Suara Langit

Suara Langit
Mendapat Panggilan


__ADS_3

Materi kedua telah selesai dan selanjutnya Hilman tinggal menunggu Susan selesai dengan kuliahnya, sementara itu Haris telah kembali pulang tidak bisa menemani Hilman karena ada sesuatu urusan. Untuk beberapa hari kedepannya dan kemungkinan sampai seminggu Hilman tidak akan kuatir mendapat gangguan di Kampus, karena dia yakin Jhon bersama anggota gengnya itu sedang mendapatkan perawatan intensif akibat perkelahian mereka sebelumnya.


Sambil menunggu Susan Hilman mendengar bunyi suara nada Polyphonic dari ponselnya, segera dia mengambil ponsel tersebut dari dalam saku celananya dan melihat nama pemanggil yang bertuliskan Yanto Kuncoro.


"Selama siang pak Yanto!"


"Selamat siang Hilman!, bapak hanya ingin memberitahu bahwa, kalau kamu sudah siap maka mulai sore ini kamu sudah bisa datang kekantor perusahaan untuk mulai bekerja!, berpakaian rapi saja, yaitu kemeja dan celana panjang non jeans!, bagaimana apakah kamu siap nak Hilman?"


"Saya siap pak...!, dan saya sangat berterimakasih bapak mau membantu saya, saya janji akan bekerja dengan baik!"


"Bagus!, nanti kamu temui kepala bagian administrasi personalia, karena berkas lamaranmu kemarin sudah berada ditangannya, dan di sana kamu akan menandatangani kontrak kerja!, jadi begitu saja ya..., nak Hilman!, saya akan menunggu kedatanganmu dan selamat bergabung dengan perusahaan ini!" kata Yanto Kuncoro kemudian memutuskan panggilan telepon tersebut.


Hilman bersorak kegirangan dengan panggilan telepon barusan, akhirnya dia mendapatkan keinginan yang selama ini dia pendam untuk menunjukkan dirinya kepada sang ibu dan adik perempuannya bahwa dia mampu dan sanggup menjadi kepala keluarga menggantikan sang ayah yang telah tiada.


"Beb...!" terdengar suara Susan dari arah belakangnya.


"Hei, loe udah selesai Beb...?"


"Udah, yok kita balik...!, tapi kita ke rumah loe dulu ya?, kan loe udah janji mau ngajak gue ketemuan sama ibu dan adik perempuan loe!, mau ya sayang...!"


"Hmm..., gimana ya...?"


"Ayo dong Beb...!, loe mau ingkar janji ya...?"


"Oke dech..., tapi kita ke sekolahan adik gue dulu jemput dia, terus ke rumah loe untuk ngambil sepeda motor gue, dan nanti dari sana loe jalan bareng adik gue, sementara gue sendiri naik sepeda motor dan sama-sama kita ke rumah, karena setelah makan siang gue sudah harus harus masuk bekerja karena barusan gue dapat telepon bahwa gue sudah keterima bekerja dan sudah bisa masuk mulai sore hari ini!"


"Wuiihh..., beneran?, selamat ya Beb..., Chuupphh...!, mmm..., itu hadiah buat loe karena sudah dapet 1 tiket untuk lolos dihadapan bokap, hehehe..., ayo cabut...!"


Pasangan kekasih itu kemudian menuju halaman parkir dimana mobil sedan berwarna putih milik Susan terparkir, kemudian mereka pergi ke sekolah Anitha untuk menjemputnya sebagaimana kebiasaan Hilman jika waktu selesai kuliahnya bersamaan dengan waktu pulang sekolah Anitha.


"Nitha...!" panggil Hilman yang melihat adiknya itu sedang berdiri didepan pintu gerbang sekolah bersama beberapa rang temannya.

__ADS_1


"Ehh..., kak Hilman...!, itu mobil siapa?, motor kakak dimana?" tanya sang adik yang bingung melihat sang kakak datang menjemputnya dengan mengendarai sebuah mobil sedan.


"Sudah naik dulu!, ntar kakak jelaskan, ayo...!" kata Hilman sambil menyuruh adiknya masuk kedalam mobil dan duduk di bagian belakang.


"Hai Anitha...!, kenalkan gue Susan pacar kakak loe Hilman!" kata Susan yang menyapa adik kekasihnya itu sesaat setelah berada didalam mobil.


"Ehh..., i..., iya kak Susan..." kata Anitha sambil mengulurkan tangannya untuk menyambut tangan Susan yang sudah lebih dulu menjulur kearahnya untuk berjabatan tangan.


"Beb...!, loe nyetir sendiri didepan ya...?, gue mau duduk dibelakang bareng Nitha!" kata Susan kemudian berpindah tempat dari kursi samping kemudi ke kursi belakang dan duduk bersama Anitha.


Mereka kemudian bergerak menuju kompleks kediaman elit tempat kediaman rumah Susan, dan selanjutnya setelah mengambil motornya Hilman langsung bergegas untuk kembali kerumahnya yang disusul oleh sebuah mobil sedan berwarna putih dari belakangnya dimana ada Anitha yang sekarang duduk didepan menemani Susan yang sementara mengendarai mobilnya.


Banyak percakapan yang terjadi didalam mobil antara Susan dan Anitha, sehingga membuat mereka berdua menjadi cepat akrab. Jiwa anak tunggal dalam diri Susan membuat dirinya cepat dekat seseorang yang usianya lebih muda darinya, demikian juga dengan Anitha yang sudah terbiasa bergaul dengan banyak teman sehingga dengan cepat menerima keberadaan Susan sebagai kekasih sang kakak.


Hilman lebih dulu tiba di rumah dan langsung memarkirkan sepeda motornya disamping warung ibunya, kemudian disusul beberapa menit selanjutnya oleh sebuah mobil sedan berwarna putih yang membawa Anitha dan Susan.


Susan langsung ditarik oleh Anitha untuk masuk kedalam rumah dan bertemu dengan ibunya,


"Mami...!, ini pacar kak Hilman, cantik kan Mi...? namanya kak Susan!" kata Anitha bersemangat memperkenalkan Susan didepan ibunya.


"Ayo duduklah nak Susan!, ahh..., beginilah suasana rumah kami, Nit...!, buatkan minum untuk Susan, Hilman kemana?, apakah kalian tidak sama-sama pulangnya?"


"Kami bareng pulang kok bu...!, tapi dia pake sepeda motornya sedangkan Anitha naik mobil saya, mungkin dia masih didepan!" kata Susan yang sesekali mengedarkan pandangannya melihat suasana dan kesederhanaan kediaman keluarga sang kekasih.


"Sebentar Mi..., saya lagi dikamar sedang bersiap, bentar lagi selesai!"


"Oh iya bu...!, kata Hilman sore ini dia sudah harus masuk kerja karena dia sudah mendapat panggilan hari ini!" kata Susan menjelaskan karena melihat mungkin Hilman sedang bersiap di kamarnya.


"Hmm..., baguslah kalau dia sudah diterima bekerja, asalkan saja kuliahnya tidak berantakan, dan kamu juga Nak Susan harus tambah memberi semangat kepada Hilman supaya dia menyelesaikan kuliahnya, karena itu sudah menjadi impian ayahnya semasa hidup!"


"Iya bu..., saya juga ingin agar Hilman bisa menyelesaikan kuliahnya dan juga berharap dia mau melanjutkan ketingkat S2, karena Hilman orang terpandai di Kampus kami bu...?"

__ADS_1


"Hmm..., apakah karena itu sampai membuatmu tertarik dengan anak saya?"


"Salah satunya bu..., juga karena Hilman baik tidak urakan kek kebanyakan anak-anak di kampus, selain itu memang dia tampan kok bu...!"


"Hehehe..., kamu juga cantik nak...!, sudah berapa lama kalian berhubungan?"


"Sebenarnya kami sudah akrab sejak pertama mulai kuliah, dan sejak itu aku sudah tertarik dengan sikap dan pembawaan sosok Hilman, hanya saja dia yang mungkin tidak tertarik denganku, jadi kami berdua resmi jadian baru semalam setelah aku mengajaknya datang ke rumah!"


"Ya..., tapi apakah dengan melihat keadaan kami sekarang?, kamu masih mau lanjut berhubungan dengan Hilman?"


"Bu..., saya mohon restunya, dan akan berusaha untuk tetap bersama Hilman, terus terang walaupun baru resmi jadian tapi saya sudah jatuh hati kepadanya dan pengakuan Hilman kepadaku juga sama demikian, hanya saja mungkin akan ada hambatan dari Papa dan Mamaku, tapi saya mohon jangan ada penolakan dari ibu terhadap saya!"


"Apa kamu seyakin itu terhadap ibu?"


"Hmm..., iya 100% saya yakin ibu mau menerima saya, karena ibu kan seorang perempuan sama seperti saya!"


"Kamu ini nak...!, ya sudah nanti kamu makan siang sama-sama kita disini, dan nikmati apa adanya ya?"


"Iya Bu..., saya akan mulai belajar apa adanya di rumah ini!"


"Mami lagi ngomong apaan sama Susan?, kok terlihat serius amat?, jangan-jangan lagi ngomongin kejelekan saya ya?" kata Hilman yang tiba-tiba keluar dari kamarnya dengan pakaiannya yang sudah rapi seperti pekerja kantoran.


"Iihh, apaan sih Beb...?, gue sama ibu lagi ngomongin masa depan gue, betulkan bu?" kata Susan.


"Ahh..., dia itu selalu begitu nak Susan..., selalu mau usil dengan urusan ibu apalagi dengan adiknya!, Man...!, apakah kamu sudah siap? kalau sudah ayo kita makan sekarang, biar kamu nggak telat dihari pertamamu bekerja" kata Hana yang mulai terbiasa dengan adanya Susan.


"Sudah Mi...!, Beb..., nanti kamu pulang sendiri ya?, karena gue mau langsung ke kantor perusahaan"


"Nggak masalah Beb..., tapi gue masih mau jalan sama Anitha setelah selesai makan, ada perlu itu...!, yang kita bicarakan tadi waktu mau ke kampus?"


"Oh itu...!, oke..., tapi masih ingat kan pesan gue?"

__ADS_1


"Iya..., inget!"


Mereka kemudian makan siang bersama di rumah Hilman, hanya dalam waku singkat Susan sudah bisa diterima di rumah itu dan banyak perbincangan yang terjadi selama makan siang. Kepolosan Anitha juga menjadikan dia tambah akrab dengan Susan demikian sebaliknya Susan sangat senang mendapat seorang teman seperti Anitha, diluar rumah beberapa tetangga mulai bergosip dengan kedatangan sebuah mobil sedan mewah yang menurut mereka tidak pernah terjadi sejak keluarga Hilman tinggal dikompleks perumahan sederhana tersebut.


__ADS_2