
"tidak apa-apa Dewi, menangislahh." ucap Dewa Langit sambil membelai kepala Bo Ra lembut yang membenamkan kepala Bo Ra pada bahu bidang Dewa Langit kakaknya.
"dewii? apa Bo Ra sudah mengingat semuanya Dewa?" tanya Dewa Kematian tidak percaya
Tangisannya sudah mulai mereda, dia mampu menatap Dewa Langit dengan penuh kasih sayang, merasa bersalah atas tingkah lakunya yang membuat kakaknya menderita.
"maafkan aku orabeoni." ucap Bo Ra menunduk yang sudah mengingat semuanya
Orabeoni (panggilan kakak)
"kau tidak perlu minta maaf. kini tugasmu membawa Dewa Kebenaran/Hae Seok kembali ke Negeri atas Awan, jika dia mengalami kematian untuk ketiga kalinya, dia akan susah kembali menjadi Dewa, atau malah akan menghilang selamanya." jawab Dewa Langit yang membuat Bo Ra sangat terkejut dan menatap tajam pada Dewa Kematian
"ini semua karenamu Dewa Kematian, kenapa kau membawaku kedunia Hae seok oppa." ucap Bo Ra dengan nada tinggi
"kau jangan memarahinya, dia tidak berniat jahat padamu, dia malah ingin membantu mu." ucap Dewa Langit
"membantu apanya? dia malah membuat kami menjadi lebih susah, hingga membuat kecerobohan yang fatal begini." emosi Bo Ra sudah meningkat
"apa kau hanya bisa memarahiku seperti ini Dewi? aku tahuu kau sangat mencintainya, aku tahu kau tidak pernah sekalipun melihatku, aku hanyalah butiran debu bagimu." jawab Dewa Kematian yang merasa sangat kecewa dengan ucapan Bo Ra, niatnya hanyalah membantunya, agar dia terbebas dari penderitaan, tidak disangka balasannya seperti ini.
"baiklahh maafkan aku telah mengganggu takdirmu, aku tidak akan menganggumu lagi." imbuh Dewa Kematian lalu meninggalkan ruangan itu penuh amarah
"aku tahu kau begitu kecewa dengan dewa kematian, karena merubah rencanamu. tapi ketahuilah dia adalah orang kedua yang selalu kawatir akan hidupmu didunia manusia. kejarlah dia, minta maaflah." ucap Dewa Langit,
Awalnya Bo Ra menolak hal itu, namun dipikir lagi hal dia memang salah memarahinya, akhirnya dia keluar mengejar Dewa Kematian. Dicarinya kesegala penjuru kerajaan atas awan, Bo Ra baru ingat jika Dewa Kematian sering menyendiri di bawah pohon surga depan sungai jernih dan banyak tumbuhan yang tumbuh disana. Benar dugaannya, Dewa Kematian sedang duduk termenung dibawah pohon. Didekatinya dan duduk disampingnya ikut memandang sungai yang begitu jernih.
__ADS_1
"maafkan aku, aku tidak melihat niat baikmu padaku." ucap Bo Ra
Dewa Kematian masih terdiam tidak merespon ucapan Bo Ra.
"apa kau begitu marah padaku? maafkan akuu." ucap Bo Ra lagi sambil menggoyangkan bahu Dewa Kematian, tapi masih tetap saja diam
Didekatkannya wajahnya pada telinga Dewa Kematian, lalu berbisik "maafkan aku sahabat terbaikku." yang membuat dewa kematian menoleh kearahnya, kini wajah mereka saling berhadapan hanya berjarak 5cm. Jantung Dewa Kematian menjadi berdetak begitu kencang, ditambah melihat senyuman manis Dewi Obat/Bo Ra. Tanpa basa-basi kini Bo Ra langsung memeluk Dewa Kematian.
"jangan marah lagi yaa, maafkan aku yang tidak pernah melihatmu dan hanya memandangmu sebelah mata." ucap Bo Ra yang tambah membuat pipi Dewa Kematian memerah
Dilepaskannya pelukan itu, dan diraihnya tangan Dewa Kematian, "ayokk ajak aku berkeliling, aku sudah lama sekali tidak berkeliling disini, mumpung aku disini." ucap Bo Ra dengan tersenyum, karena senyuman itu Dewa Kematian menurutinya dan tidak marah lagi.
________________
sementara itu, Hae Seok bingung mencari Bo Ra ada dimana, karena sejak kejadian tadi pagi dia tidak terlihat. White, Da Eun dan Lee mencoba mencarinya juga keseluruh padepokan namun tidak terlihat juga.
"kami belum menemukannya tuan." ucap Da Eun yang begitu kawatir juga
"aku akan mencarinya dihutan." ucap White yang langsung pergi
"kau dimana?" gumam Hae Seok yang begitu kawatir pada Bo Ra
Sementara itu, Bo Ra masih berkeliling negeri di atas awan bersama Dewa Kematian. Melihat hal-hal baru yang belum ada saat Bo Ra menjadi Dewi Obat dulu, dia menikmati berkeliling santai ini, apalagi sudah lama sekali Bo Ra meninggalkan negeri ini. Setelah puas berkeliling, Bo Ra mengajak Dewa Kematian untuk kembali ke bumi, sebelum itu dia akan berpamitan terhadap kakaknya Dewa Langit.
"Orabeoni, aku akan segera kembali kebumi, aku takut mereka mencariku, apalagi aku tidak pamit saat pergi." ucap Bo Ra
__ADS_1
"baiklahh, maafkan orabeoni yang terlalu egois membawamu kesini, hingga kau mengingat semuanya." jawab Dewa Langit
"justru aku bersyukur kau mengundang ku kemari, pada akhirnya aku tahu alasan kenapa aku bisa nyasar ke abad 10, dan aku berjanji akan membawa Hae Seok oppa kembali kesini dan menjadi Dewa Kebenaran kembali." ucap Bo Ra yang meyakinkan Dewa Langit
"karena kau sudah mengingat semuanya, maka kekuatanmu kembali normal, kau sekarang memiliki kekuatanmu sebagai Dewi Obat. kau bisa kembali ke bumi dan ke langit dengan kekuatanmu sendiri."
"benarkah orabeoni?" tanya Bo Ra sangat antusias, dia masih tidak percaya mempunyai kekuatan supranatural dewa, bagaimanapun cara berfikirnya di zaman modern masih tersangkut dalam pikirannya, dia merasa seperti mimpi tapi ini bukan mimpi dan benar nyata adanya.
"satu hal lagi yang harus kau tahu, takdir Dewa kebenaran kini sudah berubah, tidak tertuliskan di buku takdir, ini berjalan begitu saja, karena ini berada dalam dimensi yang berbeda, namun perubahan yang kau buat juga akan memperngaruhi masa depan, berhati-hatilah didunia manusia, banyak yang mengincar nyawa Dewa Kebenaran, semoga kau bisa menjaga nyawanya dengan baik-baik." tambah Dewa Langit
"bagaimana aku tahu dia akan selamat dari bahaya?" tanya Bo Ra lagi
"cukup kau jaga dia hingga umur 35 tahun dimana dia saat itu dibunuh oleh Putri Sae Yeon yang dulu istrinya. Jika kau bisa menjaganya, maka Dewa Kebenaran akan langsung diangkat kembali ke langit dan mengemban tugasnya." dijelaskan begitu detail oleh Dewa Langit
"baiklahh, terimakasih orabeoni, kau sangat memperhatikan kami, aku sangat sayang padamu. kalau begitu aku pamit kebumi." ucap Bo Ra dengan membungkukan badannya dan berpamitan pada Dewa Kematian juga
"aku masih akan terus mengawasimu." ucap Dewa Kematian yang dibalas senyuman oleh Bo Ra
Lalu dijentikkan jarinya, Bo Ra langsung menghilang dari negeri atas awan, dan tiba di padang rumput yang luas, dimana Hae Seok melamarnya. Dia duduk di ayunan termenung, memikirkan semuanya, ini seperti tidak nyata dan hanya mimpi. Namun, saat dia mencubit pipinya terasa sakit, ini berarti memang nyata adanya.
Disatu sisi Hae Seok masih berkeliling padepokan mencari Bo Ra kesana kemari, saat dia berada di padang rumput, dia melihat Bo Ra sedang duduk termenung, berlarilah mendekatinya untuk melihat apakah dia baik-baik saja. Padahal dia sudah berkeliling dua kali ditempat ini.
"kau dari mana? aku sangat kawatir padamu." ucap Hae Seok didepan Bo Ra yang sedang duduk termenung dengan menundukkan kepalanya
Diangkatnya kepala melihat kearah suara tersebut, gumpalan air bening itu jatuh lagi membasahi pipi Bo Ra, dia merasa sangat bersyukur dibantu oleh dewa langit untuk selalu dekat dengan kekasihnya. Dirasakannya kepiluannya saat ditinggal menjadi manusia dulu, dia seperti merasakan penderitaan kekasihnya yang mana dihukum menjadi seperti ini.
__ADS_1
"kenapa kau menangis?" tanya Hae Seok sambil mengusap air matanya
-BERSAMBUNG-