Suamiku Ada Di Kerajaan Jangga

Suamiku Ada Di Kerajaan Jangga
OPERASI PERTAMA


__ADS_3


DEWA KEMATIAN


Sehari telah berlalu, mereka melalui perjalanan yang begitu melelahkan, kini sampai lah mereka di Padepokan Gunung Seribu, yang masih terlihat ramai para murid untuk berlatih, meskipun hari sudah larut. Bo Ra begitu tercengang melihat pemandangan ini, pantas saja padepokannya diberi nama Gunung Seribu, karena daerah ini daerah pegunungan dan terlihat banyak sekali gunung menjulang tinggi, layaknya ada seribu gunung. Padepokan juga dibangun di atas gunung tertinggi. Daerah ini terdapat banyak gunung, tapi hanya sekedar gunung/ bisa dibilang bukit yang menjulang tinggi menyerupai gunung.


Sesampainya dipadepokan, mereka disambut oleh Ketua Padepokan Cha, yang mana menyambut seorang pangeran. Akan tetapi sambutan itu terlihat biasa, karena pangeran tidak ingin identitasnya terbongkar.


"salam tetua Cha." ucap pangeran dengan sopan dan membungkuk hormat diikuti yang lainnya


"sungguh kehormatan bagi ku di sambangi oleh pangeran negeri ini." ucap Tetua Cha lalu mengantar mereka ke tempat yang sudah disiapkan untuknya.


Kediaman yang diberikan lumayan begitu luas, cukup ditinggali untuk berempat atau berlima. Setelah itu Tetua Cha pergi meninggalkan mereka agar istirahat, dan Lee nanti malam akan berangkat lagi kekerajaan Jangga dengan kekuatan anginnya, kurang lebih hanya menempuh satu hari perjalanan.


_____________


Malam harinya Lee mempersiapkan dirinya untuk pergi ke Kerajaan Jangga menjemput Da Eun dan Yungsik, serta memberi kabar pada Raja dan Ratu bahwa pangeran baik-baik saja.


"Permisi pangeran, saya mohon ijin untuk berangkat sekarang." ucap Pengawal Lee


"baiklahh, berhati-hatilah." ucap Hae Seok lalu Lee membungkukkan badan ijin undur diri


Pengawal Lee langsung melesat seperti angin, hampir tidak terlihat oleh mata.


-------


Keesokan harinya, Bo Ra melakukan aktifitas seperti biasa, dia memasak untuk sarapan mereka pagi ini.


"white dimana? aku belum melihatnya pagi ini." tanya Bo Ra pada Hae Seok

__ADS_1


Tiba-tiba, terdengar suara riuh di padepokan tengah. Mereka langsung keluar melihat apa yang terjadi, ternyata salah satu murid Gunung Seribu terjatuh dari tebing karena menghindari hewan buas saat sedang melakukan perburuan. Seketika Bo Ra refleks melihat keadaannya, yang mana sudah terlihat sangat buruk, murid itu merintih kesakitan dan perutnya mengembung keras dan terdapat memar dibagian perutnya, ini mungkin terbentur sesuatu menyebabkan trauma bagian perutnya.


"heyy apa yang kau lakukan? Siapa kau? " tanya salah satu murid saat Bo Ra ingin menyentuh denyut nadinya dan memegang perut murid tersebut


"tidak sopan sekali, memegang laki-laki." ucap murid lain, karena pada jaman ini masih sangat tabu jika wanita bersentuhan dengan pria jika bukan suami istri, meskipun itu Tabib


"apa maksudmu? Aku ingin mengeceknya, ini sudah terlihat parah jika tidak segera ditangani." ucap Bo Ra


Kemudian Tetua Cha datang menghampiri mereka dengan tabib padepokan. Tabib langsung mengecek keadaan murid tersebut, dia menggelengkan kepala tanda bahwa murid itu tidak bisa diselamatkan.


"dia masih bisa diselamatkan tabib." ucap Bo Ra, karena murid ini membutuhkan operasi, terjadi trauma cedera perut yang harus ditangani segera dengan operasi


"apa kau seorang tabib?" tanya Tabib Gong


"bisa dibilang begitu." jawab Bo Ra


"bukann seorang tabib tapi mengaku tabib." ucap mereka


Hae Seok tiba-tiba mulai angkat bicara, "dia memang tidak memiliki tanda Tabib, tapi dia sudah seperti Tabib bintang 10, dia sudah membantu orang melahirkan, membuat wanita tua lumpuh berjalan kembali, membasmi wabah penyakit, dan dia sudah mengobatiku karena terkena racun cobra." ucap Hae Seok yang membuat Tabib padepokan tercengang


"baiklaa, jika kau bisa menolongnya, tunjukan." ucap tetua Cha yang memberi ijin


"tapiii guruu..." ucap para murid yang hanya direspon dengan mengangkat tangan untuk diam saja


"murid ini membutuhkan operasi, apa dipadepokan ini memiliki ruang pengobatan khusus? " tanya Bo Ra yang dibalas anggukan


Kemudian Bo Ra meminta untuk membawa murid ini ke ruang pengobatan, sesampainya disana Bo Ra sedikit bingung karena peralatannya belum modern, dia berharap bisa melakukannya dengan peralatan yang sederhana ini dan bantuan obat tumbukan/tradisional. Tabib padepokan juga ikut membantu dan memperhatikan Bo Ra.


Dia meminta untuk mensterilkan alat-alat seperti segala jenis pisau disiapkan untuk diasah dan segera direbus untuk melakukan pensterilan. Lalu ia menumbuk beberapa obat-obatan dibantu tabib, dan mengambil alat suntiknya agar murid ini tidak merasakan sakit jika dioperasi serta kain kasa yang dia bawa, sebenarnya dia tidak mengerti mengapa peralatan medisnya tidak ada habisnya, stocknya selalu sama dari awal dia datang ke zaman ini. Semua peralatan sudah siap, dia juga menghidupkan banyak lilin untuk penerangan, Bo Ra juga sudah membersihkan tangannya dan memakai sarung tangan yang ia bawa, dia mulai melakukan pembedahan dengan hati-hati, sebenarnya Tabib Gong sedikit ragu, tapi melihat cara Bo Ra menangani murid ini, dia semakin yakin dengan keahlian Bo Ra. Satu jam telah berlalu, akhirnya Bo Ra sukses melakukan operasi dan melakukan jahitan pada organ dalam yang sobek dan sudah menghentikan pendarahannya.

__ADS_1


Bo Ra mengecek keadaan murid ini, dan masih stabil keadaannya, operasi pertamanya dizaman ini sukses, dia menghela nafas lega. Meskipun dia sudah ahli, tapi ini sangat sulit karena tidak dibantu dengan alat yang bisa memindai keadaan pasien.


"apa sudah selesai seperti ini?" tanya Tabib Gong


"iyaa tabib, terimakasih atas bantuannya." ucap Bo Ra yang langsung duduk karena begitu lelah melakukan operasi selama satu jam, dan untung saja dia berhasil tidak ada halangan.


"bagaimana bisa kau melakukan ini? aku belum pernah melihat teknik ini sebelumnya." ucap Tabib Gong yang penasaran


"emmm ak.. Akuuu." Bo Ra bingung harus menjawab apa


"Tabib, anak ini harus selalu dipantau, resep obatnya nanti akan kuberikan padamu tabib, dan aku akan ikut memantau juga." ucap Bo Ra


"baiklahh, terimakasih atas pertolongannya." ucap Tabib


Setelah memberikan resep, Bo Ra mohon undur diri, untuk kembali ke kediamannya, sedangkan diluar para murid, tetua dan Hae Seok ikut panik karena lama sekali belum keluar keluar. Bo Ra begitu kaget ketika membuka pintu, semua menunggu resah dengan hasil didalam.


"apa kau baik baik saja? " tanya Hae Seok yang terlihat kawatir, karena bajunya penuh darah


"aku baik baik saja." jawab Bo Ra


lalu tabib Gong keluar dan menyampaikan bahwa keadaan muridnya baik-baik saja dan berjalan lancar atas pengobatan yang diberikan Bo Ra. Semuanya membungkuk mengucapkan terimakasih kepada Bo Ra.


"terimakasih telah menolong murid kami." ucap Tetua Cha


"sama-sama tetua, kalau begitu aku undur diri dulu." ucap Bo Ra dengan membungkuk dan diikuti oleh Hae Seok, semuanya terlihat bahagia karena temannya selamat


Saat sampai di gubuk yang dipakai Bo Ra dan Hae Seok, dia melihat White yang berbentuk manusia bersender lemah, karena kakinya penuh luka.


"ada apa denganmu?" tanya Bo Ra yang menjadi kawatir melihat White lemas

__ADS_1


__ADS_2