Suara Hati Aisyah!

Suara Hati Aisyah!
Perjalanan.


__ADS_3

Happy Reading :)


.


.


.


Tepat pukul 20.00 p.m, Aisyah sedang mengechek kembali barang-barang yang akan dibawa besok, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Aisyah menengok kebelakang untuk melihat siapa yang datang, ternyata adalah kedua orangtua nya.


Aisyah langsung berdiri dari jongkoknya dan menghadap mereka.


" Nak." ucap Shah pelan. Dilara yang ada disamping suaminya hanya diam.


Aisyah mendongak kearah Papa nya saat ia mendengar panggilan Papa nya.


" Kau yakin akan tetap pergi ke sana?" lanjut Shah.


" Iya."


" Walau kami akan melarang?"


" Hu'um. Maaf mungkin Ais keterlaluan, tetapi Ais ingin pergi ke penelitian itu."


" Tapi kan kami orangtua kamu, apakah kamu tidak akan mendengar perkataan kami." Dilara akhirnya bicara dari bungkam.


" Hah? What? Sekarang dengarkan aku. Apa kalian pernah mendengarkan perkataan Ais sebagai anak kepada orangtuanya? Apakah kalian pernah peduli dengan ku? Apakah kalian pernah menganggap aku ada dirumah ini? Apakah kalian pernah menganggap kalau kalian punya anak? Tidak kan, bahkan menanyakan apakah anaknya baik-baik saja juga tidak pernah. Kalian tidak pernah mau tahu apa yang ada di hati Ais, apa yang diinginkan Ais, lalu kenapa saat aku akan pergi kalian seperti peduli dengan ku? Sebenarnya ada apa dengan kalian ini, sangat aneh." kekeh Aisyah dengan deretan pertanyaan yang selama ini dia pendam sendiri.


Shah dan Dilara diam saat mendengar perkataan Aisyah, mereka berdua tampak merasa bersalah atas perlakuan selama ini kepada anaknya.


" Nak, kan kau tahu sendiri betapa sibuknya kami berdua saat bekerja, dan maaf mungkin selama ini kami sangat buruk memperlakukan kamu seperti ini." ucap Shah dengan rasa menyesal.


" Iya aku tahu selama ini kalian sibuk dengan pekerjaan kalian sampai tidak ingat kalau kalian punya anak bahkan sampai tidak mau tahu apa anaknya baik-baik saja." kata Aisyah terkekeh lagi.

__ADS_1


" Kau ini!" ucap Dilara geram setelah mendengar ucapan Aisyah dan hampir saja dia menamparnya tapi langsung di tahan oleh Shah.


" Apa hah? Mama mau menampar ku? Ayo tampar saja aku, apa yang aku ucapkan ini salah? Bahkan aku pun tidak peduli kalau kalian akan mengusirku dari rumah ini. Aku akan sangat bersyukur jika kalian mengusirku setidaknya hidup di jalanan akan membuatku lebih senang daripada hidup dengan kemewahan yang membuatku muak." kata Aisyah dengan sedikit teriak.


" Sudah, sebaiknya Mama kembali ke kamar biar Papa yang bicara dengan Ais." ucap Shah dengan tegas kepada Dilara.


Dilara pun langsung meninggalkan kamar Aisyah dengan meneteskan air matanya.


" Nak, dengarkan Papa. Papa sangat menyesal telah membuat kamu terlantar selama ini. Papa akan mengizinkan mu untuk pergi besok. Papa sangat minta maaf mungkin selama ini Papa tidak bisa menjadi Ayah yang baik untuk mu. Tapi asal kamu tahu Papa sangat sayang kepada mu, bahkan Papa tidak ingin kehilangan kamu. Soal Mama tadi Papa juga minta maaf, tidak sepantas nya Mama tadi memperlakukan kamu seperti itu. Nanti Papa akan bicara dengannya." kata Shah meyakini anaknya bahwa ia sayang terhadap Aisyah.


" Bagus kalau Papa sadar. Tapi untuk sayang, apa benar Papa sayang kepada ku? Apakah dengan rasa tidak peduli itu bisa dikatakan sayang?" ucap Aisyah tidak percaya apa yang diucapkan Papa nya.


" Huftt, terserah kau mau bicara apa. Intinya Papa sayang sama kamu, dan Papa minta maaf. Ya sudah kamu bersiap diri untuk besok berangkat keluar kota, jangan tidur kemalaman." kata Shah dengan tangannya mengusap kepala anaknya sebelum pergi dari kamar Aisyah.


Aisyah diam apa yang dikatakan Papa nya. Dia bingung apa yang dilakukan Papa nya barusan dan ada rasa senang diperlakukan seperti itu ya lantaran karena selama ini dia tidak pernah mendapatkan perlakuan itu dari orangtuanya, dan bisa dibilang ini pertama kalinya Shah melakukan ini kepada Aisyah.


Di kamar Dilara menangis serta berfikir betapa beraninya tadi dia hampir saja menampar Aisyah.


Pintu terbuka menampakan sosok pria yang tidak lain adalah suami Dilara. Shah berjalan menghampiri Dilara.


" Apa yang kau lakukan tadi, tidak sepantasnya kamu melakukan itu kepada Ais, kita ini sudah buruk dimata Ais, kenapa kamu melakukan hal yang akan membuat Ais tambah benci kepada kita Dilara." geram Shah kepada istrinya.


" Maaf, maaf kan aku. Aku tidak sadar saat melakukan itu. Sungguh aku sangat tertekan saat Ais mengatakan itu semua." sesal Dilara kepada suaminya.


" Tapi tidak harus kau akan menamparnya Dilara. Kau tidak berhak untuk melakukan itu."


" Tapi mengapa aku tidak berhak melakukan itu. Wajar saja seorang ibu melakukan itu saat anaknya berkata tidak pantas terhadap orangtuanya."


" Kau bukan Ibu nya! Dia putriku, wajar aku mengatakan ini kepadamu. Apa yang kau lakukan tadi membuktikan bahwa kau memang bukan Ibu yang sesungguhnya."


Deg!


Dilara kaget mendengar perkataan Shah. Jantungnya seakan berhenti berdetak.

__ADS_1


" Apa yang kau katakan hah, aku Ibunya dan apa tadi dia putri mu? Dia juga putri ku, kau harus ingat ini. Aku yang membesarkannya dari dia bayi, dan tadi kau bilang aku bukan ibunya." ucap Dilara teriak pada suaminya.


" Ya kau mungkin yang membesarkannya, tapi apa kau merawatnya? Bahkan aku tidak percaya yang kau lakukan tadi terhadap Ais, dan apa seorang ibu akan melakukan itu kepada anaknya." balas Shah dengan teriak juga.


" Haha, apa kau selama ini juga melakukan hal yang baik kepada Ais? Bahkan kau juga sudah menjadi Ayah yang buruk terhadap putri mu sendiri." kekeh Dilara.


" Sudah lah, aku tidak peduli apa yang kau katakan dan ingat ini, jangan lagi melakukan hal yang sama kepada Ais!" ucap Shah memperingati Dilara, lalu keluar kamar dengan membanting pintu keras.


" Akhhhhhhh, hiks hiks." teriak Dilara dengan diiringi tangis.


********************


Di kampus, semua Mahasiswa/wi telah berkumpul untuk berangkat ke Surabaya. Khusus 4 orang yaitu Zafran, Aisyah, dan dua sahabat Zafran mereka pisah kendaraan, karena ya mau mampir dulu ke rumah si Zafran.


Mereka berempat berangkat menaiki mobil milik Zafran, yang menyetir Zafran dan disampingnya ada Hasan karena rencananya mereka akan bergantian menyetir. Di kursi penumpang belakang ada Aisyah dan Kintha.


Aisyah merasa aneh dari tadi dengan sikap Kintha, entah apa yang Kintha pikirkan tentang dirinya. Tapi Aisyah enjoy saja.


Di setengah perjalan mereka berhenti di sebuah mini market untuk membeli sesuatu yang bisa untuk dimakan. Awalnya Kintha tidak mau ikut turun, tapi setelah Zafran mengajak Aisyah untuk membeli tiba-tiba Kintha minta ikut dah menyenggol Aisyah untuk menjauh dari Zafran. Aisyah yang merasa terdorong menyengit dan acuh apa yang dilakukan Kintha. Zafran yang tahu itu langsung mendelik horor ke Kintha lalu Kintha hanya bisa diam dan menunduk saat Zafran begitu.


Setelah mereka selesai berbelanja dan istirahat sebentar mereka langsung melanjutkan perjalanan menuju Surabaya. Di dalam mobil mereka saling mengobrol dengan tawa, di lain sisi Kintha terlihat tidak suka pada Zafran yang selalu merayu Aisyah di depannya.


STOP!!!!


@@@@@@@@@@@@@@@


MAAF YA GUYS MUNGKIN SEDIKIT ABSURD.


DAN SEKALI LAGI HARAP MAKLUM!!!


Thank You💞


@dinda_mahardhika21

__ADS_1


__ADS_2