Story Of Life

Story Of Life
Pertanyaan


__ADS_3

Setelah meninggalkan ballroom, Lizzy memasuki ruangannya untuk beres beres dan segera pulang karena ia sudah sangat lelah. Edward pun mengikuti Lizzy dari belakang dan ikut masuk ke ruangan Lizzy juga.


" Yang, aku mau nanya deh." kata Edward dengan duduk di sofa ruangan Lizzy.


" Nanya apaan? Nanti dulu aku lagi beres beres ini." jawab Lizzy tak menatap Edward.


Edward bangkit dari duduknya dan duduk di kursi yang biasa Lizzy gunakan ketika diruangannya. Edward duduk menghadap Lizzy yang sedang membereskan barangnya.


" Sayang. Kalau di ajak bicara itu pandang lawan bicaranya." kata Edward.


" Iya tunggu, kamu yang mau nanya tapi gatau waktu." saut Lizzy.


Edward menarik kedua tangan Lizzy dan menggenggam nya dengan erat.


" Aku maunya sekarang. Nunggu kamu mah lama. Aku mau nanya. Kamu kenal Yohan sejak kapan?" tanya Edward.


" Ih kamu nanya yang gak penting kan. Udah ah lepasin" ucap Lizzy sambil berusaha melepaskan tangannya.


" Gak penting bagi kamu tapi penting bagi aku!" ketus Edward yang membuat Lizzy terdiam.


" Kita bicarakan ini sekarang. Ayo duduk di sofa." suruh Edward.


Lizzy pun menurut apa yang dikatakan Edward.


" Sejak kapan kamu kenal Yohan?" tanya Edward lagi.


" Sejak aku diangkat anak sama mama dan papa." jawab Lizzy.


" Berarti sekitar 6 tahun yang lalu?" tanya Edward.


" Iya." jawab Lizzy singkat.


" Kamu kenal aku atau Yohan dulu?" tanya Edward lagi.


" Kamu tuh lagi interogasi aku atau gimana sih?" kata Lizzy dengan sinis.


" Ih jawab dulu pertanyaan aku, nanti aku jelasin kenapa aku nanyain hal ini sama kamu." kata Edward.


" Dasar kepala batu." saut Lizzy yang tak dipedulikan oleh Edward.


" Kamu kenal aku atau Yohan dulu?" tanya Edward.

__ADS_1


" Aku kenal Yohan duluan sebelum kenal sama kamu, tapi aku ketemu kamu duluan karena saat itu aku masih kerja di resto." jawab Lizzy.


" Pantesan." kata Edward.


" Pantesan kenapa?" tanya Lizzy.


" Pantesan dia suka sama kamu." jawab Edward.


" Hah? Gak mungkin lah Yohan suka sama aku. Dia itu udah kaya sahabat aku Wat." jelas Lizzy.


" Sahabat? Dalam hubungan cewe dan cowo ga ada yang namanya sahabat. Ada juga pasti salah satu dari mereka menyimpan perasaan." kata Edward.


" Kamu jangan sok tau deh. Kamu cemburu Wat sama Yohan?" tanya Lizzy.


" Ngapain aku cemburu sama Yohan? Toh sekarang aja kamu udah milik dan memilih aku." kata Edward.


" Hahaha dasar, emang aku barang apa ada pemiliknya." kata Lizzy.


" Hati kamu itu punya aku dan cuma ada aku." kata Edward.


" Kamu tuh ya ke kanak kanak an banget ih." ucap Lizzy sambil mencubit pipi Edward karena gemas nya.


" Emang aku boneka apa Yang sampai dicubit gitu?" tanya Edward.


" Emm coba kamu kasih penjelasan deh ke Yohan kalau kamu udah ada yang punya. Biar si Yohan gak sinis ke aku terus." kata Edward.


" Masa aku diperebutkan sama 2 cowo ganteng sih? Kan aku gak cantik." kata Lizzy.


" Kamu itu spesial buat aku. Gantengan mana aku sama Yohan?" tanya Edward.


" Kamu lah. Buktinya aku lebih suka sama kamu. Kalau aku mau sama Yohan, dari dulu aku deketin dia Wat." kata Lizzy.


" Hahaha aku cinta kamu." ucap Edward.


" Aku lebih sayang sama kamu. Makan yuk aku laper." kata Lizzy.


" Kamu pulang sama aku aja ya, sekalian kita makan dulu." ujar Edward.


" Lah mobil aku gimana Wat?" tanya Lizzy.


" Besok kan kamu juga ke sini lagi yang. Paginya aku anter. Gimana?" tanya Edward.

__ADS_1


" Hmm yaudah deh. Yuk." ajak Lizzy.


" Yuk." saut Edward.


Setelah Lizzy selesai membereskan barang nya, mereka segera pergi dari rumah sakit untuk makan. Makanpun selesai dan Lizzy diantar pulang oleh Edward, dan benar besok nya pun Lizzy dijemput dari rumahnya menuju RSH yang di antar oleh Edward.


############################


Di lobby RSH, Edward menurunkan Lizzy. Lizzy pun berpamitan dan keluar dari mobil Edward. Edward langsung beranjak menuju kantornya untuk memulai rutinitasnya.


Saat Lizzy menuju ke ruangannya, ia berjumpa dengan William yang selesai mendata kehadirannya. Lizzy memang tidak mendata kehadirannya karena ia ada di departemen mana saja.


" Pagi Liz." sapa William.


" Hai Will. Good morning." saut Lizzy.


" Tumben hari ini diantar? Gak bawa mobil?" tanya William.


" Kemarin mobil, gw tinggalin disini, dan pulang sama Edward. Jadi tadi juga di anter Edward." jawab Lizzy.


" Oh Edward yang dokter muda itu kan? Satu fakultas juga sama kita." tanya William lagi.


" Iya dia. Edward Wang. Dia juga seorang CEO sekarang. Dan walaupun dia seorang dokter, dia tidak berkecimpung di dunia medis seperti kita." saut Lizzy.


" Wah? Kenalkan ke gw ya nanti." ledek William.


" Siap. Kalau bertemu nanti gw kenalin ke elu." jawab Lizzy.


Setelah sampai di depan ruangan mereka yang bersebelahan, Lizzy dan William masuk ke dalam ruangannya masing masing. Lizzy pun telah menaruh tas dan bawaannya diruangannya. Ia melihat ke arah bunga yang diberikan oleh Edward kepadanya dan tersenyum. Lizzy keluar ruangannya untuk memeriksa pasiennya. Karena hal itu adalah hal yang rutin untuk seorang dokter lakukan.


" Pagi dok." sapa suster jaga kepada Lizzy yang datang.


" Pagi sus. Bagaimana keadaan pasien yang kemarin?" tanya Lizzy.


" Dia masih merasakan sakit diperutnya dok." jawab suster.


" Sudah diberikan obat xxxxxx ?" tanya Lizzy lagi.


" Sudah dok, tadi baru saya berikan." jawab suster.


" Baiklah terimakasih. Saya akan mengunjungi kamarnya dulu." kata Lizzy dan langsung pergi.

__ADS_1


Itulah kebiasaan Lizzy yang selalu mengecek pasiennya dan juga bersimpati kepada siapapun. Ia juga murah senyum kepada semua orang terutama anak kecil, karena Lizzy sangat menyukai anak anak. Makanya ia sangat dekat dengan pasien. Pasien tidak mengetahui bahwa Lizzy adalah pemilik rumah sakit ini. Pasien hanya mengetahui bahwa Lizzy adalah seorang dokter dan profesor bedah di rumah sakit ini.


*** Ini sambungan dari cerita sebelumnya yaa.. Selamat membaca kawanku.. Semoga kalian suka dengan karyaku.. Jangan lupa klik LIKE AND COMMENT nya yaa.. Karena Like dari kalian sangat berarti dan mendukungku. Terimakasih 😊😘❤ ***


__ADS_2