
"(gugup menjawab) tii... dakk jugaaa.. kalian lebih hebat darikuu." ucap Bo Ra
"benar kata Wook-ssi, kemampuan makin meningkat, apa seminggu ini kau berlatih?" tanya Hae Seok
"aghhh... kenapa kalian jadi membahas kekuatanku sihh. sudahlah ayoo pergi dari sini, mencari tempat yang aman, baunya begitu amis disini." ucap Bo Ra mengalihkan
"sepertinya ada yang disembunyikan oleh agasshi. " gumam White yang melihat gelagat Bo Ra
Agasshi (panggilan nona)
Melangkah pergi meninggalkan markas tersebut, dan mereka belum tahu harus kemana kali ini. Hanya berjalan menyusuri hutan, pohon-pohon menjulang tinggi diatas langit, terlihat begitu rimbun, hanya ada sedikit celah untuk matahari masuk kehutan.
"kenapa aku merasa tidak enak setelah membunuh Sae Yeon, seperti terasa mudah sekali membunuhnya. aghh aku harus bertemu orabeoni segera, aku ingin menanyakan semuanya." gumam Bo Ra sambil berjalan dan tidak sadar Hae seok didepannya dan menabraknya, yang mana Hae Seok sudah berhenti lama menunggunya karena berjalan dengan melamun dan begitu lambat.
"kau kenapa? apa kau lelah?" tanya Hae Seok
"aku tidak apa-apa."
"lebih baik kita istirahat dulu." mereka memutuskan untuk istirahat
"kau tidak lupa dengan janjimu kan?" tiba-tiba Dong Wook bertanya yang dibalas anggukan oleh Bo Ra
"janji apa?" tanya Hae Seok tapi Bo Ra terdiam
"Bo Ra sudah berjanji, jika Wook-ssi ikut membebaskanmu, Bo Ra akan membantu membalaskan dendamnya untuk melenyapkan seluruh pasukan mata merah." White yang menjawabnya
"apakah benar begitu?" tanya Hae Seok yang dibalas anggukan oleh Bo Ra
"apa kau sudah gila? mata merah bukan sembarang pasukan yang bisa kau tandingi." ucap Hae Seok marah
"dann kauuu, kenapa kauu membawa kekasihku dalam urusanmu, apa kau tidak tahu, dia hanyalah seorang wanita, apa kau ingin membunuhnya?" teriak Hae Seok marah pada Dong wook, dong Wook hanya terdiam
"oppa jangan memarahinya, aku yang menawarkan bantuanku padanya. kau tidak perlu kawatir." ucap Bo Ra meredakan amarahnya
"bagaimana bisa tidak kawatir, kau juga kawatir padaku, apa aku tidak boleh kawatir padamu. aghh terserah kau saja." Jawab Hae Seok marah lalu pergi meninggalkan mereka, dan menyendiri dipinggiran sungai
"oppaaa." teriakk Bo Ra
"ini memang salahku, aku tidak berfikir panjang, aku hanya egois pada balas dendamku tanpa memikirkanmu." ucap Dong wook
"kau tidak usah merasa bersalah begitu, aku tidak apa-apa. aku sudah berjanji membantumu." ucap Bo Ra
__ADS_1
"aku akan membujuknya. dia hanya terlalu kawatir padaku." imbuh Bo Ra
Berjalan mendekati Hae Seok yang tengah duduk dipinggiran sungai, wajahnya terlihat lesu dan terpukul. Karenanya Bo Ra selalu dalam lingkup bahaya pikirnya.
"oppa." panggil Bo Ra lirih lalu duduk disampingnya
"aku tau kau sangat kawatir padaku, tapi aku tidak bisa mengingkari janji itu oppa. Aku harus menepatinya, maafkan aku." ucap Bo Ra, Hae Seok belum merespon hanya menahan rasa marah dan kesal pada dirinya sendiri
"oppaaa... aku tidak apa-apa, ini bukan salahmu, aku yang ingin terjun dalam masalahmu. Kau boleh kawatir padaku dan kau memang harus kawatir padaku. Tapi aku akan baik-baik saja, aku berjanji padamu." imbuh Bo Ra lagi
"kauu lihatkan oppa, kekuatanku makin meningkat sekarang, aku bisa membunuh mereka sekaligus." hibur Bo Ra dengan tersenyum
"apa mentang-mentang kau mempunyai kekuatan lalu menjadi percaya diri begitu dalam menghadapi musuh? musuh bisa lebih kejam daripada itu." jawab Hae Seok lugas
"(masih tersenyum) kalau begitu oppa bantu kami yaa untuk memusnahkan pasukan mata merah. aku sangat ingin membantunya supaya negeri ini bebas dari penjahat oppa." jawab Bo Ra
"mau kan? mau kan?" rengek Bo Ra dan akhirnya Hae Seok luluh juga dengan permintaan Bo Ra, bagaimanapun dia sangat menyayangi Bo Ra melebihi nyawanya, dia rela melakukan apapun.
"thankyouu oppa." ucap Bo Ra dan mencium pipinya
"aghhh mulaii nakal yaa sekarang.." ledek Hae Seok dan menganggu Bo Ra dengan menggelitikinya, mereka terlihat sangat begitu bahagiaaa...
"wahhh aku baru kali ini melihat pasangan se serasi ini." ucap dong Wook, walaupun dia menyukai Bo Ra namun rasa itu sudah dipendamnya saat melihat perjuangan Bo Ra
"kau kenapa selalu diam sih? nama kau siapa? aku Dong Wook." ucap Dong Wook pada Lee, dia memang terlihat murung sejak awal namun berusaha menutupinya didepan Hae Seok dan Bo Ra
"namanya lee, dia sedang gelisah memikirkan kekasihnya dikerajaan." cletuk White karena Lee masih terdiam
"kasihan sekali dia." ucap Dong Wook
Karena Hae Seok sudah membaik, Bo Ra mengajaknya kembali ketiga lelaki itu. Saat berjalan, terlihat Lee begitu murung, lalu Bo Ra memfokuskan dirinya untuk melihat apa yag terjadi.
"Lee?" panggil Bo Ra dan Lee langsung mendongak melihatnya
"kau kembali lah ke kerajaan." ucap Bo Ra
"maksud agashi bagaimana?" tanya Lee balik
"jemputlah Da Eun kemari, kita akan menunggumu disini, kami akan membuat gubug kecil, untuk tempat tinggal kita sementara. karena kita belum bisa kembali kekerajaan ataupun menyerang pasukan mata merah. kita perlu mengumpulkan tenaga yang cukup." jawab Bo Ra
"tidak agashi." jawab Lee dengan tegap
"aku yang menyuruhmu untuk menjeputnya, bagaimanapun Da Eun sudah kuanggap adikku sendiri, aku sangat kawatir padanya dan aku butuh dia saat ini." ucap Bo Ra agar Lee merasa lebih enak untuk menjemputnya
__ADS_1
"baik agashi, aku akan segera berangkat." jawab Lee dengan senyuman sumringah lalu berpamitan pada Hae Seok dan langsung pergi.
"Wahhh ternyata kau begitu memperhatikan sekelilingmu tanpa mereka minta ataupun bilang." cletuk White dan hanya dibalas senyuman
Segera mereka mencari kayu dan memotong pohon yang sudah siap untuk digunakan membuat gubug. Mereka bekerja sama dengan baik, hampir selesai pembuatan gubug mereka.
"White, kau pergilah mencari makanan untuk malam ini, sebelum hari semakin gelap." pinta Bo Ra
"dan kau harus hati-hati." imbuh Bo Ra dibalas anggukan lalu pergi mencari makanan
Dong Wook membuat api unggun agar mereka hangat malam ini dan ada penerangan. Sebelum gelap akhirnya gubug mereka sudah siap untuk ditempati.
"andaikan ada bunga, aku ingin menanamnya di depan rumah." ucap Bo Ra pada Hae Seok
"akan kucarikan kau bunga." jawab Hae Seok
"benarkah?" lalu Hae Seok pergi sebelum hari begitu gelap
"mumpung mereka sedang pergi, aku ingin bertemu orabeoni." gumam Bo Ra
"Wook-ssi, aku ingin mandi disungai, jika nanti mereka mencariku beritahu mereka aku disungai, tapi jangan sampai ada seorangpun yang kesungai saat aku disana, akan kujambak kalian semua." ucap Bo Ra
"jambak?"
"aghh pokoknya itu. yaudah aku pergi, sebelum gelap." ucap Bo Ra meninggalkan Dong wook yang sedang membuat api
Mencari tempat yang tidak terlihat oleh siapapun agar ia bisa menghilang dan pergi ke negeri atas awan. Dia menemukan semak-semak yang cukup tinggi, lalu menjentikkan tangannya dan menghilang. Kini dia sudah didepan gerbang kediamannya, tanpa didorong atau diminta pintu itu terbuka, dan Dewa Langit seperti sudah menunggunya didalam.
"salam sejahtera orabeoni." salam Bo Ra dengan membungkukkan badannya
"orabeoni, kau pasti sudah tahu aku sudah membunuh putri Sae Yeon, tapi mengapa aku merasa ada perasaan buruk setelah ini." BoRa mengungkapkan kekawatirannya
"aku juga tidak tahu pasti, setelah kau datang dan merubah semuanya, takdir sudah berbeda, jadi takdir didunia yang kau tempat i tidak ada, takdir itu berjalan dengan sendirinya, entah itu pertanda baik ataupun buruk, kau harus tetap hati-hati hingga Hae Seok berumur 35 tahun. akan lebih baik kau tinggal dihutan itu dulu." ucap Dewa Langit
"lalu bagaimana takdir Hae Seok oppa dimasa depan, dia seharusnya memimpin kerajaan Jangga orabeoni." ucap Bo Ra
"apa kau lupa? Hae Seok mendapat gelar Raja berumur 30 tahun saat itu, gelar itu didapatkan karena dia menikahi Putri Sae Yeon." jelas Dewa Langit
"berarti kami harus tinggal dihutan selama empat tahun? lama sekali orabeoni, tidak aku tidak akan tinggal dihutan selama itu, aku akan segera menghabisi pasukan mata merah, dan kembali ke kerajaan Jangga." ucap Bo Ra penuh tekat
"apa kau sudah yakin untuk meporak porandakan mata merah?" tanya Dewa Langit dan dibalas anggukan
"baiklahh,, mungkin emang ini sudah saatnya Pasukan Mata merah binasa. kau berhati-hatilah." ucap Dewa Langit
__ADS_1
-BERSAMBUNG-