
Haris menepis perkataan AKP Jacky tersebut karena masih berharap bahwa Hilman tidak berada di lokasi tersebut saat kecelakaan maut itu terjadi, dia kembali melhat-lihat berbagai jenis bangkai kendaraan yang masih mengepulkan asap karena baru habis terbakar walaupun sudah disiram dengan air oleh satuan pemadam kebakaran.
"Ris..., Haris...,cepat kesini...!" teriak salah satu anggota kelompok Pengelana Budiman.
"Kenapa Ya...!"
"Kesini, dan coba lihat bangkai sepeda motor ini...!" kata Yaya yang adalah anggota Pengelana Budiman yang menyertai Haris saat ini, kemudian Haris segera berlari menuju kearah sebuah bangkai sepeda motor yang masih bisa dikenali walaupun kondisinya sudah ringsek dan hangus terbakar.
"Ini sepeda motor jenis King, cari plat nomornya dan catat nomor mesin serta nomor rangkanya" kata Haris kepada anggotanya.
Sementara 3 orang anggotanya menyelidiki bangkai motor King yang mereka temukan tersebut, Haris melakukan komunikasi lewat chat group WA Pengelana Budiman untuk memberitahu seluruh anggotanya. Haris meminta kepada mereka semua tanpa terkecuali untuk berkumpul di Markas Besar mereka dengan menyertai kode 'SOS', dan khusus kepada Rico dan 3 anggota lainya agar terus melakukan penelusuran sampai di rumah Hilman dan menunggu perintah selanjutnya.
"Sudah pasti Ris..., ini plat nomor motor King milik Hilman, walaupun sudah penyok tapi huruf dan angkanya masih jelas terlihat, dan ini juga, nomor mesin dan nomor rangka dari bangkai motor milik Hilman!" kata Yaya melaporkan hasil temuan mereka.
"Baik, sementara kita kembali ke markas untuk menunggu kedatangan seluruh anggota, dan akan menyusun rencana selanjutnya!" kata Haris kemudian sebelum pergi dia kembali mendatangi AKP Jacky untuk memberitahu bangkai motor milik Hilman yang dapat mereka kenali tersebut agar dapat diamankan di kantor polisi dan berjanji untuk kembali mengambilnya.
Haris dan 3 anggotanya seera kembali meluncur ke taman Kota dimana markas besar mereka berada tepatnya di kios bakso milik Anton, sementara itu kelompok Rico sudah tiba di rumah Hilman dan bertemu dengan Susan, Anitha dan Hana yang mulai panik karena sampai pukul 00:00 tengah malam putra sulungnya itu belum juga kembali ke rumah.
"Selamat malam bu...!, apa benar ini rumah Hilman?, kami teman-temannya anggota kelompok yang dipimpin oleh Haris!" kata Rico yang menjadi pemimpin kelompok tersebut.
"Iya benar, saya Susan pacar Hilman, bagaimana apa kalian menemukan Hilman" kata Susan.
"Nak Susan...!, ajak mereka masuk dulu, biar kita bicara didalam rumah!" kata Hana yang juga ikut keluar rumah melihat kedatangan 4 buah sepeda motor.
"Baik Mi...!, ayo Rico masuk dulu dan ajak ketiga temanmu juga" kata Susan mengajak mereka masuk kedalam rumah.
Hilman yang sebelumnya hanya melihat gelap setelah sempat mendengar bunyi tabrakan yang keras akhirnya tersadar dari pingsannya, kemudian dia merasakan sakit yang amat sangat di seluruh tubuhnya bahkan seluruh anggota tubuhnya sampai jari tidak bisa dia gerakkan. Hanya matanya saja yang tidak tertutup oleh kain perban dan selebihnya terbungkus dengan bau obat yang sangat menyengat, sambil menahan sakit dia mencoba melihat ke sekeliling ruangan dimana dia berada saat ini.
"Uhhh..., dimana aku?, apa ini di surga? ahh..., ruangannya putih semua, ya aku bisa bertemu Papi disini!"
"Dok..., pasien ini sepertinya sudah sadar, lihat denyut nadinya nya naik!" terdengar suara seorang perempuan.
"Berikan suntikan lagi, dan buat dia tenang jangan sampai dia gelisah seperti itu!" kembali Hilman mendengar suara seorang pria.
"Apakah aku di rumah sakit?, ya..., ini terlihat seperti ruang perawatan intensif di rumah sakit, aduh..., sakit sekali!" kata Himan dalam hati sambil kembali mengumpulkan semua ingatannya walau dalam ketidak berdayaannya saat ini.
__ADS_1
Hilman merasakan nyaman setelah mendapatkan suntikan dari seorang perawat yang bertugas didalam ruang perawatan intensif tersebut, dalam kondisi setengah sadar tiba-tiba Hilman mendengar suara bergema didalam kepalanya.
[🔉Ting..., Calon Host ditemukan]
[Konfirmasi Identitas]
[Progress...1%..., 5%..., 10%..., 25%..., 50%..., 75%..., 90%..., 100%... Complete]
[Identitas Sesuai dengan nilai konfirmasi 99,87%]
🔉Ting..., System : Automatic Status]
[Status Host]
Nama : Hilman Gerhana
Umur : 20 Tahun, 6 Bulan, 17 Hari
Level : 0/99 (Manusia Biasa)
Point Skill : Nihil
Kekayaan : Nihil($)
Kondisi : Sekarat (99,95â„…)
Nui System Versi : 01/10
[Status]-[Performance]-[Skill & Teknik]-[Upgrade]-[Toko]-[Inventory]-[Misi]-[Bantuan]
[🔉Ting..., Apakah calon Host Menyetujui Penyatuan dengan System? Ya/Tidak]
Hilman tersentak di alam bawah sadarnya ketika melihat ada tampilan layar virtual persis tampilan output sebuah program aplikasi yang sering dibuatnya, hanya saja ditambah dengan adanya suara seorang gadis yang bergema didalam kepalanya yang datangnya seperti dari langit.
"Suara Langit apa ini...?, kenapa ada monitor virtual didepan mataku?, ahh..., suara dari langit! siapa ini?" kata Hilman dalam hati.
__ADS_1
[🔉Ting..., Calon Host bisa berkomunikasi dengan Nui melalui pikiran, dan Calon Host hanya perlu fokus pada pada layar virtual dan menjawab semua permintaan Nui]
"Apakah maksudnya ini?, System?, Nui? " kata Hilman mencoba berkomunikasi dengan suara tersebut sambil berkata dalam hati atau dengan pikirannya.
[🔉Ting...,Saya adalah Nui, sebuah System yang akan membantu Host untuk mencapai semua keinginan dan cita-cita Host ketika menjalani perjalanan hidup di dunia ini dalam hal Asmara, Kekuatan, Keahlian dan Kekayaan].
"Hmm..., apakah Nui sama seperti program robot yang terintegrasi dengan intelegensia manusia?"
[🔉Ting..., sama sekali berbeda, karena Nui adalah sebuah System yang sudah ada sebelum peradaban ini lahir dan kemampuan Nui System jauh berada di atas semua teknologi yang ada di dunia saat ini, sekali lagi Nui meminta konfirmasi apakah Calon Host Menyetujui Penyatuan dengan System?, Ya/Tidak]
"Ya..."
[🔉Ting..., Jawaban terkonfirmasi..., proses penyatuan akan segera dimulai, mohon Host bertahan dari rasa sakit dan jangan sampai pingsan selama proses penyatuan selesai, proses penyatuan diperkirakan akan selesai dalam waktu 2 jam karena melihat tingkat kerusakan tubuh yang sudah dalam kondisi 90% sekarat, sehingga System membutuhkan waktu untuk memperbaikinya dan memberikan Host status level 1]
[🔉Ting...,Proses Penyatuan Dimulai]
[Progress...1%..., 2%..., 3%..., 4%..., 5%...]
Hilman mulai mengerti apa yang sedang dialaminya ini setelah dia mengingat akan sebuah novel yang pernah dibacanya, dan seiring dengan berjalannya waktu dia kembai merasakan sakit yang teramat sangat mulai menjalar di seluruh tubuhnya. Tapi karena mengingat pesan Nui bahwa dia harus bertahan dan jangan sampai pingsan maka dia berusaha menetapkan hati dan pikirannya untuk menahan semua rasa sakit itu, dia mulai membayangkan wajah Susan sang kekasih yang selalu berlaku manja terhadapnya saat mereka sedang berdua, juga dia mengingat ibunya yang sedang menunggunya pulang kerja dan selanjutnya memikirkan tentang semua rencananya yang akan membahagiakan ibunya, adiknya Anitha serta yang terakhir dia akan berusaha untuk mendapatkan restu dari kedua orang tua Susan.
Semua ha itu dia lakukan untuk mengalihkan rasa sakit yang sedang dia rasakan saat ini, oleh karena itu dia berusaha dengan keras untuk mengingat-ingat semua hal indah dan menyenangkan yang pernah dia alami selama ini.
"Dok..., pasien kembali mengalami tekanan!, bagaimana?" kembali hilman mendengar suara seorang perawat perempuan.
"Hmm..., sudah berapa lama sejak suntikan terakhir, Sus...?" kata suara seorang dokter laki-laki.
"Belum ada 30 menit Dok...!"
"Berikan lagi tapi dosisnya kurangi setengah dari dosis sebelumnya!"
"Baik Dok...!"
Sementara itu di rumah Hilman ada Rico dan 3 orang anggota kelompok Pengelana Budiman yang sedang membicarakan hasil temuan tim Haris di perempatan lampu merah depan rumah makan padang, saat ini mereka sedang menunggu konfirmasi dari Haris tentang keadaan Hilman setelah mereka semua mengetahui dengan pasti bahwa bangkai sepeda motor King yang mereka temukan itu adalah benar milik Hilman.
Hal itu diperkuat dengan mengkonfirmasi nomor mesin dan nomor rangka sepeda motor yang mereka temukan itu dengan BPKP sepeda motor tersebut yang berada dalam laci meja didalam kamar tidur Hilman, suara isak tangis terdengar dari Hana sang ibu juga dari Anitha terlebih dengan Susan yang sudah tidak bisa dikendalikan lagi dan memaksa Rico untuk mengantarnya ketempat Haris agar bersama mencari keberadaan Hilman di rumah sakit.
__ADS_1