Story Of Life

Story Of Life
Rencana


__ADS_3

Sinar mentari membangunkan Lizzy di pagi hari nya. Ia bersiap siap untuk menjalani rutinitasnya seperti biasa. Hari ini, ia merasa sangat lelah karena ia harus mendapat jadwal jaga rutin di IGD.


Saat Lizzy berjalan menuju koridor IGD, ia terkejut mendapati pasien yang turun dari ambulance didampingi oleh seorang suster.


" Dok, ini pasien kecelakaan di Jalan Jalak Bali." sapa seorang suster yang turun dari ambulance.


" Ok. Kita periksa dulu. Bawa kedalem." saut Lizzy.


Ia menangani pasien yang kecelakaan tersebut. Pada pasien tersebut, di pinggangnya terdapat pecahan kaca yang menusuk ke arah ginjalnya dan harus segera di operasi. Lizzy pun mengoperasinya. Sebelum operasi, Lizzy ke meja informasi yang ada di IGD dan meminta untuk William segera ke ruang operasi. Dan juga meminta salah seorang suster untuk memberitahu Edward bahwa dirinya akan pulang sangat malam karena operasi dadakan ini. Memang seluruh isi RSH sudah mengetahui bahwa Edward adalah kekasih Lizzy.


Selesai operasi Lizzy membersihkan tangannya dan keluar dari ruang operasi dengan baju biru khusus operasi. Lizzy terkejut mendapati Edward sedang tertidur di depan ruang tunggu operasi. Sedangkan jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Lizzy menghampiri Edward yang tertidur dengan baju kantornya.


" Wat." ucap Lizzy sambil memegang tangan Edward. Edward terbangun dengan panggilan Lizzy.


" Kamu pulang aja ya Wat?" tanya Lizzy.


" Kamu gak pulang sekarang, Yang?" tanya balik Edward.


" Aku masih harus beres beres lagi. Kamu duluan aja ya. Kan cape kamu abis kerja langsung kesini. Istirahat aja. Aku gamau kamu sakit Wat." kata Lizzy.


" Aku juga gamau liat kamu kecapean. Pulang yuk." ajak Edward.


" Hmmm yaudah iya bentar ya aku ganti baju dan pamitan sama William dulu biar dia yang urus selanjutnya." saut Lizzy.


" William mulu deh." kata Edward dengan nada cemburu.


" Dia partner aku di ruang operasi Wat. Cuma dia yang bisa aku andalkan." jawab Lizzy.


" Iya deh iya. Aku tunggu di lobby." sambung Edward sambil berjalan keluar.


Lizzy segera memberitahu William untuk mempimpin mengambil tindakan selanjutnya karena Lizzy harus pulang. William pun dengan cepat mengiyakan apa perkataan Lizzy. Lizzy mengganti baju operasinya dengan baju yang sebelumnya ia pakai untuk bekerja. Lalu ia berjalan menuju ruangannya untuk mengambil barangnya dan segera berjalan menuju lobby. RSH saat malam lumayan sepi karena sedikit pasien yang berobat saat dimalam hari. Di lobby, Lizzy telah melihat Edward dengan mobilnya sedang menunggu dirinya. Lizzy pun menghampiri Edward dan masuk ke dalam mobilnya.


" Yang, makan dulu yuk. Aku laper." kata Edward.


" Ok." saut Lizzy.


" Kamu mau makan apa?" tanya Edward.


" Terserah." jawab Lizzy.


" Mie ayam?" tanya Edward lagi.


" Jangan mie deh udah malem." kata Lizzy.


" Bubur ayam?" kata Edward.


" Gak lagi pengen bubur." jawab Lizzy.


" Terus kamu maunya apa?" tanya Edward lagi.


" Terserah." jawab Lizzy dengan datar.


" Mie gamau bubur gamau. Bingung aku Yang." ujar Edward.


" Aku lagi gak pengen makan itu Wat. Aku ikut kamu aja." kata Lizzy.


" Yaudah aku pengen makan nasi goreng." kata Edward.


" Ok." jawab Lizzy.


Mereka pun berhenti disebuah tukang nasi goreng dipinggir jalanan. Walaupun Edward terbiasa dengan hidup mewah dari kecilnya, namun ia sangat suka makanan yang murah tapi higenis. Ia juga sangat suka hal yang gratisan, bahkan diskonan karena Edward adalah orang yang sangat berhemat, tetapi jika ia bersama Lizzy, ia akan mengeluarkan uang seberapapun untuk Lizzy.


" Pasien yang kamu operasi kenapa Yang?" tanya Edward.

__ADS_1


" Dia kecelakaan dan setelah di periksa, aku nemu serpihan beling dipinggangnya yang mengarah ke ginjalnya. Untung sih beling itu belom masuk ke ginjalnya." jawab Lizzy.


" Oh ya? Wah, kasian juga ya dia kalau kena ginjalnya." kata Edward.


" Iya, kalau kena ginjal ya aku gak bisa ngomong. Bisa rusak ginjalnya." kata Lizzy.


" Umur berapa dia?" tanya Edward.


" Seumuran kamu Wat." kata Lizzy.


" Ada korban lain emang selain dia?" tanya Edward lagi.


" Gak tau deh, setau aku yang keluar dari ambulance dia doang sih." jawab Lizzy.


" Berarti frustasi dia, makanya nabrakin diri." kata Edward.


" Wah aku gak tau deh, belom sadar juga dia jadi gak bisa aku tanyain." saut Lizzy.


Sehabis makan, Edward langsung mengantarkan Lizzy ke rumahnya, dan ia segera pulang.


################################


Keesokkan harinya. Edward seperti biasa menjemput Lizzy dirumahnya. Karena Lizzy kemarin pulang malam, jadinya hari ini Lizzy masuk siang. Edward juga mengikuti Lizzy masuk siang karena menurutnya ia adalah bos dari karyawannya dan semaunya dia saja datang jam berapa. Namun, Lizzy berkali kali memarahi Edward karena ia selalu bersikap semaunya. Lizzy berkata bahwa Edward harus menjadi contoh teladan bagi karyawannya.


Lizzy tiba di RSH dan segera masuk ke ruangannya.


tok tok tok pintu ruangan Lizzy berbunyi.


" Masuk." saut Lizzy.


" Permisi Liz. Saya ingin membicarakan pasien kecelakaan kemarin." ucap William.


" Kemarilah duduk." suruh Lizzy.


Lalu William pun menceritakan hal yang perlu diceritakan kepada Lizzy karena ia merupakan dokternya pasien kecelakaan tersebut. Dan William berkata bahwa pasien tersebut telah sadar dan meminta bertemu dengan dokternya.


tok tok tok ketuk Lizzy yang datang ke kamar pasien tersebut dengan alat alat kedokterannya serta papan yang terdapat kertas. Lizzy pun masuk ke kamar pasien.


" Permisi, apakah anda pasien yang di operasi kemarin?" tanya Lizzy.


Orang yang ditanyanya hanya melamun melihat kedatangan Lizzy.


" Pernahkah kita saling bertemu? Kenapa wajahnya tak begitu asing bagiku?" tanya pasien itu dalam hatinya.


" Halo?" kata Lizzy sambil melambaikan tangan di depan wajah pasiennya.


" Ah maaf dok. Iya benar." jawab pasien tersebut.


" Kamu ingin bertemu dengan saya?" tanya Lizzy.


" Iya dok, saya ingin mengucapkan terimakasih telah menyelamatkan saya dari kecelakaan." ucap pasien.


" Saya hanya perantara saja. Yang menyelamatkan kamu adalah Tuhan. Segalanya terjadi sesuai dengan kehendak-Nya. Berterimakasihlah kepadanya." saut Lizzy.


" Sangat rendah hati." gumam pasien itu dengan pelan.


" Hah?" tanya Lizzy bingung.


" Ah gapapa dok. Boleh saya tau nama dokter?" tanya pasien itu.


" Boleh. Nama saya Lizzy. Panggil saja saya Lizzy karena umurmu juga diatasku." jawab Lizzy.


" Haha baiklah dokter Lizzy. Nama saya Greydy. Bisakah kita menjadi teman?"

__ADS_1


" Ah tentu saja. Gimana keadaanmu sekarang? Apakah lebih baik?" tanya Lizzy.


" Tentu saja. Kamu yang merawatku." saut Grey.


" Bisa saja kamu." balas Lizzy.


" Apakah bisa aku keluar kamar untuk jalan jalan?" tanya Grey.


" Ahh untuk saat ini tidak dulu ya. Luka operasimu belum kering. Lebih baik sekarang kamu makan dulu dan istirahat." jawab Lizzy.


" Baiklah." saut Grey.


dddrrrttt ddrrrrtttt ponsel Lizzy bergetar dari saku jas putihnya.


" Ah maaf aku harus pergi." pamit Lizzy.


" Ok. Terimakasih sekali lagi." jawab Grey.


" Sama sama." balas Lizzy.


Lizzy keluar ruangan pasien tersebut dan menutup pintunya. Lalu Lizzy melihat ponselnya dan tertera nama Edward di layar ponsel tersebut. Lizzy pun menjawab panggilan tersebut.


" Ya Wat kenapa?" tanya Lizzy.


" Yang, kak Lia nelepon kamu kenapa gak tersambung?" tanya Edward.


" Kak Lia gak telepon aku Wat. Gak ada panggilan dari kak Lia." saut Lizzy.


Memang saat itu Lia sedang dalam masa cutinya untuk menikah kemarin.


" Jaringan ponselmu lagi eror kali ya." kata Edward.


" Hmm maybe. Memang ada apa Wat?" tanya Lizzy.


" Katanya kak Lia mau honeymoon ke Korea sama bang Al. Kita diajak kamu mau ikut gak?" kata Edward.


" Oh ya? Ngapain kak Lia honeymoon kita ikut ikutan Wat? Ganggu aja mereka hahaha." saut Lizzy.


" Ikut aja yuk. Sekalian kita liburan. Gimana?" ajak Edward.


" Yehh nanti kerjaan kamu gimana?" tanya Lizzy.


" Aku kan bosnya. Jadi bisa suruh bawahan aku untuk kerjain kerjaan aku lah Yang." jawab Edward dengan sombongnya.


" Aduh sombong banget sih. Jangan mentang mentang kamu bos Wat bisa suruh suruh bawahan kamu." kata Lizzy.


" Bercanda aku astagah. Marah marah aja kamu cepet tua nanti." balas Edward.


" Biarin. Aku males urusin cuti di rumah sakit Wat." jawab Lizzy.


" Yahh ayolah cuma 1 minggu ini Yang." pinta Edward.


" Nanti kalau ada yang butuh aku disini gimana?" tanya Lizzy.


" Suruh si William aja tuh kan dia wakil kepala dokter bedah." saut Edward.


" Kamu tuh ya. Yaudah yaudah aku ikut. Nanti aku urusin cuti ku disini." jawab Lizzy.


" Yeyy gitu dongg.. Yaudah aku tutup dulu ya teleponnya. I love you Zy." kata Edward.


" Ok. Love you too Wat." balas Lizzy.


Lizzy pun menutup panggilannya.

__ADS_1


bersambung.


*** Hallo para readers. Maaf ya baru update lagi karena aku lagi sakit jadi gak bisa update. Semoga kalian suka ya sama part ini. Jangan lupa klik LIKE AND COMMENT nya. Karena itu buat aku jadi semangat buatnya lagi. Terimakasih sudah menyempatkan waktunya untuk membaca novel ini. Love you all 😘 happy reading 😊😘❤ ***


__ADS_2