
Sekarang usia pernikahan Alya telah menginjak 6 bulan. Dan bulan kemarin Lizzy mendapat undangan dari sahabatnya yaitu Vya yang akan menyelenggarakan pernikahannya di tempat kelahirannya yaitu Kalimantan. Vya memang memiliki keluarga yang berdarah asli Kalimantan, dan ketika Vya SMA, ia merantau ke Jakarta.
Alya pun yang tengah hamil anak pertamanya yang telah berusia 5 bulan. Alya dan Lizzy pun hadir ke pesta yang cukup mewah dan meriah dan dihadiri oleh banyak tamu undangan. Karena ayah dari Vya adalah direktur pertambangan. Lizzy dan Edward pun hadir ke pesta mereka.
##############################
3 bulan sebelum pernikahan Lizzy dan Edward, Lizzy masih sibuk bekerja di RSH sambil mempersiapkan pernikahannya.
Lizzy tiba di RSH pada pagi hari. Pagi ini seperti biasa, Edward mengantar Lizzy ke RSH dan langsung ke kantornya. Saat Lizzy hendak turun dari mobil Edward, Lizzy dikejutkan dengan kehadiran mobil ambulance yang dengan cepat berhenti di UGD. Lizzy terburu buru hingga melupakan tas nya yang berada di mobil Edward dan keluar dari mobil dengan cepat. Lizzy melihat seorang pria dengan wajah penuh darah terbaring tak berdaya. Edward ingin mengejar Lizzy, namun ia tahu bahwa pasien adalah yang terutama bagi seorang dokter. Edward pun menunggu Lizzy di ruang tunggu lobby untuk memberikan tasnya.
" Line, tolong kamu ambilkan jas dan alat alat diruanganku. Sekarang." ucap Lizzy kepada seorang suster yang bernama Caroline.
" Baik dok." saut Line.
Suster Line pun langsung berlari ke arah ruangan Lizzy.
" Hallo, hallo, jangan tutup mata kamu." ucap Lizzy sambil memegang wajah pasien tersebut agar tak hilang kesadaran.
Edward melihat suster Caroline keluar dari UGD dan segera menghampirinya.
" Sus, tolong titip ini untuk Lizzy di ruangannya ya, dan sampaikan bahwa saya tak bisa menunggunya keluar karena ada meeting dengan client saya." ucap Edward.
" Baik, nanti akan saya sampaikan kepada dokter Lizzy." saut Caroline.
" Ok terimakasih." pamit Edward yang langsung segera meninggalkan RSH.
Caroline pun menaruh tas Lizzy di ruangannya dan segera mengambil jas dan alat periksa milik Lizzy. Dan ketika hendak keluar, Caroline bertemu dengan William yang baru datang.
" Pagi sus." sapa William.
" Pagi dok." saut Caroline.
" Lizzy mana sus? Kok kamu keluar dari ruangannya?" tanya William.
__ADS_1
" Dokter Lizzy sedang di UGD dok, ada pasien kecelakaan." jawab Caroline.
" Oh gitu, terimakasih infonya. Nanti saya akan ke UGD." kata William.
" Ok. Saya permisi dulu dok, buru buru." ujar Caroline yang langsung berlari ke arah UGD.
Caroline pun tiba di UGD dan segera memberikan Lizzy jas serta alat alat periksa miliknya.
" Dia kekurangan darah. Cepat periksa golongan darahnya dan bawakan sekantong darah ke sini." kata Lizzy kepada salah satu suster UGD.
" Baik dok." saut suster UGD.
" Suster Line, tolong bantu saya ambilkan obat bius, jarum dan benang untuk menjahit luka yang cukup parah dikepalanya ini." ujar Lizzy.
" Ok." saut Caroline.
" Liz, aku bantu membersihkan luka dia." kata William dengan tiba tiba.
Lizzy pun memotong rambut pria itu hingga botak dan terlihatlah beberapa goresan yang cukup dalam dan mengeluarkan banyak darah dari kepalanya.
Setelah Lizzy selesai memotong rambut pasien itu, William segera membersihkan luka itu dengan antiseptik agar tidak ada bakteri yang menempel. Suster Line pun datang dengan membawa obat bius dan juga jarum serta benang untuk menjahit luka. Lizzy langsung menyuntikkan obat bius ke pasien tersebut hingga pasien itu tak merasakan apapun termasuk sentuhan Lizzy.
" Will, kamu tolong bersihin luka di lengannya ya." kata Lizzy.
" Ok Liz." saut William.
Lizzy pun menjahit luka dikepala pasien tersebut dengan teliti dan rapi. Lalu Lizzy membalut luka tersebut.
" Ini gak harus dibawa ke ruang operasi dok?" tanya Line.
" Enggak sus, dia tidak ada yang perlu dioperasi. Bawakan aku hasil cek darah dan sekantong darah yang tadi aku minta. Mana lah suster tadi lama banget." ucap Lizzy pada Line.
" Ok sebentar." saut Line.
__ADS_1
Line pun ke lab untuk mengambil hasil cek darah yang ternyata hasilnya adalah AB dan mengambil sekantong darah bergolongan AB, lalu segera menghampiri Lizzy.
" Dok ini." kata Line.
" Terimakasih sus." saut Lizzy.
" Liz ini udah selesai, tinggal di balut." ucap William.
" Ok, biar aku saja yang membalutnya." saut Lizzy.
Tiba tiba suasana UGD menjadi ramai setelah ambulance tiba. Terdengar suara orang berteriak.
" Will, kamu tangani dulu pasien itu, ini biar aku yang selesaikan." kata Lizzy tanpa melihat ke arah pasien itu.
" Ok Liz." saut William.
" Terimakasih Will telah membantuku." kata Lizzy.
" Sama sama." jawab William dengan senyuman dan langsung menghampiri pasien tersebut.
Ternyata pasien tersebut adalah seorang yang William kenal karena pernah menitipkan undangan pernikahannya untuk Lizzy. Yup, tak lain adalah Alya yang mau melahirkan dengan di dampingi oleh suaminya.
" Cepat bawa dia ke ruang operasi." suruh William kepada petugas.
Disisi lain, Lizzy masih menangani pasien kecelakaan tersebut. Lizzy telah memberinya sekantong darah untuk menambah darahnya yang banyak keluar tadi dan segera memakaikannya baju rumah sakit karena baju pasien tersebut sudah terkena banyak sekali darah. Dan Lizzy memasangkan infus kepada pasien tersebut.
" Sus, ini sudah beres, dan tolong cari tau identitasnya dan juga sepertinya diluar ada teman temannya. Dan tolong di scan kepala ya takutnya ada hal hal yang tidak kita ketahui. Setelah dia sadar pindahkan ke ruang inap, dan nanti aku akan kembali. Aku ke ruanganku dulu ya." ujar Lizzy.
" Baik dok, akan saya laksanakan. Oh iya dok, tadi Pak Edward menitipkan tas dokter ke saya untuk saya taruh di ruangan dokter. Dan Pak Edward berpesan bahwa ia tak bisa menunggu dokter hingga selesai tadi, karena ia ada meeting." saut Line.
" Ah saya sampai lupa dengan barang barang saya. Baiklah terimakasih banyak ya sus. Saya permisi." ucap Lizzy sambil membereskan alat alat kedokterannya dan segera keluar dari UGD untuk keruangannya.
*** bersambung ***
__ADS_1