Reader." Suara Silva keputusasaan. Hewan itu merintih kesakitan dan pincang-pincang, tapi belum sampai di situ saja, Reader masih harus berhadapan tiga serigala, belum lagi kedua serigala itu kembali bertarung. Samping kanan-kiri dan di depan ada serigala yang menundukkan kepalanya dan memamerkan gigi-giginya. Reader mencoba untuk bernegosiasi, tapi serigala-serigala itu tidak mau mendengarkannya. Memang hewan-hewan itu tidak bisa menghindar, tapi mereka akan menyerang bersama-sama dan, mendapatkan cicilan serangan demi serangan meskipun salah satu dari mereka ada yang terluka.


    Cepat atau lambat, Reader harus menyelesaikan pertarungan ini. Tidak ada istirahat, hanya ada dua cara menyelesaikan pertandingan ini: menang atau terbunuh. Reader berlari ke sana kemari dan mengelak tiap serangan, pemuda itu juga mempunyai rencana untuk mengalahkan serigala, sama-sama mencicil, tumbangkan satu demi satu. Sekali lagi serigala itu berhasil mencengkram kaki kanan Reader, diayun-ayunkan kebelakan dan Silva bisa merasakan ngilu yang amat terasa. Kelimun semakin bergemuruh kencang melihat pertarungan ini, tidak ada yang memalingkan pemandangan ini atau mengeluh, semuanya terpaku ke arah Reader. Begitu pula Silva yang tadinya bengong menjadi syok berat.


    Serigala melaju pesat tanpa sebuah rencana, sehingga membuahkan kesempatan bagi pemuda itu. Ketika serigala itu membuka mulutnya, Reader menghujamkan tombaknya ke dalam mulut serigala. Lantas hewan itu mengelupur dan tidak bergerak. Reader mengambil serpihan-sepihan batu lalu menghujaninya, dia mengambil pecahan tulang lancip selanjutnya menancapkan tulang itu ke leher serigala yang dibutakan olehnya, lagi dan lagi. Kali ini gerakannnya meningkat, tapi tetap saja melemah karena serangan serigala itu.


    Tinggal satu lagi maka pertarungan ini akan usai. Reader keteteran dan babak belur di sana, ia terjatuh melemah dengan posisi menjongkok, serigala yang masih efektif mencari ancang-ancang untuk melompat. Begitu melompat, pemuda itu tidak cukup daya untuk menghindar, lantas serigala itu mencaplok lengan bawah kiri Reader. Dia mengerang dengan serigala di atasnya. Sekejap Silva bepikir kalau pemuda itu bakal menyerahkan nyawanya. Kemudian Reader mengulurkan tanganya ke pasir, meraba-raba apapun yang akan dia dapat. Jemarinya mengambil batu berukuran sedang dan memukul kepala serigala itu sekuat dia bisa. Serigala itu tetap menempel di lengannya, tapi Silva mengerti kalau hewan itu melemah. Pemuda itu membuka rahang serigala lebar-lebar, otot Reader menegang, wajahnya murung. Silva memejamkan matanya kuat-kuat. Terdengar bunyi krak yang membuat nyeri. Khalayak melolong kesenangan.


    "Lagi! Lagi!"


    "Kemana mereka membawanya?" Tanya Silva mengigil.


    "Sel, untuk beristirahat," kata Ken.


    "Yang merawat?"


    "Di sini ada medik," Ken menyikut Silva, "siap? Pertama-tama penjaga. Yang itu kita lewati saja, dia fokus melihat pertunjukan."


    Silva dan yang lain mengikuti Ken menuju ke pintu sel. Para kerumun menghiraukan mereka, serta penjaga.     "Baiklah, yang itu kau urus, Silva."


    Silva melirik ke arah penjaga yang berdiri di tengah pintu lorong. "Seberapa?" Seberapa parah yang kau inginkan?


    "Melek," buat dia pingsan saja.


    Ken mendekati lorong menuju sipir itu. "Butuh pengawal?"


    "Aku punya pertanyaan," kata Ken di balik jubahnya, sedangkan jari-jemari Silva menari-nari untuk merasakan aliran darah, tempo napas, dan detak jantung penjaga itu.


    "Bagaimana keadaan ibumu dan burung pipit?"


    Silva merasakan denyut yang berdebar-debar. "Tidak suka dengan cara yang layak, Ken?"


    Sementara itu penjaga mendesah dan bergerak maju sambil mengacam dengan senjatanya. "Apa kau bilang? Akan---" matanya mulai luyu. "Tidak akan---" Silva memelankan denyut nadi orang itu dan jatuhlah dia kedepan. Sebelum menyentuh tanah Helf sudah menangkap penjaga itu dan, Krista memasangkan jubah milik Ken beberapa waktu lalu serta memasangkan topeng gila. Silva sempat terkejut, ternyata di balik jubahnyan Ken menggunakan pakaian sipir. Helf memapah orang itu sehingga terkesan seperti orang mabuk berat. Mereka kemudian meletakkannya ke salah satu bangku yang menempel di dinding.


    "Tak bisakah kau bertanya soal cuaca atau apalah?" Ulang Silva. "Dan itu baju sipir milik siapa?"


    Ken merapikan setelannya. "Dengar Silva sayang, Orang-orang akan memberikan kehormatan jika mereka berpakaian bagus. Aku punya seragam kardolla, penjaga pemerintah, dan seragam karyawan kapal dari semua pelabuhan di Moontown. Ayo pergi."


    Silva merasakan mual di perutnya. Lantas mereka masuk ke koridor, dan menuju ke sel istirahat. Ken harus melangkah lebih dulu hendaknya mengecek tiap sudut dan atap seumpama ada sipir lainnya. Mereka berhasil melewati tiap koridor, hanya ada satu pintu terkunci dan di situlah selnya. Ken butuh beberapa detik untuk mengutak-atik gembok. Pintu berderit terbuka, ruangan selnya gelap gulita. Mereka harus masuk biar bisa menilik.


    Krista menaikkan lampu tulang yang terbuat dari ikan dalam yang bewarna merah, biasanya lampu ini digunakan beberapa orang Krisbow di tempat yang gelap-gelap. Sel ini rupanya bersih, pikir Silva. Para petarung Raregate hanya berjuang demi tempat yang kosong kelompang, selembar selimut, ember untuk buang air, dan air bersih. Sesaat keheningan berjalan, Reader sedang duduk menyandar dinding dengan mata tertutup. Gadis Juwel itu secara refleks menghampirinya.


    "Tahan, Silva." Ken mencengkeram tangannya.


    "Aku bisa menyembuhkannya," kata Silva. Kemampuannya memang berfokus ke tubuh manusia, tapi Silva tidak begitu mahir seperti Je Lita.


    "Biarkan Krista yang memeriksanya." Sementara itu, Krista melangkah maju dengan lampu tulang yang dicondongkan ke depan menggunakan tongkat, ia memeriksa setiap luka pria itu.


    "Sikunya geser, gigi yang kanan copot satu, tulang kiri patah, dan kaki kanannya juga geser."


    "Kirinya atau kirimu?" Tanya Ken.


    "Kirinya."


    Helf dengan hati-hati melepaskan jubahnya, sekarang dia berpenampilan layaknya tahanan. Silva memandangi Reader dan Helf silih berganti. Dari situ ia sadar, tubuhnya yang sama-sama kokoh Ken menggunakan Helf sebagai pemain peganti.


    "Tidak-tidak, " tolak Silva. "Mana mungkin kita menggantikan Helf menjadi Reader? Lagipula Aku memang bisa merombak wajah, tapi jika sampai sedetail itu, mana bisa?"


    "Reader terkena gigitan sana-sini, dan orang-orang akan mengira kalau dia kena penyakit rabies. Jadi, Reader akan dikarantina hingga dia pulih. Paham?"


    Silva bernapas dengan rapi, dia mengerti maksud pemuda itu. Tapi...


    "Tidak apa-apa, Silva. Aku bisa menahannya," kata Helf.


    Gadis itu menelan ludahnya. Tidak ada pilihan lain, caranya memang tidak tahu adat, kejam. Tapi ampuh. Dia sekilas mengingat kata Krista, "Baiklah."


    Silva mulai memain-mainkan jarinya, memperpanjang rambutnya, wajahnya, dan segalanya. Membuat semuanya menjadi seperti Reader. "Sudah," kata Silva. "Ini akan sakit."


    "Aku tangguh, Silva."


    Silva menendang pipi kanan Helf dengan wajah masam, lantas copotlah gigi Pria itu. Dilanjut mematahkan dan menggeserkan tulangnya. Silva tidak akan memaafkan dirinya kali ini. "Lalu apa?" Kata Silva tersengal-sengal.


    Helf terkapar berat, dia malah tersenyum ibarat mendapatkan uang jutaan. "Bolehkah aku minta wafel?" Pinta Helf.


    "Oh tentu saja jika misi kita tidak gol. Bangunkan Reader," akhirnya Ken meminta itu.


    Silva yang tadi ngos-ngosan menarik napas dalam dan melangkah ke arah pria Bärchen. Krista langsung memerban Helf agar tampak seperti Reader, dan Ken berdiri di samping Silva melampuinya dengan lampu tulang yang sedang meraba-raba wajah Reader.


    "Bukan wajahnya, Silva. Buat dia berdiri, bukan menjadi tampan. Sembuhkan dia tapi jangan terlalu sembuh, aku tidak ingin dia bertingkah gesit dan menyusahkan kita."


    Silva menurunkan selimut dengan pelan-pelan dan mulai bekerja. Cuma badan manusia, seperti biasa, katanya dalam hati. Silva menyentuh pundak Reader dengan lembut, "Reader," panggilnya. "Bangun Van Reader," pria itu mulai bergerak.


    Silva mulai mengeluarkan air mata. Ken dan yang lain sedang menontonnya bahwa dia dipermalukan sendiri oleh dirinya, tapi akhrinya di sinilah Reader, dari sekian usang kolot, Reader di hadapannya.


    Reader membuka mata perlahan-lahan, dia mulai bergerak. "Reader," ulangnya.


    "Silva?" Suranya serak dan pelan tapi semerdu yang Silva ingat.


    "Oh Demi Dewi Shi, Reader. Bangunlah, Reader." Bisiknya.


    Reader mencoba membuka matanya dengan keras. Kelihatan linglung.


    "Silva," katanya yang begitu lembut. Matanya yang biru sudah mulai tampak jelas. Tangannya meraup wajah gadis itu hati-hati, mengusap-usap pipinya dengan lembut karena tidak percaya.


    "Silva?


    "Sssstt.." Silva menempelkan jarinya ke mulut Reader. "Kita akan mengeluarkanmu dengan segera."


    Sebelum Silva menutupkan matanya, Reader sudah keburu mengapit kedua pundak Silva dan menjatuhkannya ke tanah.

__ADS_1


    "Silva," Geramnya. Kemudian tangan pemuda itu mencekik leher Silva.


__ADS_2