Suara Hati Aisyah!

Suara Hati Aisyah!
Sampai.


__ADS_3

HAPPY READING :)


.


.


.


Mereka telah sampai tujuan yaitu Surabaya. Aisyah dari beberapa jam yang lalu entah kenapa hatinya merasa gundah, apa yang akan terjadi?


Di depan rumah Zafran yang dibilang mewah karena ya peninggalan Ayah Zafran yang sangat woww. Aisyah terlihat resah entah kenapa rasanya semakin kuat, tetapi Aisyah mencoba menetralkan perasaannya agar tidak membuat temannya panik.


Lain dengan Zafran, dia selalu melihat gerak gerik dari Aisyah. Zafran bingung kenapa tiba-tiba Aisyah seperti itu.


" Za kau kenapa?" tanya Zafran berbisik.


" Hm, aku tidak apa-apa." jawab Aisyah dengan menggelengkan kepala dan tersenyum.


" Baiklah ayo kita masuk ke dalam, Bunda pasti sudah menunggu kita." ucap Zafran kepada tiga temannya.


Zafran dan dua sahabatnya telah berlalu untuk masuk, tetapi Aisyah masih berdiam diri ditempat, lalu ia berusaha melangkahkan kakinya ke dalam rumah tersebut.


Setiap langkah yang di pijak Aisyah, dia merasa semakin kuat rasa resahnya. Rasa nya ia ingin menangis tetapi ia tidak punya alasan mengapa harus menangis.


Saat sudah memasuki depan pintu rumah Zafran, Aisyah merasa semakin berdegup kencang, ia berhenti dengan melamun dan memajamkan matanya, lalu lamunannya buyar saat seseorang memanggilnya.


" Za, kenapa kau diam disitu, ayo sini masuk, dan perkenalkan ini Bunda ku." panggil Zafran dan memperkenalkan Bunda nya kepada Aisyah.


" Ah iya, maaf. Assalamu'alaikum Tante." kaget Aisyah dan langsung mengucapkan salam kepada Bunda Zafran dengan senyum, lalu menyalami tangannya.


Entah kenapa Aisyah merasa antusias melihat Bunda nya Zafran. Saat menyalami tangannya ia merasa ada kehangatan di hatinya. Dia merasa ada kedekatan di antara mereka.

__ADS_1


" Wa'alaikumussalam Nak." jawab Sarah dengan senyuman.


" Nah Bunda ini semua teman Zafran. Dia Hasan, lalu itu si centil Kintha, dan itu si Za." ucap Zafran mengenalkan teman-temannya dengan menunjuk mereka satu persatu.


Kintha yang merasa dipanggil centil merengut sebal dengan mencubit pinggang Zafran.


Sarah tersenyum saat melihat kelucuan anaknya dan teman-temannya.


" Za?" tanya Sarah bingung, kenapa namanya pendek sekali.


" Hahaha maaf tante, Zafran biasa memanggil saya dengan sebutan Za, dan nama saya adalah Aisyah." ucap Aisyah dengan terkekeh.


Deg!


Entah kenapa tiba-tiba Sarah merasa jantungnya berhenti saat mendengar nama itu. Tapi ia cepat-cepat tepis perasaan itu, toh yang namanya Aisyah banyak di dunia ini.


" Oooo ohh Aaaaa Aisyah, cantik sekali nama mu Nak, seperti orangnya cantik." ucap Sarah dengan gugup lalu tersenyum.


" Yap Bunda. Bunda benar emang Za itu cantik." kata Zafran dengan berjalan kearah Sarah lalu merangkulnya dan mengerlingkan matanya kepada Aisyah.


" Heleh kau ni Fran, semua cewe juga di bilang cantik kan." celetuk Hasan dengan terkekeh.


Zafran yang mendengar itu spontan menggeplak bahu Hasan dengan kasar.


" Auh, sakit tau, gila lo ya."


" Lagian lo ngapain ngomong begitu, di depan Bunda dan si Za lagi."


" Hehehe, iya iya maaf."


Aisyah yang mendengar ucapan Zafran menyengit dan menatap horor ke Zafran. Entah apa yang dipikirkan Zafran, dengan mudahnya mengucapkan itu di depan Bunda nya, kan Aisyah malu.

__ADS_1


Sarah yang melihat itu hanya tersenyum, dasar putranya ini tidak tahu malu.


" Sudah-sudah kau ini Zafran, lihat Aisyah kan jadi malu. Ayo sekarang kita makan lalu istirahat, pasti kalian lapar dan cape kan setelah menempuh perjalanan jauh." ucap Sarah dengan terkekeh lalu mengajak semuanya makan.


Aisyah hanya menunduk dan mengangguk setelah mendengar perkataan Sarah, emang dia sangat malu sekarang, tapi emang ia cantik jadi ya berusaha biasa saja, hahaha.


Lihat Zafran malah terkekeh setelah menggoda Aisyah di depan Bunda nya.


Lalu mereka menuju ruang makan untuk makan bersama.


Kintha tiba-tiba merasa sebal saat Zafran melakukan itu kepada Aisyah, dia terlihat murung.


Hasan yang melihat Kintha tiba-tiba murung pun penasaran, ada apa dengan temannya yang satu ini.


" Heh lo kenapa? tiba-tiba murung begitu." tanya Hasan kepada Kintha.


" Kagak apa-apa." jawab Kintha.


" Ya sudah ayo kita menyusul mereka, gue sudah laper banget nih." ajaknya.


" Lo nih makan mulu yang dipikirin." sebal Kintha.


" Bodo amat lah." ucap Hasan dengan melangkahkan kakinya menuju ruang makan dengan meninggalkan Kintha.


Kintha yang melihat Hasan seperti itu merasa sebal, lalu ia berlalu untuk mengikuti Hasan.


@@@@@@@@@@@@@@@@


Hm, bagaimana chap ini? cukup garing bukan? hehehe maaf ya.


Thank You💞

__ADS_1


@dinda_mahardhika21


__ADS_2