
HAPPY READING :)
.
.
.
Seandainya kau tahu kalau aku masih sangat mencintaimu. Mungkin aku bodoh, mengapa masih saja menyimpan rasa itu. Rasa yang membuatku bahagia sekaligus sakit. Ingin rasa nya membencimu atas apa yang kau lakukan kepada ku tapi tidak bisa. Ingin rasa nya aku egois atas perasaan ini, tapi aku bukanlah wanita yang munafik. Setiap ingat kejadian itu hati ku merasa sangat lah sakit, dan murka yang ada dalam diri ku muncul tapi perlahan hilang. Kesal rasa nya diri ini tidak bisa membencimu.
Aku merasa bukanlah istri yang baik untuk suami ku, lantaran hati ku tertanam nama mu. Sakit rasa nya tidak bisa mencintai suami sendiri. Sampai ia tiada pun rasa ini sama, tidak sedikit pun ada nama nya di hatiku. Rasa nya sangat berdosa diri ini telah mencintai orang yang bukan suami ku. Seandainya suatu hari nanti kita bertemu, aku akan mengatakan kalau aku sangat lah benci dengan mu dan mencintai mu SHAH!
~"-*-"~
Sampailah mereka semua di depan rumah Sarah. Mereka turun dari mobil nya masing-masing. Aisyah masih terlihat kesal dengan Dilara yang selalu memaksanya. Shah yang masih duduk di dalam mobil terlihat resah. Sama dengan Dilara yang merasa takut akan bertemu dengan seseorang.
Zafran yang melihat Shah dan Dilara tidak kunjung keluar dari mobil pun menghampiri mereka.
" Om, Tante, ayo kita masuk ke dalam rumah." ajak Zafran.
" Eh em iya baikalah." jawab Shah gugup.
Dilara hanya manganggukan kepalanya.
Saat mereka semua melangkah untuk masuk kedalam rumah. Ponsel Shah tiba-tiba berdering. Shah pun menghentikan langkahnya dan menerima panggilan.
" Tunggu dulu. Kalian jangan masuk dulu." ucap Shah seperti melarang.
Mereka semua bingung dengan apa yang diucapkan Shah. Tinggal Shah menerima telfon dan lainnya masuk dan dia menyusul. Tapi malah dia menyuruh semuanya menunggunya.
" Iya hallo, ada apa?" ucap Shah kepada penelfon.
" Hallo Pak. Ada urusan penting yang harus bapak tahu." kata seseorang di seberang sana.
" Hm, kenapa?"
" Pak, Perusahaan sekarang lagi tidak beres. Ada salah satu karyawan kita yang melakukan pengkhianatan. Dia mencuri file rahasia yang kita punya dan ia berikan itu ke Perusahaan saingan kita. Dan pabrik milik kita terbakar." jelas orang itu.
" Apa? Bagaimana bisa? Ya sudah bereskan dulu apa yang kau bisa. Saya akan pulang sekarang ke Jakarta dan langsung ke kantor." ucap Shah.
" Baik Pak saya akan lakukan itu."
Setelah melakukan panggilan itu, Shah merasa bingung apa yang harus ia lakukan sekarang. Yang ada dipikirnya adalah pulang ke Jakarta sekarang, tapi bagaimana dengan Aisyah?
Dilara yang melihat Shah panik setelah mendapat telfon pun bertanya.
" Ada apa Pah?"
__ADS_1
" File perusahaan kita dicuri dan pabrik mengalami kebakaran Mah." jawab Shah.
" Apa? Siapa yang melakukan itu?"
" Papa pun tidak tahu."
Aisyah yang mendengar itu pun ikutan kaget.
" Ya sudah kita pulang sekarang." kata Dilara.
" Tapi Aisyah?"
" Papa dan Mama pulang saja sekarang, biar Ais disini saja. Selesaikan saja dulu masalah perusahaan." ucap Aisyah.
" Lalu kalian?" tanya Dilara kepada Maya dan Rea.
" Kami disini saja Tante." jawab Rea dan diangguki Maya.
" Ya sudah kami akan pulang sekarang. Ambil barang-barang kalian di hotel tadi ya." ucap Shah dan diangguki Rea dan Maya.
" Kami titip Ais sama kalian ya, salam untuk Bunda kamu Zafran, dan terimakasih." lanjut Shah.
" Baik Om." jawab Zafran.
Dilara menghampiri Aisyah dan memeluknya.
Aisyah hanya mengangguk mendengar ucapan Dilara.
" Papa pulang dulu, baik-baik disini ya nak." ucap Shah lalu mencium pucuk kepala Aisyah.
" Hati-hati dijalan Pah Mah." kata Aisyah.
Shah dan Dilara hanya tersenyum dan mengangguk. Mereka masuk ke dalam mobil dan siap untuk mampir dulu ke hotel guna mengambil barang-barang yang dibawa.
" Kami berangkat ya. Assalamu'alaikum." ucap Shah.
" Hati-hati Pah Mah/ Om Tante. Wa'alaikumussalam."
Mobil pun melaju dengan perlahan pergi dari halaman rumah Sarah. Baru satu menit Shah dan Dilara pergi, Sarah pun keluar dari rumah. Sarah tadi sudah mendengar ada mobil yang masuk ke halaman rumah dan ia menunggu ketukan pintu tapi lama tak kunjung mendengar ketukan itu, lalu ia penasaran siapa yang datang dan ia pun memilih keluar dari dalam rumah. Dan ternyata yang ia lihat adalah Zafran, Aisyah, dan dua perempuan yang ia tidak kenal.
" Hai kalian sedang apa disitu." teriak Sarah pada mereka.
Mereka yang mendengar itu langsung menengok ke sumber suara.
" Eh Bunda." ucap Zafran. Dan mereka semua menghampiri Sarah.
Mereka bersalaman bergantian pada Sarah.
__ADS_1
" Kalian lagi apa? kenapa lama sekali masuknya? Lalu ini siapa?" tanya Sarah.
" Perkenalkan Tante. Saya Rea dan ini Maya, kami sahabatnya Ais." ucap Rea memperkenalkan diri.
Sarah pun mengangguk dan tersenyum mendengar ucapan Rea.
" Itu tadi ada orangtuanya si Za Bun." jawab Zafran.
" Hah? Orangtuanya Ais? Kenapa tidak masuk dulu?" tanya Sarah lagi.
" Iya tante, sebenarnya tadi mau singgah. Tetapi mendadak Papa mendapat telfon kalau perusahaan nya mengalami musibah, jadi mereka buru-buru balik lagi ke Jakarta." jelas Aisyah.
" Ya Allah. Ya sudah tidak apa-apa, mungkin lain kali kita bisa bertemu." ucap Sarah.
" Kami boleh tinggal disini kan Tante?" tanya Maya tiba-tiba.
" Boleh. Hanya saja bayar sewa kamarnya ya." sahut Zafran cepat.
" Ish apaan sih loe Fran. Kan gue tanya ke Tante Sarah." kesal Maya.
" Hahaha, iya lah. Jaman sekarang tidak ada yang gratis." kekeh Zafran.
" Pelit amat loe Fran." ucap Rea.
Sarah dan Aisyah hanya terkekeh melihat mereka.
" Sudah-sudah, kamu Zafran selalu menggoda teman-teman mu. Boleh nak, kalian tinggal disini sembari menemani Ais." ucap Sarah tersenyum.
Zafran hanya nyengir, Rea dan Maya tersenyum senang mendengar ucapan Sarah.
" Kan, Tante Sarah juga mengizinkan. Loe aja yang nyebelin." sewot Maya.
" Gitu aja baper." kata Zafran.
" Makan lah." timpal Rea.
" itu lapar." ucap Aisyah, Zafran, dan Maya bersamaan.
Sarah hanya tertawa dan menggeleng melihat mereka semua saat bercanda.
" Ya sudah ayo kita masuk." ajak Sarah.
Mereka semua pun mendengarkan ucapan Sarah dan masuk ke dalam rumah.
~"-*-"~
Thank you💞
__ADS_1
@dinda_mahardhika21