Story Of Life

Story Of Life
Hal Tak Terduga 2


__ADS_3

Edward berniat untuk mengunjungi rumah sakit papinya. Setelah tadi dihubungi oleh papi Kevin bahwa ada hal penting yang akan ia bicarakan. Sebenarnya ia malas untuk berpergian dihari libur seperti ini. Jalanan yang macet ditambah dengan panasnya cuaca di ibu kota.


" Sayang, aku disuruh papi ke rumah sakit. Kamu mau ikut?" tanya Edward.


" Engga deh. Aku dirumah aja jaga Jason dan Jessie." saut Lizzy.


" Ya udah aku siap siap dulu."


Tak lama, Edward pun turun dengan kaos dan jaket bomber serta celana jeans dan sneakers putihnya.


" Aku pergi dulu ya." pamit Edward.


" Oke hati hati jangan ngebut bawa mobilnya." kata Lizzy.


" Iya sayang."


###########################


Sekitar 1 jam Edward pun tiba di RS. Seharusnya jarak tempuh dari rumahnya ke RS kurang lebih hanya 45 menit, karna jalanan macet sehingga ia harus menunggu 15 menit lagi. Edward pun segera memakirkan mobilnya di parkir khusus karyawan RS.


Begitu sampai di lobby RS, satpam dan dokter serta perawat yang lewat langsung menyapa Edward dengan hormat sehingga membuat pengunjung RS tampak sedikit bingung. Edward yang memang terkenal dari dahulu cuek itu hanya menganggukkan kepalanya saja tampak menjawab sapaan mereka. Ia langsung berjalan menuju arah ruangan papinya yang menjadi dokter terkenal spesialis bedah dada jantung.


Edward pun mengetuk ruangan papinya itu sekali dengan langsung membuka pintunya.


" Ada apa pi?" tanya Edward.


" Kemari duduk dulu." saut papi Kevin.


" Mana Lizzy?" tanyanya.


" Dirumah. Males ketemu papi." jawab Edward asal.


" Sembarangan aja kamu kalau ngomong. Isteri kamu tu ga seperti kamu." saut Kevin memarahi anaknya itu.


" Bercanda pap." jelas Edward.


" Gimana kabar kamu? Sudah lama kamu ga menghubungi papi lagi setelah menikah."


" Aku sibuk pi. Kerjaan banyak dikantor."


" Kabar JJ bagaimana?" tanya papi Kevin.


" Mereka betah. Apalagi si Jessie, bocah satu itu senang banget kalau lagi sama Lizzy." jawab Edward.


" Artinya Lizzy nyaman untuk anak kecil."


" Hem mungkin." saut Edward cuek.


" Kerjaan kamu serahkan aja sama Dave. Biar dia yang mengerjakannya."


" Kasian si Dave pi kalau harus kerja sendiri."


" Kamu rekrut pegawai baru untuk membantu Dave. Jangan pelit jika harus membayar gaji karyawan. Perusahaan kamu sudah sukses itu."


" Bukannya gitu pi. Sekarang banyak orang yang ga jujur. Aku jadi malas rekrut pegawai lagi."


" Papi mau ngomong serius sama kamu kali ini, Wat. Papi mau membantu mami untuk menjalankan perusahaannya kasihan mami kamu itu mengurus sendirian." jelas papi Kevin.


" Terus?"


" Papi mau kamu gantikan papi diposisi direktur RS ini. Kamu anak papi satu satunya." pinta papi Kevin.


" Aku ga mau jadi dokter pi! Aku lebih suka dengan duniaku. Selama ini aku berusaha keras dari nol untuk membuat perusahaanku itu jadi maju." tolak Edward.


" Papi tau itu nak. Papi juga akan bicara dengan Lizzy dan memintanya untuk pindah kerja ke tempat ini."


" Papi ga bisa semena mena seperti itu. Aku ga mau! Papi suruh aja orang kepercayaan papi untuk melanjutkan RS ini. Aku permisi." kata Edward dengan langsung keluar dari ruangan itu meninggalkan Kevin yang terduduk.


Edward keluar dengan wajah yang marah dan juga kecewa. Ia kembali diingatkan dengan masa lalunya yang dipaksa oleh orang tuanya kuliah dibidang kedokteran. Para karyawan yang jarang sekali melihat Edward datang ke RS ingin menyapa Edward, tetapi mereka mengurungkan niatnya ketika melihat wajah kesal Edward.


########################


Edward kembali ke rumahnya dan melihat Lizzy sedang duduk di ruang tengah sambil memainkan ponselnya. Edward segera naik ke atas menuju kamarnya sehingga membuat Lizzy bingung ada apa sebenarnya. Ia sangat tahu bahwa Edward saat ini sedang marah. Lizzy pun lantas menyusul suaminya itu.


" Kenapa ko?" tanya Lizzy. Edward hanya menggelengkan kepalanya saja.


Lizzy sebenarnya takut dengan keadaan ketika Edward sedang marah seperti ini. Kemudian ia memberanikan diri untuk memegang pundak Edward.


" Kamu kenapa? Pulang dengan keadaan ngambek gini. Cerita yu sama aku, kamu ada masalah apa sama papi?" bujuk Lizzy.


Akhirnya Edward pun menceritakan semuanya.


" Aku boleh kasih saran?" kata Lizzy.

__ADS_1


" Boleh." saut Edward.


" Benar kata papi kamu itu anak satu satunya Kevin Wang. Papi mau wariskan RS itu sama siapa lagi selain kamu?"


" Tapi aku ga mau jadi dokter." saut Edward.


" Kalau demi aku gimana? Aku juga dokter loh sama seperti kamu."


" Kamu beda, kamu jadi dokter atas keinginanmu sendiri kalau aku terpaksa."


" Hey kalau kamu ga kuliah kedokteran, kita juga ga bertemu loh. Kamu juga student of the year pada saat itu." jelas Lizzy.


" Aku ga setuju papi minta kita untuk kerja disana. Aku ga mau kamu risih."


" Aku akan pertimbangkan usulan papi." saut Lizzy.


" Kamu setuju?"


" Ga ada ruginya juga kan aku kerja di RS papi. Kan yang punya RS itu nantinya adalah suami aku sendiri enak dong kita kerja bareng?" jawab Lizzy sambil tersenyum.


" Bener juga. Aku mau dekat terus sama kamu. Ko aku sampai ga kepikiran ke sana ya?" kata Edward dengan tertawa.


" Cie yang tadi marah ngambek sekarang jadi senang." ledek Lizzy.


" Apaan sih." saut Edward yang langsung mengelitiki pinggang Lizzy.


" Ih geli tau hahahaha." jawab Lizzy yang tertawa juga.


Seketika canda mereka buyar karena bunyi dering di ponsel Lizzy. Ketika melihat nama kontaknya PAPI sontak Lizzy menatap Edward. Suaminya itu mengintruksikan untuk mengangkat panggilan tersebut. Lizzy pun menjawabnya.


" Halo pi."


(" Nak, Edward sudah pulang belum?")


" Sudah pi, ada apa?"


(" Papi mau bicara sama kamu. Sibuk ga Zy?")


" Lagi free ko pi bicara aja."


(" Edward pasti sudah menceritakannya ke kamu. Papi mau kamu dan Edward kerja disini Zy.")


" Aku sama Edward mau pi. Kapan kita bisa mulai masuk kerja?"


Lizzy tertawa mendengar papinya itu.


" Serius pi."


(" Senin kalian datang kesini jam 9 pagi ya.")


" Ok pi."


Panggilan pun berakhir.


###########################


Tak seperti hari minggu biasanya, hari minggu ini mereka mengadakan pertemuan di RSH dan perusahaan Edward.


Edward pergi terlebih dahulu karna Dave dan karyawan lain sudah menunggu di kantornya. Sedangkan Lizzy pergi bersama Jason dan Jessie karna mereka akan berkunjung ke rumah keluarga Wang.


Lizzy pun menyerahkan tanggung jawab kepada kak Lia yang merupakan wakil direktur dan juga menjadikan William sebagai Manager RSH. Setelah selesai dengan urusannya Jason mengantarkan Lizzy ke kantor Edward sesuai permintaan Lizzy sebelumnya. Ia akan pulang bersama Edward.


Disisi lain, Edward juga sudah selesai dengan meetingnya dan menyerahkan tugas kepada Dave yang selebihnya akan dikelola oleh bawahan Dave. Dave dipercaya karna ia mengenal Dave sudah lama dan juga Dave berbakat dibidang bisnis properti, perhotelan, retail, dan juga kosmetik make up.


###########################


Lizzy dan JJ sudah sampai dikantor Edward. Kemudian JJ berpamitan kepada Lizzy dan segera melaju ke rumah keluarga Wang.


Lizzy pun melihat keadaan gedung kantor sudah sepi dan melihat lift kantor masih menyala karena ia sudah cukup lelah tadi di RSH untuk menaiki tangga ke lantai 3 yang merupakan ruang Edward.


Pintu lift pun terbuka lantas Lizzy segera masuk dan menekan tombol 3 setelah pintu tertutup, namun tanpa Lizzy duga bahwa lift mendadak mati dan keadaan didalam lift sangatlah gelap, ia berusaha untuk mencari ponselnya yang berada di tasnya namun tak ada sinyal. Lizzy pun menjadi takut didalam lift itu.


" Tolong....!!!!! Tolong.....!!!!!!!!" teriak Lizzy.


Namun tak mendapat jalan keluar.


" Edward tolong aku... aku takut...... Edward tolong...." teriak Lizzy dengan isak tangis.


Edward yang berada di tangga lantai 2 yang akan segera turun ke lantai 1 pun mendengar suara Lizzy.


" Dave, lu dengar suara orang minta tolong ga?" tanya Edward.


" Ga dengar gw. Jangan jangan kantor lu horor lagi..." jawab Dave asal.

__ADS_1


" So tau lu. Serius ini gw dengar suara Lizzy." kata Edward.


Kemudian Edward dan Dave pun mendengar kembali suara Lizzy yang terdengar jauh.


" Lizzy sayang kamu dimana?" teriak Edward.


Lizzy pun mendengar suara Edward.


" Edward tolong aku. Aku di lift." jawab Lizzy.


" Dave segera ke tempat teknis. Bilang isteri gw didalam lift kekunci. Dan bawa orang yang ada disana ke hadapan gw sekarang." perintah Edward.


" Sayang sabar. Aku akan segera keluarin kamu dari sana."


Tak lama lift pun turun ke lantai 1 dimana Edward berada dan pintu lift pun terbuka. Yang pertama Edward lihat adalah Lizzy yang sedang duduk memeluk kakinya dengan air mata yang membasahi pipinya. Edward tak menyangka bahwa Lizzy sebegitu takutnya ia saat itu. Langsung Edward memeluk Lizzy.


" Aku takut Wat." kata Lizzy.


" Jangan takut. Ada aku disini." saut Edward.


" Ada yang sakit?" tanya Edward yang langsung dijawab gelengan kepala Lizzy.


Edward pun menggendong Lizzy dan membawanya ke tempat duduk yang ada disekitar situ.


" Rasya tolong ambilkan tas isteri saya di dalam lift." suruh Edward. (Rasya adalah wakil baru untuk Dave yang dipilih oleh Edward langsung).


" Ini pak tasnya." ujar Rasya dengan memberikan tas selempang Lizzy kepada Edward.


" Terimakasih Rasya." ucap Edward. Rasya yang terkejut mendengar ucapan terimakasih bosnya itu hanya bisa menganggukkan kepalanya.


Lizzy masih ketakutan dengan tangannya yang mengepal.


" Dingin banget tangan kamu sayang. Jangan takut lagi, aku ada disamping kamu." kata Edward yang mengelus kepala Lizzy.


Kemudian Dave datang dengan seorang karyawan teknis yang mengurusi lift.


" Wat, Lizzy kasih minum dulu ni." kata Dave sambil menyodorkan sebotol air mineral yang ia ambil dari atas tadi.


Edward pun menenangkan Lizzy.


" Sayang minum dulu ya." ujar Edward kepada isterinya itu.


" Oh jadi kamu orang yang sudah membuat isteri saya ketakutan seperti ini?" ucap Edward dengan dinginnya kepada pria muda itu.


" Maafkan saya pak. Saya tidak tahu bahwa isteri bapak ada di lift itu. Saya kira setelah meeting berakhir dan kondisi kantor sudah sepi maka saya mematikan lift nya pak." jelas pria itu.


" Kamu ga bisa lihat dari CCTV apakah di lift ada orang atau tidak?" omel Edward.


" Maaf pak." hanya kata itu saja yang keluar dari mulut karyawan itu. Ia sangat takut dengan murka Edward.


" Kamu saya pecat! Besok datang ke sini dan ambil surat pengeluaran dan ambil uang pesangon." saut Edward ketus.


" Saya mohon pak jangan pecat saya. Saya tulang punggung keluarga pak. Saya minta maaf atas ke tidak telitian saya. Saya mohon." ucap pegawai itu.


Lizzy yang melihat Edward sudah murka pun langsung memanggil Edward.


" Edward." panggil Lizzy.


" Iya sayang kenapa? Kamu butuh apa?" tanya Edward.


" Aku ga butuh apa apa. Kamu ga usah pecat dia ya." pinta Lizzy.


" Ga bisa. Dia udah melakukan kesalahan fatal."


" Sayang, aku mohon. Aku juga udah ga kenapa kenapa. Dan dia sudah minta maaf."


" Tapi di....." belum selesai Edward berbicara Lizzy sudah memotongnya.


" Aku udah ga papa sayang. Percaya sama aku ya." ucap Lizzy dengan serius menatap mata Edward.


" Saya maafkan kamu. Lain kali kamu harus cek dulu pekerjaan kamu." kata Lizzy pada pegawai itu.


" Terimakasih bu sudah memaafkan saya. Saya mohon bu jangan pecat saya."


" Kamu masih karyawan disini. Selanjutnya Dave yang ngurus." saut Lizzy.


" Ok untuk sekali ini kamu saya maafkan karna isteri saya yang minta. Dave urus dia, gw mau pulang." ujar Edward.


" Dave terimakasih, kita pulang dulu." pamit Lizzy pada Dave.


Edward pun membawa tas Lizzy di tangannya dan juga memampah Lizzy untuk ke mobil mereka. Dan mereka pun melaju menuju rumah meninggalkan kantor Edward.


to be continue..

__ADS_1


__ADS_2