
Ingat! Ini masih dalam chap Flashback!
.
.
.
Happy Reading :)
.
.
.
Pagi hari Aisyah bersiap mempacking semua barangnya. Dia sudah memutuskan untuk pergi dari rumah ini. Sebenarnya dia ingin berbicara baik-baik terlebih dulu dengan Mamanya. Tapi setelah kemarin dia mendengar pernyataan jika Mamanya menjelekan Bundanya, ia menjadi sungkan untuk bicara. Kebetulan tadi setelah subuh dia telah menelfon Zafran untuk menjemputnya, jadi Zafran akan datang sebentar lagi.
Tok tok tok. Suara ketokan pintu kamar Aisyah dari luar.
" Ais, ini Mama Nak. Mama ingin bicara sama kamu," ucap Dilara dari balik pintu.
Aisyah merasa malas untuk permintaan Mamanya ini. Dia dengan cepat menyelesaikan packing nya. Setelah selesai Aisyah bangkit dan menuju pintu dengan menyeret koper besar yang berisi barang-barangnya. Dilara terkejut saat Aisyah membukakan pintu. Karena ya Aisyah membawa koper yang cukup besar.
" Kau mau kemana?" Tanya Dilara.
" Papa pasti sudah bicarakan sama Mama? Jadi tidak usah tanya lagi," jawab Aisyah dingin dan langsung berjalan melewati Dilara.
Dengan cepat Dilara langsung menarik tangan Aisyah dari belakang guna untuk menghentikan langkah Aisyah.
" Tunggu. Kamu tidak boleh pergi dari sini!" Tegas Dilara.
Aisyah langsung melepaskan genggaman tangan Dilara dengan cukup kasar.
" Jangan pernah hentikan langkahku. Aku berhak memilih untuk dimana dan bersama siapa aku akan tinggal," ucap Aisyah dan langsung berlalu dari hadapan Dilara dengan langkah lumayan cepat.
Dilara berlari mengejar Aisyah. Dia tidak mau jika sampai Aisyah pergi darinya.
" Ais, Ais tunggu. Kau tidak boleh pergi," teriak Dilara sembari masih berlari mengejar Aisyah yang sudah ada di depan pintu rumah.
Shah yang mendengar teriakan itu pun langsung menghampiri suara. Disana juga sudah ada Zafran yang menunggu Aisyah. Aisyah menghampiri Zafran dan menyuruh Zafran untuk memasukan kopernya ke bagasi mobil. Shah hanya diam melihat itu, karena dia sudah berjanji untuk membebaskan Aisyah dengan pilihannya sendiri.
" Ais dengarkan kata Mama. Kamu tidak boleh pergi," ucap Dilara dengan tegang.
" Kenapa kau melarang ku? Aku akan tetap pergi. Sudah lah jangan hentikan aku untuk pergi. Jangan sampai aku berkata diluar batas," Aisyah menolak ucapan Dilara dan langsung melangkahkan kakinya menjauh dari Dilara.
" Kau tidak bisa pergi. Kau masih bergantung pada Papa mu!" Tegas Dilara menghentikan langkah Aisyah.
Aisyah langsung berhenti dan langsung membalikan badannya lagi menghadap Dilara.
__ADS_1
" Bergantung? Apa maksud mu?" Tanya Aisyah.
" Ya kau masih bergantung pada Papa mu. Mungkin aku memang tidak berhak atas dirimu tapi Shah, Papa mu itu masih berhak atas dirimu. Siapa yang akan menjadi wali disaat kamu menikah nanti hah?" ucap Dilara.
Aisyah hanya tersenyum kecut.
" Dengarkan aku. Kau ataupun Papa tidak berhak atas diriku! Aku bukanlah anak sah dari pernikahan. Aku adalah anak diluar pernikahan. Dan ya mungkin itu namanya aku anak haram? Bukan kah begitu tuan Shah? Hm anak haram! Mengatakan itu saja membuatku sakit saat ini, tapi itu kenyataannya. Jadi apa yang kau bilang tadi itu salah Nyonya Dilara. Ya benar aku adalah darah daging dari suami mu itu. Tapi dia tidak berhak atas diriku. Aku perjelas sekarang bahwa aku tidak mempunyai wali disini! Sudah paham?" Jelas Aisyah dengan tegas.
Shah langsung merasa sakit saat Aisyah mengatakan itu semua. Itu semua memang benar dan sekarang dia sangat menyesal beribu kali.
Dilara melotot mendengar penjelasan Aisyah. Berani sekali anak ini. Tapi memang benar apa yang dikatakan Aisyah ini.
Zafran yang melihat itu semua hanya diam. Dia merasa tidak pantas untuk mencampuri urusan mereka, jadi dia lebih memilih diam.
Bi Sum yang dari tadi mendengar keributan di depan rumah pun langsung berlari menuju kebisingan. Bi Sum sangat terkejut mendapati kebenaran yang tidak diketahuinya selama ia sudah sangat lama bekerja di keluarga Shah ini. Ia sangat sedih mendengar ucapan semua yang dikatakan Aisyah. Bi Sum tidak menyaka bahwa Nona nya ini bisa sangat berani kali ini.
" Tapi kau telah dibesarkan bersama kami. Kau tidak boleh pergi begitu saja. Aku ini Mama kamu. Mama sudah menganggap kamu anak Mama sendiri. Mama sayang kepadamu Nak. Mama tidak membiarkan kau pergi."
" Ya memang aku dibesarkan bersama kalian. Tapi apa kau merawat dan selalu memperhatikanku sebagai anak? Selama ini kau tidak pernah memperhatikanku sekalipun. Sekarang saat aku mau pergi kau berkomentar seolah kau adalah seorang ibu yang baik. Lihat (menunjuk kearah Bi Sum) dia yang telah merawat ku sedari kecil. Dia yang selalu memperhatikanku .Dia bukan ibu ku tapi dia layak mendapatkan gelar ibu terbaik. Selama ini kau hanya memikirkan pekerjaanmu yang penting itu. Jika kau benar sayang kepadaku, kau tidak akan menelantarkanku dengan merasakan kesepian seperti tidak mempunyai ibu. Maaf aku berkata kasar kepada Mama. Tapi sekarang ini aku benar-benar sangat kecewa kepadamu. Aku sangat berterima kasih kepada kalian telah membesarkan ku. Tapi itu bukan keinginanku untuk kalian besarkan. Itu adalah keinginan kalian untuk memilih merebutku dari Ibuku sendiri dan membesarkan ku. Kau mencintai Papa ku kan? Silahkan kau ambil saja dia. Tapi ingat, jangan lagi memisahkan aku dari ibu kandung ku sendiri!" ucap Aisyah panjang lebar.
Aisyah langsung meninggalkan mereka semua masuk kedalam mobil Zafran. Zafran menatap Shah dan langsung ditatap balik oleh Shah sembari menganggu kan kepalanya. Zafran tersenyum dan langsung menyusul Aisyah masuk ke dalam mobil. Zafran menyalakan mesin mobil.
" Tu tunggu Ais. Mama masih ingin bicara padamu," teriak Dilara.
Shah langsung menghentikan Dilara yang akan mengejar mobil Zafran yang telah pergi dari jalan rumah.
" Sudah! Biarkan Ais pergi bersama Ibunya. Sudah cukup kita sakiti dan pisahkan mereka. Biarkan mereka bersama!" Tegas Shah.
" Kau ini Ayahnya! Kenapa kau tidak bisa menghentikan dia Hah!?" Ucap Dilara penuh emosi.
" Bagaimana aku harus hentikan dia? Kau dengan sendiri kan apa yang diucapnya tadi? Aku memang Ayahnya, tapi aku tidak berhak atas dirinya. Apa kau paham dengan itu?" Sahut Shah dengan emosi juga.
" Pokoknya aku tidak akan membiarkan ini. Ingat aku tidak akan membiarkan hidup Sarah bahagia!" Kata Dilara dan langsung masuk kedalam rumah meninggalkan Shah.
" Akhhhhhhhhhh," Teriak Shah frustasi.
*****
Zafran dan Aisyah sudah sampai di depan pintu unit apartemen Zafran. Aisyah langsung memencet bel. Tanpa waktu lama pintu terbuka dengan menampilkan Sarah dari balik pintu.
Aisyah langsung memeluk Sarah sbari menangis. Hatinya sangat tenang saat sudah berada didekapan Bundanya. Zafran hanya tersenyum melihat itu.
" Seeth, cup cup. Sekarang masuk dulu ya," ucap Sarah sambil mengelus punggung putrinya.
Mereka semua masuk kedalam Apartemen. Sarah menuntun Aisyah untuk duduk di sofa. Saat sudah mereka duduk, Aisyah kembali lagi mendekap Bundanya. Sarah hanya tersenyum merasakan pelukan hangat dari putrinya ini.
Tak terasa sore pun tiba. Sarah sedang menyiapkan makan malam di dapur. Ia tersenyum saat putrinya menghampirinya dengan mengatakan ingin membatu. Zafran turun dari tangga mencari keberadaan Aisyah. Dari kemarin Zafran belum bicara serius dengan Aisyah perihal ini semua. Zafran ingin Aisyah tahu bahwa ia mencintainya. Mungkin sudah saatnya ia membicarakan ini. Tapi ia takut jika Aisyah menolaknya karena sekarang dirinya ini adalah Kakak angkat, ya kakak angkat karena kan tidak ada hubungan sarah sama sekali. Ya memang tidak ada hubungan darah, tapi kan sekarang Bunda mereka sama.
" Za aku ingin bicara sesuatu padamu, boleh?" Ucap Zafran setelah sampai di dapur.
__ADS_1
" Hm, ada apa? Kau terlihat serus seperti itu." Aisyah memincingkan matanya.
" Ini masalah skripsi doang," bohong Zafran.
" Baiklah. Bunda Ais tinggal dulu ya. Putra Bunda sangat rese suka mengganggu," ucap Aisyah berbisik pada Sarah.
Sarah hanya mengangguk dan terkikik mendengar ucapan Aisyah. Zafran putranya ini memang sangat suka mengganggu sedari dulu.
Zafran yang melihat kikikan dari Bundanya pun penasaran. Memangnya apa yang dibisikan Aisyah pada Bundanya itu, sampai-sampai Bunda terkikik seperti itu. Tapi ya sudah, mungkin Aisyah membisikan bahwa ia sangat tampan, hihihi.
" Mau bicara apa?" Tanya Aisyah saat sudah sampai di sofa ruang tv.
" Sebenarnya aku tidak ingin membicarakan tentang skripsi," jawab Zafran.
" Lalu?"
" Tentang hubungan kita dan semua ini," ucap Zafran to the point.
Aisyah pun diam sejenak dan berfikir.
" Iya ya. Sekarang hubungan kami apa? Adik Kakak? Aku sebenarnya ingin jujur bahwa aku sangat menyukai mu Zafran. Tapi ini semua? Kau adalah anak Bunda. Walau bukan kandung tetapi kan Bunda merawat dan mengasuhmu sejak kecil. Masa iya kita akan menjalin hubungan, kan aneh," ucap Aisyah dalam hati.
" Hoyyy, malah melamun," kata Zafran menyadari Aisyah.
" Eh iya. Kau ini kebiasaan, suka sekali mengageti orang, huh," omel Aisyah.
" Ya salah sendiri. Di ajak ngobrol malah diam."
" Ya kita adik kakak kan sekarang?" Ucap Aisyah sedikit berat hati.
Zafran sudah menduga bahwa gadisnya ini akan berucap seperti itu.
" Hmmm, iya. Sekarang kita adik kakak. Aku jadi Abang kau sekarang." Sungguh Zafran berat sekali harus berkata seperti. Sejatinya memang pria ini sangat mencintai Aisyah.
Aisyah hanya tersenyum tipis dan mengangguk. Dia jadi merasa canggung dengan ini semua. Aisyah berharap Zafran mengucapkan rasa yang sama seperti dia. Tapi Zafran malah membenarkan ucapannya tadi.
" Ya sudah sekarang kau kembali ke dapur. Aku akan melanjutkan tugas akhirku," kata Zafran langsung meninggalkan Aisyah.
Aisyah hanya menurut pada perkataan Zafran. Ia langsung kembali ke dapur untuk membantu Bundanya lagi.
.
.
.
~"-*-"~
Intinya mau bilang Flashbacknya belum kelar sampai disini!
__ADS_1
Thank you💞
@dinda_mahardhika21