
#BACK TO PADEPOKAN
Diturunkannya pelan Bo Ra diatas dipan yang sudah disiapkan di kamar ini. Saat Hae Seok hendak pergi, Bo Ra memanggilnya.
"oppa jangan pergi dulu, sepertinya ada yang tidak beres." ucap Bo Ra
"tidak beres bagaimana?"
"kau ingat kata murid-murid tadi dia bertemu hewan buas, bukan hewan sakral/langka, itu berarti murid yang terluka tadi menyembunyikan sesuatu." ucap Bo Ra
"dan seperti yang White katakan dia melukai white dengan ramuan khusus untuk menangkapnya, apakah ramuan itu langka? apa mungkin semua murid gunung seribu memiliki ramuan itu?" tanya Bo Ra dengan memegang dagunya dengan berpikir
"setahuku ramuan itu sangat khusus, tidak banyak pendekar yang memilikinya, hanya yang berilmu tinggi saja, atau seorang yang membuatnya yang menyimpannya." jawab Hae Seok
"apa mungkin murid itu berbohong?" ucap Bo Ra yang masih bingung dengan keadaan ini
"aku akan pergi menemui Tetua Cha untuk memastikannya." ucap Hae Seok
"tidak usah oppa, aku tidak ingin ada yang tau kalau aku memiliki white."
"tenang saja, aku tidak akan bilang soal itu, bagaimanapun aku harus memastikannya, agar kita semua lebih waspada." ucap Hae seok yang kemudian langsung pergi
Saat Hae Seok sudah menutup pintu, Dewa Kematian dengan tiba-tiba muncul didepannya yang membuatnya kaget.
"astagaaa... kau mengagetkanku saja." ucap Bo Ra kesal dengan mengelus dadanya
"dari mana saja kau baru muncul." tambahnya
"aku sedang banyak tugas untuk mencabut nyawa manusia, dan ternyata kemarin gelangku menyala bukan tanda untuk Hae seok melainkan orang lain. hihihi." ucap Dewa Kematian tanpa ada penyesalan
"haishhh aku menakutiku yaa... makanya lebih teliti lagi sekarang, pantas saja kau sampai membawaku kemari, karna kau begitu ceroboh." ucap Bo Ra dengan memalingkan wajahnya kesal
"hahhaaa maafkan aku." ucapnya
__ADS_1
"aku tau jawaban yang kau bingungkan sejak tadi." tambah Dewa Kematian
"soal apa?"
"soal ramuan yang dimiliki murid yang kau obati tadi." jawab Dewa Kematian
"beri tahu aku."
"pelukk duluu dong baru kuberi tahu. hehehhe. " jawab Dewa kematian dengan mengejek
"kau memang dewa tidak tahu diri." jawab Bo Ra kesal
"yasudahhh aku tidak mau memberitahumu, tidak ada manusia yang bisa memeluk dewa loh, kau kuberi kesempatan malah menolak." ucap Dewa masih dengan nada mengejek
"aku hanya akan memeluk Hae Seok oppa, tidak yang lain." yang membuat Dewa Kematian merasa sakit hati, dari dulu memang dia tidak pernah dilihat sedikitpun oleh Bo Ra, dari menjadi dewa hingga manusia, Hae Seok tetap nomor satu.
"sebenarnya apa yang kuharapkan." gumam Dewa Kematian dengan nada lesu
"kau bicara apa? aku tidak bisa mendengarmu." ucap Bo Ra
"tungguuu... kau belum memberiku jawaban." teriak Bo Ra
"tunggu saja lelaki tercintamu, dia akan membawa kabar yang kau minta." jawab Dewa kematian yang langsung menghilang karena patah hati
"aneh sekali dewa itu, kenapa dia tiba-tiba lesu. " gumam Bo Ra, yang mana diluar pintu ternyata White mendengarkan ucapan mereka berdua, sebenarnya white hanya ingin mengecek nonanya sedang berbicara dengan siapa setahunya Hae Seok sudah pergi, jadi memastikan takut terjadi apa-apa, tapi dia tidak pernah menduga saat dewa bilang akan kembali ke negeri di atas awan. White semakin terkagum dan bangga kepada Bo Ra, dia merasa tidak salah pilih mengabdi pada Bo Ra. Baru kali ini White mendengar ada manusia yang bisa berbicara dengan dewa.
#KEDIAMAN TETUA CHA
Segera dipersilahkan masuk Hae Seok oleh tetua Cha, dan diberikan teh hangat untuknya. Hae Seok tidak langsung menanyakan tentang ramuan pelumpuh hewan sakral, namun dia mencoba mengajak berbicara hal lain terlebih dahulu.
"aku dengar Padepokan gunung seribu memiliki ramuan yang bisa melumpuhkan hewan sakral." ucap Hae seok yang mulai memancing
"apa maksud pangeran?" tanya tetua Cha
__ADS_1
"jika rumor itu benar, aku hanya ingin meminta ramuan itu jika diperbolehkan, aku ingin sekali mencari hewan sakral untuk melindungiku, bukankah kau tau tetua aku sedang diincar oleh pembunuh." ucap Hae Seok
"kami memang memilikinya, tapi persediaan itu masih terbatas, ramuan pelumpuh hanya digunakan oleh guru petinggi gunung seribu, untuk membantu murid yang sedang melakukan tes jika mereka kewalahan, jika pangeran sangat ingin, aku akan membuatkan khusus untuk pangeran." ucap tetua menjelaskan
"apakah ramuan itu kau sendiri yang membuatnya tetua?"
"iyaa, saya yang membuat nya sendiri, itu adalah ilmu turun temurun dari tetua gunung seribu sebelumnya." jelas tetua
"apa murid gunung seribu dapat menggunakannya sendiri, tanpa bantuan guru petinggi gunung seribu?" tanya Hae Seok makin penasaran
"tidak pangeran, murid gunung seribu tidak kami berikan ramuan pelumpuh itu, kalaupun ada tes yang diharuskan mereka mengalahkan monster sekalipun, mereka harus menggunakan kekuatannya sendiri, dan seperti yang kukatakan tadi, jika mereka sudah kewalahan baru guru mereka akan membantunya dengan ramuan pelumpuh. karena ramuan pelumpuh tidak bisa dipegang oleh sembarang orang, takut dipersalah gunakan dan melukai hewan sakral itu sendiri, kami tidak menginginkan itu terjadi."
"itu berarti tidak ada satupun murid yang kau beri?" tanya Hae Seok lagi
"tidak pangeran."
"memangnya ada apa pangeran?" tanya tetua yang ikut penasaran
"tidak apa-apa tetua, aku hanya bertanya saja." ucap Hae Seok
"sepertinya ada yang disembunyikan dari pangeran." ucap tetua Cha dalam hati
Lalu Hae Seok pamit kembali ke kediamannya untuk memberi tahu Bo Ra yang terjadi, seperti dugaannya ada yang aneh. Saat Hae Seok berjalan menuju ke kediamannya, di hadanglah ia oleh para murid Gunung Seribu yang tidak punya adab, yang suka membully orang baru yang masuk ke Padepokan, ini dikarenakan murid ini termasuk murid yang sudah di level tertinggi dan berasal dari keluarga bangsawam, akan tetapi mereka belum tahu cara saling menghormati, sebenarnya tidak semua murid level tertinggi yang tidak memiliki adab, hanya segelintir saja, dan satu lagi mereka tidak tahu yang dihadapinya adalah Putra Mahkota Kerajaan Jangga.
Walaupun daerah Padepokan Gunung Seribu berada diwilayah netral, Tetua dipadepokan selalu memberi arahan bahwa harus menghormati Raja dari seluruh kerajaan. Meskipun mereka tidak memihak kerajaan manapun.
"heyy kau berhenti." teriak murid songong itu pada Hae Seok, namun Hae Seok tidak menggubrisnya dan tetap berjalan
"wahhh... dia mau cari gara-gara sama kita." ucap mereka, langsung berjalan menghadang lagi membuat Hae Seok berhenti dan mentap tajam pada mereka
"kau murid baru disini berani menatapku seperti itu, orang baru yang masuk kepadepokan ini harus menghadapi kita terlebih dahulu." ucap murid itu lagi
Hae Seok masih diam saja tidak mau meladeni bocah tengik seperti ini pikirnya
__ADS_1
"wahhh... dia benar-benar cari mati." ucap mereka sambil menunjuk-nunjuk, hal ini yang sangat tidak disukai Hae Seok, yaitu ditunjuk, berasa dirinya sangat dijatuhkan dan diremehkan tapi dia masih menahannya, karena tidak mau mencari masalah dan melangkah pergi
-BERSAMBUNG-