
HAPPY READING :)
.
.
.
Sarah naik ke unit apartemen Zafran mengunakan lift. Sepanjang jalan Sarah terlihat tersenyum dengan perasaan yang bahagia. Dia tidak habis pikir bisa mengatakan itu kepada pria nya. Dia sangat senang lantaran sebentar lagi akan berjumpa dengan putrinya setelah 20'5 tahun. Bagaimana wajah putrinya sekarang? Apakah dia akan percaya kalau dirinya ini adalah Ibu kandungnya? Entah lah, yang terpenting pria nya sudah mau bertanggung jawab atas apa yang terjadi ini.
Sarah tidak sadar tiba-tiba sudah ada di depan unit apartemennya. Dia menekan kunci pin agar pintu terbuka. Setelah pin berhasil dia membuka pintu dan masuk ke dalam unit apartemennya. Dia lupa kalau belum masak, padahal ini sudah hampir sore. Dia langsung bergegas menuju kamar guna bersih-bersih dan dengan cepat Sarah langsung ke dapur untuk masak.
Saat Sarah sedang berkutat dengan masakannya, tiba-tiba Zafran keluar dari kamarnya. Sarah ataupun Zafran tidak tahu kalau salah satu dari mereka sudah pulang. Zafran yang ingin mengambil minum pun langsung lega saat melihat Sarah sudah pulang. Pasalnya sudah lama sekali Bundanya keluar. Zafran pikir tadi Bundanya kesasar. Sarah tersenyum melihat Zafran keluar dari kamar.
" Kau sudah pulang Nak? Maaf ya Bunda baru bisa masak." ucap Sarah.
" Iya sudah. Gak apa-apa, memangnya Bunda habis darimana? Zafran kira Bunda keluar lalu tersesat." tanya Zafran.
Sarah tersenyum dengan ucapan Zafran. Dirinya senang lantaran putranya ini sudah memanggil dirinya dengan namanya sendiri bukan aku.
" Bunda habis ke taman yang ada pusat itu."
" Ngapain disana? Memangnya ada apa? Dan kenapa Bunda tahu tempat itu? Kan Zafran tidak pernah memberitahu tempat itu ke Bunda." heran Zafran.
" Sebelumnya Bunda sudah pernah kesana dulu. Saat sewaktu muda dulu Bunda pernah diajak ke taman itu sama teman Bunda. Dan tadi tiba-tiba ke ingat jadi kepengin deh pergi kesana." jelas Sarah.
" Hm, baiklah. Zafran mau ke kamar lagi ya Bun. Banyak tugas yang masih harus Zafran selesaikan."
" Baiklah. Nanti kalau ini sudah matang, Bunda akan panggil kamu."
Zafran hanya mengangguk dan langsung berlalu dari dapur. Sarah tersenyum melihat kepergian Zafran. Betapa beruntungnya dia bisa merawat Zafran sampai sekarang. Zafran yang tumbuh menjadi pria yang pintar dan cerdas, dengan postur tubuh yang tegap gagah, tinggi, dan berkharisma serta cool.
" Bunda harap nantinya kau akan menjadi pria dewasa yang dermawan Nak. Menjadi seperti Ayah mu yang selalu bekerja keras dan selalu rendah hati. Pasti Ayah Ibu mu disana sangat bangga melihat kamu sekarang Nak." lirih Sarah sembari tersenyum.
Sarah akui memang Ayah Zafran adalah orang yang selalu bekerja keras dan sangat lah rendah hati. Tapi sangat disayangkan saat dirinya kehilangan istri tercintanya yaitu ibu Zafran, dia berubah menjadi pria yang sangat acuh terhadap apapun dan selalu minum-minuman jika stres. Walaupun sudah menikahi Sarah dia tetap saja tidak berubah sampai malam tragis itu harus ia alami karena kesalahannya sendiri itu.
__ADS_1
Sarah melanjutkan masaknya. Dia akan masak makanan kesukaan Zafran yaitu Ayam saos tiram yang yummy. Entah dirinya itu sangat heran kepada putranya. Katanya putranya itu selalu bosan dengan ayam, tapi kalau sudah di masak saos tiram putranya itu sangat suka bahkan bisa sampai habis banyak dan lupa kalau dirinya bosan dengan ayam.
Setelah lama memasak, akhirnya Masakannya matang. Sarah menyiapkan masakannya di meja makan. Setelah semuanya rapi Sarah pergi untuk memanggil Zafran. Mereka sudah ada di meja makan. Mereka makan bersama. Zafran heran kenapa Bundanya itu dari tadi senyum-senyum gak jelas.
" Bunda kenapa dari tadi tersenyum begitu?" tanya Zafran karena penasaran abis.
" Eh, gak. Tidak ada apa-apa. Sudah lanjutkan makan mu saja." jawab Sarah.
" Baiklah." ucap Zafran dan kembali melanjutkan makannya.
Semuanya sudah selesai makan. Waktu nya sekarang bersantai sembari menunggu magrib datang. Sarah sedang berada di depan tv. Dirinya menonton tv tapi seperti tidak sedang menonton. Dia terlihat sedang berfikir dan sesekali mengukir senyum di bibirnya itu. Zafran yang baru saja keluar kamar dan melihat Bundanya seperti itu membuatnya semakin penasaran kepada Bundanya itu. Semenjak pulang dari taman Bundanya selalu tersenyum gak jelas.
" Bun, Bunda." panggil Zafran.
" Eh, iya ada apa?" tanya Sarah kaget.
" Bunda kenapa sih? Aneh banget ish. Itu kenapa tv nya di cuekin dengan Bunda yang melamun begitu." ucap Zafran.
" Hehehe, tidak ada apa-apa. Bunda lihat kok acara tv nya. Lihat nih, Bunda sedang menonton."
" Hmmm, baiklah Bunda akan cerita. Tadi sewaktu di taman Bunda bertemu seseorang."
" Siapa?" tanya Zafran.
" Orang yang selama ini Bunda cari."
Zafran langsung diam mendengar ucapan Sarah.
"Siapa orang yang dimaksud Bunda? Apakah Bundanya sudah tahu yang sebenarnya? Ah tidak mungkin. Kalau Bunda sudah tahu pasti dia akan terkejut." ucap Zafran dalam hati.
" Hei? Nak. Zafrannn." Panggil Sarah.
" Eh iya Bun." kaget Zafran.
" Kenapa tiba-tiba kau melamun seperti itu?" tanya sarah.
__ADS_1
" Ah tidak ada, lupakan. Memangnya siapa orang itu?"
" Ayah dari Zaara."
Deg!
Zafran kaget dan langsung diam seribu bahasa. Apakah yang Bundanya maksud itu Om Shah?
" Kenapa kau melamun lagi?"
" Mmm, tidak Bun."
" Bunda sangat senang bertemu dengannya. Sangat dipastikan setelah ini Bunda akan bertemu dengan Zaara. Kau tahu Nak? Ternyata dugaan Bunda salah menilai dirinya. Bunda selalu berfikir kalau dia senang dengan dunia nya setelah meninggalkan Bunda. Ternyata itu salah besar. Sebenarnya dia sangat tersiksa atas hidupnya sekarang. Dia bercerita tentang hidupnya setelah menikahi istrinya yang sekarang. Hidupnya penuh dengan ancaman istrinya. Mereka selalu bertengkar cuma karena hal-hal kecil atau perbedaan pendapat. Sangat kasihan dirinya itu. Bunda merasa kalau Zaara pasti ikut tertekan atas hubungan Papa dan Mama nya itu. Malang sekali putri Bunda itu." singkat cerita Sarah.
Zafran hanya diam mendengar cerita dari Bundanya itu. Dia sekarang paham atas tindakan Aisyah kepada Papa Mama nya selama ini. Ternyata ini alasannya. Kasihan sekali Aisyah nya ini.
" Kau tahu Nak? Ais pernah cerita kepada Bunda kalau dirinya selalu tertekan saat berada dirumahnya sendiri. Melihat pertengkaran kedua orangtuanya dan selalu tidak diperhatikan karena orangtuanya selalu sibuk dengan pekerjaannya. Bunda jadi berfikiran apakah Zaara seperti itu? Sedih Bunda kalau memang benar Zaara sama seperti Aisyah." lanjut Sarah.
Zafran merasa sesak mendengarkan ini dari Sarah. Dia tidak bisa membayangkan jika Bundanya tahu jika Aisyah adalah Zaara putrinya sendiri. Selama ini Bundanya sudah sangat dekat dengan Zaara. Apa jadinya kalau Bundanya ini tahu yang Sebenarnya.
" Maafkan Zafran Bun. Zafran tidak bisa bercerita yang sebenarnya kepada Bunda. Biarkan Bunda tahu dengan apa yang nanti akan Om Shah lakukan. Biarkan waktu yang akan menjawab ini semua." ucap Zafran dalam hati.
.
.
.
~"-*-"~
Like gaes like, wkwkwkwk.
Thank you💞
@dinda_mahardhika21
__ADS_1