Suamiku Ada Di Kerajaan Jangga

Suamiku Ada Di Kerajaan Jangga
BERDISKUSI


__ADS_3

Saat kedua pasien berlari kearah Bo Ra minta diobati, Bo Ra tidak langsung mengobati tetapi memanggil Lee dong wook dan Nam ik geul.


"apa yang kau lakukan?" tanya tabib yang menjadi panitia/juri


"aku hanya ingin membagikan resep obat kepada mereka berdua, apakah tidak boleh tabib?" tanya Bo Ra yang membuat seluruh tabib diam dan heran, jarang ada orang yang mau berbagi resep ataupun pengetahuan mereka dijaman ini.


"bukankah lebih baik aku memberi tahu mereka? agar banyak tabib yang mengetahui resep ini dan mereka bisa langsung mengobatinya?" tanya Bo Ra sungguh-sungguh


Para juri tidak tahu harus merespon bagaimana, di jaman ini masih sangat kompetitif dalam memiliki pengetahuan, mereka akan memilih-milih mana orang yang akan diberitahu dan mana yang tidak, sedangkan Bo Ra sedang melakukan ujian atau bisa dibilang kompetisi,


tiba-tiba suara dewa kematian terdengar ditelinganya, "heyy Bo ra apa yang kau lakukan,ini bukan jamanmu yang bisa memberikan ilmu secara cumacuma? abad ke 10 tidak ada tabib memberikan pengetahuan mereka secara cuma-cuma, kecuali antara murid dan guru. apa yang kau lakukan? bisa-bisa kau akan gagal." ucap dewa kematian yang kawatir karena tidak ingin Bo Ra gagal


"kenapa mereka tidak memiliki empati sekali, tugas tabib adalah menyembuhkan orang sakit, dan menyebarkan pengetahuan mereka kesesama tabib. jaman ini sungguh menjengkelkan, pantas saja banyak masyarakat yang meninggal karena sakit, ini disebabkan para tabib terlalu pemilih." jawab Bo Ra dalam batin


"tapii kau tidak boleh gegabah seperti ini, kalau ingin mengubah ini semua." ucap dewa kematian


"hemmm baiklaaa." akhirnya Bo Ra menuruti semuanya


Diambilnya langsung kunyit, tanpa berbicara apapun, dia tidak bilang akan memberi tahu resep ini atau dia sengaja langsung membuat ramuan itu didepan kedua rekannya. Dia membuat resep seperti yang ia lakukan sebelumnya, dan dioleskan kepada kedua pasien itu serta meminum nya.


"wahhhh emang benar, ini obat yang manjur sekali." ucap pasien itu

__ADS_1


Bo Ra juga memberi tahu ketiga pasien itu agar tidak menggaruknya jika gatal, dan diberikan obat seperti yang ia berikan tadi saja. Bila dijaman modern biasanya diberikan salep atau bedak dingin untuk mengurangi rasa gatal dan mengeringkan luka, karena didunia ini belum ada, Bo Ra membuat resep obat tradisional sepengetahuannya dalam mengobati pasien.


Setelah itu, juri meminta mereka bertiga keluar dari ruangan untuk menunggu hasilnya, lolos atau tidaknya. Berjalan keluar Bo Ra dengan begitu kesal karena kejadian didalam tadi, dia masih tidak percaya, bagaimana seorang tabib bisa berpikiran seperti itu, sebenarnya apa niat mereka menjadi tabib, hanya ingin tenar, hanya ingin dibilang hebat, pikir Bo Ra begitu kesal. Tanpa ia sadari ternyata lelaki mata merah Dong wook sudah berada didepannya, karena Bo Ra berjalan dengan kesal tanpa melihat jalan dia menabrak dong wook, wajahnya menjadi terbenam didada bidang milik dong wook.


"awww." teriak Bo Ra dengan memegang kepala ingin marah siapa yang berani menghalangi jalannya, saat ia mendongak, ia langsung mundur terkejut.


"kk... aaa... uuu." ucap Bo Ra gelagapan


"kau siapa sebenarnya?" tanya Dong Wook


"siapa bagaimana? aku Kim Bo Ra." jawab Bo Ra


"bagaimana bisa kau tau semuanya tentang pengobatan, kulihat selama tes kau tidak merasa kesulitan sama sekali. dan apa kau bodoh mau membagikan resep obat yang kau temukan?"ucap Dong Wook dengan menatap mata Bo ra begitu tajam


"kau belajar dari mana?" masih dengan pertanyaan yang sama


"aaa.. kkkuuuuu hanya belajar dari buku, iyaaa dari buku. aku suka membaca buku tentang pengobatan." ucap Bo Ra sambil dengan menggerakkan jarinya tanda dia bingung dan gugup


"jika dia belajar dari buku, berarti dia anak bangsawan atau anak seorang tabib juga." gumam dong wook


"apa yang kau katakan?" tanya Bo Ra memastikan, karena dia tidak terlalu mendengar ucapan dong wook, tapi dong wook hanya diam dan langsung pergi meninggalkannya

__ADS_1


"haisssss dasar lelaki anehh, seenak jidat datang dan pergi begitu aja." umpat Bo Ra yang sudah kesal ditambah kesal


Disatu sisi, para juri/tabib telah berkumpul untuk mendiskuskan siapa saja yang akan lolos dan gagal dalam tes tabib ini, tetua cha dan tabib gong juga berada disana memiliki suara dalam menentukan calon tabib yang akan lolos atau tidaknya. Mereka langsung membuka dan berdiskusi, saat penentuan Bo Ra terdapat pro dan kontra dalam memilihnya.


"aku tidak setuju jika anak itu lolos menjadi tabib." ucap salah satu tabib dan diangguki 2 orang lainnya yang berada di ruangan advanced tadi


"kenapa begitu? selama di tes basic, intermediate dan pre advanced dialah yang paling bagus diantara yang lain. apakah ada masalah di advanced sectiom?" tanya mereka


"dia tidak cocok menjadi tabib jika pemikirannua seperti itu. bagaimana bisa dia memberi tahu resep obat kepada rekan kompetisinya yang sudah dia temukan sendiri. itu sangat tidak kompetitif sekali." ucap tabib itu dan masih diangguki 2 tabib tadi, serta beberapa tabib sedikit setuju dengan pernyataan itu


"bukankah itu bagus, dia bisa menemukan resep obat itu sendiri, padahal dia hanya seorang pemula. kau bisa lihat jawabannya, tidak ada yang salah sama sekali. bagaimana bisa menentukan dia tidak lolos hanya dengan pemikiran seperti itu. " ucap tabib lainnya dan disetujui oleh tabib lainnya juga


lalu tabib gong mencoba angkat bicara karena sudah memanas, "maaf aku menyela pembicaraan kalian, sekarang aku hanya ingin bertanya pada kalian, sebenarnya apa tuju kalian menjadi tabib? aku hanya ingin menanyakan itu, bukankah itu pertanyaan saat pre-advanced tadi?." ucap tabib gong yang membuat semua orang terdiam dan memikirkan hal itu


"tentu saja menyembuhkan orang sakit." cletuk tabib yang menolak Bo Ra tadi


"betull sekali, niat kita harusnya ingin menyembuhkan orang sakit. lalu? apakah kalian hanya akan menyembuhkan orang itu sendiri saat tabib lain tidak mengetahui obatnya, apalagi penyakit itu yang mudah menular ataupun banyak orang yang mempunyai riwayat itu? apa kalian akan diam saja dan menanggungnya sendiri? mengobati seluruh pasien itu sendiri? jika kalian ingin seperti itu ya silahkan saja, tanggung sendiri semuanya, jika itu berhasil toh kalian akan mendapat pujian dari segala penjuru dan menjadi master tabib." (Master Tabib adalah panggilan untuk tabib tertinggi, mereka sudah bisa menjadi seorang guru) ucap tabib Gong dengan nada sedikit tinggi yang membuat tabib lainnya terdiam memikirkan hal itu dan menyadarinya


-BERSAMBUNG-


terimakasih teman-teman semua yang selalu menunggu update an dari novel "SAKJ" dan selalu mendukung author untuk makin semangat😍. semoga kalian akan terus suka yaa hingga update an terakhir, ditunggu terus ya teman teman. I purple you πŸ’œπŸ’œ

__ADS_1


jangan lupa jaga kesehatan ya semuanyaa, jangan lupa selalu membersihkan diri dengan mecuci tangan, memakai masker saat keluar (bisa pake masker kain, kalau kehabisan heheh), minum rebusan herbal untuk menjaga daya tahan tubuh kita agar tidak gampang sakit, olahraga dan berjemur. 😘


Semangat semuanya, jangan bosan bosan ya baca novel "SAKJ" πŸ’œπŸ’œπŸ’œ


__ADS_2