
Selama 6 bulan terakhir sejak kepergian Edward ke Indonesia, Lizzy sangat sangat merindukan sosok Edward yang tak ada kabar sama sekali. Bahkan ia sudah mencoba untuk menghubunginya, namun hasilnya tetap saja nihil. Edward adalah penyemangatnya dalam menghadapi segalanya. Lizzy pun kehilangan cara untuk mencari Edward. Ia tak tahu, sekarang hubungannya dengan Edward pantas disebut sebagai apa. Ia tak tahu.
Selama mengambil pendidikan lagi untuk gelar spesialis nya, Lizzy telah berhasil mendapat gelar Profesor muda. Lizzy tak menyangka akan mendapatkan gelar prof juga setelah melanjutkan pendidikannya tersebut. Kabar tersebut sangat menggembirakan bagi Lizzy, ia ingin sekali berbagi kebahagiaannya dengan Edward, tapi apa dayanya yang tak tau tentang keberadaan Edward dimana. Dihari penobatannya sebagai profesor, Winny dan Randy datang. Tetapi tidak untuk Lia dan Al. Lia dan Al tidak dapat hadir karena mereka mempersiapkan segala hal untuk keperluan pernikahan mereka yang akan dilakukan 3 bulan lagi. Persiapan pernikahan tersebut telah dimulai sejak 1 tahun yang lalu.
Setelah ia mendapati gelarnya tersebut, ia sudah tidak melanjutkan sekolahnya. Sebelum ia lulus, ia sudah melakukan impiannya yaitu membangun rumah sakit dengan uangnya sendiri. Selama ini, Lizzy bekerja sebagai dokter setelah mendapatkan gelar dokternya, dan ia melanjutkan studinya hingga berhasil mendapat gelar Profesor Muda. Gaji seorang dokter di Amerika khususnya sangatlah besar, 2 tahun Lizzy bekerja sebagai dokter dan digabungkan dengan hasil pekerjaannya selama ini, ia dapat membangun sebuah rumah sakit yang cukup besar di Indonesia yang ditujukan untuk orang yang berasal dari kalangan bawah. Winny dan Randy pun takjub melihat keadaan Lizzy sekarang.
Lizzy pulang ke Indonesia untuk persiapan pembukaan rumah sakitnya. Sudah 2 minggu Lizzy berada di Indonesia. Dan pagi ini, Lizzy sudah bersiap siap akan berkunjung ke rumah sakitnya.
" Pagi mah, pah." sapa Lizzy.
" Pagi sayang. Wih anak mama udah mau jadi direktur rumah sakit beberapa hari lagi." ledek Winny.
" Ih apaan sih mama, kan Lizzy jadi malu." ucap Lizzy.
" Papa bangga sama kamu sayang, kamu sangat sangat membanggakan untuk kami." kata Randy.
" Terimakasih pah. Ini semua berkat dukungan dan doa dari kalian berdua juga kok. Lizzy sangat beruntung memiliki orang tua seperti kalian berdua." ujar Lizzy.
" Kami juga beruntung memiliki anak yang cantik, baik hati, dan juga pintar seperti kamu." kata Winny.
" Oh iya Zy, papa lupa mau bilang ke kamu selama ini. Duduk sini nak, papa ingin bertanya." kata Randy.
" Nanya apa pah?" tanya Lizzy sambil duduk di sofa ruang tamu.
" Zy, papa tau kamu sudah punya pacar, tapi ada anak rekan bisnis papa ingin menjodohkan anak nya dengan kamu. Apakah kamu mau dijodohkan? Kalau kamu tidak mau tak apa apa sayang, papa akan membatalkannya." kata Randy.
" Mereka sudah membicarakan hal ini dengan kami dari lama nak, papa dan mama tak ingin kamu memikirkan hal ini selama kamu masih kuliah." ujar Winny.
__ADS_1
" Emm tak apa mah,pah, Lizzy akan mencoba mengenalnya dulu. Bila nanti ada kecocokkan akan Lizzy pertimbangkan. Pilihan kalian pasti yang terbaik untuk Lizzy." ucap Lizzy.
" Tapi nak, kamu kan sudah punya pacar. Apakah tak apa apa dengan Edward?" tanya Winny.
" Tak apa mah, Lizzy sudah hilang kontak dengannya selama 6 bulan ini. Bahkan dibilang sudah putus tetapi belum ada perkataan putus yang keluar dari mulut kami berdua." jawab Lizzy.
" Ok, gapapa sayang, bila mungkin dia bukan jodoh kamu, jangan dikejar. Jodoh pasti gak pernah salah nak, mama mendukung keputusanmu." kata Winny.
" Terimakasih mah. Oh iya, aku berangkat ke rumah sakit dulu ya mah, pah. Sampaikan saja kepada teman papa itu untuk datang ke sini bertemu dengan Lizzy." ujar Lizzy.
" Siap nak." kata Randy.
Lizzy pergi ke rumah sakitnya untuk mengecekkan administrasi dan kelengkapan rumah sakitnya. Rumah sakit ini sudah berjalan dari 1 bulan yang lalu sejak Lizzy masih di Amerika. Ia dibantu oleh orang tuanya dan juga kak Lia yang mengerti bagian administrasi. Kak Lia yang pernah bekerja di salah satu rumah sakit juga sudah resign dan membantu Lizzy dalam mengelola rumah sakitnya. Lizzy ingin dirinya yang memimpin kepengurusan rumah sakit agar segala hal sesuai dengan rencananya. Sekarang, rumah sakit ini sudah lumayan dikenal orang karena letaknya yang strategis dan juga fasilitasnya yang lengkap. Dan biaya dirumah sakit ini sangat terjangkau dan jika sangat memprihatinkan, rumah sakit akan memberikan pengobatan gratis untuk kalangan yang kurang mampu. Hal itu sangat membuat rumah sakit ini semakin terkenal.
2 minggu lagi, Rumah Sakit Harapan akan dibuka. Kenapa Lizzy menamainya harapan? Karena, Lizzy yakin setiap orang memiliki harapan dan juga harapan lah yang membuatnya untuk bertahan dalam segala hal dan juga menghadapi suatu hal. Hari ini, rekan satu kampusnya Lizzy dulu, yang merupakan seorang dokter bedah umum sama seperti Lizzy bernama William bekerja di rumah sakit ini. William lebih tua 3 tahun dari pada Lizzy, namun karena satu kelas dulu, Lizzy memanggilnya dengan nama saja tanpa ada panggilan yang lainnya, sebab di Amerika, bila berbicara dengan orang yang lebih tua pun memanggil dengan namanya tanpa pakai kak atau hal lainnya.
Hari sudah semakin sore, Lizzy pun pulang ke rumahnya. Karena jam kerja Lizzy dari pagi sampai jam 6 sore dan akan libur pada hari weekend kecuali ketika ia terpaksa datang jika ada pasien yang membutuhkannya. Saat bersumpah menjadi seorang dokter, Lizzy harus mengingat sumpahnya jika ia harus mengutamakan pasien diatas kepentingan pribadinya. Lizzy pulang menggunakan mobil HRV nya yang diberikan oleh papa nya saat sebelum ia pergi ke Amerika.
Karena jalanan macet, Lizzy sampai dirumah jam 7 malam. Dan saat ia memasuki rumah, ia melihat Winny dan Randy sedang duduk diruang keluarga sambil menonton TV. Lizzy langsung mendekat kepada mereka.
" Eh anak mama udah pulang." sapa Winny.
" Sudah makan?" tanya Randy.
" Belum pah. Tadi gak sempet makan soalnya harus ngebantu dokter baru dulu." kata Lizzy.
" Makan dulu aja sana, si mbak udah masak tuh nak." kata Winny.
__ADS_1
" Emmm iya mah, Lizzy mau mandi dulu ya entar turun lagi." kata Lizzy sambil berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai 2.
Selama 30 menit Lizzy mandi dan bersiap siap, Lizzy turun ke bawah untuk makan malam. Randy dan Winny telah makan. Lizzy telat pulang sehingga ia harus makan sendirian. Selesai makan, Lizzy menghampiri orang tuanya di ruang keluarga.
" Udah makannya?" tanya Winny.
" Udah mah." saut Lizzy.
" Oiya sayang, papa sudah kabari teman papa itu. Kata dia, 2 hari lagi kan sabtu, kamu gak kemana mana kan, nah dia mau datang kesini sekalian mengenalkan kalian berdua." kata Randy.
" Hmm iya pah." jawab Lizzy.
##############################
Di rumah keluarga Wang.
" Wat, sabtu ini kamu ketemu sama gadis yang akan dijodohkan dengan kamu." kata Kevin.
" Ok pi." saut Edward.
" Kosongkan jadwal kamu dari meeting meeting." suruh Kevin.
" Iya siap." jawab Edward.
Edward sekarang sudah memiliki perusahaan sendiri dan menjadi CEO dari perusahaan yang bergerak dibidang perhotelan, retail, dan juga finance. Ia sangat menyukai bisnis. Sangat tidak cocok bila seorang dokter harus terjun ke dunia bisnis. Tapi apalah sebuah gelar dokter bagi Edward bila dirinya sangat menyukai bisnis. Perusahaan Edward telah berdiri dari 4 bulan yang lalu. Edward berhasil melebarkan sayap perusahaannya ditengah perusahaan perusahaan lain yang sedang naik daun. Edward dikenal hampir oleh semua orang dari kalangan bisnis. Edward masih terus memikirkan Lizzy selama ini, ia bersemangat mendirikan perusahaan karena ingin segera menikahi Lizzy. Karena ia sudah lebih mapan sekarang. Edward mendirikan ini semua berkat hasil kerja kerasnya sendiri. Tanpa bantuan dari Kevin dan Melan. Bahkan kadang kadang, Edward juga tidak pulang ke rumahnya, ia lebih memilih tinggal sendiri di rumah mewahnya yang jaraknya jauh dari rumah orang tuanya.
*** Selamat membaca ❤.. Jangan lupa klik LIKE AND COMMENT nya yaa 😊😘❤ ***
__ADS_1