
Kedua insan itu duduk berdampingan di Bungalow dengan Susan yang masih tetap menggenggam tangan Hilman tanpa ada keraguan, dan sesekali menyandarkan tubuhnya di lengan bahkan sampai ke dada Hilman. Disisi lain Hilman yang melihat tingkah Susan yang mulai terasa berlebihan segera mengendurkan genggamannya untuk menghindari agar perasaanya tetap biasa-biasa saja, karena akan betapa sakit hatinya jika dia terlanjur benar-benar jatuh cinta kepada sosok yang sedang bergelayut manja disampingnya itu.
Hilman masih menganggap bahwa semua perlakuan manja Susan itu adalah bagian dari sandiwara mereka untuk mengelabui kedua orang tua Susan yang akan segera menjodohkan putri mereka itu dengan Jhon saya sudah pernah datang dengan membawa kedua orangtuanya,
"San..., stop dong manjanya!, gue dah gemetaran nih, entar kesambet setan tau rasa loe!"
"Ssttt..., jangan keras-keras, disamping itu kamar bokap dan nyokap gue, tunjukin mesra-mesra dikit kenapa?, yang penting loe sama gue bisa mengendalikan perasaan masing-masing, oke?" kata Susan memastikan tapi berbeda 180 derajat dengan apa yang sedang bergejolak didalam hatinya.
"Busyet loe..., gua dah pas dingin nih, bagaimanapun juga gue itu laki-laki, kalau terus-terusan kena gesekan gunung kembar itu, gue bisa khilaf tau!"
"Ciihhh..., emang berasa?, ehh...!, jangan-jangan loe yang sudah ada hati sama gue, coba gue dengar isi hati loe" kata Susan kemudian menempelkan kepalanya di dada Hilman seperti ingin mendengar detak jantungnya.
"Issh..., nggak bisa dibilangin nih orang!"
"Ssttt..., dah dibilangin jangan berisik, diem aja kenapa?, kucium tau rasa loe!" kata Susan kemudian menempelkan jari telunjuk dibibir Hilman agar dia jangan berisik, dan tanpa disangkanya kedua tangan Hilman sudah melingkar di pinggangnya yang ramping dan menarik tubuhnya agar lebih mendekat dalam pelukan kekasih bonekanya itu.
"Sepertinya detak jantung loe yang lebih keras Beb...!, apa juga kata gue, ternyata loe sudah ada rasa ya?, hhmm..., terus terang aja kalau gue sih memang suka sama loe, hanya gue tau diri saja, orang miskin kek gue mana bisa bersanding dengan loe!" kata Hilman dengan jujur sambil memeluk Susan dengan erat di dadanya yang bidang.
"Kalo memang benar begitu. kenapa juga loe nggak nembak gue sekarang, biar semuanya jelas!, atau loe takut gue nolak?, dasar cowok nggak ada perasaan, loe kira gue dari tadi nggak sungguh-sungguh?, liat ni..., dah gemetaran kayak begini" kata Susan yang intens menatap wajah tampan didepannya dan ada butiran gelembung air yang menetes di pipinya dan juga sambil menunjukkan tangannya yang gemetar menahan gejolak perasaannya yang paling dalam.
"Gue cinta loe San..., loe mau kan jadi pacar sungguhan gue?" kata Hilman sambil menatap wajah Susan yang bersandar lengket di dadanya.
"Banget Man...!, mmppphhh..." hanya suara itu yang terdengar karena Susan telah melingkarkan tangannya dileher dan menarik kepala Hilman untuk mendekat ke wajahnya yang sudah sangat berharap.
__ADS_1
Dua sosok yang berada didalam Bungalow itu kini terlihat hanya ada 1 bayangan saja dan bulan yang sedang bersinar terang menjadi saksi pernyataan cinta dari kedua sosok tersebut, 10 menit kemudian terlihat Susan melepaskan tangannya karena mereka berdua hampir kehabisan oksigen didalam paru-paru mereka.
"Mmm..., terimakasih Beb...!, gue sayang sama loe dengan sungguh-sungguh bukan sandiwara lagi!" kata Susan yang terlihat sangat senang.
"Sama-sama Beb..., tapi loe kok tadi menangis?, kenapa?, apa karena mencintai gua yang miskin ini?"
"Apaan sih Beb?, tolong jangan bicarakan itu lagi ya?, gue nggak suka, karena cinta gue ke loe murni dari hati gue bukan karena materi, kekayaan bisa dicari kok Beb!, lagian gue meneteskan air mata karena bahagia karena ada cowok tampan dan perjaka seperti ini yang sangat sulit dicari dan mau jadi pacar gue!, ehh..., Beb..., bibir loe masih belepotan air liur gue!"
"Sama..., tuh ngaca liat bibir loe juga, dasar perawan ingusan, gayanya aja yang sok pengalaman, tapi ternyata nggak tau apa-apa tentang ciuman"
"Hehehe..., emang bener Beb...!, loe laki-laki pertama selain bokap gue yang pertama cium gue, bokap aja ciumnya di kening, tapi elo langsung disini, ehh..., awas tu bibir loe ya jangan diumbar ke yang lain, itu hanya milik gue dan ini juga hanya untuk loe seorang"
"Iya..., iya...!, loe pikir gue cowok sembarangan apa?, jangan ngasal loe ya"
"Beb..., tadi sore loe belanjanya kok dikit banget, ponsel loe dah diganti belum?"
"Ehh..., loe tahu dari mana?, apa tadi sore loe buntuttin gue ke Mall?"
"Ya enggak lah, kan setiap transaksi yang terjadi dari kartu itu, gue dapet notifikasinya, ya sudah biar hp baru buat loe gue yang beliin, biar kita bisa video chatting kalo lagi berjauhan, oke?"
"Serah loe aja dah, gue ngikutin aja, asal aja jangan berlebihan, kan nggak enak dilihat orang lain jika tiba-tiba gue jadi bisa beli apa aja, nanti mungkin kalo gue udah dapat pekerjaan nggak apa-apa, tapi sekarang kan belum?, nih kartu ATM loe, gue balikin"
"Pegang aja dulu, siapa tahu nanti loe ada kebutuhan mendesak!, untuk gue masih bisa pake kartu kredit nanti!"
__ADS_1
"Ehh..., tapi gue lihat isi didalam kartu ini banyak lho!, takut gue memegangnya terlalu lama"
"Ya simpan dengan bener dong, dan pinnya dihafal jangan pernah ditulis atau disimpan di memory hp, jadi kalau hilang uang didalamnya tetap aman, dan loe tahu nggak kalau semua uang itu adalah sisa uang jajan yang diberikan bokap buat gue setiap bulan dan kemudian gue tabung secara rutin setiap bulannya"
"Wuiihh..., ini baru namanya calon istri sejati, yang mengerti tentang bagaimana susahnya mencari uang untuk hidup!, hehehe..."
"Weekkk..., belum juga jadi istri, masih jauh Beb..., segeralah kamu cari pekerjaan karena itu adalah salah satu tiket loe agar cepat mendapat persetujuan dari bokap, kalo nyokap bisa gue atur, hanya bokaplah yang agak keras, tapi loe harus yakin ke gue karena kita berdua yang akan menjalaninya buka bokap atau nyokap gue, oke?"
"Hmm..., Chuupphh..., bukan cuman gue, elo juga, jadi kita berdua harus sama-sama yakin, karena kalo nyokap dan adik gue pasti akan nurut apa kata gue?" kata Hilman sambil memberikan kecupan di kening Susan.
"Ehh..., iya..., kapan-kapan gue ke rumah loe ya...?, pengen kenalan sama nyokap dan adik perempuan loe, mereka nggak galak khan?"
"Ya enggak lah!, loe liat aja gua, apa gue galak seperti yang loe kira?"
"Ya..., tampan kok dan macho lagi?, uuhh..." kata Susan kemudian mencubit pelan pinggang sang kekasih.
"Aduh..., jangan keras-keras Beb..., belum apa-apa sudah mulai ada KDRT, sakit tahu!"
"Ya elah..., lebay amat...!, Beb..., besok pagi loe jemput gue ya!, kita ke kampus bareng, biar semua orang kampus tahu kalo elo itu sah milik gua sekarang dan selamanya!, biar cewek-cewek nggak ada lagi niatan deket sama elo, karena terus terang gue banyak mendengar bisikan bahwa tidak sedikit cewek yang naksir loe di kampus"
"Waahh..., ternyata keren juga gue ya kalo di kampus, tapi bagaimana dengan si Jhon?, pasti dia akan marah besar!"
"Hmm..., kalo cuman dengan teman-temannya di kampus dia nggak bakalan berani menyentuh loe!, badan aja gedean loe dari dia plus 3 orang temannya itu"
__ADS_1
Malam jadian mereka berdua dilewati sampai tengah malam, dan karena kedua orang tua Susan sudah tidur maka Hilman kembali pulang dan hanya pamit kepada Susan dengan meninggalkan tanda cinta dileher sang kekasih dan demikian juga sebaliknya.