Suamiku Ada Di Kerajaan Jangga

Suamiku Ada Di Kerajaan Jangga
PERMINTAAN YANG TIDAK MASUK AKAL


__ADS_3

Raja dan Ratu Jangga menatap Hae Seok untuk memperhatikan perkataannya.


"bukan maksudku begitu yang Mulia, tentu saja Putri Mahkota Kerajaan Matahari memiliki sikap tersebut. aku tidak meragukannya, tapi bolehkah aku minta satu syarat untuk pembuktiannya." ucap Pangeran Hae Seok yang membuat seluruh isi ruangan kaget


"baiklah, apa itu pangeran, aku akan membuktikannya." jawab Putri Sae Yeon


"buatkan aku resep untuk membuat sup sosis darah sapi (makanan ini dikenal sebagai sundae dikorea pada abad ke 10 belum ada, makanya Hae Seok meminta) yang sangat enak dan membuat tubuh menjadi segar kembali dengan masakan itu, aku harap putri menemukan resep ini sendiri bukan menyuruh orang lain, aku hanya ingin melihat ketiga sikap itu." ucap Pangeran Hae Seok dengan senyuman sinis, Bo Ra juga tersenyum puas, karena ini ide darinya. Dia berharap Putri Mahkota tidak bijak dalam memilih bahan dan tidak mandiri dalam memasak, agar perintaan ini gagal.


"apa yang kau minta itu sungguh tidak masuk akal. siapa yang akan memakan sup darah sapi hanya untuk menyegarkan tubuhnya." jawab Raja Matahari Marah


"tidak apa-apa Ayah, aku akan membuktikan padanya bahwa aku putri Mahkota yang memiliki tiga sifat itu dan akan bersanding dengannya." ucap Putri Sae Yeon dengan tersenyum kesal


"maafkan putraku atas permintaannya." ucap Raja Jangga yang juga kesal


"kalau begitu, kami antar kekediamanmu untuk beristirahat dulu." tambah Raja Jangga


"tidak perlu, kami akan langsung undur diri. terimakasih jamuannya." ucap Raja Matahari dan langsung pergi disusul Putri Mahkota


"kauu sungguh membuatku malu." marah Raja Jangga dengan menguatkan suaranya


"Yang mulia, tolong tenanglah." jawab Ibu Ratu


"didik putramu dengan benar." ucap Raja dan langsung pergi


"aku sungguh kecewa padamu nak." jawab Ibu Ratu


Tapi Hae Seok tidak terlalu mempermasalahkan itu semua, dia sangat yakin Putri Sae Yeon tidak akan kembali dengan sup yang dimintanya. Jikalau Putri Sae Yeon berhasil, berarti dia memang bijak dalam mengartikan sosis darah sapi.


Berjalanlah Hae Seok kekediaman Bo Ra untuk melihat sup yang telah direkomendasikannya itu, sebenarnya dia juga tidak percaya ada masakan seperti itu. Da Eun sudah didepan pintu menunggu kedatangan Hae Seok dan dipersilahkan untuk masuk. Bau wangi dan sedap dari sup yang dibuat Bo Ra membuat Hae Seok semakin penasaran dan ingin mencicipinya.


"apa ini yang kau maksud dari sup sosis darah sapi?"


"yapss benar sekalii suamiku." jawab Bo Ra


"tapi ini tidak terlihat seperti darah?" tanya Hae Seok


"inilah yang membuatku yakin untuk memberi Saran ini oppa, kau pun tidak begitu bijak dalam memikirkan makanan ini." jawab Bo Ra dengan tersenyum yang membuat wajah Hae Seok memerah seperti akan marah

__ADS_1


"cobalah." buruburu Bo Ra menyuapi Hae Seok agar tidak marah


"wahh rasa apa ini? seperti meledak dimulutku, enak sekali benar-benar membuat semangat untuk makan. Dan pikiranku juga menjadi jernih. kau hebat sekali Bo Ra, terimakasih telah membantuku." ucap Hae Seok yang masih memakan hidangannya


"aku masih kawatir, karena putri Sae Yeon sangatlah cerdas dalam mencari akal." ucap Bo Ra


"tapi dia tidak sebijak dan semandiri dirimu. aku yakin dia akan gagal." jawab Hae Seok menenangkan


Sup itupun telah dihabiskan oleh Hae Seok dan dia undur diri kembali kekediamannya, karena hari esok akan lebih melelahkan, memberantas wabah penyakit DBD, yang belum dipahami siapapun.


_________


Ayam telah berkokok bergantian, tanda matahari akan segera terbit. Pegawai kerajaan yang dititahkan Raja segera bersiap-siap untuk ke alun-alun desa mengumumkan tentang wabah penyakit. Dipagi hari seperti ini, masyarakat Jangga sudah lalu lalang disibukkan dengan pekerjaan mereka, seperti berdagang dan bertani.


Hal-hal cara mencegah itu semua juga dituliskan oleh penulis kerajaan, ditempelkannya kepapan pengumuman serta dibacakannya sebelum ditempel. Karena belum banyak masyarakat yang bisa membaca saat itu.


Terompet berbunyi ditengah tengah alun berarti tanda ada pengumuman dari Raja, mereka semua segera berkumpul mengerumuni pegawai kerajaan tersebut.


**PENGUMUMAN


blablabalabalabalabala**


Pengumuman telah disampaikan sesuai yang dianjurkan Bo Ra. Masyarakat pun yang mendengar pengumuman itu, langsung panik dan bergumam kesana kemari lalu membersihkan rumahnya, genangan air, tumpukan sampah dan menanam tumbuhan serai yang diberikan oleh kerajaan. Serta mereka mulai merebus air untuk diminum. Bo Ra juga sudah disana saat itu, karena masyarakat masih sangat riweh, ia meminta Hae Seok untuk memanggil beberapa pemuda pemudi untuk menyiapkan alat fogging/pengasapan.Berita tersebut langsung tersebar, tidak disangka hampir dari seluruh mereka datang berkumpul menemui Bo Ra dan pangeran Hae Seok. Saat itu Bo Ra menatap Hae Seok untuk memimpin membuat alatnya dan hanya diarahkan oleh Bo Ra melalui Hae Seok. Karena tujuan Bo Ra membuat lelaki tercintanya dilihat oleh khalayak.


Bo Ra memberi tahu Hae Seok untuk memotong bambu menjadi beberapa bagian yang digunakan untuk pegangan dan mangkuk batok kelapa untuk membakar sabut kelapa dan serai, jadi itu digabungkan seperti dayung jaman dulu. Tidak memakan waktu yang lama, mereka sudah membuat alat itu hingga ratusan, cukup untuk dibagikan keseluruh desa dibawah naungan kerajaan Jangga.


Setelah itu Bo Ra memberi tahu untuk memasukann sabut kelapa dan serai, dan dibakar didalam nya hingga berasap. Kemudian mereka berkeliling desa dan kerajaan untuk melakukan pengasapan.


"lebih baik kamu tidak usah ikut, aku takut kamu kelelahan." ucap Hae Seok


"bawa Bo Ra pulang ya." ucap Hae Seok pada Da Eun


Bo Ra menuruti itu semua, tapi bukannya istirahat dia malah mengambil susu, roti, minyak yang sudah dibuat oleh pelayan kemarin.


"kita akan kembali kepasar untuk menjual ini dulu." ucap Bo Ra


"tapi pangeran menyuruhmu istirahat." jawab Da Eun

__ADS_1


"aku tahu, setelah ini kita langsung pulang, ehh kita jenguk adik adik woo Jin dulu. lagipula aku sudah berjanji pada Tn. Hae In untuk membawa roti hari ini." ucap Bo Ra yang langsung berjalan akhirnya diikuti oleh Da Eun


Sesampainya di toko, dia langsung menuju ruangan Hae In, karena pelayannya juga sudah mengenalnya.


"heyy Nn. cantikku telah datang, aku pikir kau mengikuti pemberantasan wabah yang diminta Raja." ucap Hae In


"tadi aku mengikutinya, tapi aku tetap harus menjual bahanku kan." ucap Bo Ra


"baiklahh... baiklahhh.." jawab Hae In menerima bahan yang diberikan Bo Ra dan memberikannya uang lebih banyak dari kemarin


"ouhh jadi ini namanya roti." ucap Hae In


"yapss, roti juga bisa dimakan dengan teh hangat, jadi dicelup-celup kedalam teh maka rasanya akan lebih nikmat." jawab Bo Ra yang dibalas anggukan oleh Hae In


"kalau begitu aku permisi dulu." ucap Bo Ra


"kenapa buru-buru sekali?" tanya Hae In


"aku ingin menemui Woo Jin, adikadiknya sudah terkena wabah DBD ini." jawab Bo Ra


"bolehkah aku ikut?"tanya Hae In yang dibalas anggukan. Mereka pergi bersama kerumah Woo Jin, terlihat sudah bersih pekarangan Woo Jin kali ini


"kak Bo Ra, aku senang kau kemari ." panggil Woo Jin dengan wajah sumringah


"kau begitu bahagia sepertinya."


"iyaa kak, adikadikku sudah menjadi lebih baik, panasnya sudah reda tidak setinggi kemarin." jawab Woo Jin senang, lalu Bo Ra memasuki ruangan dimana adikadiknya masih tidur namun panasnya sudah reda


"syukurlah, kakak ikut senang. jaga selalu adik adikmu ya, dan juga kesehatan dirimu, jangan lupa jaga kebersihan." ucap Bo Ra


"ohiya Da Eun tolong berikan Woo Jin jambu biji yang sudah kau beli tadi." ucap Bo Ra


"terimakasih kak, aku tidak akan pernah lupa dengan kebaikanmu." jawab Woo Jin begitu polos dan Bo Ra mengelus rambutnya pelan


Hae In menjadi tambah kagum melihat Bo Ra yang menolong tanpa pamrih, dia begitu cantik dan baik hati pikir Hae In


-BERSAMBUNG-

__ADS_1


__ADS_2