Story Of Life

Story Of Life
Persalinan Alya


__ADS_3

Lizzy mencuci tangannya terlebih dahulu dan memakai antiseptik. Lalu ia berjalan kembali menuju ruangannya. Lizzy membantingkan dirinya ke sofa ruangannya karena ia lelah, dan ia pun memeriksa ponselnya. Ternyata ada 50+ panggilan tak terjawab dari Alya, Satya, dan juga Edward.


Ketika hendak menelepon balik mereka semua, Lizzy dikagetkan dengan William yang tiba tiba masuk ruangan Lizzy tanpa mengetuk pintu. Lizzy sontak kaget dan langsung terduduk.


" William. Kalau mau masuk ketuk pintu dulu dong gimana sih?" omel Lizzy.


" Sorry Liz. Ini lagi darurat. Temanmu yang bernama Alya, hah hah hah." ucap William sampai keringatan karena ia lari dari ruang operasi ke ruangan Lizzy.


" Alya kenapa Will?" tanya Lizzy yang langsung berdiri.


" Alya mau melahirkan Liz. Dan dia gak mau bersalin ditangani olehku. Alya maunya sama kamu." ucap William.


" Sekarang Alya dimana?" tanya Lizzy.


" Di ruang operasi Liz. Ayo kesana sekarang." kata William.


" Ayo." ucap Lizzy sambil menaruh HP nya kembali di atas meja ruangannya.


Ia melewati resepsionis dan berhenti sejenak.


" Fred, kalau Edward dateng tolong anter dia ke ruang operasi ya, aku ada disana sama Satya." kata Lizzy dengan terburu buru.


" Ok dok." saut Fredy seorang resepsionis.


" Makasih." jawab Lizzy dan langsung segera lari ke ruang operasi.


Di ruang operasi sudah ada Satya yang mendampingi Alya.


" Al maaf aku telat, aku akan jelaskan nanti. Sekarang kamu harus berjuang dulu untuk melahirkan anakmu." ucap Lizzy.


" Lizz tolong aku ini sakit." kata Alya.


" Aku tau ini sakit Al, tapi ini demi anakmu. Sat, semangatin Alya, aku mau pakai baju operasi dulu." ucap Lizzy dan langsung segera keluar bersiap siap dengan baju operasi nya. Walaupun Alya tidak di operasi, tetapi bersalin adalah suasana yang cukup menegangkan.


Lizzy melihat Edward telah tiba di depan ruang operasi dan disaat yang sama juga ada Vya dan Febri.

__ADS_1


" Al, kita mulai ya. Kamu dorong sekuat tenaga aku yakin kamu bisa. Kamu kuat Al." kata Lizzy sambil membantu persalinan Alya.


Dan setelah beberapa lama, akhirnya bayi Alya keluar dengan persalinan normal tanpa operasi.


" Al, anakmu laki laki, ia lahir dengan sempurna. Selamat ya, kalian udah jadi orang tua." kata Lizzy kepada Alya dan Satya.


Terlihat Satya mengecup kening Alya dan mengucapkan terimakasih.


" Bayi kalian akan dibersihkan dulu dan selanjutnya akan diantarkan ke ruangan mu ya Al. Aku permisi dulu." ucap Lizzy.


" Thank you Lizz." kata Alya.


Lizzy keluar dari ruangan operasi dan segera mengganti baju operasinya. Karena telah kotor dengan darah persalinan Alya. Setelah sudah selesai, ia menghampiri Edward serta Vya dan Febri.


" Kamu kemana aja sih aku teleponin dari tadi juga." ucap Edward.


" Maaf Wat, aku tadi belum cek HP dan mengurus pasien UGD tadi." jawab Lizzy.


" Kasian temen kamu, dia gak mau melahirkan kalau bukan kamu yang tangani. Kamu tau gak, resiko nya kalau kaya gitu? Perhatian amat kamu sama pasien itu." tanya Edward.


" Aku permisi." ucap Lizzy yang segera pergi dari situ.


" Liz tunggu." saut Vya dengan menyusul Lizzy tapi Lizzy tak menghentikan langkahnya.


Lizzy berjalan menuju atap RSH dengan wajah lusuh dan mata yang bengkak karena menangis sepanjang perjalanan. William yang sedang berada di meja resepsionis, melihat Lizzy menangis dan segera mengikutinya.


Di atap RSH, Lizzy duduk di pojokkan tembok dengan memeluk lututnya.


" Ekhem. Liz." sapa William.


" Ngapain kamu disini Will?" tanya Lizzy sambil menghapus air mata dipipinya.


" Aku lihat kamu nangis tadi. Jadi aku ikut ke sini." jelas William.


" Ohhh." saut Lizzy.

__ADS_1


" Kamu kenapa, Liz?" tanya William.


" Aku gapapa Will." jawab Lizzy dengan senyum terpaksa.


" Gak usah dipaksa senyum gitu. Aku tau kamu itu lagi sedih. Mau berbagi sama aku? Siapa tau aku bisa meringankan bebanmu." ucap William.


" Salah aku apa Will? Aku tau kalau pasien adalah segalanya bagiku. Aku terlebih dahulu menangani pasien UGD tadi, namun aku belum sempat mengecek HP jadi aku gak tau kalau sahabatku mau lahiran. Lagian kan ada dokter lain juga yang akan menanganinya. Tapi Edward malah marahin aku dengan kesalahan yang bahkan akupun gatau." jawab Lizzy sambil menangis.


############


Disisi lain, Vya yang tak menemukan Lizzy karena ia masuk ke ruang petugas dan Vya tidak bisa memasuki tempat itu. Vya pun kembali ke Edward dan Febri suaminya.


" Bie, aku gak sempet ngejar Lizzy." kata Vya kepada Febri.


" Coba lu temuin dia Wat. Lu sih malah nyalahin dia. Dia gak salah tau. Kan udah ada dokter William yang akan membantu si Alya lahiran." kata Febri.


" Ya gw mau dia sadar waktu gitu. Tugas dia gak selalu buat satu pasien aja seolah olah tuh pasien UGD tadi sangat berarti baginya." jawab Edward.


" Heh, lu kan juga dokter. Seharusnya lu lebih tau apa kewajiban dan tanggungjawab seorang dokter. Bukannya karena pasien UGD itu spesial bagi Lizzy. Tapi ia mementingkan keselamatan pasiennya. Gw gak mihak Alya ataupun Lizzy. Tapi lu gak pantas banget nyalahin dia. Lizzy udah duluan ngobatin pasien UGD itu sebelum Alya kontraksi. Dan gw juga gatau kalau si Alya maunya sama Lizzy gamau sama dokter William." ketus Vya.


" Emang gw sampai begitu ya marahin Lizzy?" tanya Edward.


" Lu bego atau ga peka sih? Memang lu pernah marahin Lizzy selama ini? Dan lebih parahnya lu bikin dia nangis!" kata Vya.


" Sayang sabar. Pikirin calon anak kita." kata Febri.


" Whattt??? Lu hamil juga??" kaget Edward.


" Iya kenapa? Benci banget gw sama lu." kata Vya.


" Ih jangan benci dia dong sayang. Nanti anak kita malah mirip dia mukanya." ledek Febri.


" Tau ah. Minta maaf sana sama Lizzy. Cari dia sampai ketemu." suruh Vya.


Edward pun langsung pergi mencari keberadaan Lizzy.

__ADS_1


*** bersambung ***


__ADS_2