Suara Langit

Suara Langit
Hadiah dari Nui


__ADS_3

Seluruh kain perban sudah dibuka Haris dan memberikan jaketnya agar dikenakan Hilman untuk sementara waktu, kemudian Haris segera melakukan panggilan telepon lewat ponsel pintarnya untuk memberitahu Rico tentang keadaan Hilman saat ini.


"Loe sudah dimana Ric...?"


"Baru mau masuk kompleks perumahan rumah Hilman!"


"Hilman nggak jadi mati!, nih..., dia hidup lagi hanya saja dia sekarang lagi telanjang bulat nggak pake baju sampe dalemannya hangus terbakar, terus sampaikan kepada keluarganya bahwa Hilman baik-baik saja hanya pingsan kerena ledakan mobil tangki yang kecelakaan itu, terus loe minta pakaian ganti untuknya dan langsung bawa kesini!"


"Ehh..., jangan bicara sembarangan loe Ris...!, tadi kita berdua lihat sendiri dia sudah jadi mayat!, terus gimana kejadiannya Hilman bisa hidup lagi?"


"Sudah ntar aja bicaranya, lakukan saja yang kukatakan tadi, ntar dia mati beneran karena kedinginan disini!, ehh..., kalau boleh pinjem mobil Susan keknya Hilman masih pusing, beresiko kalau dibonceng pakai sepeda motor!"


"Ahh..., bingung gua!, ya sudah nanti loe sendiri yang bicara sama Susan, gua bentar lagi nyampe nih!"


"Hmm..., ya sudah buruan!"


"Gimana mereka sudah nyampe di rumahku?" tanya Hilman yang sedang duduk di atas brankar dengan hanya mengenakan jacket kulit milik Haris.


"Sudah masuk kompleks katanya, kita tunggu saja, nanti Rico yang menghubungi kita disini!, nah ini dia!"


"Ya halo, Ric...!, gimana" kata Haris yang mendapat panggilan telepon dari nomor Rico.


"Gue Susan Ris...!, hiks..., hiks..., gimana keadaan pacar gue?, apa masih bisa dikenali?" tanya Susan yang terdengar sesenggukan.


"Ehh..., siapa yang ngasih tahu loe San...?" tanya Haris yang merasa bahwa Susan telah mengetahui keadaan Hilman saat masih belum sadar.


"Itu salah seorang cewek anggotamu yang bernama Ratna!, dia menunjukkan chat WA Group kalian tadi, disini kami sudah siap-siap mau kesana semuanya untuk melihat jasad Hilman, hiks..., hiks...!" kata Susan yang masih menangis.


"Jasad apaan?, ini orangnya masih hidup hanya saja nggak pake baju sehelai pun, tadi dia itu hanya mati suri selama 3 menit terus dibilang sudah mati beneran, nih bicara kalo nggak percaya!" kaa Haris kemudian menyerahkan Hpnya kepada Hilman.


"Beb...!, bawain gue pakaian sama daleman!, gue kedinginan disini, semua pakaianku termasuk Hp yang baru loe belikan juga dompet semua hangus terbakar!, cepet kesini!, dan bawa mobil ya?, gue masih sedikit pusing mungkin kejedut aspal tadi waktu tabrakan!"


"Beb..., beneran loe masih hidup?, hiks..., hiks...!, Mami..., Hilman mash hidup ini...!" terdengar suara Susan yang langsung memberitahukan apa yang didengarnya kepada Hana.


"Man...!, ini Mami nak...!" suara Hana yang terdengar habis menangis.


"Mi..., Himan baik-baik saja kok!, tadi itu cuma pingsan, hanya saja semua pakaian sudah hangus terbakar, Mami tunggu saja di rumah, sebentar lagi Hilman pulang setelah mengurus administrasi di Rumah Sakit ini!, Mami dan Nitha tenang saja ya...?" kata Hilman sambil menenangkan Hana.


"Benar Man...?, kamu tidak apa-apa?, jangan bikin Mami, adikmu dan Susan kuatir!, disini satu kompleks sudah heboh kamu meninggal karena kecelakaan!"


"Aku memang kecelakaan Mi..., itu sepeda motornya ringsek, dan aku tidak sadarkan diri tadi waktu dibawa ke rumah sakit, tapi sekarang aku sudah sadar dan hanya ada luka lecet sedikit, sudah ya Mi..., bilangin Susan jangan lupa pakaian buat gue sama dalemannya juga bawa ke rumah sakit sekarang!"


"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja Man...!, iya..., nanti Mami sampaikan kepada Susan dan sepertinya mereka sedang siap-siap untuk pergi kesana!, dan cepat pulang Mami tunggu!"


[🔉Ting..., Tuan telah berbuat kebaikan dengan menenangkan perasaan dan hati seseorang, Tuan mendapatkan hadiah 100.000 PP, 50.000 ($) dan 5 PS]

__ADS_1


[🔉Ting..., Selamat Tuan telah naik level 2 dan Tuan mendapatkan hadiah 500.000 PP, 1.000.000 ($), 20 PS dan 1 Kotak Misterius Perak]


[🔉Ting..., System : Automatic Status]


[Status Host]


Nama : Hilman Gerhana


Umur : 20 Tahun, 6 Bulan, 18 Hari


Level : 2/99 (Manusia Biasa)


Point Pengalaman : 500.000/2.500.000


Point Skill : 25


Kekayaan : -950.000($)


Kondisi : Sehat (100â„…)


Nui System Versi : 01/10


[Status]-[Performance]-[Skill & Teknik]-[Upgrade]-[Toko]-[Inventory]-[Misi]-[Bantuan]


[🔉Ting..., Tuan telah memuji Nui System dengan tulus dan Tuan mendapatkan hadiah 1.000.000 PP dan 2.500.000($)


[🔉Ting..., System : Automatic Status]


[Status Host]


Nama : Hilman Gerhana


Umur : 20 Tahun, 6 Bulan, 18 Hari


Level : 2/99 (Manusia Biasa)


Point Pengalaman : 1.500.000/2.500.000


Point Skill : 25


Kekayaan : 1.550.000($)


Kondisi : Sehat (100â„…)


Nui System Versi : 01/10

__ADS_1


[Status]-[Performance]-[Skill & Teknik]-[Upgrade]-[Toko]-[Inventory]-[Misi]-[Bantuan]


"Wah, mantap Nui...!, kamu memang yang terbaik!, terimakasih"


[🔉Ting..., Sama-sama Tuan dan System hanya akan memberikan hadiah pujian kepada Host setahun sekali]


"Ohh begitu?, saya kira akan dapat lagi kalau sering memujimu Nui?"


[🔉Ting..., kalau itu namanya pemerasan secara tidak langsung Tuan, dan akibatnya tidak baik, karena akan membuat Host menjadi malas dan bergantung sepenuhnya kepada System]


"Baiklah Nui, aku akan bekerja keras untuk berbuat kebaikan!" kata Hilman yang masih berharap mendapatkan lagi hadiah dari Nui.


Gelap malam mulai berganti terang, dari ufuk timur mulai terlihat warna langit biru dengan cahaya sinar matahari yang masih malu untuk menunjukkan wajahnya, waktu menunjukkan pukul 05:10 dini hari ketika Susan bersama Rico dan 2 orang anggota pemotor Pengelana Budiman tiba di Rumah Sakit Swasta tempat Ray dirawat sebelumnya. Kali ini para Satpam yang berjaga didepan pintu gerbang masuk sudah tidak lagi menghalangi mereka dan membiarkan Susan dan Rico masuk dan langsung menuju kearah kamar mayat berada, sementara itu dihalaman parkir Rumah Sakit puluhan anggota pemotor Pengelana Budiman terlihat sedang menunggu dengan menunjukkan berbagai raut wajah gelisah, cemas dan kuatir karena mereka belum mendapatkan kejelasan yang pasti tentang status Hilman saat ini.


"Rico!, kenapa kita menuju kearah kamar mayat?, apa jangan-jangan Hilman berada di sana?" tanya Susan yang bingung karena Rico menuntunnya kearah kamar mayat.


"Benar San...!, jadi memang Hilman yang sudah dianggap mati, sudah berada dikamar mayat saat kami menemukannya, dan bahkan sebelum gua pergi menuju kerumahnya, gua masih melihat dengan mata kepala sendiri jika tubuh Hilman sudah ditutupi kain putih dan sama sekali tidak bergerak!" kata Rico menjelaskan situasi saat dia dan Haris menemukan jasad Hilman yang terbaring kaku di dalam kamar mayat.


"Kalian tidak sedang membohongi gue khan?, awas...!, jangan macam-macam kalian dengan status nyawa pacar gue ya!, kualat ntar kalian!" kata Susan.


"Beneran San...!, khan loe sendiri sudah bicara langsung dengan Hilman?, masa nggak yakin sih"


"Yang mana ruangannya Ric...!"


"Tuh..., yang itu!", kata Rico sambil menunjukkan sebuah ruangan yang daun pintunya terbuka dan ada cahaya lampu didalamnya.


Susan yang diikuti Rico memasuki kamar mayat tersebut dan melihat sang kekasih sedang duduk di atas brankar dan sedang bercakap-cakap dengan Haris yang duduk selonjoran di atas lantai,


"Hei Beb...!, mana pakaianku?, sudah dari tadi gue kedinginan" kata Hilman yang langsung meloncat turun menyambut kedatangan kekasihnya.


"Hikss..., Hilman...!, beneran loe nggak apa-apa Beb?, mana lukanya?, uhhh..., kok baunya menyengat banget sih Beb...!" kata Susan.


"Ya elah Beb...!, gue itu cuman pingsan aja tadi, dan ini bau salep luka bakar, kayaknya tadi dioles sama dokter ke seluruh badan gue, karena dikira hangus terbakar padahal yang hangus cuman baju dan celana gue doang!, dan lukanya ya cuman luka gores ini..., dan ini...!" kata Hilman sambil menunjukkan luka goresan di lengan kanan dan disikut sebelah kiri.


"Ya sudah!, sekarang gimana?, siapa yang akan mengurus penyelesaian administrasinya?" tanya Haris.


"Loe aja sama Rico dech Ris...!, ini..., kalo ada biayanya gesekkan aja kartu punya gue itu!" kata Susan kemudian menyerahkan kartu kredit miliknya.


"Sebaiknya loe sama Haris aja yang ngurus San...!, biar gue yang temani Hilman, apalagi ini kamar mayat apa loe nggak ngeri gitu?, terus untuk kartu kredit hanya loe sendiri yang tau nomor pin nya, udah sana cepet diurus biar kita cepat pulang, sudah pagi nih, mana laper lagi!" kata Rico.


"Bener Beb..., ayo sana!, gue juga dah laper banget nih!" kata Hilman menambahkan.


"Iya... iya...!, cowok-cowok bawel, ayo Ris!, kita urus!"


Akhirnya Susan mengikuti keinginan Rico dan Hilman dan pergi bersama haris mengurus penyelesaian administrasi di loket pembayaran Rumah Sakit Umum tersebut, dalam perjalanan menuju ke loket pembayaran Haris menyempatkan diri untuk mengirim pesan chat WA ke group Pengelana Budiman untuk memberitahu keadaan Hilman yang sebenarnya.

__ADS_1


__ADS_2