
Bo Ra malah menggeliat tidak karuan ketika dituntun Hae Seok berjalan menuju kamar, dia memutar badannya, hingga wajah mereka berhadapan, pipi Bo Ra yang memerah seperti kepiting rebus karena mabuk menatapnya begitu aneh. Tiba-tiba Bo Ra menjijitkan kakinya agar wajahnya benar-benar dihadapan Hae Seok, dengan keadaan masih mabuk, Bo Ra mendekatkan wajahnya semakin dekat, dekat, hingga Bo Ra mampu meraih bibir Hae Seok yang begitu kecil dan merah. Awalnya Hae Seok begitu kaget dengan hal ini, lalu Hae Seok membalas ciumannya dengan penuh gairah. Mereka mengadu mulutnya satu sama lain, berciuman sambil berjalan menuju kamar, Hae Seok menjatuhkan badan Bo Ra menindihnya dan melanjutkan ciuman itu. Hingga tanpa mereka sadari, mereka sampai melewati batas.
Keesokan paginya, mereka berdua bertelanjang dada masih tidur bersama diranjang yang sama, saat itu Hae Seok bangun terlebih dahulu, dan begitu kaget melihat apa yang terjadii..... Saat Hae Seok masih shock, Bo Ra membuka matanya pelan, seperti biasa dia begitu senang orang pertama yang dilihatnya adalah Hae Seok saat membuka mata. Namun, saat ia melihat kearah badan Hae Seok, lalu melihat badannya, dia begitu terkejut hingga berteriak. Dengan gercepnya, Hae Seok menahan mulut Bo ra dengan telapak tangannyaaa...
Bo Ra langsung menarik selimutnya karena malu dilihat Hae Seok, padahal mereka berdua sudah melakukan hal lebih dari ituu.
"sshhhtttt. " ucap Hae Seok meminta Bo Ra agar tidak berteriak
"haaa, apa yang terjadi oppa? kenapa kita begini?" dengan memegang selimutnya
"maafkan aku, aku tidak bisa menahan emosiku, aku terlalu kalut saat kau menciumku." ucap Hae Seok menunduk
"jadi aku yang mencium oppa duluan?" tanya Bo Ra sangat shock dengan mulutnya menganga dan menutupnya dengan kedua tangannya tidak percaya, dia belum bisa mengingat kejadian yang terjadi semalam
"(memukul kepalanya pelan) harusnyaa aku tidak mabuk berat semalam." imbuhh Bo Ra
"kau jangan menyalahkan dirimu, aku akan segera menikahimu saat kita sudah dikerajaan." ucap Hae Seok dengan penuh tanggungjawab
Kepala dianggukannya pelan menyetujui yang dikatakan Hae Seok. Ada rasa senang dan kawatir didalam pikirannya sekarang, semoga saja dia tidak hamil pikirnya.
Kini mereka berdua menjadi bingung, bagaimana cara keluar dari kamar, jikalau Lee, Daeun dan White tahu, ini akan menjadi hal yang kikuk nantinya. Hae Seok mengenakan pakaiannya, saat itu Bo Ra tertawa cekikan merasa lucu dan tidak menyangka bisa bercumbu dengan kedua Hae Seok yang perjaka.
"kau kenapa?" tanya Hae Seok tertawa, Bo Ra hanya menutup mulutnya geleng-geleng, dan mengisyaratkan untuk segera pergi dari kamarnya.
Mengintip dari celah pintu, agar tidak ketahuan yang lain, saat dirasa aman Hae Seok langsung membuka pintu dan berhasil keluar. Bo Ra tertawa cekikan akan hal ini, namun tertawanya dihentikan saat....
"kau kenapa keluar dari kamar Bo Ra sepagi ini?" ternyata ada White yang menyambutnya diluar, Hae Seok kebingungan harus menjawab apa, apalagi ini hal pertamanya
__ADS_1
Mendengar suara White, Bo Ra langsung mengenakan pakaiannya dan segera keluar kamar, terlihat Hae Seok clingukan kebingungan.
"Hae Seok oppa sengaja kupanggil tadi untuk memperbaiki kursi, ituu rusakk. makanya dia keluar untuk mencari alat. benarkan oppa?" memberikan seribu alasan agar White tidak curiga
"i.. iiyaaa benar kata Bo Ra." ucap Hae Seok
"kalau begitu aku keluar dulu." imbuh Hae Seok
Mendengar penjelasan ini White hanya merasa percaya, lalu keluar mencari Lee yang sedang berburu. Ditarik nafasnya lega saat White pergi dari hadapannya dan masuk kekamarnya lagi.
Dewa Kematian menampakkan diri dihadapan Bo Ra secara tiba-tiba dan seperti biasa membuat nyaterkejut, ditambah kejadian pagi ini. Lalu Bo Ra berfikir, apakah Dewa Kematian melihat semuanya, Bo Ra berfikir hingga menunjukkan lipatan garis didahinya. Tidak disangka, dewa kematian tidak membahas itu semua, dan langsung mengajaknya pergi.
"segera persiapkan dirimu, aku akan membawa mu ke negeri langit sekarang." ucap Dewa Kematian begitu tegas, seperti sedang marah
"pagi ini juga?" tanya Bo Ra
Berjalanlah Bo Ra menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya, dia berdandan sangat rapi dan cantik kali ini, karena akan menemui Dewa Langit, Raja dari seluruh Dewa dan manusia. Selesailah dia mempersiapkan diri, lalu Dewa Kematian mendekatkan badannya kepada Bo Ra, lalu memeluknya.
"apa yang kau lakukan?" tanya Bo Ra memundurkan badannya
"dengan memelukmu, aku akan membawamu kesana." suara ketus terbang keudara dari bibir Dewa Kematian, membuat bulu kuduknya berdiri, apaboleh buat pikirnya, dia mengikuti permintaan Dewa Kematian.
Dalam sekejap Bo Ra sudah berada di Negeri atas Awan. Mulutnya tak henti-henti nya menganga tidak percaya bisa menyambangi kerajaan dewa. Namun Bo Ra merasa sangat tidak asing dengan tempat ini, seperti dia sering kesini pikirnya.
"aaiyaaa, ini bangunan yang kulihat saat memegang buku adik dewa langit." pikir Bo Ra dalam hati
Melangkah mengikuti Dewa Kematian, hingga sampai dibangunan paling megah disana. Bo Ra merasa aneh, saat berjalan dia selalu di pandangi oleh Dewa lainnya yang melihatnya, apa mungkin karena dia manusia pikirnya.
__ADS_1
Pintu besar menjulang tinggi dengan ukiran alam berwarna emas itu terbuka, menoleh kekanan kiri, dilihatnya bangunan ini sungguh sangat megah, bangunan seperti dijaman modern namun lebih megah lagi. Mulutnya tak henti-hentinya menganga, hingga dia tidak tahu Dewa Kematian sudah berhenti berjalan dan menabraknya.
"ouhh maaf." ucap Bo Ra lalu mendongakkan wajahnya dan dilihatnya lelaki gagah yang sedang duduk disinggah sananya, dia berfikir itu pasti dewa Langit. Mulutnya kembali menganga tidak percaya, dia bisa melihat dan bertemu dewa Langit.
Bo Ra membungkukkan badannya memberi hormat pada Dewa Langit.
"senang bertemu denganmu." suara gagah dan merdu itu menguasai seluruh ruangan
Suara itu membuat pikiran Bo Ra melihat hal-hal yang tidak pernah dilihatnya, dia memegangi kepalanya dengan kedua tangannya.
"sakit sekali.. apa ini?" terlintas dipikirannya ada wajahnya mengenakan pakaian seperti Dewa, ada Dewa Langit juga disana. Dewa Kematian yang melihat itu menjadi kawatir.
"ada apa denganmu?" tanya Dewa Kematian, namun Bo Ra masih memegang kepalanya, lalu Dewa kematian menatap Dewa Langit yang hanya diam saja
Rasa sakit dikepalanya itu sudah hilang, dan dia melepaskan tangannya dari kepalanya.
"apa kau sudah mengingat semuanya?" tanya Dewa Langit
Terlintas masa lalu dipikiran Bo Ra, seperti sedang menonton Bioskop tiba-tiba muncul didepan matanya. Dia mengingat semuanya tentang hal menjadi Dewi Obat dan bagaimana dia bisa terjun kedunia manusia. Kini pikirannya penuh dengan hal itu semua, tanpa disadari gumpalan air bening jatuh membasahi pipinya. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi pikirnya, semakin banyak hal yang tidak masuk akal datang pada dirinya.
"apa kau sudah mengingat semuanya?" suara Dewa Langit membuyarkan semuanya
Bo Ra belum bisa berkata apa-apa, dia hanya bisa menangis dan menangis. Lalu Dewa Langit turun dari singgahsananya berjalan mendekati Bo Ra dan memeluknya, membelai kepalanya pelan, menenangkan agar tidak menangis lagi, namun Bo Ra malah menangis sejadi-jadinya.
-BERSAMBUNG-
__ADS_1
WHITE (HARIMAU PUTIH)