
Sesuai dengan kesepakatan mereka maka pagi ini setelah mengantar sang adik ke sekolahnya Hilman langsung meluncur menuju ke rumah sang kekasih untuk pergi ke kampus bersama, sesampainya di kediaman keluarga Susan dia langsung memarkirkan sepeda motor Kingnya didepan halaman dan menunggu sang kekasih keluar dari dalam rumah.
Berharap Susan segera keluar tapi kenyataan sangat berbeda dengan harapannya karena saat ini ada sosok pria dewasa yang keluar dari dalam rumah dan sedang berjalan menuju kearahnya sambil menatapnya dengan tajam,
"Kamu yang namanya Hilman!, tahun berapa sepeda motor King milikmu ini?" tanya ayah Susan yang adalah salah seorang pengemar dan kolektor sepeda motor tua.
"Selamat pagi Om...!, benar saya Hilman teman akrab Susan, dan ini sepeda motor peninggalan ayah saya, dan dari surat-suratnya sepeda motor ini buatan pabrik di tahun 1982 tapi faktur pembeliannya ada di tahun 1983" kata Hilman menjelaskan.
"Hmm..., ini sepeda motor legendaris para kaum muda di tahun 80an, typenya adalah RX-K 135cc, ayahmu pasti seorang jagoan dulu dijalan raya karena dahulu di jaman Om masih muda juga sering balapan di jalanan dan andalan kami dulu ya sepeda motor ini!, wah..., kondisinya sangat baik pasti kamu selalu merawatnya dengan baik, harus sering dikontrol olie sampingnya karena itu sangat penting untuk sepeda motor jenis 2 tak" kata ayah Susan yang banyak mengetahui tentang sejarah dan jenis sepeda motor tua apalagi jenis sepeda motor King seperti milik Hilman.
"Iya Om..., saya pasti akan selalu memperhatikan kondisi sepeda motor peninggalan ayahku ini, karena saat ini hanya sepeda motor ini yang menjadi andalan saya untuk ke kampus dan mengantar adik saya ke sekolah" kata Hilman.
"Bagus dan jangan dijual...!, kalau ada keperluan mendesak temui saya, karena saya suka mengkoleksi sepeda motor tua termasuk jenis seperti milikmu ini, itu..., didalam garasi sana ada 5 buah sepeda motor jenis King dengan berbagai serinya, Hmm..., saya ingin bicara banyak denganmu tapi belum sekarang, nanti tunggu kabar dari Susan kapan waktunya, saya harus segera ke kantor karena ada urusan penting pagi ini" kata ayah Susan kemudian masuk kedalam mobil yang sudah menunggunya dan kemudian pergi meninggalkan halaman rumah.
Pertemuan singkat dengan ayah Susan barusan membuat penilaian didalam pikiran Hilman bahwa sosok tersebut adalah orang yang tegas dan memegang teguh prinsipnya, pribadi seperti itu tidak mudah goyah dan selalu menerapkan segala sesuatu keadaan sesuai dengan keinginannya.
"Selamat pagi Beb..., sorry kelamaan nunggunya ya?, yuk..., loe yang nyetir, dan sepeda motornya masukkan dulu ke garasi sana!" kata Susan.
"Oke..., bentar!" kemudian Hilman memarkirkan sepeda motornya didalam garasi dan segera naik kedalam mobil milik Susan untuk mengendarainya menuju kampus bersama kekasihnya itu.
"Ma...!, kami pergi dulu ya?" teriak Susan dari dalam mobil yang dikemudikan Hilman.
"Ya..., nak Hilman hati-hati dijalan, jangan ngebut!"
"Baik tante...!"
__ADS_1
Mobil sedan berwarna putih itu meluncur dengan perlahan meninggalkan halaman rumah Susan, sepanjang perjalanan menuju kampus wajah Susan terlihat sangat senang dan senantiasa tersenyum duduk disamping kursi kemudi dan sesekali mengabadikan momen berdua dengan Hilman didalam mobil tersebut melalui smartphone canggih miliknya.
"Beb..., nanti ponsel baru buat loe, gue beliin yang sama persis punya gue ya...?, biar couple handphone kita berdua!" kata Susan yang semalam sudah berjanji akan membelikan ponsel baru untuk kekasihnya itu.
"Nggak usah sama persis Beb...!, kan punya loe mahal harganya, ntar dikira gue cowok matre lagi!"
"Idiihh..., siapa yang punya pikiran kek gitu?, cowok-cowok gue!, ya terserah gue dong mau ngasih apa juga itu hak gua khan?, biarin aja orang lain berpikiran yang nggak-nggak, pusing amat...!, yang ada tuh mereka hanya iri sehingga berpikiran aneh seperti itu"
"Ya..., serah loe aja dah, tapi gue minta loe jangan berlebihan itu aja!, kalo nggak ntar gue yang repot ngejelasinnya kepada orang-orang"
"Iya dech..., jang sok imut kek gitu, gemes gue ngeliatnya ihh...!" kata Susan yang sedang senang kemudian bersandar dan bergelayut manja disamping kekasihnya itu
"Ehh.., jangan iseng beb..., gue lagi nyetir nih!"
"Apaan itu ciupika ciupiki Beb...?, baru sekarang gue dengernya?"
"Cium pipi kiri dan cium pipi kanan, itu istilah untuk anak muda jaman sekarang, kalo untuk orang tua namanya cipika cipiki, dasar nggak gaul loe Beb...!"
"Hehehe..., gue kira makanan apaan?, ya udah, nanti aja kalo dah nyampe diparkiran kampus"
Beberapa saat kemudian terlhat sebuah mobil sedan berwarna putih memasuki halaman parkir kampus, suasana masih sepi karena hari masih terlalu pagi untuk ukuran kampus pada pukul 07:15 seperti saat ini. Biasanya area kampus akan mulai ramai saat pukul 07:50 karena waktu dimulainya kuliah rata-rata pada pukul 08:00, sudah 10 menit mobil sedan berwarna putih itu berhenti di area parkir tapi penumpangnya belum juga turun hingga 5 menit kemudian baru terlihat 2 buah pintu bagian depan terbuka dan turun Hilman dari sisi kemudi dan Susan yang turun dari sisi lainnya.
"Beb..., bibir gue nggak belepotan kan?" tanya Susan saat mereka mulai berjalan mengarah keruangan kelas.
"Nggak..., udah rapi kok, kalo gue gimana Beb...!,"
__ADS_1
"Hmm..., tampan dan macho kekasih gue!, hehehe..., ehh..., jangan lirik sana lirik sini ya?, kalo enggak gue bikin tanda merah di seluruh leher elo!, weekk..."
"Sadis loe Beb, posesif amat sama gue, bukannya terbalik?, seharusnya gue yang posesif ke elo, karena loe cantik dan berduit, terus nyata-nyata ada yang lagi ngejar elo, lha gue? modal tampang doang!"
"Hihihi..., itu karena gue udah jatuh cinta bingit ke elo Beb...!, kan kita baru pacaran, ya lumrah lah kalo gue posesif kek gitu, alias takut kehilangan, ibarat barang loe itu barang pusaka langka dan cuman ada satu-satunya di dunia ini buat gue, jadi harus dijaga dengan ketat jangan sampe diambil orang lain! wuihh..., tingginya tambah naik 2 centi ya Beb...!, dipuji kek gitu"
"Biasa aja kali?, lha emang kenyataannya gue tampan, sampe ada cewek cantik dan kaya nggak pernah berkedip kalo ngeliat kearah gue!"
"Idiihh..., bangga banget?, siapa tu cewek ayo...!"
"Tau tuh...!" kata Hilman sambil melirik sang kekasih yang sedang berjalan berdampingan dengannya.
Pasangan kekasih itu berpisah karena mereka berdua berbeda kelas, Hilman saat ini sudah berada di semester VII dan Susan baru di semester III. Walaupun sama-sama mengambil kuliah di fakultas yang sama tapi jurusan mereka juga berbeda, karena Hilman mengambil jurusan Programmer dengan konsentrasi Software Engineering sedangkan Susan berada di jurusan Data Scientist dengan konsentrasi pada system pengolahan dan analisis data untuk menghasilkan informasi yang dibutuhkan oleh para pengambil keputusan dalam sebuah organisasi atau perusahaan.
Beberapa langkah lagi Hilman akan memasuki ruangan kelas, tiba-tiba dia sudah dihadang oleh 4 sosok mahasiswa yang ternyata adalah Jhon dan kelompok gengnya.
"Sudah kubilang jauhi Susan, tapi sepertinya kamu tidak mendengar?, apa harus ku buat cacat dulu baru kamu mau mendengar perkataanku?" kata Jhon.
"Hmm..., emangnya kamu siapa?, ibuku aja nggak pernah mengatur kehidupan pribadiku!, emang kamu dan teman-temanmu ini bisa membuatku seperti itu?, coba kita lihat, dimana tempatnya aku akan datang sendiri!"
"Ohh..., nantang kamu ya!, baik kutunggu kamu selesai materi kuliah pertama di kebun belakang kampus!, jangan menyesal kamu telah bertemu denganku pagi ini" kata Jhon kemudian berlalu dari hadapan Hilman.
"Hei bajingan...!, kami akan menunggumu!" kata seorang teman Jhon sambil mengikuti bosnya dari belakang.
Hilman tidak merasa gentar untuk melawan keempat sosok mahasiswa itu, karena dia tahu dengan pasti bahwa mereka tidak ada apa-apanya dan hanya mengandalkan banyak orang sedangkan Hilman walaupun tidak ahli tapi dia pernah belajar beberapa jurus ilmu beladiri saat masih dibangku SMA.
__ADS_1