
Didalam kamar yang dahulunya adalah bekas kamar VIP sebuah Hotel Melati, Hilman melihat suasana dan interiornya tidak berbeda jauh dengan kamar-kamar Deluxe sebuah Hotel kelas bintang 5. Dia melihat tunangannya sedang berbaring diatas ranjang dan sedang berselancar dengan smartphonenya,
"Kata Ratna loe mau istirahat?, ini malah sibuk dengan smartphone!"
"Nungguin loe tahu...! nih catatan yang loe minta dari Ratna, katanya penting...!, tapi kok seperti daftar inventarisasi asrama?"
"Bukan...!, ini daftar kebutuhan di panti asuhan yang dahulu menjadi tempat tinggal dari para anggota Pengelana Budiman?, dan rencananya gue mau memberikan bantuan secara rutin atas nama perusahaan"
"Ohh..., baguslah kalau loe mau jadi donatur!, emang loe menang banyak ya dari trading saham!"
"Lumayan..., tapi untuk saham perusahaan keluarga Wang sepertinya sulit?, sudah 3 hari ini belum ada lagi yang mau menjual sahamnya!, apa mungkin keluarga loe itu tahu kalau saham mereka sedang gue buru?"
"Beb...?, itu sudah menjadi prinsip pasar, dimana-mana kalau ada banyak yang membutuhkan pasti barangnya disimpan dulu?, dan pemiliknya akan menjualnya ketika harganya tambah mahal!"
"Tapi gue sudah minta Katrine untuk membeli dengan harga 2 kali lipat dari harga pasaran?, dan masih sama saja, belum ada yang menjual saham-saham itu!, gimana bokap loe sudah ada kepastian kapan kembalinya?
"Iya!, nanti malam gue harus menemani Mama menjemput Papa di airport, terus gimana rencana loe?, apa sudah siap menghadapi bokap?"
"Hmm..., oke kalo gitu!, nanti malam biar gue yang anter loe sama nyokap ke airport sambil ikut juga menjemput!, kita lihat nanti situasinya gimana!"
"Udah!, jangan sungkan lagi, tunjukkin semua yang loe punya kepada Papa saat dia tiba nanti, biar kita cepat mendapat restu!, khan juga Mama sudah melihat dan mengetahui semuanya?"
__ADS_1
"Iya deh, tapi lebih bagus kalau Papa mengetahuinya dari Mama lebih dahulu, dan selanjutnya baru gue yang akan memastikan kebenarannya, sebab kalo tidak nanti gue dianggap sok pamer?"
"Hehehe...,tunangan gue memang otaknya encer!, cuupphh..., itu hadiah kecil untuk kecerdikan mu!"
Segera saja Hilman menanggapi tantangan yang sudah diberikan oleh tunangannya itu dengan langsung menerkamnya, Susan yang sudah menanti saat-saat seperti itu sejak malam sebelumnya segera menyambut perlakuan hangat dan penuh manja dari Hilman. Keduanya beberapa kali berpacu menuju puncak k3n1km4t4n tanpa merasa terganggu seperti saat melakukannya di rumah, dan permainan mereka berakhir ketika sang surya mulai terbenam di ufuk barat pertanda hari sudah menjelang malam.
Setelah membersihkan diri mereka berdua segera bersiap untuk kembali ke rumah Susan, dimana rencananya Hilman akan mengantar Susan dan Mamanya ke airport untuk menjemput Hendrik Segara yang kembali dari Taiwan.
"Uhh..., enaknya kalo kek gini!, tenang, nyaman dan nggak perlu takut ketahuan, makanya Beb..., kita sudah harus segera mendapat restu dan kemudian merencanakan kapan menikah nanti?" kata Susan dengan manjanya.
"Sabarlah Beb...!, ini juga kan kita lagi berusaha?, hanya saja kita harus mendapatkan dukungan penuh dari Mama!" kata Hilman sambil menggandeng tangan tunangannya itu menuju ketempat parkir dari gedung Hill San miliknya itu.
"Iya deh, nanti gue ngomong ke Mama biar dia mendesak Papa untuk segera merestui hubungan kita!"
Dalam perjalanan menuju ke airport itu Susan mulai mencurahkan isi hatinya kepada Mamanya agar segera mendesak Papanya untuk memberikan restu kepada dia dan Hilman,
"Ma...!, nanti kalo terlalu lama tidak ada sinyal persetujuan Papa tentang hubunganku dengan Hilman bagaimana?, apakah Mama dan Papa tega melihat nanti putrinya ini menderita karena cinta?, kan Mama sudah mengetahui sendiri bagaimana Hilman dan keluarganya saat ini, nah...!, ceritakan hal itu agar meyakinkan Papa tentang keadaan Hilman!" kata Susan yang mencoba mendesak Mamanya.
"Iya!, kalian sabarlah sedikit, kita lihat dulu suasana hati Papa saat dia tiba nanti, tugas kalia berdua hanyalah menyapanya dengan senyum yang tulus, jangan perlihatkan sikap anti atau marah kepadanya setelah sebelumnya kamu diusir oleh papamu itu!" kata Juliana mengingatkan putrinya dan tunangannya itu.
"Oke Ma...!, dan sebenarnya gue sama Hilman nggak marah kok dengan tindakan Papa saat itu, kami berdua menganggapnya Papa hanya emosi sesaat saja!, dan kami tetap menghormati keputusan Papa dan Mama!" kata Susan dengan tulus.
__ADS_1
"Benar Ma!, saya juga mengerti dan merasa bersalah telah menolak keinginan Papa dan Mama waktu itu, hanya saja waktu itu memang niat saya untuk mempersunting Susan adalah tulus karena kami berdua sudah merasa cocok untuk hidup bersama, bukan karena hal lain!" kata Hilman menambahkan.
"Iya, Mama sudah mengetahuinya setelah beberapa hari hidup bersama keluargamu nak Hilman!, dan Mama juga merasa bahwa Papa kalian sangat egois jika meminta kalian berdua tinggal di Taiwan dan meninggalkan Mamimu dan Anitha sendirian disini!, hahh..., sudahlah!, adakalanya harta memang membutakan hati seseorang!" kata Juliana yang juga ikut menyesal dengan jalan pikirannya dan suaminya saat memberikan syarat kepada Hilman dan Susan yang harus ikut tinggal di Taiwan menemani nenek mereka hanya untuk masalah perolehan harta warisan yang lebih banyak.
Mereka masih menunggu satu jam lebih di bandara sampai pesawat yang membawa Hendrik Segara dari Taiwan mendarat di landasan, dan dengan perasaan berdebar-debar Hilman menanti saat kembali akan bertatapan muka dengan calon ayah mertuanya itu setelah sebelumnya ada kejadian yang mereka tidak harapkan.
"Ohh..., kalian juga ikut menjemput saya?, hmm..., bagus dan terimakasih sudah menyempatkan waktu!" kata Hendrik saat keluar dari ruangan kedatangan penumpang di bandara.
"Selamat datang kembali Papa!, bagaimana keadaan nenek di sana?, semoga beliau sehat-sehat saja!" kata Susan menyambut kepulangan Papanya dengan ramah.
"Selamat datang Om!, semoga bisnis Om di sana sukses" kata Hilman yang juga ikut menyapa Hendrik dengan senyum yang tulus.
"Ahh..., terimakasih, nenek kalian sehat-sehat saja di sana, walaupun ada kalanya membuatku merasa jengkel dengan sikap dan keputusannya, tapi lupakan semua itu, dan untuk bisnis di sana sudah saya lepaskan semua, kita akan memulainya di sini dengan hal yang baru, karena saya tidak akan berharap lagi dari perusahaan keluarga Wang!, karena saham milik keluarga kita sudah saya jual semuanya!, ahh..., nanti saja kita bicarakan di rumah, saya sudah lelah sekarang, ayo kita pulang!" kata Hendrik Segara yang segera mengajak mereka untuk kembali pulang ke rumah.
Karena sudah waktunya makan malam maka sebelum menuju kekediaman keluarga Hendrik Segara dan Juliana Wang, mereka diajak Hilman dan Susan untuk singgah kesebuah restoran untuk makan malam. Hilman membawa keluarga tersebut kesebuah restoran elit yang berada didalam kawasan Boulevard, dan hal itu membuat Hendrik maupun Juliana terkejut karena tidak menyangka dengan tindakan Hilman tersebut.
"Ehh..., nak Hilman?, apa kamu yakin membawa kami ketempat ini?" tanya Hendrik yang masih tidak yakin dengan apa yang dilakukan Hilman.
"Hehehe..., Papa kenapa bertanya seperti itu?, kami sudah hampir setiap hari makan di restoran ini!, dan supaya papa tahu!, Hilman sudah memiliki perusahaan sendiri dan rumahnya juga sudah pindah didalam kawasan Boulevard ini?, tuh...!, rumah keluarga Hilman berada di bukit itu, kalau Papa mau nanti kita mampir sambil menyapa calon besan kita!" kata Juliana kepada suaminya.
"Hahh...?, kenapa dari dulu kamu tidak cerita ke Papamu ini kalau kamu sudah mandiri dan punya perusahaan?, mmm..., kalian berdua itu menyimpan rahasia ya?, didepan Papa!" kata Hendrik yang mulai sadar dengan sikapnya yang egois dan tidak menganggap sosok seorang Hillman.
__ADS_1
"Sudah!, bicaranya nanti saja, ayo kita masuk!, aku sudah lapar nih!" kata Juliana yang kemudian mengajak mereka untuk masuk kedalam restoran.