
- Flitz yang cemas semakin cemas memikirkan janin yang ada di perut Kerry.
* Ya, Tuhan! Apa yang harus ku lakukan jika sesuatu terjadi pada istriku dan bayiku.
- Ambulans pin tiba di rumah sakit, kerry di dorong ke UGD, Dwayne juga ikut ke rumah sakit. Dwayne yang melihat Flitz begitu cemas pun memegang bahunya.
¿ Bro, jangan terlalu cemas, kerry pasti baik.
* Terimakasih bro!
¿ Baiklah, sabarlah.
- Dokter keluar dari UGD dan berjalan ke hadapan Flitz.
¤ Tuan, istrimu dan janinnya baik-baik saja.
- Mendengar hal itu Flitz menarik nafas legah, Dwayne yang mendengar hal itu pun kaget.
¿ Apa, Kerry hamil?
¤ Iya benar tuan, sudah 1bulan umur kandungannya.
¿ Wah Flitz, apakah kau mengejar sebuah tim sepak bola?
* Hehe sepertinya begitu bro!
¿ Wah hehehe tak salah juga sih, mamanya juga pun cantik!
* Iya, sangat cantik!
- Flitz dan dwayne yang sedang berbicara pun harus berhenti karena Rutger.
*** Papaaaaa
* Ya rutger?
__ADS_1
*** Mana mama? adek.
* Hhhmmm mama dan adekmu baik- baik saja rutger.
*** Hahhhhh syukurlah. Jika terjadi sesuatu pada mamaku dan adekku engkau akan ku tuntut papa.
* Apa? yang benar saja kau rutger, bagaimana mungkin kau menuntut papamu sendiri?
*** Tentu bisa, karena paoa menikahi mamaku.
- Flitz yang mendengar pernyataan Rutger pun tertawa hancur.
* Anakku, kau persis seperti mamamu, kepala batu!
*** Jangan menghina mamaku yaa awas kau pap!
* Baiklah Tuan kecil, apapun itu asal jangan kau mengambil mamamu dari papa ya!
*** Selama papa baik ke mama, takkan ku lakukan kok!
* Ah yaa dia anak kami!
¿ Iya wajahnya begitu mirip dengan Kerry.
* Tentu saja, lihatlah perlakuannya padaku karena mamanya.
¿ Dia sangat menyayangi mamanya, hati-hati kau Flitz hehehehhe
* Ya, mamanya adalah bidadarinya.
*** Papa, segera tanyakan pada dokter kapan mama boleh pulang?
* Ya, Tuhan! Anakku, mengapa engkau terlihat lebih dewasa dari umurmu?
*** Kenapa ayah? Apakah salah jika aku mengkhawatirkan mamaku?
__ADS_1
* Anak ini? sini papa peluk.
- Flitz pun memeluk Rutger dab berbicara padanya.
* Rutger kata dokter, jika mamamu dibolehkan untuk pulang maka dokter akan mengabari kita. sampe disini paham!
*** Sangat paham papa!
* Pintar anak papa dan mama. Aiya aku berharap kau terus kecil saja, jangan besar ya!
¿ Kamu benar Flitz, masa terindah menjadi orangtua adalah ketika anak-anak kita masih kecil dan rasanya tak ingin mereka besar.
* Ya, mereka mengubah kehidupan juga kita saat yang bersamaan tentunya. Apakah kau juga telah memiliki anak?
¿ Ya, seorang putra namun istriku telah mengambilnya dariku.
* Ah, pasti ada penyebabnya Dwayne. Kamu harus menghargai istrimu agar apa yang menjadi milikmu tetap menjadi milikmu.
- Dwayne yang mendengar Flitz ,berbicara demikian pun tiba-tiba tertawa
¿ Hahahha, Flitz setahuku, dalam dunia bisnis engkau dikenal sebagai sosok yang sangat arogan, tetapi melihatmu hari ini. Ternyata engkau adalah suami idaman dan juga ayah idaman.
* Ya, begitulah. Namun siapa sangka istriku adalah segalanya bagiku. Melihatnya hatiku yang sekeras batu pun menjadi selembut katamu.
¿ Andaikan istriku seperti istrimu.
* Jangan mengingini apa yang bukan milikmu Dwayne, Dosa!
¿ Hehe iya benar maaf. Oke Flitz aku rasa aku harus pergi.
Terimakasih untuk nasihatnya.
* Baiklah, Hati-hati bro!
- Dwayne yang berjalan pulang membayangkan Flitz yang sikapnya begitu baik.
__ADS_1
¿ Huhhhhh istrinya pasti berhati malaikat, Flitz saja semakin manusiawi dalam bertindak.