
Ken berada di garis depan. Dia memang orang yang lemah dan kecil, tapi otaknya sempurna akal. Misinya kali ini adalah membunuh salah satu kopral Kardolla, Roger. Musuh yang tangguh, dia pernah menjadi prajurti semasa jaman monster bermunculan, musuh yang berpengalaman. Salah satu rakyat memberi kami tawaran untuk membunuh Roger. Kabarnya dia memperlakukan rakyat jelata semena-mena dan, mereka ingin mengakhiri Roger dengan kekuatan Geak.
Katanya Roger selalu lewat jalan penghubung kelab gagak dan rumah juragan. Dia biasanya dikawal sedikitnya dua orang, kedua orang itu juga berpengalaman. Ken sebenarnya tidak peduli mau diapakan rakyat itu, semua orang harus mendapatkan pengalaman buruk. Hanya saja bayarannya yang tinggi Ken mau melakukannya.
Sebelahnya ada Riper, teman seperjuangan Ken. Mereka berdua sedang berada di bangunan tua yang tidak berpenghuni. Tempat itu sering digunakan Ken untuk mengintai dan manisnya tempat itu berada di tengah jalan yang akan Roger lewati. Jam dua belas malam, gang ini benar-benar sepi. Biasanya jalan kecil ini sering digunakan festival. Keramaian itu datang setiap tiga bulan sekali dan, pemicu keramaianya saat orang saling menghambur-hamburkan uang dari atap. Ken memang suka uang, tapi dia tidak murahan.
"Tempat ini seperti desa mati saja," Kata Riper sambil memantau. "Jika kita ditugaskan untuk membunuh kopral itu, seharusnya dia sudah lewat dari tadi. Apa dia sedang libur berjudi?"
Ken membaca sebuah buku kecil yang kumuh lalu menutupnya. "Bersabarlah," singkat dan jelas.
Boiler mendatangi mereka berdua dan mengumumkan hasilnya. "Dia akan datang sebentar lagi, Tera dan Krista masih mengawasi mereka." Boiler adalah tukang pukul terbaik milik Ken.
Sekitar sepuluh menit tampak tiga orang dari kejauhan. Tidak salah lagi, itu Roger.
"Ken," kata Riper.
"Ya aku tau. Kita tidak boleh menyergap di sini, kita harus membawanya ke lapang yang agak luas." Ken mulai bergerak dari posisinya. "Riper, kau curi pistol orang itu. Usahakan curianmu bisa Roger rasakan. Aku ingin kau bawa dia ke lapang Tosa."
Riper tampak seperti orang bodoh. "Jangan aneh-aneh Ken, misimu bisa gagal dan aku bisa mati," Ken hanya terus berjalan menuju ke lantai bawah.
"Kenapa di lapangan?" Tanya Boiler
"Aku tidak ingin membangunkan warga."
Roger berjalan mendekati Riper. Dari tampak mukanya, kelihatan santai sekali seakan-akan jalan pulangnya sedang dilindungi Dewa. Riper muncul di belakang tiga orang itu, dia lari ke depan dan menyambar pistol Roger. Anak buahnya tidak akan menembak dimalam hari, posisi Kepolisian mereka akan hancur. Mereka terpaksa mengejar si pencuri, dan tugasnya berhasil membawa mereka ke lapangan. Di depan sana ada dua orang yang menunggu, Ken dan Boiler. Riper berlari ke arah mereka, dan berhenti dengan sempurna di samping Ken.
"Kalian aneh, justru di sini kami bisa menembak kalian," Roger tertawa. "Pengawal ku mempunyai dua senjata. Pertama-tama, akan kutembak kau yang di tengah. Mungkin kau ketuanya, bukan?"
Ken meminta pistol yang Riper curi tadi. "Coba saja Roger."
Roger tersenyum, mengangkat tangan kanannya, aba-aba untuk menembak. Hanya Ken dan Riper yang membawa senjata, sedangkan mereka berdua masing-masing punya senjata ganda. Riper benar-benar bingung mungkin kali ini dia akan menyaksikan kematian Ken. Ditambah lagi Ken memberi kode untuk tidak menembak. "Ken katakan kau sudah memperkirakan ini." Seru Riper.
"Tembak!" Roger mengayunkan tangannya kebawah.
Letusan tembakan membelah udara, Boiler jatuh dan berteriak.
"Boiler!" Riper menghampirinya dan langsung berlutut di sampingnya, dia menekan luka Boiler yang sedang bercucuran darah.
"Dasar kali---" Roger terdiam.
"Ada masalah?" Tanya Ken kepada Roger.
"Apa maksudmu?" Suaranya begitu tinggi, jelas sekali dia sedang panik bertanya-tanya.
"Ken," kata Riper. "Pendarahan Boiler semakin banyak."
"Bagus," kata Ken.
"Dia butuh medik!"
Selama ini yang membuntuti Roger adalah Tera dan Krista. Ternyata Ken menyembunyikan misi aslinya. Itu sudah biasa, Ken memang tidak ingin membagi-bagikan rencana kepada orang yang tidak bersangkutan. Dia memang meragukan semua perkataan orang. Krista dan tera mengacungkan pistol ke arah Roger. Tangannya bergemetar, sudah gatal ingin menarik pelatuk dan ingin membawa Boiler ke tempat penyembuhan. Awalnya mereka menolak anjuran Ken untuk menembak Boiler. Pemuda itu tidak memberi satupun alasan. Pada akhirnya mereka hanya bisa menurut saja, dan Ken tau pasti kalau mereka akan tidak tega menembak temannya sendiri. Kopral itu tidak bergerak sedikitpun, menoleh pun tidak. Dia terhenti karena merespon punggungnya ditempelkan bibir senapan.
"Dasar, tikus-tikus kecil." Roger mundur dengan cepat dan menangkap masing-masing tangan mereka yang memegang senjata. Dia kembali melaju ke depan dan melempar Tera bersama Krista ke arah Ken. Kecuali senjatanya, sekarang berada di tangan kopral. "Aku ulangi pembicaraan tadi, akan kubunuh kau terlebih dahulu."
__ADS_1
Ken tidak mengangkat tangannya untuk bersiap menembak. "Aku ingin kau memberi tahu kami di mana lokasi Knowledge, dan kita berdua akan kembali ke rumah dengan aman. "
"Untuk apa aku meladeni orang sepertimu," seru Roger. "Bersiaplah untuk mati."
"Ken tembak dia!" Teriak Krista.
Mereka memang tidak disuruh untuk menembak Roger kecuali Ken sendiri yang melakukannya. Situasinya kali ini mendebarkan. Orang yang mereka lawan bukan sembarang musuh, dia adalah kopral Kardolla. Boiler masih mengerang-erang kesakitan. Ken masih berpose santai, sedangkan yang lain mencoba menghentikan pendarahan Boiler.
"Yakinkah kau menembakku, sedangkan istrimu bisa hangus terbakar." Mereka semua tiba-tiba tercengan kaget.
"Apa yang kau lakukan, rubah?" Pistol di tangannya bergetar.
Ken menghirup napas dalam-dalam. "Apa pendengaranku ini benar, aku mendengar suara sirene dari sini dan bau bunga melati. Mungkin bau asap juga." Ken menatap Roger dengan tajam. "Tembak aku, Roger. Maka kau akan mati bersama istrimu dengan cara yang berbeda. Jika kau lari dari sini, maka aku sendiri yang akan menembak kakimu lalu akan aku seret kau menyaksikan rumahmu menjadi tanah dan akan aku ulangi pembicaraan ini dengan lelaki yang malang. Atau, kau beri tahu aku di mana itu Knowledge dan akan aku biarkan kau pergi menyelamatkan istrimu yang masih bernapas. Waktu terus berjalan, Roger."
Jari Roger lagi-lagi berkedut di pelatuk dan Krista pun menegang. "Demi Dewi Shi Ken, apa pula yang kau lakukan sekarang?" Tanya Tera.
Kepanikan Roger kalang kabut, dia tidak bisa diam di tempat lama-lama sedangkan istrinya perlahan-lahan terbakar. "Tempat itu ada di Krul Septicaye. Puas!"
Ken mengangguk. "Sangat kenyang, sekarang pergilah dan jangan ganggu rakyat itu lagi."
Roger lantas berlari ingin menyelamatkan kekasihnya. Kau mempunyai orang yang kau sayangi, itu sebabnya kau lemah. Ken tidak ingin menembak orang itu, dia menyimpan satu peluru untuk orang lain. Ken berjalan ke arah Boiler yang sedang kesakitan.
"Ken kami sudah susah payah menembak Boiler, dan kau malah membiarkannya?" Tera bersungut. Ken mengarahkan senjatanya ke Boiler. Mereka lantas menatap Ken dengan buas.
"Apa aku tidak tahu kejadian di bank Cast? Aku kehilangan empat orang gara-gara disergap oleh kepolisian Kardolla dan, aku hampir mati di sana." Ken menarik hammer revolvernya. "Biang kerok semua itu bermula darimu bukan? Kau memberitahukan kepada polisi Kardolla untuk menghentikan rencanaku."
Seketika mereka semua menatap Boiler dengan tidak percaya.
Letupan tiba-tiba, Ken menembak Boiler tepat di leher. Mereka sungguh tidak menduga, ternyata sahabatnya sendiri yang melakukan hal tersebut. Riper bangkit dari tanah dan menyentuhkan dahinya ke dahi Ken dengan muka geram. Kepalanya lantas terangkat sedikit terkena benturan dari Riper, Ken tidak membalas gerakan apapun. Dia berbalik dan pergi dari tempat. Tera dan Krista tetap tidak percaya sambil memegang tangan Boiler dan Riper berdiri dengan mata berkaca-kaca.
Wajah Ken tampak kesal, sangat frustasi, dia benar-benar marah, dia benar-benar tidak suka apa yang terjadi hari ini. Kenapa kau orangnya Boiler, kenapa? Ken akan membunuh orang yang melukai temannya karena dia muak melihat teman-temannya mati. Sangat amat muak. Ken harus membunuh temannya sendiri sebab Boiler menghianati dan membunuh rekan-rekannya, teman-teman Ken. Cobaan Ken begitu berat, dia berharap tidak akan mengulangi hal yang sama.
Hal ini tiba-tiba saja, Ken tetap mengarahkan pistolnya ke arah Riper. Uang lima belas juta ada di depan mata mereka. Tapi untuk kali ini Ken tidak tertarik sama sekali.
"Turunkan senjatamu Ken," tangan Riper seperti melambai-lambai, hanya saja dia tidak menggerakkan tanggannya.
"Ken, apa yang kau lakukan?" Krista mendekat dan memegangi tangan Ken yang membawa senjata. Tanganya sedikit bergetar, Ken tidak dapat menguasai dirinya sendiri.
"Maaf Riper, tugasmu sampai di sini," desis Ken.
Riper berpindah sikap menjadi tenang. Dia memundukkan topinya dan mengeluarkan rokok dari sakunya. "Firasatku tentang dirimu memang benar Ken. Aku sedang bermain dengan orang yang salah."
"Aku juga tidak menduga, ternyata kau itu si aktor." Jawab Ken.
Krista tampak gelagapan, memandang Ken dan Riper silih berganti. Krista melepaskan genggamannya dan mundur perlahan-lahan, dia linglung tidak menduga ini terjadi. Jenis senjata yang Ken bawa adalah flintlock, hanya sekali tembak dan itu harus kena. Bahkan Ken hanya kali ini membawa senjata. Sedikit-dikitnya cuma satu yang dia bawa. Baginya pistol yang ini tidak masuk dalam hitungan. Riper membawa senapan yang lebih canggih, ada enam kamar peluru di pistolnya. Dia belum menarik senjata itu.
"Apa kau akan membunuhku Ken?" Tanya Riper. "Aku bahkan tidak ingin melukaimu."
Ken menyipitkan matanya. "Tapi aku harus melakukannya."
Pada akhirnya Riper mencabut pistolnya dari celananya. "Aku mengharapkan misiku berjalan lancar tanpa melukai teman ku sendiri, tapi tidak ada pilihan lain," mulai mendidik ke arah Ken.
__ADS_1
"Begitu juga sama dengan diriku." ucap Ken. Mereka berdua saling bertatapan mata, bersiap-siap segala hal yang akan terjadi. Ini adalah perang persahabatan.
Mereka berdua saling menembak dan menghindar. Sasaran Ken ternyata bukan orangnya, tapi senjatanya.
Pistol Riper hancur di tangannya. Ken mendekat dengan cepat, dia melompat sedikit sambil memutar tubuhnya ke kiri. Alhasil kaki kirinya mempunyai momentum untuk menghajar kepala Riper. Tangannya dengan cepat menangkis tendangan dari Ken. Tapi saking cepatnya Ken berputar, dia masih punya kesempatan untuk menendang dengan kaki kanannya. Riper melesat ke arah kanan dengan gerakan berguling sebab tidak kuat menahan serangan yang kedua. Dia tidak ingin tinggal diam, Riper melesat tepat di depan Ken dan menghujani pukulan tangan. Ken tidak akan kuat menangkis pukulan Riper, dia hanya menghindar. Perbandingan tubuhnya berbeda jauh.
Ken telah mundur sampai di tembok, tidak ada celah lagi untuk menghindar. Riper mencekik leher Ken "Otakmu aku akui benar-benar hebat. Tapi fisikmu sungguh lemah."
Ken mengerang lirih. "K...kau benar Riper," Ken terdesak. "Tapi kau bodoh. Dari awal aku memang tidak ingin melawanmu sendirian."
Riper tiba-tiba sadar dan melemahkan cekikannya. Krista di belakang mendaratkan pisaunya ke arah jantung Riper, lantas tubuh pria itu tumbang di dada Ken dan menyandarkan dagunya ke pundak Ken
"Aku harus membawakan uang yang banyak untuk keluarga, Ken. Tapi seharunya bukan mendapatkan uang dari membunuh." Riper tersenyum. "Aku senang bisa mati di pelukanmu Ken. Maafkan aku."
Ken menahan diri untuk tidak menyeringai. Lagi-lagi keluarga. Ken merasakan pria itu tidak bernapas, tubuhnya merosot kebawah dan jatuh. Ken tetap berdiri di tempat dengan tatapan kosong. Sahabatnya barusan mati di depannya. "Ayo," suara Ken parau.
Mereka berdua menghampiri Erikson dan, meninggalkan tubuh Riper. "Tugasmu sudah selesai. Ambil jatahmu nanti."kata Ken.
"Tunggu dulu," Krista memulai. "jadi selama ini kita hanya membawa Erikson palsu?" Kata Krista penuh kehampaan.
"Benar," Jawab Ken. Keadaan berubah menjadi duka. Mereka kehilangan salah satu orang yang berjuang bersama. Ken rasanya hancur berkeping-keping tapi, dia harus tetap berjalan.
"Kenapa kau bisa tahu kalau Riper itu si aktor?" Krista bertanya.
"Sejak kita berada di ruang bawah tanah, sebenarnya aku tidak mengharapkan satupun bala bantuan dari mereka. Hanya untuk memastikan."
"Ternyata itu yang membuat dirimu aneh," sahut Krista.
Ken lanjut bicara. "Aku berusaha untuk tidak berpikir yang aneh-aneh. Tetapi, saat aku membicarakan poster si aktor---" Ken terdiam.
"Saat kau membicarakan poster?" Jawab Krista mengulangi kata-kata Ken.
"Poster itu bergambar hitam dan putih, sedangkan Riper bisa menebak mata biru si aktor. Mata tidak bisa dirombak dan mata Riper kebetulan biru cerah," itu menyakiti perasaan Ken.
"Aku tidak mengerti kenapa kau bisa sekuat itu Ken. Apa karena kau tidak menyukai siapapun?"
"Bisa jadi."
"Kalau aku yang menghianatimu?"
Ken hanya diam saja. "Kabarkan masalah ini ke Lin."
"Tapi sekarang kau perlu ditemani Ken." Krista mengotot. "Hentikan rasa cemasmu itu, Krista. Ceritakan masalah ini kepada Lin segera."
Krista langsung pergi menuju ke tempat Lin. Untuk detik ini, Ken ingin mengistirahatkan pikirannya, untuk kali ini saja. Sialan. Ken akan pergi ke tempat kedai kesukaannya, tidak banyak orang dan tenang. Cocok untuk dirinya. Ken melewati jalan tembusan. Ternyata, sejak awal dia tidak sendirian. Ken berjalan sambil memfokuskan telinganya. Tiba-tiba saja ada sosok Wanita dibalik bayangan.
"Ada urusan apa?" Tanya Ken. Seketika Wanita itu melaju ke arahnya, Ken tidak ingin memukul wanita itu kuat-kuat. Dia mengayunkan tangan kanannya, tetapi serangannya tembus. Ken hanya seperti memukul angin dan kehilangan keseimbangannya. Wanita itu memukul dagu Ken kuat-kuat sehingga pemuda itu jatuh. Ken menggeleng-geleng ingin menghilangkan rasa pusingnya.
Hantu? Itu hanya gosip seorang anak-anak saja. Ken mencoba untuk bangkit, tapi dia tiba-tiba tercengang melihat sosok Keiko. Waktunya membalas dendam, Ken. Jangan sia-siakan waktu. Ken merangkak mundur sambil melihat Wanita itu. Pemikirannya bergelombang kepanikan yang memalukan. Kemudian makhluk halus itu menyergapnya, dia merasakan jarum suntik di lehernya.
Idiot, pikirnya. Hantu yang membawa jarum suntik? Kemudian, hanyutlah Ken dalam kegelapan.
>><<>><<>><<
__ADS_1