Story Of Life

Story Of Life
Guruku


__ADS_3

Hari sudah menjelang petang. Lizzy sedang menunggu Edward di lobby RSH. Ia pun duduk dikursi tunggu yang disediakan dan ditempatkan disitu. Lizzy masih dengan menggunakan jas dokternya karena ia terburu buru setelah mendapat pesan bahwa Edward sudah dekat dari RSH. Lizzy duduk sambil memainkan ponselnya. Dan ada seorang pria yang terlihat perawakannya masih muda bertanya kepada Lizzy.


" Permisi dok, ruang dokter Trisna dimana ya?"


Lizzy terkejut melihat pria itu. (Dokter Trisna adalah dokter spesialis saraf di RSH).


" Pak Cahya?" tanya Lizzy tanpa menjawab pertanyaan bapak itu.


" Iya saya. Apa dokter mengenal saya?"


" Ini saya Lizzy pak. Anak murid bapak dulu."


" Lizzy mana ya?"


" Lizzy Aprilia anak kelas IPA."


" Oh iya. Kamu April murid saya." (Pak Cahya memang memanggil Lizzy dengan sebutan April karena kebanyakan siswa di SMA Lizzy dahulu memakai nama tengahnya sebagai nama panggilan seperti Alya dan juga Vya.)


" Bapak apa kabar? Sampai saya tidak dikenali."


" Saya baik Pril. Kamu sudah sukses sekarang. Bangga saya memiliki anak murid yang berhasil menjadi dokter di rumah sakit elit seperti kamu ini."


" Ah bapak bisa aja. Bapak kesini mau berobat ke dokter Trisna?"


" Iya ini tangan saya jadi sering sekali kebas dan kesemutan."


" Oh begitu pak. Tapi tadi dokter Tristan sudah buru buru pulang pak, soalnya istrinya menelepon bahwa anaknya sakit."


" Yah, padahal saya sudah janjian loh tadi sebelum kesini."


" Ke dokter Yani aja pak, dia juga dokter saraf."


" Tidak deh Pril. Saya sudah terbiasa dengan dokter Tristan. Takutnya kalau beda pegangan jadi lain lain kendalanya."


" Baiklah kalau begitu. Oh iya dengan siapa bapak kesini?"


" Sendiri Pril."


" Loh? Istri bapak kemana?"


" Aduh, kamu belum dengar kabarnya? Saya menjadi JODI Pril."


" Hah? JODI?"


" JOmblo Ditinggal Mati. Calon istri saya meninggal 3 bulan sebelum pernikahan."


" Aduh maaf pak. Saya gak tau."


" Gapapa kok Pril. Kamu masih kontak an dengan anak anak angkatan kamu?"


" Masih pak. Tetapi tidak semua. Hanya dengan Alya dan Vya saja."


" Kamu masih bersahabat dengan mereka? Hebat sekali persahabatan kalian ini."


" Masih pak. Kami saling melengkapi satu sama lain soalnya hehehe."

__ADS_1


" Sudah seperti pasangan saja kalian ini. Saya sudah lama juga tidak bertemu Alya dan Vya."


" Alya baru selesai melahirkan pak, dan dirawat disini. Vya juga ada disana."


" Waduh? Sudah melahirkan saja anak itu. Sudah menikah dia?"


" Sudah pak, Vya juga sudah menikah dan sedang hamil sekarang."


" Bapak ingin menjenguk?"


" Boleh deh mampir dulu sebentar sebelum pulang."


" Emm tapi tunggu sebentar ya pak saya juga sedang menunggu seseorang yang akan menjenguk Alya."


" Oh ok siap gak papa kok."


" Ok pak."


" Padahal dulu dari antara kalian ber 3 ini, si Alya yang sering ganti ganti pacar. Hahaha ga nyangka ya sekarang murid murid saya sudah pada besar dan sukses."


" Hahaha iya pak."


" Saya saja yang lebih tua 5 tahun dari kalian semua belum menikah. Aduh miris banget nasib saya."


" Tuhan belum memberikan jodoh kali pak. Nanti juga akan dipertemukan dengan jodohnya."


" Amin. Semoga saja secepatnya hahaha. Oh iya kamu juga sudah menikah?"


" Belum pak."


" Aih si bapak malah bercanda."


" Kenapa? Kamu sudah punya calonnya?"


" Sudah atuh pak, bentar lagi juga mau menuju pernikahan pak."


" Undang undang atuh Pril, gimana sih sama guru sendiri ga di undang."


" Iya pak entar saya kasih undangannya kok."


" Ini jadi kita nunggu calon suami mu?"


" Iya pak hehe."


" Dasar bucin." ledek pak Cahya.


Tak lama Edward pun datang dengan membawa sekeranjang buah dan juga paperbag yang berisikan undangan pernikahan mereka yang akan dilaksanakan 10 hari lagi. Dan mereka memiliki sisa waktu 3 hari lagi untuk membagikan undangan tersebut.


Edwars melihat Lizzy sedang mengobrol dengan seorang pria yang usianya tak beda jauh dari dirinya. Lalu ia menghampiri Lizzy dan mengecup kening Lizzy.


" Sayang maaf ya lama nunggu." kata Edward.


" Gak lama kok. Oiya Wat kenalin. Ini pak Cahya guruku dulu saat SMA." ucap Lizzy dan Edward pun langsung memberikan salam kepada guru Lizzy itu.


" Edward, calon suaminya Lizzy."

__ADS_1


" Ya ampun Pril, pinter banget kamu milih calon suami. Dapet yang bening banget begini."


" Bukan saya yang milih pak. Emang sudah dipilihkan Tuhan sama yang ini." ucap Lizzy dengan candaan.


" Bapak ikut ke ruangan saya dulu ya." sambung Lizzy.


Mereka pun berjalan bersama menuju ruangan Lizzy. Edward pun seperti biasa menjadi pusat perhatian di RSH bukan hanya pegawai RSH namun dari kalangan pasien juga. Sebenarnya hampir seluruh karyawan RSH tau jika Edward adalah calon suami pemilik RSH ini.


Edward berjalan dengan merangkul pundak Lizzy dan di tangan kirinya membawa keranjang buah. Paper bag yang dibawa Edward tadi di bawa oleh Lizzy sekarang.


Pak Cahya pun menjadi bingung karena ia ikut menjadi pusat perhatian karena mengikuti Lizzy dan Edward dari belakang.


Merekapun sampai di depan ruangan Lizzy. Begitu terkejutnya pak Cahya ketika melihat plakat yang tergantung di depan pintu ruangan Lizzy yang tertulis R. Presdir.


" Mari masuk pak." suruh Lizzy.


Pak Cahya pun masuk ke ruangan yang dirasa paling besar dari seluruh ruangan dokter dan melihat ada tulisan dimeja Lizzy yaitu Prof. Dr. Lizzy A. Surya Atmaja, Sp.B.


" Pril, kamu pemilik rumah sakit ini?" tanya pak Cahya.


" Hm iya pak." jawab Lizzy.


" Kenapa gak bilang dari tadi?"


" Abis bapak taunya saya hanya seorang dokter kan. Dan saya tidak suka mempamerkan jabatan saya kepada orang lain pak."


" Sungguh rendah hati sekali kamu Pril. Sudah cantik, pinter, sukses, seorang profesor muda pula."


" Ah bapak bisa aja. tunggu sebentar ya pak. Saya mau menulis di undangan dulu."


" Ok." saut pak Cahya.


" Yang, tulisin dong sekalian satu lagi undangannya untuk Andy dan partner." pinta Edward.


" Siap." saut Lizzy.


Lizzy pun menulis nama dikartu undangannya. Dan setelah selesai memberikannya kepada Edward yang tertulis untuk Andy dan memberikan satu lagi untuk pak Cahya dan keluarganya.


" Tulisan kamu masih aja bagus Pril. Padahal dokter. Kan biasanya dokter tulisannya jelek jelek." ledek pak Cahya.


" Kalau untuk nulis resep ada caranya sendiri pak. Kalau untuk pribadi tulisan saya kaya gini." jelas Lizzy.


" Terimakasih ya Pril. Saya pasti dateng hahaha. Oiya nama kamu koq ganti sih? Bukannya dulu kalau tidak salah namanya Gunawan ya?"


" Saya mendapat orang tua angkat pak. Beliau yang menyekolahkan saya sehingga bisa sampai sekarang. Dan mereka adalah keluarga Surya Atmaja." jelas Lizzy.


" Ohh pantesan Pril. Dan sepertinya keluarga kamu kaya ya sekarang?"


" Orang tua saya pemilik perusahaan yang bergerak dibidang pertanian pak. Mari pak kita ke ruangan Alya." alih Lizzy supaya pak Cahya tidak menginterogasi nya lebih lagi. Karena ia sangat malas untuk membahas hal tersebut.


" Ayo sayang." ucap Lizzy pada Edward.


Mereka pun berjalan menuju ruangan Alya. Buah dan undangan untuk Andy sengaja tak dibawa Edward karena ingin berbicara dulu kepada Lizzy sebelum mengenalkannya kepada Andy temannya itu.


*** bersambung ***

__ADS_1


__ADS_2