Six Of Foxes (Enam Rubah)

Six Of Foxes (Enam Rubah)
Bagian 4 (Mengenal dunia) Krista


__ADS_3

Krista merasakan seakan dia dan Ken telah menjadi prajurit kembar, berpura-pura bahwa mereka baik-baik saja, menyembunyikan luka dan memar dari anggota kru yang lain.


    Untuk mencapai tebing, untuk menghadap ke Üdeshleg, dibutuhkan perjalanan dua hari lagi, tapi semakin ke selatan dan semakin dekat ke pesisir, semakin mudah pula langkah mereka. Cuaca semakin hangat, tanah beku meleleh, dan Krista mulai melihat tanda-tanda musim semi. Dia kira Üdeshleg akan mirip dengan Moontown---kelabu dan cokelat yang terdiri dari jalan-jalan ruwet berselubung kabut dan asap batu bara, dan diramaikan hiruk pikuk pedagang. Pelabuhan Üdeshleg disesaki kapal, tapi jalan-jalannya berbanjar rapi ke perairan, sedangkan rumah dicat warna-warni---hijau, biru, merah, merah jambu, kuning---seolah-olah menantang alam liar putih dan musim dingin panjang di utara sini. Bahkan gudang-gudang di tepi dermaga juga warna-warni ceria. Üdeshleg menyerupai kota bayangan Krista semasa kanak-kanak, semua teratur dan bewarna-warni seperti permen.


    Apa Septicaye sudah menunggu di dermaga, terparkir nyawan sambil mengibarkan bendera Kalterville dan bendera jingga-hijau khas perusahaan Teluk Haanraadt? Jika rencana berjalan sesuai dengan harapan Ken, Besok malam mereka tinggal melenggang ke dermaga Üdeshleg sambil membawa serta Erikson, naik ke kapal, dan sudah jauh di laut sebelum ketahuan oleh siapa pun di Bärchen. Krista tidak suka membayangkan besok malam ada yang tidak beres.


    Krista melayangkan pandangan ke tempat Royalemerald berdiri, benteng putih agung di atas tebing mahabesar yang menghadap ke pelabuhan. Reader menyebut tebing itu mustahil dipanjat dan Krista harus mengakui bahwa akan sukar mendaki ke sana, bahkan bagi Kucing. Tebing itu terkesan kelewat tinggi dan, terang laksana es.


    "Meriam," kata Tera.


    Ken menyipitkan mata ke senjata-senjata besar yang mengarah ke teluk. "Aku pernah membobol bank, gudang, griya, museum, brangkas, perpustakaan buku langka, dan sekali ke kamar tidur utusan tamu Knuddelbär yang istrinya sedang berleha-leha. Tapi, aku tidak pernah ditembaki meriam."


    "Selamat menikmati pengalaman baru," tukas Tera.


    Krista merapatkan bibir. "Mudah-mudahan sampai tidak begitu."


    "Senjata-senjata itu ditempatkan di sana untuk menghentikan armada yang datang menyerbu," kata Tera penuh percaya diri. "Semoga berhasil mengenai sekunar kecil ceking yang membelah gelombang demi menyongsong peruntungan dan kejayaan."


    "Akan kukutip pertanyaanmu ketika peluru meriam mendarat di pangkuanku," kata Silva.


    Mereka dengan mudah masuk ke dalam lalu lintas turis dan pedagang yang bergerak di pertemuan antara jalan tebing dengan jalan utara ke Üdeshleg atas. Kota atas merupakan luapan dari kota di bawah, kawasannya yang tersebar luas memuat toko, pasar, dan penginapan yang melayani para penjaga dan staf yang bekerja di Royalemerald beserta para pengunjung. Untungnya, khalayak sedang ramai dan beragam, alhasil rombongan tidak menarik perhatian. Krista spontan bernapas lebih lega. Dia sempat khawatir dirinya dengan Tera akan kelihatan mencolok sekali dalam lautan pirang di ibukota Bärchen.Mungkin kru dari Kuwei juga mengandalkan keragaman khalayak untuk menyamarkan diri.


    Tanda-tanda perayaan Üdeshleg ada di mana-mana. Toko-toko memampang pajangan elok berupa kue merica berbentuk serigala, sebagian digantung seperti ornamen di pohon besar yang meliuk-liuk, sedangkan jembatan yang melintang di atas sungai dihiasi pita-pita bewarna perak khas Bärchen. Satu-satunya jalan masuk ke Royalemerald dan sekaligus satu-satunya jalan keluar. Akankah mereka menyebrangi jembatan itu sebagai pemenang besok?


    "Apa itu," tanya Reyn, berhenti di depan gerobak pedagang keliling yang menjual anyaman bundar daham dan pita perak.


    "Pohon voda," jawab Reader. "Pohon keramat Syel."


    "Pohon itu konon berdiri juga di tengah-tengah pulau putih," kata Silva, mengabaikan ekspresi teguran oleh si orang Bärchen. "Di sanalah Dushenka berkumpul untuk upacara mendengarkan."


    Ken mengetuk tongkatnya ke tanah. "Kenapa baru kali ini aku mendengarkan?"


    "Pohon voda dihidupkan oleh roh Syel," kata Reader. "Di sanalah kami paling mungkin mendengar suaranya."


    Mata Ken berkilat-kilat. "Bukan itu pertanyaanku. Kenapa perkara itu belum tercantum dalam denah kita?"


    "Karena tempat itu adalah tempat yang paling suci dan tidak penting dalam misi kita."


    "Biar aku yang mencantumkan apa yang penting. Ada lagi yang dengan bijaknya tidak kau ceritakan?"


    "Royalemerald adalah kompleks mahabesar," kata Reader sambil berpaling. "Aku tidak bisa melabeli tiap retakan dan pojokan."


    "Kalau begitu, mari kita berharap mudah-mudahan tidak ada yang bersembunyi di pojokan itu," tukas Ken.


    Üdeshleg atas tidak sungguh-sungguh memiliki pusat kota, tapi sebagaian besar kedai minum, penginapan, dan kios perdagangannya terkonsentrasi di seputar kaki bukit yang mengarah ke Royalemerald. Ken membimbing mereka ke jalanan, seperti asal saja, sampai mereka menemukan kedai bobrok yang bernama Gestinge.


    "Di sini?" keluh Tera sambil menyipitkan mata ke ruang utama yang pengap. Seisi tempat itu bau bawang putih dan ikan.


    "Apa itu gestinge?" Krista membatin keras-keras.


    "Artinya  'surga'," kata Reader. Dia sekalipun tampak ragu-ragu.


    Silva mencarikan meja di teras atas atap, teras tersebut praktis kosong. Mereka lari terbirit-birit karena takut akan makanan di kedai itu---ikan herring yang digoreng dengan minyak amis, roti hitam basi, dan semacam mentega yang samar-samar tampak bulukan.


    Tera memandangi piringnya dan mengerang. "Ken, kalau kau ingin aku mati, aku lebih memilih peluru daripada racun."


    Silva mengerutkan hidung. "Kalau aku saja tidak bernafsu makan, berarti ada masalah."


    "Kita ke sini demi pemandangan, bukan karena makanannya."


    Dari meja mereka, gerbang luar dan pos jaga pertama Royalemerald kelihatan jelas, sekalipun jauh. Gerbang itu berupa busur putih, terbentuk dari dua monumen serigala batu yang berdiri dengan kaki belakang, dan melintangi jalan menanjak yang menuju Royal. Krista dan lain memperhatikan lalu lintas masuk-keluar sambil menggigit makan siang, menanti label penanda gerobak penjara. Nafsu makan Krista akhirnya pulih dan dia berusaha makan sebanyak mungkin untuk mengumpulkan tenaga, tapi sup pesanannya justru membuat tidak berselera.


    Karena tidak ada kopi, mereka memesan teh dalam gelas kecil yang serasa membakar tenggorokan mereka, tapi menghangatkan mereka saat angin bertambah kencang.


    "Kita akan kelihatan mencolok tak lama lagi," kata Silva. "Ini bukan tempat yang lazim untuk berlama-lama."


    "Mungkin hari ini tidak ada tahanan yang mesti mereka bawa ke penjara," tebak Reyn.


    "Selalu ada tahanan yang mesti dibawa ke penjara," Ken menimpali, lalu mengedikkan dagu ke jalan. "Lihat."


    Gerobak berbentuk kotak berhenti di depan pos jaga. Gerobak itu diseret oleh empat ekor kuda, sedangkan atap dan sisinya yang tinggi ditutupi kanvas hitam. Pintu di sebelah belakang terbuat dari besi tebal, digembok dan dipalang.


    Ken merogoh saku mantelnya. "Ini," dia berkata dan menyerahkan buku tipis bersampul rumit yang selalu Ken bawa kepada Tera.


    "Apa kita hendak membacakan cerita keras-keras?"

__ADS_1


    "Buka saja belakangnya, jangan yang lain."


    Tera membuka buku itu dan menatap lekat-lekat halaman terakhir, kebingungan. "Lalu?"


    "Coba diangkat, supaya aku tidak perlu melihat wajahmu yang jelek."


    "Wajahku berkarakter. Lagipula---oh!"


    "Bacaan bagus, ya?"


    "Siapa yang tahu aku bakal menggemari sastra?"


    Tera mengoperkan buku kepada Reyn, yang mengambilnya dengan hati-hati. "Tulisan apa?"


    "Lihat saja," kata Tera.


    Reyn mengerutkan kening dan mengangkat buku ke atas, lalu menyeringai. "Dari mana kau dapat ini?"


    Reader memperoleh giliran dan serta-merta mendengus kaget.


    "Namanya buku tanpa punggung," kata Ken saat Krista mengambil buku tersebut dari Silva dan mengangkatnya. Halaman-halaman buku memuat khotbah biasa, tapi sampul belakang nan rumit menyembunyikan dua lensa yang berfungsi sebagai teropong. Ken pernah menyuruh Krista untuk mengawasi perempuan-perempuan yang menggunakan kotak bedak dengan lensa semacam itu di Kelab Rubah. Sambil berlagak bercermin, mereka bisa melihat kartu-kartu yang dipegang pemain dari seberang ruangan, lalu memberi isyarat kepada seorang rekan di meja.


    "Cerdik," komentar Krista sambil mengintip lewat lensa. Di mata pelayan dan para pelanggan lain di teras, mereka kelihatannya sedang mengoperkan buku, barangkali untuk membahas bagian yang menarik. Namun, Krista nyatanya sedang melirik pos jaga dan gerobak yang terparkir di depannya.


    Gerbang di antara kedua patung serigala terbuat dari besi, yang dihiasi simbol pohon voda keramat dan diapit oleh pagar jeruji tinggi berpasak-pasak yang mengelilingi Royalemerald.


    "Empat penjaga," Krista mencermati, persis seperti kata Reader.


    "Merekalah garis pertahanan pertama," kata Reader. "Mereka akan mengecek berkas-berkas dan mengonfirmasi identitas, mengesampingkan siapa saja yang menurut mereka perlu diperiksa lebih seksama. Pada saat yang sama besok, antrean tamu Üdeshleg di depan gerbang akan memanjang sampai ke jembatan."


    "Pada saat yang sama besok, kita sudah di dalam," kata Ken.


    "Seberapa sering gerobak itu datang?" tanya Tera.


    "Tergantung," kata Reader. "Biasanya pagi. Kadang-kadang siang. Tapi, kuduga mereka takkan ingin tahanan datang bebarengan dengan tamu."


    "Kalau begitu, kita harus naik gerobak pagi," kata Ken.


    Krista kembali mengangkat buku tak berpunggung. Sais gerobak mengenakan seragam abu-abu yang mirip dengan seragam penjaga gerbang tapi tanpa selempang ataupun dekorasi. Sais turun dari kursi dan memutar ke belakang untuk membuka pintu besi.


    Krista mengembalikan buku kepada Reader dan, sementara buku dioperkan di seputar meja, Krista merasakan keresahan mereka memuncak secara bersama-sama. Hanya Ken yang tampak tidak gentar.


    "Ditudungi, dirantai, dan diborgol?" kata Tera. "Kau yakin kita tidak bisa masuk sebagai penghibur? Aku dengar Reyn jago bermain seruling."


    "Kita masuk sebagai diri sendiri," kata Ken. "Sebagai kriminal."


    Silva mengintip lewat lensa buku. "Mereka sedang menghitung tahanan."


    Reader mengangguk. "Jika prosedur belum berubah, mereka akan melakukan hitungan cepat di pos pemeriksaan pertama, lalu perhitungan kedua di pos pemeriksaan berikut, sekaligus menggeledah interior dan kolong gerobak kalau-kalau ada barang terlarang."


    Silva menyerahkan buku kepada Krista. "Kalau jumlah tahanan tambah enam, si sais pasti memperhatikan ketika dia membuka pintu. "


    "Kalau saja aku sudah memperhatikan itu," kata Ken datar. "Biar kutebak kau belum pernah mencopet."


    "Dan biar kutebak kau tidak pernah memilih potongan rambut baik-baik."


    Ken mengerutkan kening dan mengusap samping kepalanya, mendadak sadar diri. "Kalaupun potongan rambutku tidak beres, persoalan niscaya beres dengan enam puluh juta kairo."


    Tera geleng-geleng kepala. "Kita akan makan biskuit kaleng ya?"


    "Tepat."


    "Aku tidak kenal kata itu, biskuitkaleng," kata Reader, meluncurkan suku kata demi suku kata menjadi satu kesatuan.


    Silva memandangi Ken dengan mimik masam. "Aku juga. Kami belum makan asam garam jalanan sebanyak dirimu, Tangan Kotor."


    "Sampai kapan pun juga tidak akan pernah," kata Ken enteng. "Ingat sasaran kita yang suka meleng?" Reyn berjengit. "Misalkan saja dia adalah turis yang sedang berjalan-jalan di Krisbow. Dia mendengar tempat itu rawan copet, maka dia berkali-kali menepuk dompetnya, memastikan bahwa dompetnya masih tersimpan, memuji diri sendiri atas keawasan dan kewaspadaannya. Dia tidak bodoh. Padahal, apa yang dia lakukan tiap menepuk saku belakang atau muka jasnya? Dia memberi tahu semua pencuri di Kharfa di mana persisnya dia menyimpan uang."


    "Demi Kaum Kudus," gerutu Silva. "Aku barangkali pernah melakukan itu."


    "Semua orang pernah," kata Krista.


    Tera mengangkat alis. "Tidak semua orang."


    "Itu cuma karena kau tidak pernah menyimpan apa-apa di dalam dompetmu," balas Silva.

__ADS_1


    "Kejamnya."


    "Fakta."


    "Fakta itu cuma untuk orang-orang yang tidak imajinatif," tepis Tera sambil melambaikan tangan.


    "Nah, pencuri yang payah," lanjut Ken. "pencuri yang tidak lihai, langsung saja menyambar dan mencoba kabur. Cara yang ampuh untuk dipetik oleh Kardolla. Tapi, pencuri tulen---seperti aku---mencolong dompet dan meletakkan sesuatu sebagai gantinya."


    "Biskuit?"


    "Biskuit kaleng hanya istilah. Barang peganti bisa saja batu, sebatang sabun, bahkan kertas bekas kalau ukurannya pas. Pencuri tulen bisa menaksir berat dompet hanya dengan memperhatikan sejauh apa jas si pemilik menggelayut. Dia menukar dompet, sedangkan si sasaran terus menepuk-nepuk dengan hati senang. Ketika dia hendak membayar omelet atau memasang taruhan di meja, barulah dia tersadar bahwa dia telah dikadali. Pada saat itu, si pencuri sudah berada di tempat aman, sibuk menghitung perolehannya."


    Reyn bergeser dengan resah di kursinya. "Aku tidak mengerti kenapa kau selalu menyebut kalau pencuri tulen bisa ini itu. Di mataku, jelas-jelas seperti guru yang memahami hukum fisika karena bisa menghitung berat dengan main mata saja. Menipu orang tak bersalah tidak sepatutnya dibanggakan."


    "Kalau kita melakukan dengan benar, tentu saja patut dibanggakan." Ken mengangguk ke arah gerobak penjara, yang sekarang menggelinding di jalan menuju Royalemerald dan pos pemeriksa kedua. "Kita akan menjadi biskuit."


    "Tunggu dulu," kata Silva. "Pintu dikunci dari luar. Bagaimana kita bisa masuk dan lantas membuat pintu terkunci lagi dari luar?"


    "Itu hanya menjadi masalah bagi yang tidak kenal pencuri tulen. Soal kunci serahkan saja kepadaku."


    Tera menggaruk-garuk tungkainya yang panjang. "Jadi, kita harus membuka kunci, membuka rantai, dan melumpuhkan enam tahanan, lantas menggantikan mereka dan entah bagaimana mengunci gerobak lagi tanpa ketahuan oleh para penjaga dan tahanan lain?"


    "Betul."


    "Kau ingin kami menjajal tantangan mustahil apa lagi?"


    Senyum simpul membayang di bibir Ken. "Akan kubuatkan daftarnya untukmu."


>><<>><<>><<


    Pencuri tulen atau tidak, Krista ingin tidur di kasur tulen yang empuk, tapi mereka tidak akan bermalam dengan nyaman di penginapan, tidak jika mereka ingin masuk ke gerobak penjara dan Royalemerald sebelum Üdeshleg. Terlalu banyak yang mesti mereka lakukan.


    Silva diutus untuk mengobrol dengan warga lokal dan mencari tahu tempat terbaik untuk mencegat gerobak. Setelah mencicipi ikan herring seram di Gestinge, mereka menuntut agar Ken menyediakan konsumsi yang bisa dimakan, dan saat ini mereka menunggu Silva di toko roti yang ramai sambil mengaduk-aduk kopi hangat campur cokelat, roti gulung dan kue kering sudah disikat habis, hanya menyisakan remah-remah berlumur mentega yang berserakan di atas meja. Krista memperhatikan bahwa muka Reader tak terjamah di depannya.


    "Pasti berat bagimu," kata Krista pelan. "Berada di sini tapi belum betul-betul pulang."


    Reader memandangi cangkirnya. "Kau tidak tahu seberapa berat."


    "Rasanya aku tahu. Aku sudah lama tidak melihat kampung halamanku."


    Ken berpaling dan mulai bercakap-cakap dengan Tera. Dia sepertinya selalu melakukan itu kapan pun Krista menyinggung-nyinggung kepulangan ke Juwel. Tentu saja, Krista tidak yakin bisa menemukan orang tuanya di sana. Orang-orang suli adalah kaum pengembara. Bagi mereka "rumah" semata-mata berarti keluarga.


    "Apa kau khawatir karena Silva keluyuran di luar sana?" tanya Krista.


    "Tidak."


    "Itu keahliannya, asal tahu saja. Dia punya bakat alam sebagai aktris."


    "Aku tahu," kata Reader muram. "Dia bisa menjadi siapa saja di depan siapa saja."


    "Dia paling bagus menjadi Silva saja."


    "Dan siapakah Silva itu?"


    "Aku curiga kaulah yang paling mengenal dia di antara kami semua."


    "Pemberani," katanya dengan enggan.


    "Dan lucu."


    "Konyol, apa saja mesti dijadikan bahan candaan."


    "Nekat," kata Krista.


    "Berisik."


    "Jadi, kenapa matamu terus-menerus jelalatan ke kerumunan orang untuk mencarinya?"


    "Tidak, kok," Reader memprotes. Krista kontan tertawa melihat mukanya yang cemberut. Pemuda itu menyenggol remah-remah kue dengan jarinya. "Silva persis seperti yang kau katakan. Sungguh berlebihan."


    "Mmm," guman Krista sambil menyesap minuman. "Barangkali kau yang kurang."


    Sebelum Reader sempat menanggapi, bel di pintu toko roti berdenting dan masuklah Silva, pipinya kemerahan, rambut cokelatnya indah berantakan. Dia mengumumkan, "Beri aku roti gulung manis sekarang juga."


    Sekalipun Reader banyak menggerutu, ekspresi lega yang terlintas di wajah pemuda itu menurut Krista bukanlah hasil khayalannya belaka.

__ADS_1


~Selanjutnya Krista 2


__ADS_2