
Aku telah melalui masa yang terbilang sulit didalam hidupku. Memang aku terlahir dikeluarga yang terbilang Kaya. Kedua orang tuaku adalah pengusaha. Papiku adalah seorang dokter ahli spesialis bedah saraf, dan mamiku adalah seorang apoteker sukses yang telah memiliki dan mengelola perusahaan dan pabrik yang bergerak dibidang obat obatan.
Pada saat aku 17 tahun tepatnya pada saat aku SMA kelas 2, papiku yang tadinya adalah pemilik rumah sakit terkemuka di kota ini harus rela mengikhlaskan hasil kerja kerasnya yang selama ini ia lakukan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya karena terdapat penggelapan dana yang dilakukan oleh rekan bisnis papiku sendiri bahkan rekan bisnisnya itu adalah sahabat papiku dari zaman ia muda. Aku yang saat itu bersekolah disekolahan elit dan mayoritasnya orang kaya harus menahan ejekkan yang dilontarkan orang orang terdekatku yang menghina bahwa aku bukan anak orang kaya lagi. Yah begitulah jika kita bersekolah disekolah yang memang elit dan mayoritasnya orang kaya, bahkan kabar kebangkrutan rumah sakit papiku ini menyebar dikalangan siswa siswi yang ada disekolahku. Aku yang dari kecil terbiasa dengan hidup kemewahan menjadi tidak pernah terlintas dipikiranku jika aku harus merasakan susah finansial di dalam keluargaku.
__ADS_1
Walaupun aku lahir dan besar dikeluarga yang kaya, tak menutup kemungkinan bahwa aku adalah anak yang pintar disekolah. Aku orang yang berteman dengan siapapun, bahkan dengan anak yang mendapatkan beasiswa karena ia tak mampu dan bersekolah ditempat elit seperti sekolahku saja aku mau berteman dengannya. Yah memang aku yang mendapat cacian dan makian dari orang orang terdekatku. Tetapi, inilah diriku yang sebenarnya. Aku berteman tidak melihat harta atau latar belakang seseorang.
Saat itu aku memiliki seorang sahabat perempuan yang bahkan seperti pacar jika dibilang orang. Namanya dia adalah Florence. Aku dan Florence tumbuh bersama dan menjadi sahabatku sejak aku kecil bahkan aku sejak TK hingga SMA satu sekolah dengan Florence dan meminta kepada wali kelas saat itu agar kami diberikan sekelas karena aku merasa canggung untuk bergaul dengan orang yang baru aku kenal. Karena memang keluarga kami sangat dekat satu dengan yang lain. Dan ketika Florence mendapatkan kabar bahwa rumah sakit papiku itu bangkrut dan tutup, Florence langsung menjadi pribadi yang berbeda, tak sama seperti Florence yang aku kenal. Dia pernah bilang jika menyukaiku sejak kami SD, saat itu sih aku tak terlalu menanggapinya sebab aku pikir itu adalah cinta monyet. Hingga saat kami kelas 10, Florence menyatakan cintanya kepadaku, tetapi aku hanya menganggap Florence itu sebagai sahabat dan saudaraku saja. Aku memang menyayangi Florence tetapi tidak sebagai seorang kekasih atau pacar. Namun, saat Florence tau bahwa keluargaku sudah tak sekaya dulu lagi, dia menjauhiku dan berteman serta mendekati Ben yang memang penerus dari perusahaan sepatu milik papanya. Aku pun tak melihat kesungguhan pertemanan kecuali Dave. Memang aku, Florence, dan Dave adalah sahabat ketika dulunya.
__ADS_1
Aku bersyukur aku diberikan masalah seperti ini, aku tak pernah menyesali apapun yang terjadi kepada diriku. Berkat kesabaran dan kerja kerasku juga, serta dukungan dari orang tuaku, aku bisa berkuliah di Amerika dengan beasiswa yang aku dapat dan juga dengan bertahan hidup disana melalui uang tabunganku selama ini. Aku yang tak pernah pacaran dan tak suka juga menghambur hamburkan uang dapat menabung hehehe dan lumayan hasilnya untuk aku bertahan hidup di Amerika.
*** Hai gaisseee maaf yaa bila ada kesalahan penulisan dan pengejaan kata dan juga kata kata yang tidak enak untuk kalian. Happy reading gais 😊💕***
__ADS_1