
Selama 3 bulan terakhir, Lizzy terus belajar dengan giat, dan ia mendapat info bahwa dirinya diterima di Harvard University. Memang jika kita berusaha, mencoba, serta berdoa apapun yang kita inginkan akan membuahkan hasil.
Winny dan Randy belum mengetahui hasil bahwa anaknya tersebut lulus test di Harvard University. Lizzy ingin menyampaikan kepada orang tuanya dengan penuh semangat dan rasa bersyukur.
Lalu ia pun keluar dari kamarnya sambil membawa laptop yang tertera pengumuman bahwa dirinya lulus test.
" Mah, pah." panggil Lizzy sambil menuruni anak tangga.
" Iya kenapa nak?" tanya Winny yang datang dari dapur dan segera menghampiri Lizzy dan Randy yang berada di ruang tamu.
" Lizzy udh baca pengumumannya mah, pah." kata Lizzy dengan suara pelan.
" Terus gimana hasilnya?" ujar Winny.
Mereka berdua melihat Lizzy menunduk dengan laptop ditangannya.
" Tak apa sayang bila tidak masuk juga, kamu bisa masuk univ lain kok, akan papa usahakan." ucap Randy yang sambil mengusap kepala Lizzy dan menenangkan hatinya.
" Iya sayang gapapa kok. Jangan sedih." kata Winny memeluk Lizzy.
Lizzy pun membuka laptopnya dan menyerahkan kepada papa dan mama nya untuk melihat pengumuman hasil test tersebut. Winny dan Randy membaca tulisan bahwa Lizzy LULUS test dengan hasil yang memuaskan mereka menatap Lizzy dengan mata yang melotot dan melihat ke arah Lizzy yang tersenyum.
" Sayang kamu lulus?" tanya Winny tak percaya.
" Iya mah aku lulus." jawab Lizzy dengan yakin.
" Mah, anak kita lulus test di Harvard mah." ucap Randy bangga.
" Iya pah, ya ampun mama bangga banget nak." kata Winny sambil memeluk Lizzy dan mengecup kening anaknya itu.
" Papa bangga Liz sama kamu. Ya ampun." saut Randy sambil memeluk Lizzy juga.
" Kapan masuknya nak?" tanya Winny.
" 2 minggu lagi mah." jawab Lizzy.
" Yasudah akan papa urus secepatnya dokumen dan visa kamu." kata Randy.
#########
Waktu pun berlalu, Lizzy pun sudah mengemasi barang barang bawaannya dan Randy pun sudah menyiapkan segala keperluan Lizzy sepanjang 2 minggu ini. Mulai dari tiket pesawat, visa, apartment untuk Lizzy tinggal selama di Amerika, dan juga kartu kredit yang dapat ia gunakan untuk memenuhi kebutuhan Lizzy disana.
Winny sebenarnya tidak tega melepas anak angkatnya itu untuk tinggal jauh dari dirinya karena Winny sudah mendapatkan kenyamanan bersama Lizzy selama ini, tapi dengan bujukkan Randy, Winny pun tenang.
Lizzy pun turun dari kamarnya dengan membawa 2 koper yang isinya pakaian dan laptopnya. Lizzy menggunakan pakaian santainya yaitu kaos putih, jaket bomber hitam, celana levis panjang berwarna hitam, sneakers hitam, serta juga menggunakan topi hitam karena disana sedang musim panas.
" Nak ayo kita berangkat sekarang sebelom kamu ketinggalan check in." kata Randy.
" Iya pah, sebentar, ini kopernya berat." saut Lizzy sambil menuruni kopernya dari tangga.
" Pak Jarwo, tolong bantu angkat koper Lizzy dan naikkan ke mobil." perintah Randy.
" Baik tuan." saut Jarwo.
Setelah selesai memasukkan barang barang Lizzy kedalam mobil, mereka pun berangkat menuju bandara. Sebenarnya masih ada waktu 5 hari lagi untuk Lizzy memulai perkuliahannya disana, tetapi karena ia baru pertama kali datang ke negeri asing, ia pun harus mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya. Makanya ia berangkat lebih awal untuk melihat lihat negara asing tersebut.
Merekapun telah sampai di bandara setelah menempuh waktu hampir 2 jam karena macet akhir pekan yang menjadi ciri khas jalanan ibu kota. Lizzy, Randy, dan Winny pun turun dari mobilnya. Namun, Lizzy melihat ada sosok tak asing baginya yang sedang menunggu seseorang.
" Kak Lia? Bang Al?" tanya Lizzy pada orang tersebut.
" Iya dek, kita disini mau nepatin janji kita ke kamu bahwa kita pasti akan datang saat kamu akan pergi ke Amerika untuk study." kata Lia
" Emm makasih kak, bang, udah dateng jauh jauh." kata Lizzy sambil memeluk kk nya itu.
" Ehh dek, abang bangga loh punya calon adik ipar yang kuliah di Harvard." kata Al.
" Hahaha, aku gak istimewa bang, gak ada yang patut dibanggain." ucap Lizzy.
Lalu tak lama Winny dan Randy pun menghampiri mereka dengan diikuti oleh pak Jarwo yang membawakan koper Lizzy.
" Mah, pah apa kabar?" sapa Lia kepada Winny dan Randy yang memang sudah disuruh oleh Winny untuk mengakuinya sebagai mama nya juga seperti Lizzy. Bahkan identitas Lia juga telah mengikuti nama keluarga Surya Atmaja.
" Kami baik sayang, kamu gimana kabarnya? Kerjaan lancar?" saut Winny.
" Syukur deh kalau mama baik, aku juga baik mah, kerjaan lancar kok hehe." ucap Lia.
" Hallo tante, om." sapa Al.
__ADS_1
" Hai boy." saut Randy sambil tersenyum.
" Sayang, kamu hati hati ya disana, inget telepon mama atau papa jika ada apa apa, nanti mama suruh asisten kantor papa yang di Amerika ke apartment kamu." kata Winny.
" Iya mah, pasti Lizzy akan sering sering nelpon kok." ucap Lizzy.
" Nak, ini tiketnya serta pasport kamu. Visa udah papa urus, kalau kamu gak tau tempat duduk nya dimana kamu tanya pramugari aja ya." ucap Randy sambil memberi tiket pesawat dan pasport kepada Lizzy.
" Oke pah siap." saut Lizzy.
" Inget pesen mama ya sayang." tekan Winny.
" Iya mamaku sayang, akan Lizzy inget. Oiya Lizzy masuk kedalam dulu ya semuanya. Makasih udah anter Lizzy sampai saat ini dan makasih buat smuanya, nanti kalau liburan Lizzy akan kunjungi kalian kok." ucap Lizzy sambil memeluk mama papanya dan juga kak Lia serta bang Al.
Lalu setelah acara pamitannya selesai, Lizzy berjalan ke dalam bandara yang menuju tempat untuk check in.
Di Tempat yang sama, Edward pun harus segera kembali ke Amerika karena ia harus menyiapkan acara penerimaan mahasiswa baru di kampusnya.
Edward ke bandara hanya di temani oleh Dave, sahabatnya itu. Lalu setelah berpamitan dengan Dave, Edward pun berjalan menuju loket check in dan menunggu gilirannya disana.
Edward dan Lizzy berbaris untuk mengantri check in mereka dan pemeriksaan barang bawaan. Lizzy yang kebingungan karena ini adalah pertama kalinya ia naik pesawat dan ia harus mengerti sendiri tata cara naik pesawat. Ketika giliran Lizzy, ia pun maju ke loket dengan kebingungan dan memperlihatkan tiket serta pasportnya.
" Mbak mau kemana ya?" tanya petugas check in.
" Saya mau ke Amerika mbak." saut Lizzy.
" Mbak maaf ini adalah loket untuk penerbangan domestic, kalau untuk penerbangan internasional loket check in nya ada di sebelah sana." kata petugas sambil menunjuk loket lain.
" Oh gitu, baik terimakasih mbak." ucap Lizzy.
Ia pun masih ke bingung an dan bertanya kepada satpam bahwa ia membutuhkan bantuan untuk check in karena sebentar lagi pesawatnya akan lepas landas. Satpam bandara tak bisa membantu, ia hanya memberikan arahan kepada Lizzy, namun Lizzy masih belum paham juga. Keadaan itu diperhatikan oleh Edward yang melihat Lizzy kebingungan dalam check in. Edward pun menghampiri Lizzy yang masih berdiri di meja satpam.
" Sorry, butuh bantuan?" sapa Edward sambil menatap Lizzy.
" Ah iya saya butuh bantuan, karena ini adalah kali pertama saya naik pesawat." kata Lizzy.
" Penerbangan kemana?" tanya Edward.
" ke USA." jawab Lizzy.
" Maskapai apa?" tanya Edward.
" Bareng aja, saya juga penerbangan USA dan maskapai Emirates juga." kata Edward.
" Ok terimakasih banyak." ucap Lizzy sambil tersenyum.
Mereka pun mengantri di loket check in dan setelah selesai check in, mereka berjalan bersama menuju pesawat yang akan mereka tumpangi.
" Boleh liat tiketnya?" tanya Edward dan Lizzy pun langsung memberi tiketnya kepada Edward.
Edward pun mengantarkan Lizzy hingga ke tempat duduk.
" Itu tempatmu." kata Edward sambil menunjuk sebuah kursi di pinggir jendela.
" Terimakasih banyak telah membantuku. Tempatmu dimana?" ucap Lizzy.
" Haha sama sama. Tempatku adalah disampingmu." jawab Edward sambil duduk di kursinya yang memang hanya ada 2 yaitu kursi Lizzy dan Edward.
" Wah bisa kebetulan bersebelahan." kata Lizzy.
" Iya bisa sangat kebetulan hahaha." kata Edward.
Bunyi peringatan bahwa pesawat akan take off telah terdengar dan pramugari meminta agar semua penumpang menggunakan sabuk pengaman nya dengan benar. Lizzy terlihat kebingungan menggunakan sabuk pengamannya. Edward yang melihat hal tersebut langsung memakaikan Lizzy sabuk pengaman dengan tiba tiba hingga membuat jarak wajah mereka sangat dekat dan membuat Lizzy terkejut.
" Emmm terimakasih telah membantuku kembali." kata Lizzy dengan gugup.
" A.. Ah iya." jawab Edward dengan gagap juga
Selama dipenerbangan setelah transit, Lizzy tertidur dengan pulas sambil memakai earphone di telinganya.
" Cantik... Kayaknya gw pernah liat nih orang deh, tapi dimana ya?" kata Edward pelan sambil melihat wajah Lizzy yang sedang tertidur pulas.
" Oh iya, ini kan pegawai resto yang waktu itu gw marah marahin astagah koq bisa gw ketemu dia lagi. Dia masih ngenalin gw gak ya?" sambung Edward setelah mengingat kejadian waktu itu.
Setelah 7 jam penerbangan, Lizzy terbangun dari tidur pulasnya dan melihat bahwa Edward sedang terlelap dalam mimpinya.
" Kayak pernah ketemu, tp kapan ya?" ucap Lizzy sambil mikir dan memperhatikan wajah Edward.
__ADS_1
" Jangan liatin kaya gitu. Kita memang pernah ketemu koq." saut Edward tiba tiba yang membuat Lizzy malu.
" Maaf, aku gak liatin koq cuma memperhatikan aja." jawab Lizzy.
" Sama aja. Kamu gak inget sama aku?" tanya Edward.
" Emmm aku inget kita pernah ketemu, cuma aku lupa dimana." jawab Lizzy.
" Aku yang marah marahin kamu waktu anter pesenan. Inget gak?" kata Edward.
" Ohh iya iya kamu kan cowok yg ngeselin itu." saut Lizzy polos.
" Hah? Hahahaha jadi aku ngeselin?" canda Edward.
" Eng.. Enggak koq maaf maksud aku bukan gitu." jawab Lizzy gugup.
" Hahaha gpp kok selow aja, aku tau kamu masih kesel sama kejadian itu. Tp aku beneran tulus minta maap kalo itu kejadian tak terduga." jelas Edward.
" Iya aku juga tulus koq maafinnya." kata Lizzy sambil tersenyum.
" Oh iya, kita belum kenalan. Namaku Edward, panggil aja Wat, nama kamu siapa?" tanya Edward.
" Nama aku Lizzy panggil apa aja boleh." ucap Lizzy sambil bersalaman dengan Edward.
" Nama yang bagus Zy." kata Edward.
" Nama kamu juga bagus Wat." balas Lizzy.
Mereka pun menghabiskan waktu perjalanan dengan menonton film yang ada di layar depan kursi, dan makan bersama dengan makanan yang disediakan oleh maskapai. Edward yang terkenal kaku dan dingin terhadap perempuan, berbeda ketika berkenalan dengan Lizzy.
Pesawat pun telah tiba di bandara USA. Mereka pun berpamitan satu sama lain.
" Makasih ya atas segalanya buat hari ini Wat.. Maaf aku terlalu merepotkanmu." ucap Lizzy.
" Sama sama Zy. Sama sekali tidak merepotkan koq, calm aja.." jawab Edward.
" Ok haha.. Aku pergi duluan ya." pamit Lizzy.
" Ok take care ya. I hope sometime we can meet again." kata Edward.
" I hope to see you again. Bye." kata Lizzy sambil memasuki taxi yang telah ia pesan. Edward pun juga memanggil taxi dan segera pergi.
Lizzy memberikan alamat apartment yang diberikan oleh papa nya itu kepada supir taxi dan segera menuju kesana.
Disaat yang sama Edward juga menaiki taxi dan turun di salah satu perumahan yang ada di rumah itu, karena selama ia tinggal di Amerika, papi mami Edward memberikan rumah itu kepada Edward untuk di tempati selama ia kuliah.
Lalu tak lama supirpun berhenti di lobby apartment dan Lizzy pun disambut oleh security yang bertugas di apartment tersebut.
" Excuse me miss, can i help you? ( Permisi nona, adakah yang bisa saya bantu?)" tanya security itu.
" Yes sir, i need your help. Please show me this room. ( Ya tuan, saya membutuhkan bantuanmu. Tolong tunjukkan saya kamar ini)." jawab Lizzy sambil menunjukkan kartu kamar apartmentnya.
" Ok, follow me." jawab security itu yang diikuti oleh Lizzy di belakangnya.
Setelah naik lift ke lantai 25, Lizzy dan security tersebut berhenti di depan kamar apartment yang bernomorkan 2504.
" This is your room, miss. (Ini kamarmu nona)." ucap security itu.
" Ok thank you sir." jawab Lizzy yang di balas senyum oleh security itu.
Setelah masuk ke kamarnya, Lizzy dibuat terkejut karena ini lebih mirip dibilang rumah karena apartment ini sangat mewah dengan 2 lantai dan fasilitas yang lengkap, adanya balkon dan dari balkon tersebut dapat melihat pemandangan yang sangat bagus. Lizzy pun membawa kopernya ke kamar utama yang berada di atas segera mengeluarkan barang barang di kopernya dan menaruhnya di lemari.
ddrrrttt ddrrrttt ponsel Lizzy berdering.
" Hallo mah." angkat Lizzy.
" Udah sampe mana nak?" tanya Winny.
" Lizzy udah ada di apartment mah. Ini lagi beres beres." jawab Lizzy.
" Oke syukur deh kalau kamu sudah tiba dengan selamat. Istirahat yaa." kata Winny.
" Iya mah pasti. Salam buat papa ya mah." ujar Lizzy.
" Ok sayang." saut Winny.
Setelah beres semuanya, Lizzy pun segera bergegas kekamarnya untuk mandi karena ia sudah sangat lengket dan bau karena kelamaan di dalam pesawat. Seusai mandi, Lizzy pun langsung berbaring di kasur yang sangat empuk dan lembut tersebut dan terlelap dalam mimpi.
__ADS_1
*** Semoga kalian semua suka ya dengan part ini. Jangan lupa LIKE AND COMMENT nya yaa.. Aku sangat sangat berterimakasih buat kalian yang menyukai novel ini. Dan semoga semua para pembaca novel ini sehat sehat semua yaa. Amin. Maaf bila ada kesalahan penulisan karena ini masih novel perdana hehe.. Happy reading guys 😊😘❤ ***