
Saat jam istirahat, Edward ke RSH untuk menjemput Lizzy. Edward pun menuju ruangan Lizzy.
" Edward!" teriak seorang pasien ke Edward. Dan Edward pun langsung menoleh ke arah panggilan.
" Andy?" tanya Edward.
" Pak." sapa suster Line yang memang sedang mendorongkan kursi roda Andy. Edward menjawabnya dengan menganggukkan kepalanya.
" Andy, saya ke apotik dulu ya ambil obat buat kamu." pamit suster Line.
" Ok jangan lama lama sus." jawab Andy dan suster Line pun langsung pergi.
" Lama ga ketemu bro. Ngapain lo disini?" tanya Andy.
" Iya udah lama banget ga ketemu sejak SMA. Gue mau jemput calon istri." jawab Edward.
" Oh calon lu kerja disini? Undang gue ya nanti." kata Andy.
" Iya. Sip nanti gue undang deh. Lu kenapa bisa kaya gini?" tanya Edward.
" Kecelakaan gue kemarin." jawab Andy.
" Pasti karna balapan lagi deh." tebak Edward.
" Tuh lu tau." saut Andy.
" Jeh, balapan terus lu dari jaman SMA. Ga ada bosen bosennya udah patah tulang segala." marah Edward.
" Kali ini gw dikerjain lawan gue. Bukan karna gue yang kecelakaan sendiri." tambah Andy.
" Udah deh mending lu tobat. Badan lu yang rusak nantinya." saran Edward.
" Ini juga yang terakhir kalinya kali bro." saut Andy.
" Bagus deh kalau lu ada niatan tobat. Oh iya, gue ke ruangan calon gue dulu ya takut ditungguin sama dia." pamit Edward.
" Calon lu dokter?" tanya Andy.
" Yoi, dokter, cantik, baik hati pula." jawab Edward.
" Alah kalau lagi jatuh cinta ngomongnya kaya gitu, entar kalau udah berkeluarga terus ribut pasti ngomongnya kebalikan." ledek Andy.
" Sembarangan. Dia beneran cantik dan baik tau." kata Edward.
" Ah gue ga percaya sebelum lu kenalin ke gue." canda Andy.
" Tar gue kenalin lu sama calon gue. Sekarang gue mau anterin dia dulu. Lu istirahat sana suster lu udah dateng tuh." kata Edward yang melihat suster Line sudah berjalan ke arah mereka.
" Kalau ada waktu gue ke ruang inap lu entar sama calon gue. Cepet sembuh ya." tambah Edward.
__ADS_1
" Ok. Thanks ya bro." jawab Andy.
########################
Lizzy sudah menunggu Edward dari tadi diruangannya.
tok tok tok. Bunyi suara ketukan pintu.
" Masuk." saut Lizzy dari dalam ruangannya.
" Ayo beb." ajak Edward.
" Tunggu aku masukin barang dulu." kata Lizzy.
" Jas kamu kemana?" tanya Lizzy.
" Aku taruh di mobil beb. Gerah kalau pake jas di rumah sakit kaya gini." jawab Edward.
" Ruangan aku adem adem aja ga gerah." kata Lizzy.
" Ya ruangan kamu pake AC sayang. Gimana sih? Kantor aku juga full AC." saut Edward.
" Jangan bandingin kantor kamu dengan rumah sakit." ucap Lizzy dengan candaannya.
Lizzy pun melepas jas dokter dan name tag nya. Ia menaruh di ruangannya. Saat ini Lizzy berpakaian seperti wanita kantor bukan seperti dokter. Karena ia hanya memakai kemeja warna blue sky yang dipadukan dengan celana jeans navy. Ia memakai high heels 5 cm warna putih seperti biasanya. Serta rambut panjang Lizzy yang memiliki keriting gantung diurai begitu saja ditambah dengan warna rambutnya yang telah menjadi pirang setelah ia mengecat rambutnya dengan warna biru disaat pernikahan Lia. Ia tak ada waktu untuk mengecat rambutnya kembali menjadi warna asli, karena pekerjaan dan tanggungjawab yang menuntutnya.
Edward pun merangkul Lizzy berjalan menuju meja reception untuk memberikan info bahwa ia akan kembali pada pukul 3 sore. Karena sekarang sudah pukul 12. Memang, Lizzy bisa meninggalkan RSH dan pergi kemanapun serta kapanpun yang ia inginkan. Namun, ia lebih memilih untuk memberitahu pihak RSH ketika ia sedang keluar. Lizzy memiliki rasa tanggungjawab dan kepedulian yang tinggi.
Setelah menginfokan ke receptionist, Lizzy dan Edward pergi menuju salah satu mall di Jakarta.
############################
Perjalanan memakan waktu 30 menit, padahal jarak dari RSH dan mall ini terbilang cukup dekat. Namun, itulah ibu kota. Di saat jam makan siang dan pulang kantor akan sangat macet.
Lizzy dan Edward pun tiba di mall tersebut.
" Yang, laper ga? Makan dulu yuk. Aku laper hehe." tanya Edward.
" Sama aku juga. Yaudah cari makan dulu." jawab Lizzy.
Mereka pun memasuki salah satu restaurant di mall tersebut dan memesan makanan.
Makanan pun datang dan mereka menyantapnya. Setelah selesai makan, mereka ke kasir untuk membayar makanan yang sudah mereka makan. Edward dan Lizzy pun membuka dompet mereka untuk membayarnya.
" Kali ini, aku aja yang bayar. Jangan kamu terus." kata Lizzy sambil mengeluarkan kartu kreditnya.
" Jangan sayang. Biar aku aja ya." pinta Edward.
" Ayolah, kali ini aku aja yang bayar." rengek Lizzy.
__ADS_1
Si Mbak kasir sampai bingung harus menerima kartu yang mana.
" Mbak pakai kartu saya aja." ucap Edward.
Lalu si mbak langsung mengambil kartu kredit Edward dan memprosesnya.
" Wat, ini gak banyak koq. Biar pake uang aku aja ya." kata Lizzy.
" Sayang, kalau kita lagi jalan jalan atau makan diluar, biar aku aja yang bayar segalanya ya. Karna uang kamu ya uang kamu. Uang aku ya uang kamu juga. Aku kerja cape cape demi buat bahagiain kamu dan keluarga kita nantinya sayang." jelas Edward dengan lembut sambil mengelus kepala Lizzy.
Lizzy pun mengangguk mengerti ucapan Edward karena ia tak ingin berdebat dengan Edward sebab hal sepele. Mbak kasir pun takjub dengan perkataan Edward tadi.
" Mas, ini silahkan di tandatangani." pinta mbak kasir.
" Mbak, kalau ada laki laki yang bicara kaya begini mah artinya dia cinta mati sama mbaknya. Beruntung banget deh punya suami kaya gini." ucap mbak kasir kepada Lizzy. Lizzy hanya tertawa mendengar perkataan si mbak yang menyangka bahwa mereka adalah sepasang suami istri.
" Hahaha bisa aja si mbak." jawab Edward.
" Ini mas. (memberi nota) terimakasih ya mas, mbak. Cocok deh kalian, si masnya ganteng dan si mbaknya cantik." kata mbak kasir.
" Thank you mbak. Kita permisi dulu ya, mari." pamit Lizzy.
" Iya mbak. Ditunggu kedatangan selanjutnya." jawab mbak kasir.
#
#
#
" Tuh yang, kata si mbak juga aku ganteng." kata Edward setelah keluar dari resto itu.
" Udah deh, ga usah kepedean. Buktinya aku bilang kamu ga ganteng tuh." omel Lizzy.
" Kalau aku jelek, belum tentu kamu suka." ledek Edward.
" Hey, aku mencintai orang ga liat dari fisik, Wat." jawab Lizzy.
" Kalau nanti aku cacat brarti kamu masih mau mendampingi aku?" tanya Edward dengan wajah seriusnya.
" Sampai mati, dalam keadaan apapun aku siap dan mau mendampingi kamu Wat. Kamu kali yang akan berubah, kalau aku udah tua, jelek, keriput, gendut." jawab Lizzy.
"Aku cinta sama hati kamu dan kepribadian kamu. Bukan fisik kamu." kata Edward.
" Udah ah, malah ngedrama kamu. Dibilang ganteng doang aja udah baper." sambung Lizzy dan langsung berjalan cepat meninggalkan Edward.
*** bersambung ***
JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT YA 😊
__ADS_1