Suara Hati Aisyah!

Suara Hati Aisyah!
S2- Alam Bawah Sadar!


__ADS_3

Happy Reading :)


.


.


.


Transfusi darah telah berhasil dilakukan. Tubuh Aisyah menerima darah Zafran dengan sangat baik pada tubuhnya.


" Dok, dokter. Kondisi tuan ini menurun," teriak perawat.


" Ini sudah pasti terjadi. Cepat lakukan tindakan semaksimal mungkin."


" Baik dok."


Semua tenaga medis langsung menangani Zafran dengan semaksimal mungkin. Tetapi tubuh Zafran menolak usaha dari para medis, yang mengakibatkan kondisinya semakin buruk.


Di luar ruang operasi ada Sarah, Shah, dan Aashad yang sedang menunggu. Aashad sangat terkejut mendengar kondisi Aisyah dan Zafran, khususnya berita kematian Dilara dari Shah tadi. Mereka masih diam dan selalu melihat lampu indikator yang masih menyala di atas pintu ruang operasi yang artinya masih belum selesai. Sarah berharap agar lampu indikator itu segera padam.


Untuk jasad Dilara masih diurus oleh perawat. Setelah itu akan ditempatkan dulu di ruang mayat. Shah sudah sempat menemui jasad istrinya itu. Shah sedih bahwa istrinya sekarang sudah tidak ada lagi. Memang Shah sangatlah marah, tapi bagaimana pun Dilara adalah istrinya yang telah menemaninya selama 21 tahun. Mungkin ini adalah balasan dari Allah untuk istrinya. Ia hanya bisa mengikhlaskan istrinya pergi.


Di dalam ruang operasi.


Nafas Zafran tersengal-senggal dengan keras. Zafran mengalami kejang sesaat.


" Cepat berikan oksigen untuk tuan ini," teriak dokter pada suster.


Suster langsung memakaikan oksigen pada Zafran. Setelah beberapa menit, nafas Zafran kembali normal.


" Alhamdulillah," ucap mereka semua.


" Sekarang cepat selesaikan operasi nona ini,"


" Baik dok."


Mereka semua melakukan operasi pada kaki Aisyah. Setelah lama berkutik pada kaki Aisyah, akhirnya selesai juga operasinya.


" Selamat dok, operasinya berhasil," ucap salah satu suster.


" Alhamdulillah. Semua ini juga berkat kerja keras kalian."


Tapi detik berikutnya, tubuh Zafran kambali mengalami kejang-kejang. Dokter dan para perawat tersentak melihat Zafran. Mereka langsung bertindak semampu yang mereka bisa.


" Dok, jantungnya melemah," teriak salah satu suster.


" Cepat pasangkan lead (kabel menyalurkan irama jantung ke monitor)." Dokter tak kalah teriak.


Para tenaga medis langsung melakukan apa yang diperintah dokter. Setelah alat itu terpasang semua dan sudah berfungsi. Mereka langsung melihat layar monitor irama jantung. Jantung Zafran sekarang benar-benar sangat lemah. Dan detik berikutnya...

__ADS_1


Tittttttttttttttttttt. Suara dari monitor.


Mereka semua terkejut. Garis gelombang pada monitor itu telah berubah menjadi garis lurus.


" Berikan saya Defribrilator (alat pacu jantung)," ucap dokter.


Dokter langsung menggosokan dua alat itu dan menempelkannya ke dada Zafran. Tubuh Zafran langsung tersentak keatas. Tapi belum ada tanda-tanda garis akan bergerak normal. Dokter mengulangi lagi kegiatan itu, sampai yang ketiga kali benar-benar tidak ada perubahan.


" Innalilahi Wainnailaihi Raji'un," ucap mereka semua yang ada di ruangan.


Dokter langsung keluar dari ruang operasi. sedangkan yang lain membersihkan semua alat operasi lalu menyiapkan Aisyah untuk pindah ke ruang perawatan.


Sarah langsung beranjak dari kursi saat melihat lampu indikator padam. Ia menunggu tidak sabar informasi dari dokter. Pintu terbuka dan dokter keluar. Sarah langsung menghampiri dokter.


" Bagaimana dok kondisi anak-anak saya? Mereka baik-baik saja kan, dok? Tidak ada hal buruk terjadi kan?" Tanya Sarah dengan penuh kepanikan.


" Ibu tenang dulu ya. Alhamdulillah operasi putri ibu berjalan dengan lancar. Tapi untuk pulih mungkin akan menunggu waktu agak lama. Untuk putra ibu, maaf nyawanya tidak tertolong. Kondisinya melemah saat proses transfusi telah berhasil. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi Allah tidak mengizinkannya untuk tetap hidup," ucap dokter iba.


" Innalillahi Wainnailaihi Raji'un," ucap Shah dan Aashad sedih.


" Ya Allah, putraku hiks hiks," tangis Sarah pecah.


Shah langsung menangkap tubuh Sarah saat akan jatuh. Kaki Sarah terasa lemas saat mendengar berita tentang Zafran. Ia tidak menyangka bahwa putranya telah tiada.


***


Aisyah telah berada di ruang perawatan dengan ditemani oleh Aashad. Sedangkan Shah dan Sarah mengurus jasad Dilara dan Zafran. Sarah masih merasa sakit melihat Zafran yang sudah terbujur kaku tidak bernyawa. Andai saja ia bisa mendonorkan darahnya pada putrinya, putranya ini pasti tidak akan mengalami ini. Shah terus menenangkan Sarah yang bersedih. Shah tahu apa yang dirasakan seorang ibu ditinggal oleh putranya, itu sangat sakit.


Sarah dan Shah telah selesai mengurus surat-surat kematian rumah sakit. Mereka tidak berlama-lama langsung beranjak untuk menemui putri mereka. Bagi Sarah, setidak ia sangat bersyukur bahwa putrinya sekarang baik-baik saja.


Shah bahagia melihat putrinya bisa terselamatkan. Ia akan selalu ingat pengorbanan Zafran, karena telah menyelamatkan putrinya.


Aashad merasa bangga plus terharu dengan pengorbanan yang telah dilakukan oleh Zafran. Sebenarnya ia sedikit iri dengan apa yang dilakukan Zafran pada gadisnya. Tapi ya sudah lah, itu semua sudah jalan dari tuhan.


***


Dibawah alam sadar, Aisyah melihat lelaki yang sangat ia kenal dengan memakai pakaian seperti jubah putih. Lalu ia berinisiatif untuk menghampiri lelaki itu. Saat sudah dekat, ia lihat bahwa lelaki itu tidak sendiri. Lelaki itu bersama 2 orang yang Aisyah tidak kenal sama sekali.


" Zafran..." panggil Aisyah pada lelaki yang kedua tangannya sedang menggenggam tangan 2 manusia tua yang ada diantaranya (Zafran).


Zafran menengok ke arah sumber suara. Ia tersenyum dengan pucat pasi saat melihat bahwa gadis yang ia cintai telah selamat.


" Kau mau kemana?" Tanya Aisyah.


" Aku akan pergi jauh. Lihat, ini adalah kedua orangtuaku yang telah menungguku lama. Aku akan pergi bersamanya."


Orangtua yang dibilang Zafran tadi tersenyum teduh kearah Aisyah.


" Kau tidak boleh pergi," ucap Aisyah.

__ADS_1


" Aku harus pergi, Za. Ini sudah waktunya aku harus pergi."


" Kalau begitu aku akan ikut dengan mu. Jika kau pergi, nanti siapa yang menemaniku disaat aku kesepian dan sedih," pinta Aisyah.


Zafran tersenyum dengan menghampiri Aisyah.


" Kau tidak boleh ikut. Kau harus menjaga dan menemani Bunda. Jika nanti kau ikut, siapa yang akan menemani Bunda? Apa kau tidak kasihan pada Bunda? Ingat Za, masih banyak orang yang akan menemani mu. Aku sudah meminta Om Shah, Bunda, bahkan Bang Aashad untuk menemani mu. Sudah, kau jangan bersedih setelah ini ya. Sudah saatnya aku harus pergi. Bye Za. I Love You."


" Fran, Zafran tunggu aku," teriak Aisyah. Tetapi Zafran hanya tersenyum dan tetap berjalan dengan menggandeng tangan kedua orangtuanya.


***


" Haaah." Aisyah tersentak sadar terbangun.


Shah, Sarah, dan Aashad pun ikut tersentak melihat Aisyah. Mereka bertiga langsung bangun dari tidurnya dan menghampiri ranjang rumah sakit yang membujurkan Aisyah. Aashad langsung memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Aisyah.


" Ya Allah, kau sudah sadar, Nak," ucap Sarah.


" Alhamdulillah, Ya Allah." Shah tersenyum.


Aisyah menggeliat membuka matanya perlahan. Ia mendapati Papa dan Bundanya yang sudah menangis haru.


Dokter datang dan langsung memeriksa kondisinya. Dokter tersenyum dan mengatakan bahwa Aisyah telah baik-baik saja. Kondisinya telah membaik, tetapi untuk pemulihan kakinya membutuhkan waktu yang lama, kurang lebih 6 bulan.


Sarah tersenyum melihat putrinya yang sudah sadar. Ia usap pucuk kepala putrinya dengan pelan dan lembut. Shah pun melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan Sarah.


Aisyah ikut tersenyum setelah melihat Papa dan Bundanya tersenyum. Ia melihat Aashad di belakang orangtuanya sedang tersenyum kepadanya. Ia langsung mengingat kejadian beberapa jam lalu saat ada mobil yang menabrak mobil yang berisikan dia dan Mamanya atas kecerobohan Mamanya itu. Dan sekarang Mamanya ada dimana? Ia tidak melihat Mamanya disini. Dan Zafran, ia telah bertemu di dalam mimpi tadi. Ia akan menanyakan itu pada orang yang ada disini.


" Bunda, Papa," panggil Aisyah lirih.


" Humm, iya Nak," ucap Sarah.


" Dimana Mama? Lalu Zafran? Kenapa tadi Ais bermimpi Zafran akan pergi jauh. Dia bersama 2 orang yang tidak Ais kenal. Kata Zafran itu adalah orangtuanya yang telah lama menunggunya. Saat Ais minta ikut, Zafran melarang keras," tanya Aisyah dan langsung bercerita tentang alam sadarnya.


Mereka semua yang dengar pertanyaan dan cerita Aisyah pun terkejut. Mereka bingung harus menjelaskan bagaimana. Sarah menahan air matanya agar tidak jatuh. Bagaimana bisa putrinya bertemu dengan Zafran saat putrinya ini sedang tidak sadarkan diri?


" Kau jangan memikirkan itu dulu ya. Kau harus istirahat yang cukup. Ingat, kondisimu belum pulih benar. Nanti jika sudah lebih baik, Papa akan ceritakan itu padamu hm," ucap Shah penuh pengertian.


Aisyah hanya mengangguk mendengar ucapan Papanya. Ia tersenyum saat Bundanya selalu melakukan usapan kasih sayang padanya.


.


.


.


~"-*-"~


Heyooo. Zafran metong nih.

__ADS_1


Thank you💞


@dinda_mahardhika21


__ADS_2