
Adu argumentasi yang terjadi didepan pintu gerbang masuk Rumah sakit Swasta itu masih berlangsung antara Rico dan para petugas Keamanan Rumah Sakit, waktu sudah menunjukkan pukul 02:10 ketika Haris dan kelompoknya tiba di Rumah Sakit Swasta itu dan melihat Rico dan anggotanya sedang beradu mulut dengan 3 orang petugas keamanan Rumah Sakit.
"Ada apa Ric...!" tanya Haris.
"Ini dari tadi kita tidak bisa diijinkan masuk!, padahal saya sudah mengatakan kita sedang mencari keberadaan anggota keluarga kita yang kemungkinan menjadi salah satu korban dari kecelakaan maut di perempatan lampu merah depan rumah makan Padang!" kata Rico yang kesal dengan perlakuan dari para petugas keamanan itu.
"Tenang..., biar aku yang tangani!" kata Haris kemudian menemui seorang petugas keamanan tersebut.
"Maaf Pak...!, kami sedang mencari seorang anggota keluarga kami yang sampai saat ini belum kembali ke rumah, dan sudah 3 jam kami mencari keberadaannya, saya sudah dari Rumah Sakit Umum Kota juga tidak menemukan saudara kami tersebut, dan sesuai dengan informasi yang saya dapatkan dari AKP Jacky bahwa di rumah sakit ini ada 2 korban kecelakaan maut di perempatan lampu merah yang tanpa identitas, nah..., untuk itulah maksud kedatangan kami kesini untuk memastikan keberadaan saudara kami tersebut, bagaimana?, apakah kami bisa diberikan ijin untuk bisa masuk?" kata Haris menjelaskan posisinya.
"Maaf...!, kami hanya menjalankan tugas, ini sudah lewat tengah malam dan sesuai peraturan sudah tidak ada seorangpun yang diijinkan masuk untuk menemui pasien yang sedang dirawat!"" kata sang petugas.
"Tapi pak...!, ini dalam keadaan darurat!, tolonglah beri kesempatan kepada saya dan beberapa orang anggota saya untuk mencari tahu identitas dari korban-korban tersebut!, hal ini hanya untuk memastikan saja, apakah saudara kami itu berada disini atau tidak!" kata Haris yang mendesak agar bisa masuk.
"Sekali lagi maaf...!, kami harus mengikuti aturan!"
"Baiklah kalau begitu!, tapi seandainya terjadi sesuatu dengan saudara kami itu dan kebetulan dia berada di Rumah Sakit ini!, maka saya akan meminta pertanggung jawaban dari pihak Rumah Sakit dan tanggung jawab moral kepada kalian bertiga yang saat ini sedang berjaga disini, saya juga akan melaporkan hal ini kepada pihak kepolisian karena kami mengalami perlakuan yang tidak mengenakkan dari kalian bertiga!" kata Haris sambil memberikan ancamannya.
"Saudara jangan begitu!, begini saja, saya akan mencoba membantu saudara untuk memeriksanya didalam untuk itu beritahu kepada kami siapa nama saudara kalian itu!" kata seorang petugas keamanan tersebut.
"Namanya Hilman Segara, Usia 20 tahun, tinggi badan 180 Cm, berbadan kekar dan rambutnya pendek gaya anak muda jaman sekarang" kata Haris
"Tunggulah dulu disini!, saya akan masuk kedalam dan memeriksa data korban seperti yang anda sampaikan!"
Haris tidak mau lagi berpanjang lebar untuk adu mulut sehingga dia mengajak teman-temannya untuk menunggu saja, sementara itu petugas keamanan tersebut telah masuk kedalam mencari informasi pasien yang sesuai dengan perkataan Haris sebelumnya.
Beberapa saat kemudian terlihat sang petugas keamanan kembali dengan wajahnya yang memucat seperti ketakutan, kemudian dia menemui kedua temannya yang berada di pos jaga dan kemudian mereka bertiga sedang membicarakan sesuatu. Tindakan mereka itu tidak luput dari pandangan Haris dan Rico yang sedang duduk berkumpul bersama puluhan anggota mereka di atas sepeda motor masing-masing, kemudian terlihat salah seorang petugas keamanan tersebut mendatangi Haris dan Rico yang kebetulan duduk berdampingan.
"Saudara berdua bisa mengikuti saya!" kata Satpam tersebut.
__ADS_1
"Kenapa?, apakah bapak sudah mendapatkan informasi tentang saudara kami itu?" tanya Rico yang masih gusar akibat perlakukan para Satpam itu kepadanya sebelumnya.
"Sebelumnya di ruang ICU sedang dirawat 2 pasien laki-laki tanpa identitas yang menjadi korban kecelakaan dalam kondisi hangus terbakar, dan seorang pasien dengan identitas laki-laki dewasa dengan usia sekitar 50 tahun masih dalam keadaan koma, sedangkan satunya lagi dengan identitas laki-laki dewasa usia sekitar 20 tahun baru beberapa menit yang lalu dinyatakan meninggal oleh tim dokter setelah menjalani perawatan intensif yang ketat karena mengalami luka bakar tingkat 3 dan mengalami patah tulang dibeberapa bagian anggota tubuhnya, dan saat ini jasad koban sudah berada dikamar mayat, selanjutnya untuk memastikan apakah korban tersebut adalah saudara yang kalian cari, maka mari ikut dengan saya untuk melihat jasad tersebut dikamar mayat!" kata petugas keamanan tersebut yang mulai berlaku ramah.
"Kalian semua tunggu disini!, kami akan memberi kabar jika sudah mendapatkan kepastian!" kata Haris.
"Baik Bos...!" kata puluhan anggota kelompok pemotor Pengelana Budiman secara bersamaan.
Haris dan Rico masuk kedalam Rumah Sakit Swasta tersebut mengikuti sang petugas keamanan dan mereka langsung menuju ke kamar mayat, sesampainya di sana mereka melihat sosok tubuh manusia yang sepenuhnya sudah ditutupi oleh kain putih.
Haris dan Rico berjalan mendekati sosok tubuh manusia tersebut sementara itu sang petugas keamanan hanya melihat sebentar kemudian keluar dan menunggu diluar kamar mayat tersebut, Haris terkejut melihat wajah sosok mayat tersebut setelah membuka kain putih yang menutup bagian kepalanya dan melihat wajah dihadapannya yang memang benar adalah sosok Hilman.
"Astaga...!, mayat ini benar-benar Hilman, Ya Tuhan, Man...!, huhh..., huhh..., huhh..., kenapa sampai jadi begini Man...?" kata Haris yang langsung menangis melihat keadaan tubuh Hilman sudah seperti Mumi dan masih terlihat sisa-sisa pakaiannya yang sudah hangus terbakar, demikian juga halnya dengan Rico yang belum lama mengenal Hilman tapi sudah melihat dan mengetahui bahwa Hilman adalah sosok yang baik dan mudah bergaul dengan siapa saja.
"Ya benar Ris..., ini Hilman!, Uhh..., huhh..., huhh..., aduh bagaimana ini?, apa yang harus kita lakukan sekarang Ris?" kata Rico yang juga ikut menangis sesenggukan, sementara itu diluar kamar mayat sang petugas keamanan terlihat bertambah pucat setelah mendengar 2 orang yang dibawanya menangis di dalam kamar mayat tersebut.
Disisi lain Hilman dalam keadaan diam sambil menutup matanya tapi yang sebenarnya dia sedang fokus melihat-lihat layar virtual yang berada didepan matanya, dia terkejut mendengar suara orang menangis dan merasakan adanya cahaya lampu yang menerpa wajahnya, dengan perlahan dia membuka kedua matanya untuk mengintip apa yang sedang terjadi.
"Ric..., kamu pergilah temui teman-teman diluar dan ajak beberapa orang untuk segera ke rumah Hilman, suruh beberapa orang juga untuk datang ke sini untuk mambantu gua mengurus jasad Hilman, dan yang lainnya tetap tinggal dan menunggu diparkiran, ingat Ric...!, nanti harus kamu sendiri yang memberitahu Susan, Mami Hana dan Anitha tentang kematian dan kondisi jasad Hilman" kata Haris kepada Rico.
"Baik saya akan segera kesana!" kata Rico kemudian segera bergegas pergi.
"Mampus gue...!, Mami bisa pingsan jika mendengar gua sudah mati, apalagi Susan!, aduh gawat?, Ris..., Haris...!" teriak Hilman yang membuat sosok yang dipanggil melompat karena terkejut ada suara yang memanggil namanya dari arah sosok mayat didepannya.
Huuppphh...
"Se..., setan Ijo...!"
"Setan gundul mu Ris...!, bantu lepasin ikatan kain perban ini, gue nggak bisa gerak!" kata Hilman sambil memelototi matanya kearah Haris.
__ADS_1
"Hil..., Hilman...?, ka..., kamu Hilman atau setannya Hilman?"
"Brengsek loe Ris...!, gue masih hidup, ini gue sialan!, cepat bantu gue lepasin kain-kain perban ini cepat!"
"Beneran?, coba katakan dimana markas kita!"
"Kios Bakso taman Kota!, loe pikir gue sudah pikun?, ayo cepat sini!"
"Busyet beneran loe Hilman?, kata satpam loe udah mati makanya sekarang kita berada dikamar mayat!"
"Itu tadi..., gue mati 3 menit mungkin lebih, tapi hidup lagi karena masih banyak hutang gue di Kios Bakso punya Anton!, ayo cepat bantu gue, pegel nih tangan sama kaki diikat begini!"
Haris segera mendekat dan membuka kain penutup tubuh Hilman dan membantunya untuk duduk di atas brankar mayat, seperti Mumi Hidup seluruh tubuh Hilman yang terbungkus dengan kain perban saat didudukan Haris dan dia mulai melepas kain perban yang melilit tubuh Hilman mulai dari ujung kaki.
Setelah kakinya bebas Hilman kemudian turun dari atas brankar dan berdiri untuk memudahkan Haris membuka kain perban yang membungkus badan dan tangannya,
"Kamu seperti Mumi Hidup Man...!, hehehe..."
"Sialan loe...!, kalo gue bener Mumi apa loe nggak takut?"
"Beneran Man..., bau badan loe menyengat banget!, ehh tunggu...!, ntar kalau lepas semua loe akan telanjang bulat Man!, ntar gue hubungi Rico dulu untuk membawa pakaian ganti kesini sekalian ngasih tau bahwa loe nggak jadi mati!"
"Bener juga ya..., kalau yang tiba-tiba masuk kesini laki-laki sih nggak masalah, tapi kalo yang dateng suster-suster, habis keperjakaan gue!"
"Loe masih bisa bercanda sekarang Man...!, loe nggak tahu gue sama Rico dah nangis-nangis kek anak kecil tadi!, belum lagi Mami Hana, Anitha apalagi Susan yang sekarang entah sudah seperti apa di rumah loe!"
"Ya sudah loe telepon sekarang kasih kabar, ntar tambah heboh lagi!, Hp gue, dompet keknya dah hangus dimakan api, mana Hp baru beli hadiah dari Susan lagi!, Huhh..., apes gue malam ini!"
"Malam apaan..., ini udah pagi Man!, sudah pukul 04:10"
__ADS_1
"Owh..., kirain masih malam!"