
"Eheemm...!"
"Ehh, Papa..., Mama...!, membuat kaget saja!" kata Susan yang terkejut kemudian melepaskan rangkulannya dari pinggang Hilman.
"Selamat malam Om..., Tante...!" sapa Hilman sambil berdiri.
"Duduklah kembali nak Hilman!" kata Hendrik.
"Kok cuman disuruh duduk aja Pa...?, diajak makan malam bareng kek gitu?, kalo nggak diajak ya, gue pergi makan malam diluar saja bareng Hilman!" kata Susan.
"Bukan begitu San?, ada yang ingin Papa dan Mama obrolin dulu sama Hilman, baru setelah itu kita makan malam bersama" kata Juliana Wang.
"Hmm..., bagaimana keputusanmu nak Hilman?, Om dan Tante sudah mendapat pertanyaan dari Taiwan, dan kami sudah harus memberikan jawaban dalam waktu dekat, karena kalau tidak?, nenek Susan akan mencari kandidat lain yang dapat memberikan kepastian!" kata Hendrik yang diiyakan oleh istrinya Juliana Wang.
"Maaf Om...,Tante...!, untuk dalam waktu dekat ini saya belum bisa memutuskannya!, karena pertama saya masih harus menyelesaikan kuliahku yang tinggal 1 tahun lagi, kedua saya baru saja diangkat menjadi karyawan tetap di perusahaan BUMN Technologi dan Informasi dan menandatangani ikatan kontrak kerja selama 5 tahun, ketiga kediaman baru keluarga kami masih dalam tahap pembangunan dan saya masih harus menyelesaikannya!, itu adalah alasan-alasan mengapa saya tidak bisa meninggalkan Kota ini untuk sementara waktu Om..., Tante...!" kata Hilman menjelaskan keputusannya.
"Hahh..., kalau tidak mengingat harus segera memberi kabar kepada mertua perempuan saya di Taiwan itu, mungkin saya dan istri saya masih berada di Kalimantan karena masih ada beberapa urusan di sana yang belum selesai!, tapi hanya karena untuk mendengar keputusan kamu maka kami harus segera balik, tapi kenyataannya lain!, kamu memutuskan untuk menolak tawaran kami!, ya sudahlah kalau begitu...!, kami tidak akan melarang hubungan kalian!, tapi dengan syarat kamu harus menunjukkan bahwa kamu mampu menjamin kehidupan putri kami satu-satunya ini, dan kami akan memberikan restu apabila kamu sudah bisa menunjukkan kepada saya dan istri saya apa yang bisa kamu berikan kepada Susan!" kata Hendrik menegaskan.
__ADS_1
"Ihh Papa...!, kan tadi Hilman sudah bilang, rumahnya sedang dibangun, dan coba lihat keluar itu mobil baru Hilman!, karena begini-begini Hilman sudah menabung untuk masa depan kami, dan kalau Papa dan mama mau tahu?, rumah hilman yang bakalan menjadi rumah kami itu berada di lokasi Boulevard, tempatnya kalah jauh dengan kompleks perumahan elit ini, huhh...!" kata Susan sambil bersungut-sungut.
"Dengan hanya sebagai seorang karyawan biasa mana bisa memperoleh semuanya itu San?, jangan-jangan kamu hanya dibohongi oleh pacarmu ini!" kata Hendrik yang masih menyangsikan kata-kata Susan tentang keberadaan Himan saat ini.
"Sabar Pa...!, coba kita dengar dulu perkataan mereka berdua, perkara Mamaku di Taiwan memang penting, tapi masih lebih penting putri kita satu-satunya ini!, bagaimana nak Hilman?, coba jelaskan kepada Om dan Tante, apakah semuanya itu benar?" kata Juliana untuk memastikan.
"Maaf Om..., Tante...!, memang selama ini saya masih kuliah, tapi saya juga bekerja keras diwaktu luang saya sebagai pekerja paruh waktu dan ada sedikit melakukan trading di internet, dan saya mendapat penghasilan yang lumayan dari sana, dan semua hasilnya saya tabung untuk masa depan serta mulai sedikit-sedikit menyicil rumah dan mobil, saat ini rumah sedang dibangun karena saya sudah melunasi 60% dari total harganya, demikian juga dengan mobil yang sudah bisa saya tarik dan gunakan, jadi dengan semua itu saya merasa yakin dapat menjamin kehidupan Susan dan keluarga kami dimasa depan!" kata Hilman menjelaskan keadaannya saat ini.
"Saya tidak perduli dengan semua simpanan dan kegiatanmu itu yang tidak terlihat oleh mata kami!, tunjukkan dengan jelas baru kalian berdua kami restui, untuk mobil, bisa saja kan kamu sewa?, dan hanya karena untuk mendapat restu sehingga kamu bawa kesini untuk dipamerkan!" kata Hendrik yang masih berkeras karena kecewa merasa tidak berhasil mendapatkan warisan yang besar dari mertuanya di Taiwan.
Sementara itu selama alam perbincangan mereka, Nui dari awal sudah mulai memberikan arahan kepada Hilman agar memberikan informasi kepada Susan tentang mobil dan sebuah perumahan mewah yang sedang dibangun disebuah kompleks perumahan super elit karena lokasinya hanya bisa dihuni oleh kalangan selebritis papan atas dan para konglomerat di Kota mereka. Demikian juga dengan pekerjaan Hilman serta tabungannya yang selama ini sudah dia kumpulkan sambil Nui membaca isi hati dan pikiran Hendrik, dan Hilman merasa senang karena sedikit demi sedikit strategi dan rencananya bersama Nui mulai terlihat berhasil karena mendapat tanggapan yang serius dari kedua orang tua Susan.
"Beb?, jangan ahh..., masa sama papa dan mama harus sampe segitunya?" kata Hilman sambi menunjukkan wajah permohonannya kepada sang kekasih.
"Nggak sayang...!, kalau nggak gitu, sampe kapanpun mereka nggak akan mempercayaimu, mana dompetmu kesini kan biar gue yang tunjukkin!" kata Susan kemudian meraih dompet Hilman yang berada disaku belakangnya.
Trreekkk...
__ADS_1
Sebuah kantong kecil yang terbuat dari kain beludru berwarna biru terjatuh di atas meja, dan Susan mengeluarkan sebuah STNK mobil MPV yang dibawa oleh Hilman ketika datang ke rumah Susan kemudian menunjukkannya kepada Hendrik dan Juliana.
"Nih...!, kalau nggak percaya lihat saja STNK mobil Hilman" kata Susan kepada papa dan mamanya sambil menyodorkan STNK mobil tersebut kepada Juliana dan mengambil kembali kantong kecil yang terjatuh di atas meja dan memasukkannya kembali kedalam dompet Hilman.
"Benda apaan itu nak Hilman?, apa kamu membawa jimat untuk mempengaruhi putri kami dan kami berdua sebagai orang tua Susan?" tanya Juliana yang melihat benda aneh yang jatuh dari dalam dompet Hilman saat sedang dipegang oleh Susan.
"Ohh..., maaf Om..., Tante...!, itu sama sekali bukan jimat, benda yang berada didalamnya adalah warisan dari ayah saya berupa 3 butir batu perhiasan dan karena saya tidak mengerti dan juga tidak begitu suka dengan perhiasan jadi rencana saya batu-batu perhiasan itu akan saya berikan kepada Susan saja!" kata Hilman kemudian memberikan kantong kecil tersebut kepada Susan.
"Wah Beb ini mutiara...!, Ma..., coba lihat ini!, mutiara apa namanya?" kata Susan sambil menunjukkan 3 butir mutiara yang sudah berada ditangannya kepada Mamanya.
"Ehh..., dari mana kamu mendapatkan mutiara-mutiara ini?, aduh i..., ini...?, Black Pearl dan Akoya Pearl dan ada juga South Sea Pearl, aahhh..., Papa...!, itu Black Pearl sama persis dengan yang mama incer waktu di Kalimantan, dan ini South Sea Pearl salah satu yang melegenda!, ya dewa...!, San..., apa ini sudah menjadi milikmu?" kata Juliana yang sangat senang melihat mutiara-mutiara indah ditangannya dengan mata berbinar-binar.
"Ma..., itu punya Hilman bukan punya gue, entah kalau dia mau memberikannya buat gue, tapi bagaimana itu bisa terjadi kalau kami nggak direstui?, mending dijual aja buat modal, ya nggak Beb...?" kata Susan sambi meminta kembali mutiara-mutiara tersebut.
"Bentar San...!, Mama madih ingin memandang mereka lebih lama, ahh..., cantiknya!, nanti jual saja ke Mama ya!, Mama beli dengan harga mahal semuanya, emm..., 2 Milyar!, gimana?" kata Juliana yang langsung mematok harga yang fantastis terhadap 3 butir mutiara tersebut.
"Hahh...!, semahal itu Ma...?" teriak Susan yang kaget dengan jumlah yang disebutkan oleh mamanya.
__ADS_1
"Ini namanya Mutiara Laut Selatan, dan ini Mutiara Hitam sedangkan yang ini namanya Mutiara Akoya, ketiganya termasuk kategori mutiara langka apalagi Mutiara Hitam dan Mutiara Laut Selatan ini hanya bisa ada setiap 5 sampai 7 tahun sekali dan kerang yang menghasilkan kedua mutiara ini hanya hidup di laut yang sangat dalam, hal itu yang membuat keduanya mahal harganya dan sangat sulit untuk didapatkan" kata Juliana menjelaskan yang banyak mengetahui tentang mutiara karena dia adalah seorang kolektor mutiara.
[🔉Ting..., Informasi yang butuhkan sudah Nui dapatkan, apakan Tuan ingin mendengarnya sekarang?]