
Keheningan masih menyelimuti diskusi itu, akhirnya salah satu dari mereka angkat bicara, lebih baik Bo Ra diloloskan dan semuanya setuju. Sebenarnya masih ada kontra saat penentuan tingkatan, tapi mereka tidak bisa mengelak dengan kemampuan Bo Ra yang seharusnya bisa menjadi master tabib.
Sore itu, 30 peserta diminta untuk segera kumpul didepan aula untuk pengumuman kedua section hari ini. Bo Ra segera mempersiapkan dirinya.
"aku ke aula dulu ya." pamit Bo Ra pada keempat temannya
"aku akan menemanimu." ucap Hae Seok
"tapii kan ada putri sae yeon oppa." ucap Bo Ra kawatir
"Lee sudah memeriksanya, dan sudah meninggalkan padepokan tadi pagi."
"benarkah? wahh syukurlah, kalau begitu ayokk." ucap Bo Ra dengan girang dan langsung meraih tangan Hae Seok ditariknya keluar
Mereka berjalan keluar, tapi genggaman tangan itu dilepas karena banyak orang. sesampailah mereka didepan aula, semua peserta ternyata sudah berkumpul dan panitia sudah siap membacakan orang orang yang lolos dari tingkat 1. Hae In melambaikan tangannya pada Bo Ra bahwa dia sudah berada disana.
"siapa dia?" tanya Hae Seok sedikit cemburu
"pemilik toko dikerajaan Jangga itu, yang menjual kan bahanbahan buatanku, namanya Hae In. apa kau masih lupa oppa?" ucap Bo Ra yang kemudian Hae Seok menoleh ke arah Hae In lagi dengan tatapan tajam
Kini panitia siap untuk mengumumkannya, seluruh panitia berada disana termasuk tetua cha dan tabib gong.
__ADS_1
"terimakasih kepada seluruh calon peserta yang sudah mengikuti tes ketabipan, kami akan segera membacakan siapa saja yang akan lolos dan mendapatkan lisensi tabib kali ini."
"Ada 8 orang dari 30 orang yang lolos menjadi tabib." lanjut panitia itu, Semua peserta menarik nafas kawatir tidak akan lolos kali ini, termasuk Bo Ra
"bagaimana jika aku tidak lolos oppa?" tanya Bo Ra kawatir menatap Hae Seok dengan mata memelas, lalu Hae Seok mengusap kepalanya pelan, meyakinkan tidak apa-apa masalah hasil, yang penting sudah berusaha. disatu sisi Dong Wook melihat pemandangan ini sedikit kesal, dia tidak tahu kenapa begitu kesal.
"(panitia melanjutkan pengumumannya) 5 diantaranya menjadi tabib tingkat 1, 3 lainnya mendapat tingkat 3, 5 dan 10." ucapan panitia itu membuat seluruh peserta riweh, siapakah yang mendapat gelar tingkat 10, mereka banyak bergumam dan meyakini itu pasti perwakilan kerajaan jangga atau tidak perwakilan mata merah, gumam mereka yang membuat situasi ramai
"heemmm... tolong tenang terlebih dahulu." ucap panitia menenangkan
"saudara L, saudara K, saudara J, saudara H, saudara G selamat anda lolos menjadi tabib tingkat satu." membuat kelima orang itu bersorak gembira mampu lolos dan mendapatkan lisensi itu
"Selanjutnya Jung Hae In (rekan kerja Bo Ra ditoko) selamat anda lolos dan meraih tabib tingkat 3." wajah Hae In berubah menjadi sangat bahagia langsung melihat kearah Bo Ra, Bo Ra juga ikut senang melihat rekannya lolos
"untuk peserta kali ini yang mendapatkan lisensi tabib tingkat 10 adalah Kim Bo Ra dari Kerajaan Jangga." semua orang bertepuk tangan tidak heran akan pengumuman itu, Bo Ra dan Hae Seok tidak sadar berteriak melompat kegirangan sambil menutup mulut mereka, dan Bo Ra langsung memeluk Hae Seom tanpa terkendali, semua orang menjadi menatap mereka terheran. Dong Wook melihat itu seperti acuh tak acuh.
"yahhh.. dia sudah memiliki seorang suami." gumam peserta lainnya yang kagum dengan Bo Ra
Panitia memberikan 8 peserta itu tanda menjadi seorang tabib. yakni kayu berbentuk bulat yang diukir nama mereka masing-masing dengan bertuliskan tingkatan mereka. Hae In berjalan dengan wibawa menuju arah Bo Ra mengucapkan selamat satu sama lain, sedangkan Dong Wook langsung pergi begitu saja setelah mendapatkan tanda tabibnya, Bo Ra sempat melihat sekilas kepergian Dong Wook, tapi tidak memperdulikannya lagi. Kini Bo Ra begitu senang mendapatkan lisensi nya dijaman ini pikirnya, semoga saja tujuannya dapat berjalan dengan lancar pikirnya.
Hae Seok mengajak Bo Ra untuk kembali kekediaman mereka, Da Eun sudah mempersiapkan makanan untuk perayaan lisensi yang didapat Bo Ra, mereka akan bersenang-senang malam ini. Sedangkan Hae In, akan langsung kembali ke Kerajaan Jangga malam ini juga. Sesampai dikediaman, Bo Ra tidak menyangka jika didekorasi dengan bunga-bunga yang menempel didinding kayu dan pintu.
__ADS_1
"selamat datang dan selamat atas keberhasilannya." ucap Lee, Da Eun dan White bersamaan
"(menutup mulut tidak percaya) wahhh daebakk kalian memang sesuatuu." ucap Bo Ra
Lalu Hae In menuntunnya kearah ranjang dari kayu yang memang disediakan diluar rumah untuk bersantai dan makan bersama, apalagi hari sudah mulai gelap, akan sangat menyenangkan minum bersama kali ini.
Mereka memulai dengan makan bersama, dan memakan cemilan yang sudah disiapkan, dengan meminum Makgoelli / bisa dibilang arak pada jaman dahulu yang difermentasikan berwarna putih susu. Mereka menikmati kebersamaan ini, hingga semuanya mabuk berat kecuali Hae Seok. Mereka mulai berbicara ngelantur tentang hal yang mereka suka hingga tidak disukaii.
"kauu tahuuu oppaaa, aku sangat kesall dengan para tabib tadi." ucap Bo Ra dengan nada mabuk sambil menggerakkan tangannya yang tidak stabil
"merekaa melarangku untuk memberikan resep obat pada rekanku, kenapa tabib disini seperti iniiii... aku sangat benciii hal itu.."
"oppaaa..... kauuu begituuu tampannn. hikkhihk" ucap Bo Ra sambil geloyoran dengan memegang wajah Hae Seok dengan kedua tangannya
"hehhehe... aku tidak menyangkaa aku bisa bertemuu denganmuu lagii, didunia yang tidak kukenall ini. tapiii aku sangat mencintai muu oppaa... hik hikkkk (cegukan)." membuat Hae Seok tersenyumm
"kauu tahuuu suamiku yang mirip denganmu sebenarnyaaa......(menutup mulutnya ingin muntah)." lalu Hae Seok langsung meraihnya dan membantu untuk masuk kedalam rumah
Bo Ra malah menggeliat tidak karuan ketika dituntun Hae Seok berjalan menuju kamar, dia memutar badannya, hingga wajah mereka berhadapan, pipi Bo Ra yang memerah seperti kepiting rebus karena mabuk menatapnya begitu aneh. Tiba-tiba Bo Ra menjijitkan kakinya agar wajahnya benar-benar dihadapan Hae Seok, dengan keadaan masih mabuk, Bo Ra mendekatkan wajahnya semakin dekat, dekat, hingga Bo Ra mampu meraih bibir Hae Seok yang begitu kecil dan merah. Awalnya Hae Seok begitu kaget dengan hal ini, lalu Hae Seok membalas ciumannya dengan penuh gairah. Mereka mengadu mulutnya satu sama lain, berciuman sambil berjalan menuju kamar, Hae Seok menjatuhkan badan Bo Ra menindihnya dan melanjutkan ciuman itu. Hingga tanpa mereka sadari, mereka sampai melewati batas.
Keesokan paginya, mereka berdua bertelanjang dada masih tidur bersama diranjang yang sama, saat itu Hae Seok bangun terlebih dahulu, dan begitu kaget melihat apa yang terjadii..... Saat Hae Seok masih shock, Bo Ra membuka matanya pelan, seperti biasa dia begitu senang orang pertama yang dilihatnya adalah Hae Seok saat membuka mata. Namun, saat ia melihat kearah badan Hae Seok, lalu melihat badannya, dia begitu terkejut hingga berteriak. Dengan gercepnya, Hae Seok menahan mulut Bo ra dengan telapak tangannyaaa...
__ADS_1
-BERSAMBUNG-