Suara Langit

Suara Langit
Mendapat Tekanan


__ADS_3

Malam harinya Hilman tinggal berdua bersama Andreas sang Manajer Departemen Teknologi dan Informasi, sedangkan 4 orang rekan 1 timnya sudah pulang karena waktu jam kerja mereka sudah dimulai sejak pagi hari dan berbeda dengan Hilman yang memulai jam kerjanya saat siang hari.


Hilman juga mendapatkan jatah makan malam dan waktu jam kerjanya akan selesai pada pukul 20:00, sebelum pulang dia mendapat pesan SMS dari Susan yang mengatakan kalau malam ini dia ditunggu ayah Susan dirumahnya karena ada sesuatu yang ingin dibicarakan oleh ayah Susan kepadanya. Hilman berpikir bahwa dia akan mendapat banyak pertanyaan dari ayah Susan tentang hubungan asmaranya dengan sang putri tunggalnya itu, Himan merasa yakin dengan kondisinya yang saat ini telah mulai bekerja dia akan mendapatkan restu dari Ayah maupun Ibu dari Susan.


Segera dia menyelesaikan semua lembaran kontrol dari semua perangkat sistim komputerisasi operasional perusahaan serta membuat laporan singkat tentang tugasnya perdananya dihari ini, setelah itu dia pamit kepada atasannya Andreas yang masih juga berada didalam ruangannya.


Hilman segera memacu sepeda motor Kingnya menuju kawasan perumahan elit dimana kediaman sang kekasih berada, dengan masih mengenakan pakaian kantor dia memasuki halaman rumah mewah terebut. Setelah memarkirkan sepeda motornya dia kemudian berjalan menuju pintu masuk rumah dan terlihat sosok sang kekasih sudah menantinya didepan pintu,


"Selamat malam sayang...!, aduh..., lesu banget tampang loe Beb...!, kenapa banyak kerjaan ya?"


"Malam sayang, iya, hari pertama banyak yang harus gue pelajari dan langsung bekerja, bagaimana bokap loe udah nunggu gue?"


"Iya, tapi dia masih didalam, loe masuk aja dulu dan duduk diruang tamu, ntar gue beritahu bokap kalo elo sudah datang!"


"Oke..., tapi ntar loe ikut nemenin gue ya?, kalo enggak bisa-bisa gue pingsan diserang habis-habisan dengan pertanyaan sama bokap loe!"


"Iyalah...!, masa tega gue tinggalin loe sendirian, nanti juga ada nyokap yang bantuin kok, tenang aja, pasti semua beres sayang...!, ayo masuk!"


Hilman diajak masuk oleh Susan dan duduk di ruangan tamu, kemudian Susan berjalan masuk kedalam rumah untuk memberitahu kedatangan kekasihnya itu kepada kedua orang tuannya selanjutnya dia pergi ke dapur untuk membuatkan minuman untuk Hilman.


Beberapa saat kemudian Hendrik Segara ayah Susan bersama Juliana Wang ibu Susan terlihat datang menuju keruangan tamu untuk menemui Hilman, Hendrik Segara adalah seorang pengusaha sukses yang masih ada keturunan darah biru dalam keluarganya sedangkan Juliana Wang adalah seorang warga keturunan Tionghoa yang keluarganya masuk dalam jajaran orang kaya dan berpengaruh.

__ADS_1


Sehingga tidak asing jika melihat keadaan keluarga ini yang berada didalam segala kenyamanan dan semua kemewahannya, di satu sisi juga ada sifat darah bangsawan yang mendominasi dan memaksakan kehendak pada diri Hendrik Segara juga sifat keangkuhan dan ingin menang sendiri yang menurun kepada diri seorang Juliana Wang. Tapi sifat-sifat keturunan tersebut tidak terlihat dalam kehidupan mereka sehari-hari dan hanya akan muncul jika sedang menghadapi situasi penting atau dalam keadaan terdesak, Hendrik dan Juliana tiba di ruangan tamu tersebut dan mengambil tempat duduk mereka yang berhadapan dengan posisi duduk Hilman dimana saat ini dia sudah duduk berdampingan dengan sang kekasih Susan.


"Selamat malam Om..., Tante...!" sapa Hilman saat kedua orang tua Susan itu tiba di ruangan tamu.


"Selamat malam nak Hilman!, duduklah...!"


"Terimakasih!"


"Hmm..., kamu barusan pulang kerja ya?, tuh..., masih kelihatan rapi!" kata Juliana ibu Susan.


"Benar tante..., saya bekerja mulai siang sampai jam 20:00 malam, sedangkan pagi harinya saya kuliah" kata Hilman menjelaskan.


"Hilman saya memang orang yang jenius Papa...!, dia itu IPnya 4 lho sampai semester VI ini!" kata Susan yang menyombongkan keberadaan sosok sang kekasih pilihan hatinya itu.


"Kamu memang sudah benar memilihnya untuk menjadi pasangan hidupmu kelak?, apakah tidak akan berubah lagi?, ingat dan pikirkan kembali Susan...!, jangan-jangan kalian jatuh cinta dan hanya mengalami masa-masa cinta monyet?" kata Hendrik.


"Papa ini gimana sih, gue kan sudah 19 tahun sedangkan Hilman sudah mau 21 tahun, mana ada di usia seperti itu masih ada masa cinta monyet?, kami berdua sudah dewasa Papa..., Mama...!, dan kami sudah berpikiran jauh ke depan dan bahkan sudah mempunyai rencana untuk kehidupan kami nanti!, betul nggak Beb..?" kata Susan menjelaskan.


"Maaf Om..., Tante...!, apa yang dikatakan Susan memang benar, walaupun kami berdua akan memulainya dari bawah!, karena saat kami berdua masih akan menyelesaikan kuliah kami, tapi kami saya dan Susan sudah berkomitmen untuk tetap bersama dan akan menikah setelah kami selesai kuliah nanti!" kata Hilman


"Hmm..., baiklah kalau begitu, kami sebagai orang tua akan menyetujui dan merestui kalian berdua dengan syarat bahwa kalian berdua harus mengikuti semua rencana dan keinginan Papa dan Mama!" kata Hendrik menegaskan.

__ADS_1


"Ya..., asalkan saja keinginan dan rencana Mama dan Papa itu untuk membantu gue dan Hilman?, kalau hanya untuk kepentingan Mama dan Papa saja, maaf...!, kami harus menolaknya!" kata Susan.


"Dengar dulu penjelasan Papamu San...!" kata Juliana menenangkan putrinya itu.


"Hmm..., Papa akan mewariskan semua harta kekayaan serta saham perusahaan kepadamu Susan...!, karena hanya kamulah satu-satunya keturunan kami, hanya saja jumlah harta kekayaan kita itu tidak seberapa jika dibandingkan dengan total nilai saham perusahaan yang sedang papa pimpin sekarang, karena walaupun Papa adalah pemimpin perusahaan tersebut tapi kepemilikannya terbagi oleh banyak anggota keluarga Wang dari pihak Mama kamu dalam bentuk saham!" kata Hendrik menjelaskan status kekayaan mereka.


"Nah, saat ini nenek diusianya yang sudah tua sedang mencari penerusnya yang akan mewarisi sebagian dari total nilai saham perusahaan keluarga Wang tersebut, karena nenekmu memegang 50% dari total saham sedangan sisanya terbagi kepada seluruh keluarga Wang termasuk Mama kamu yang memiliki sebesar 7%" kata Hendrik menambahkan.


"Nah..., kalian berdua hanya akan ikut tinggal bersama nenek di Negeri Formosa, dan menemaninya sampai akhir hayatnya!, kalau kalian setuju maka kapanpun kalian ingin menikah silahkan dan jangan pikirkan semua biayanya, Papa yang akan tanggung dan kalau perlu kalian menikah di tempat kediaman nenekmu agar membuat dia senang dan memilihmu sebagai pewarisnya!, bagaimana?" kata Hendrik.


"Maaf Om..., Tante..., hal ini harus kami berdua bicarakan lebih dalam dan juga harus diketahui oleh ibu dan adik perempuan saya!" kata Hilman.


"Bagus..., pikirkan dan pertimbangkan dengan baik karena ini akan menjadi masa depan kalian berdua, karena ingat Hilman!, saya tidak akan melepaskan putriku kepada seorang yang tidak akan mampu memberikan nafkah yang cukup walaupun dia sudah bekerja keras, modal wajah dan prestasi disekolah tidak cukup kalau kamu tidak memiliki banyak uang!" kata Hendrik menegaskan sambil tanpa sadar dia telah menunjukkan sifat darah birunya.


"Suamiku benar nak Hilman!, jadi cobalah kamu mengerti, kami sudah menyukaimu dan akan merestui kalian berdua kalau kamu menerima syarat dari Papa Susan!" kata Juliana menambahkan.


"Mama dan Papa bersabarlah..., kan tadi Hilman sudah bilang untuk minta waktu?, karena kami masih harus membicarakannya juga meminta pertimbangan dari Mami dan adik Hilman!" kata Susan.


"Ya sudah!, kami akan menunggu jawaban dari kalian berdua, dan kamu Susan...!, ingat akan konsekuensi jika tidak mau mengikuti perintah dariku, semua fasilitas yang Papa berikan akan Papa cabut kembali dan hanya akan menerima uang jajan harian, tidak lagi bulanan, dan kartu kredit akan papa bekukan!" kata Hendrik yang memperingatkan putrinya itu.


Hilman kembali kerumahnya setelah berpamitan dengan Susan dan berjanji akan saling memberi kabar via telepon setelah sampai di rumah, Susan juga memberitahu bahwa ponsel baru untuk Hilman sudah dibelinya dan sekarang berada pada Anitha demikian juga dengan beberapa barang lainnya yang dibelikan Susan baik untuk Hilman juga termasuk untuk Anitha dan Hana ibu Hilman.

__ADS_1


__ADS_2