
Kondisi kesehatan dan tenaga Susan sudah sepenuhnya kembali seperti sedia kala setelah mendapat asupan makanan yang dibuat oleh Hana, keceriaannya juga sudah terlihat sehingga membuat Hana dan Hilman tersenyum senang.
"San...?, kalau kamu masih merasa lemah, sebaiknya istirahat saja dulu, dan kalau kamar tidurnya terasa panas ya dibuka lebar saja jendelanya, nanti minta Hilman pasangkan AC didalam kamarnya biar adem!" kata Hana sambil memandang wajah calon mantunya itu dengan seksama.
"Sudah kok Mi...!, aku sudah sehat, tadi pagi itu aku keluar rumah dengan awalnya langsung naik taksi dan karena shock habis diusir Papa, aku nggak sempat mikir kalau duit dalam tasku cuman seadanya! , ehh..., aku langsung bingung saat melihat meteran taksinya sudah menunjukkan ratusan ribu, nah dari sana aku brenti dengan membayarkan hampir semua duit pemberian bibi pelayan di rumahku, sisanya aku belikan sebotol air mineral dan mulai berjalan kaki menuju kesini, terus perasaanku mulai senang dan menghilangkan rasa lelah yang amat sangat?, setelah aku melihat gapura masuk ke kompleks perumahan ini, ehh... tiba-tiba aku hanya bisa melihat bayangan Hilman dan selanjutnya hanya gelap!" kata Susan menceritakan kisah perjalanannya saat pergi dari rumah.
"Yah..., emang loe lupa?, sebelum loe pingsan itu!, loe masih sempat manggil-manggil gue dan minta digendong karena nggak kuat jalan lagi?" kata Hilman mengingatkan.
"Nggak...!, gue cuman samar melihat bayangan loe, kemudian yang gue lihat cuman ada gelap doang!" kata Susan menegaskan.
"Ya sudah!, yang penting sekarang loe sudah kembali seger, dan jangan sering bertengkar seperti itu lagi?, Mami lihat kalian berdua itu sama-sama keras kepala, nggak ada yang mau ngalah!, jadi Mami sarankan kalian berdua itu harus sering saling memahami keinginan masing-masing dan saling berkata pelan serta menyingkirkan ego dari diri kalian!, terutama kamu Man!, paling tidak kamulah yang seharusnya mengalah sedikit lebih banyak dari Susan, karena dia seorang perempuan?, dan sebaliknya kamu juga San...!, harus jeli melihat situasi dan kondisi emosi Hilman!" kata Hana yang mulai memberikan nasehat kepada pasangan kekasih itu.
"Terimakasih Mi...!, Susan senang kalau ditegur sama Mami seperti sekarang ini, Susan minta untuk setiap saat Mami mengkoreksi semua tindakan Susan baik didalam rumah juga saat berada diluar rumah, mau kan ya Mi...?" kata Susan dengan penuh harap.
"Ya sudah!, itu akan menjadi tugas Mami sekarang!, karena kamu akan mulai tinggal di rumah Mami sampai dengan saat kalian akan menikah nanti, karena tugas itu sudah akan berpindah tangan saat Hilman sudah menjadi suamimu kelak!" kata Hana sambil membelai kepala Susan dengan penuh perhatian.
"Susan senang, karena Mami mau menerima Susan walaupun dalam keadaan seperti sekarang ini, dan Susan akan berusaha untuk tidak akan mengecewakan Mami dan Anitha serta Hilman nantinya!"
"Habis dech gue sekarang!, sayang Mami akan beralih ke Susan dan gue akan dibiarin!, mending gue keluar cari angin dulu akh...!" kata Hilman yang kemudian bersiap untuk pergi.
"Idihh..., cowok kok ngiri sama perempuan!, week..., lebay..., anak manja!" kata Susan yang menggodai sang kekasih.
__ADS_1
"Biarin...!" kata Hilman.
"Ehh... kalian berdua ini nggak ada habis-habisnya?, ingat kalian sudah dewasa dan sewajarnya bersikap dewasa, tinggalkan sikap manja dan kekanak-kanakan seperti itu, itulah kalau sejak remaja kalian tidak pacaran!" kata Hana yang melihat tingkah pasangan kekasih itu yang masih sering seperti anak kecil.
"Itu Hilman Mi...!, aku selalu dicuekin terus sejak ketemu dengannya, padahal aku sudah menyukainya waktu itu!" kata Susan.
"Bohong Mi...!, dia tuh yang sok jual mahal dulu, setiap ketemu malah sembunyi, kemudian gue dikasihnya duit buat bersandiwara dan pura-pura pacaran didepan teman-teman kampus!" kata Hilman tak mau kalah.
"Selamat siang Mii..., Kak...!, ehh..., ada kakak Susan juga?, sudah masak belum Mi, aku laper!" kata Anitha yang tiba-tiba pulang dari sekolahannya.
"Ehh..., tumben kamu jam segini sudah pulang Nith?" tanya Hilman.
"Ya sudah, kalian pergi sana, Nitha...!, kamu tungguin warung selama Mami masak, dan kalian berdua istirahat saja dulu" kata Hana kepada anak-anaknya.
"Nith!, gue akan bantuin loe jagain warung ya?, Hilman mau keluar!, dia ada keperluan sebentar!" kata Susan.
"Oke, gue ganti baju dulu, loe juga kak, ganti dengan pakaian rumahan!" kata Anitha kepada Susan.
Hilman kemudian pamit kepada Maminya dan Susan untuk pergi bertemu Haris di kios baksonya yang berada di Taman Kota, dengan mengendarai mobil MPV Nissan Elgrand VIP miliknya dia melajukan kendaraannya di jalanan Kota menuju Taman Kota. Banyak rencana Hilman dalam waktu dekat ini terlebih setelah diusirnya Susan dari rumah oleh sang Papa, dan dengan mempertimbangkan semakin banyaknya suara kasak-kusuk di tetangga rumahnya maka Hilman memprioritaskan untuk membuat sebuah acara kecil pertunangan antara dirinya dengan Susan.
Beberapa saat kemudian mobil MPV milik Hilman memasuki parkiran Taman Kota yang persis berada disamping kios bakso milik Anton, Hilman melihat sudah ada sepuluh lebih sepeda motor tua terparkir di sana yang menandakan banyak anggota Pengelana Budiman yang sedang berada didalam kios bakso tersebut.
__ADS_1
"Apa kabar kalian semua!" sapa Hilman setibanya didalam kios.
"Hilman...!, busyet beneran sudah sehat loe?, apa mungkin kepala loe ada yang kejedut aspal sampe loe lupa hampir modar karena kecelakaan maut itu?" kata Anton yang melihat kedatangan Hilman.
"Iya!, kak Hilman mending istirahat saja dulu, dan kalau ada keperluan penting biar bisa menghubungi kami untuk membantu!" kata Ratna yang hadir bersama 5 orang anggota Pengelana Budiman wanita.
"Kalian tenang saja, dan beneran kalau gua tidak apa-apa dan hanya pingsan saja watu itu, buktinya gua masih bisa nyetir sendiri untuk datang kesini!, tapi ngomong-ngomong Ketua Haris dan Rico kemana?, gua ada keperluan sama kalian semuanya tapi harus melalui Ketua dulu agar supaya kompak!" kata Hilman.
"Mas Haris tadi sudah memberitahu di Group Chat WA akan langsung menuju kesini setelah materi kuliahnya selesai, sementara Kak Rico masih ada urusan lain dan bisa datang kesini sore nanti, sebaiknya Kak Hilman menunggu Mas Haris saja!" kata Ratna.
"Benar Man!, ato kalo loe buru-buru nggak apa-apa loe sampaikan saja ke kita-kita yang ada saat ini!, kan ada gue sama Ratna yang juga sebagai ketua koordinator kelompok!" kata Anton.
[🔉Ting..., Berbuatlah kebaikan dengan membantu teman sesama anggota Pengelana Budiman yang sedang dalam kesulitan]
"Hmm..., bener juga loe Ton!, ehh..., Ton..., tolong gue pengen liat buku catatan hutang milik semua anggota!, termasuk hutang gue ada berapa?" kata Hilman setelah mendengarkan suara langit yang kembali bergema didalam pikirannya.
"Kenapa?, loe mau beresin semua catatan itu?, mantap lah kalau begitu!, terus terang aja, gue saat ini sedang pusing 12x keliling karena kontrakan gue mau digusur, lha masa gue harus tinggal di kios ini?, makanya gue butuh dana untuk mencari tempat kontrakan baru, maafin gua sebelumnya kalau terpaksa menagih hutang kalian!, tapi kepada mereka yang benar-benar belum bisa melunasi juga nggak apa-apa gua tidak akan memaksa, karena gua tidak ingin teman-teman juga menutup sebuah lobang dengan mengali lobang lainnya!" kata Anton menjelaskan kesulitannya.
"Loe tenang saja Ton!, gue pasti bisa membantu loe, sekarang ambilkan permintaan gue!, dan Rat...!, tolong inventaris semua keperluan mendesak dari semua anggota Pengelana Budiman, ini adalah sebuah ungkapan rasa terimakasih gue kepada kalian semua yang telah bekerja keras dan tulus membantu keluarga gue saat terjadinya kecelakaan itu!" kata Hilman menyampaikan rencananya.
Anton kemudian menyerahkan buku catatan tersebut kepada Hilman dan sementara itu Ratna bersama 5 orang anggota wanita yang sedang bersamanya segera menghubungi anggota Pengelana Budiman lainnya secara pribadi untuk menanyakan segala kebutuhan mendesak mereka sesuai dengan permintaan Hilman.
__ADS_1