
"ohiyaa aku sampe lupa, tolong pindahkan biji kakau yang kita simpan kemarin kekotak yang bersih lainnya, dan simpan lagi tutup hingga rapat. aku akan mandi sekarang." tambah Bo ra, dan Da Eun siap melakukan apapun yang diperintahkan Bo Ra
Berjalan menuju bak mandi hangat yang sudah disiapkan Da Eun sebelumnya, dia merendamkan dirinya, menghilangkan penat, begitu rileks.
"aghh enak juga hidup begini, tinggal menyuruh ini itu. hihihi." gumam Bo Ra
Setelah mandi, ia segera mempersiapkan dirinya untuk keluar dengan Hae seok. Bo Ra menggerutu sendiri karena bajunya begitu berat, ia ingin memakai pakain yang ringan saja pikirnya. Saat Bo Ra sedang merias diri, Da Eun memasuki kamarnya dengan membawa minyak kelapa yang telah dibuat pelayan.
"apa kau sudah melakukan semua yang kuminta?" tanya Bo Ra yang dibalas anggukan oleh Da Eun
"ohiya Nn. juru masak sangat kaget dengan kegunaan minyak kelapa ini, mereka bisa memasak dengan cara yang berbeda, dan rasanya lebih enak daripada direbus." ucap Da Eun
"baguslahh.. awas saja jika ada salah satu dari mereka yang membocorkan resep yang kuberikan pada orang lain, akan kubunuh dia." ucap Bo ra dengan sinis, padahal kata bunuh yang dimaksud Bo Ra hanya menakut-nakuti tapi mereka menganggap nya berbeda
"tidakk Nn. mereka tidak akan seberani itu. apalagi Nn sudah memberi tahu mereka kemarin apa konsekuensinya." jawab Da Eun
"ohiya dimana Hae Seok? aku sudah siap." tanya Bo Ra
"sudah menunggu ditaman Nn." jawab Da Eun, dan Bo Ra beranjak dari duduknya keluar untuk menemui Hae Seok
"ohh sebentar, dimana ranselku, aku harus membawanya, kalau saja ada orang yang membutuhkan seperti kemarin aku tidak akan repot, karena aku membawa alatku." ucap Bo Ra dan Da Eun sigap untuk mengambilnya
------
Hae Seok berdiri memandangi pohon yang sedang berbunga, dia terlihat dingin namun tampan. Dihampirinya segera oleh Bo Ra.
"aku sudah siap." membuat Hae Seok menoleh ke arah Bo Ra
"apa kau juga membawa pelayanmu dan apa yang ada dipunggungmu?" tanya Hae Seok
"tentu, aku ingin menjual minyak kelapa yang sudah kita buat kemarin, jadi kita mampir ketoko dulu. dan ini ransel, ada banyak alat yang kubutuhkan. " ucap Bo Ra sambil menunjukkan tasnya
__ADS_1
"hemm baiklahh,, apa kau pikir kita akan kepasar?" tanya Hae Seok
"yaa harus kesana dulu, setelah itu aku akan mengikutimu." jawab Bo Ra
"wanita ini bagaimana dia bisa mengetahui bahwa tujuanku ke pasar." pikir Hae Seok
Merekapun segera meninggalkan kediamannya dan menuju kepasar. Pengawal setia Hae Seok juga mengikutinya, tapi dari jarak yang tidak terlalu jauh. Sesampai dipasar Bo Ra berlari riang sambil bernyanyi menuju toko bahan pangan, yang akan menjadi mitranya kedepan. Hae Seok melihat tingkah Bo Ra hanya menggelengkan kepala dan tersenyum, bagaimana bisa ada wanita selincah ini pikirnya.
"selamat pagi Nn. anda datang pagi sekali hari ini. mari saya antar keruangan tuan." ucap pelayan yang diikuti Bo Ra, Da Eun dan Hae Seok
"tuan, Nn. Bo Ra sudah datang." ucap pelayan yang disaut tuannya untuk menyuruh masuk
"ohh jadi nama wanita ini Bo Ra." gumam Hae seok pelan
Jung Hae memandangi pria dibelakang Bo Ra, dia terlihat penasaran siapa yang Bo Ra bawa, akankah suaminya. Bo Ra menyadari pandangan Jung hae yang penasaran.
"perkenalkan tuan, dia Hae Seok pa......" yang dipotong langsung oleh Hae Seok, dia tidak ingin orang mengetahui identitasnya, karena masyarakat jangga belum pernah melihat pangeran mahkota yang akan dinobatkan sebagai raja, mereka hanya mengetahui pangeran dari selir yang selalu menunjukkan kehebatannya, berbeda dengan Hae Seok lebih suka menyembunyikan, banyak masyarakat mengira bahwa putra mahkota tidak berharga.
"aku Hae Seok, aku pengawalnya." saut Hae Seok, yang membuat kaget Da Eun dan Bo Ra, bagaimana dia mengaku sebagai pengawal pikirnya. Bo Ra hanya menggelengkan kepalanya heran
"aku menbawa minyak dari kelapa, ini adalah alternatif lain dari memasak, jadi kamu tidak perlu hanya merebus makanan saja, tapi juga bisa menggorengnya, seperti ayam kamu bisa memberinya bumbu kemudian masukkan kedalam minyak kelapa ini jika sudah panas, kamu juga bisa menumis bumbu sehingga bumbunya menjadi lebih harum ketimbang hanya direbus saja, ini memiliki banyak kegunaan tergantung orang yang memakainya." ungkap Bo Ra menjelaskan dan dibalas anggukan oleh Jung Hae, karena ia mengakui buatannya unik dan bagus, buktinya susu kental manis kemarin sudah habis ludes dan banyak yang memesan lagi
"mau kau jual berapa?" tanya Hae In
"satu botol bambu ini kujual 10 koin perak, karena ini ada 10,berati totalnya 100 koin perak." ucap Bo Ra
"baiklahh." ucap Jung Hae yang langsung mengambil sekantong uang berisi 100 koin perak
"oiyaa besok tolong bawakan lagi susu kental manis, banyak masyarakat yang menyukainya dan sudah terjual habis kemarin." tambah Hae In
"oke siap, besok akan kubawakan kemari." jawab Bo Ra
__ADS_1
"oke?" tanya Hae In
"itu artinya aku setuju." jawab Bo Ra
"baiklahh terimakasih tuan mitraku, aku undur diri." ucap Bo Ra yang diikitu Hae Seok dan Da Eun
Hae Seok masih terheran dengan Bo Ra, dia dapat dengan mudahnya mendapatkan uang memanfaatkan bahan-bahan yang ada.
Mereka bertiga keluar toko dan berkeliling, kemudian Bo Ra menghentikan langkahnya.
"mau kemana kita sekarang?" tanya Bo Ra
"hanya mengajakmu berkeliling seperti ini, aku ingin melihat bagaimana keadaan rakyatku dalam menjalani hidupnya." jawab Hae Seok singkat, yang dibalas anggukan oleh Bo Ra dan memberikan isyarat tangannya kedepan menyuruh Hae Seok berjalan terlebih dahulu
"oiyaa bukankah malam ini kau ada pertemuan dengan putri mahkota dari kerajaan matahari?" tanya Bo Ra yang tidak dijawab oleh Hae Seok
Bo Ra kemudian melanjutkan langkahnya mengikuti Hae Seok dan melihat sekeliling, saat itu dia merasa iba melihat seorang nenek berjalan ngesot, dia bergegas menghampiri nenek itu.
"nenek, nenek mau kemana?" tanya Bo Ra halus
"aku ingin membeli makanan cu, aku belum makan selama dua hari." ucap nenek itu
"kenapa nenek tidak meminta anaknya untuk memasak atau membeli? " tanya Bo Ra
"anakku seorang pedagang, sudah dua hari ini dia belum kembali." jawab nenek
"nenek tunggu disini dulu bersama kedua temanku ya, aku akan membelikan nenek makanan." ucap Bo Ra yang berpamitan dengan Da Eun untuk membeli makanan dan meminta menunggu nenek
Tidak butuh waktu lama, Bo Ra sudah kembali dengan sekantong ubi rebus untuk nenek dan menyuruhnya untuk segera makan, nenek itu sangat lahap memakan ubi itu karena dia sudah sangat kelaparan. Masyarakat disekitar memandangi Bo Ra dan nenek itu.
"bukankah itu wanita yang menolong proses melahirkan kemarin?" gumam mereka
__ADS_1
"benar-benar.. dia sungguh baik hati." gumam mereka
-BERSAMBUNG-