
Lizzy, Edward, dan Pak Cahya memasuki kamar Alya setelah mengetuknya tadi.
" Permisi." ucap Pak Cahya.
" Pak Cahya?" kata Alya dan Vya secara bersamaan.
" Kalian ini kompak banget sih."
" Bapak ya ampun apa kabar?" tanya Vya sambil menyalami pak Cahya.
" Baik Vy. Selamat ya Al sudah jadi seorang ibu sekarang." jawab pak Cahya.
" Iya pak terimakasih. Oiya kenalin pak, itu Mas Satya suami Alya." ujar Alya saat melihat Satya yang berjalan ke arah Alya. Satya pun segera menyalami pak Cahya.
" Hallo, saya Cahya guru nya Alya dulu. Selamat ya."
" Terimakasih pak." saut Satya.
" Kalian ini melangkahi bapak saja. Bapak sendiri belum nikah loh. Kalian sudah jadi orang tua dan calon orang tua saja." kata Pak Cahya.
Pak Cahya sedang berbincang bincang dengan Alya, Vya dan juga Satya serta Febri.
" Yang, ke temenku yuk. Dia juga dirawat disini." ajak Edward.
" Sebentar Wat, gak enak loh ini di tinggal kalau kita ke temanmu."
" Aduh sayang. Disini juga kita dicuekin kaya gini. Yuk ah, kalau kamu gak mau aku sendiri aja deh. Ngapain disini juga di cuekin." rengek Edward.
" Ya udah aku ikut."
Akhirnya rengek an Edward berhasil membujuk Lizzy untuk mengikuti keinginannya.
" Emm semuanya, aku sama Edward pamit dulu ya, soalnya masih ada urusan lain lagi." pamit Lizzy.
" Yah, cepet banget Liz." saut Vya.
" Iya ada urusan lain soalnya hehe." jawab Lizzy.
" Ok hati hati ya Liz." saut Alya.
" Iya terimakasih ya Pril sudah mengajak kesini. Sampai bertemu lagi nanti." ucap pak Cahya.
" Iya.. Dahh semua.."
__ADS_1
Lizzy dan Edward pun segera keluar dari kamar Alya.
" Yang tadi aku taruh buah diruangan kamu. Ambil dulu ya bentar."
" Ya udah. Sekalian pulang aja ya habis ini." ucap Lizzy.
" Ok. Yuk."
Edward dan Lizzy pun berjalan menuju ruangan Lizzy dan sesampainya, Lizzy segera membereskan barang barangnya dan membawa tasnya. Lizzy pun melipat jasnya dan menaruhnya di lengannya karena sudah terbiasa Lizzy selalu membawa pulang jasnya setiap hari. Edward pun membawa keranjang buah dan juga undangan yang telah di cetak. Setelah selesai, mereka pun keluar dan berjalan menuju kamar Andy.
Lizzy merasa jalanan ini tidak asing baginya. Namun, Lizzy hanya menganggapnya bahwa teman Edward itu berada diruangan lain dan bukan Andy.
Mereka pun sampai didepan kamar Andy dan Edward pun mengetuk pintunya.
" Wat. Aku ken........." ucap Lizzy yang terpotong saat mendengar bahwa orang yang didalam ruangan mempersilahkan untuk masuk.
" Hei bro." sapa Edward. Lizzy mengikuti Edward dibelakangnya. Karena Edward itu tinggi sehingga Lizzy tertutup oleh Edward dari arah depan.
" Haii.." sapa Andy juga.
" Nih gw bawain buah. Sorry ya gak bisa bawa apa apa lagi gw soalnya sibuk sih." ucap Edward.
" Ya ga papa lah. Di jenguk aja udah berterimakasih gw sama lu. Dibelakang lu siapa?" tanya Andy yang menyadari ada seseorang dibelakang Edward. Lizzy pun segera menoleh ke arah Andy dan terkejutnya Andy mendapati Lizzy disana.
" Oh iya kenalin ini Lizzy calon istri gw. Kan kemaren lu minta kenalin sama calon istri gw." kata Edward.
" What? Calon istri?" kaget Andy.
" Iyalah. Kenapa lu kaget gitu?" tanya Edward.
" Gak papa sih. Udah kenal sama dokter Lizzy mah. Dia yang nolong gw saat kecelakaan itu." jawab Andy.
" Kok kamu gak ngomong sama aku sih yang?" tanya Edward pada Lizzy.
" Tadi aku mau ngomong kan. Cuma kepotong. Kamu langsung masuk aja." jelas Lizzy.
" Nih gw kasih undangannya. Katanya lu mau dateng. Dateng ya." kata Edward.
" Jadi dokter udah mau nikah?" tanya Andy.
" Iya, kenapa An?" tanya Lizzy.
" Emm ga papa deh. Dikira belom punya calon, jadi niatnya aku mau deketin dokter." jawab Andy tak memperdulikan Edward yang terkejut.
__ADS_1
" Ahhh. Sekarang kan sudah tau, jadi maaf ya An." saut Lizzy.
" Iya ga papa dok. Saya hanya kecewa." jawab Andy.
Melihat itu, Lizzy hanya merasa canggung dan tidak enak. Bukan karena tak enak menolak Andy yang memiliki perasaan kepadanya, tapi karena tak enak bahwa Edward yang berada disini juga.
" Udah milik gw ini. Jangan di rebut. Gw patahin tulang lu kalau berani." ancam Edward yang langsung merangkul pundak Lizzy, dan Lizzy langsung pemukul lengan Edward karena sikap kekanak kanakannya ini.
" Ya ampun Edward!! Gw juga gak semurahan itu kali, masa orang udah mau nikah malah gw deketin." jawab Andy.
Mereka pun berbincang bincang dan bercanda karena hal tadi. Dan akhirnya Lizzy serta Edward memutuskan untuk pamit dari ruangan Andy karena hari yang sudah larut.
" Sayang, udah deh kamu gak usah kerja lagi." kata Edward pada Lizzy.
" Lah? Kenapa?"
" Banyak yang suka sama kamu."
" Apa hubungannya sama profesi aku yang jadi seorang dokter?"
" Pasien kamu tuh kebanyakan naksir kamu semua."
Lizzy yang mendengar hal itu sontak langsung tertawa.
" Kenapa tertawa?"
" Abis kamu lucu."
" Aku ga lagi ngelawak loh sayang. Aku serius."
" Pasien aku hanya ngerasa nyaman aja sama aku Wat. Bagus dong kalau mereka merasa nyaman berarti kan aku berhasil sebagai dokter."
" Aku yang gak nyaman! Udah punya calon istri cantik, dokter, terlalu baik, dan bisa buat orang nyaman."
" Aku kayanya gak kaya gitu deh Wat."
" Aku mau kamu kaya gitu hanya buat aku. Gak buat yang lain."
" Hey! Kamu seharusnya bangga Wat. Dari sekian banyak yang ngantri buat jadi pendamping aku, aku memilih kamu buat jadi suami aku." jawab Lizzy sambil tertawa.
Edward pun hanya terdiam mendengar omongan Lizzy.
*** bersambung ***
__ADS_1