Suara Langit

Suara Langit
Memenuhi Keinginan Susan


__ADS_3

Dalam keremangan ruang makan khusus tersebut pasangan kekasih yang sedang dimabuk cinta tersebut saling memberikan kehangatan, terlebih Hilman yang sebelumnya telah mendengar suara Langit yang datang dari Nui System dan dia mendapatkan Misi Kejutan. Hilman telah memberikan kehangatan dan belaian kepada Susan sesuai dengan keinginannya tapi setelah menunggu beberapa saat belum juga ada konfirmasi dari Nui bahwa Misinya telah sukses, hal ini membuat Hilman bingung karena tidak mengetahui dengan pasti kemesraan yang seperti apa yang harus dia berikan kepada sang kekasih.


Sementara itu Susan masih dengan sikap manjanya bersandar disamping Hilman sambil kedua tangannya memeluk erat pinggang sang kekasih, dan disisi Hilman sedang membelai rambut Susan dan sesekali memberikan kecupan mesra di keningnya.


"Beb..., disini!" kata Susan dengan manja sambil menengadahkan kepalanya kearah wajah Hilman.


"Hmmpphhttt...!" Hilman menyambut b1 b1r sang kekasihnya itu kemudian mulai m3l um4tnya dengan pelan dan semakin lama semakin dalam.


Selang 10 menit kemudian keduanya saling melepas untuk kembali menarik nafas mereka masing-masing sambil menahan gejolak asmara mereka yang sedang berkobar,


"Jangan disini Beb...!, ini tempat umum, kita balik aja dulu yuk?, tapi nanti mampir ke rumah gue dulu untuk ngambil mutiara-mutiara yang buat loe!" kata Hilman yang masih mendekap erat pinggang ramping sang kekasih.


"Sekali lagi Beb...!, gua masih kepengen bermesraan dengan loe malam ini?, pliiss...!" kata Susan yang masih menginginkan kemesraan mereka seperti sebelumnya.


Setelah merasa puas akhirnya keduanya meninggalkan Boulevard Restoran tersebut dan pergi menuju ke rumah Hilman, sebenarnya hal ini tidak perlu dilakukan Hilman karena barang yang akan dia ambil itu sudah berada didalam inventory System hanya karena ingin meyakinkan Susan bahwa benar mutiara-mutiara itu adalah warisan dari ayahnya dan bukan diperolehnya dai System.


"Beb...!, mana kotak penyimpanan?"


"Tuh..., ada di jok belakang!, gue ikut turun ya Beb!"


"Tunggu aja di mobil, gue bentaran doang ngambilnya!" kata Hilman kemudian masuk kedalam rumahnya setelah mengambil kotak penyimpanan dari kursi bagian belakang kemudi.


Hanya 5 menit berselang Hilman kembali sambil membawa kotak perhiasan yang sudah berisi mutiara-mutiara yang ingin dia berikan kepada Mamanya Susan, kemudian menjalankan mobilnya untuk pergi mengantar Susan ke kediamannya yang berada di kompleks perumahan elit.


Sesampainya di rumah Susan mereka berdua turun dari mobil dan masuk kedalam, Susan langsung menemui Mamanya dan meninggalkan Hilman di ruangan tamu. Dia mendapati Papa dan Mamanya sudah berada dikamar tidur mereka untuk beristirahat, tapi Susan masih menyempatkan untuk menyerahkan kota perhiasan tersebut kepada Juliana.


"Ehh..., Hilman sudah memberikan semua mutiara-mutiara ini untukmu nak?" tanya Juliana yang matanya terlihat berbinar-binar melihat isi dari kotak perhiasan tersebut.


"Iya Ma...!, nah sekarang?, ini semua untuk mama saja, karena gue nggak terlalu suka dengan mutiara, kalau diamond sih nggak akan gue lepas, hehehe..." kata Susan sambil menyerahkan kotak perhiasan itu.


"Ya sudah, temani pacarmu sana!, Papamu belum bisa diganggu, dia masih jengkel karena kalian berdua nggak mau tinggal di Taiwan, kasih waktu mama untuk membujuknya, dan katakan kepada Hilman agar bersabar!" kata Juliana.

__ADS_1


"Iya dech Ma...!" kata Susan kemudian kembali keruangan tamu mendapati sang kekasih.


"Bagaimana?, apa Mamamu senang menerimanya?" tanya Hilman.


"Tentu saja!, dan mama berjanji akan membujuk Papa, dan katanya loe harus bersabar" kata Susan kemudian duduk disamping Hilman.


Sebelumnya Hilman sedang berkomunikasi dengan Nui tentang rencananya besok yang akan mulai melakukan Trading, dan juga menanyakan tentang misinya yang belum selesai padahal dia sudah memberikan perhatian dan kenyamanan kepada Susan saat makan malam sebelumnya.


Hilman diberitahu bahwa kemungkinan misinya belum selesai karena subjek belum mendapatkan yang sesuai dengan ekspektasinya, dan Hilman diharuskan menyelesaikan misinya sesuai dengan keinginan subjek misi jika tidak ingin pingsan selama 3 hari lamanya.


"Beb!, kita duduk di taman yang semalam yuk?" kata Hilman kemudian mengajak Susan ketaman diluar rumah yang juga adalah tempat mereka berdua jadian.


"Dingin sayang...!, gue pake gaun yang agak terbuka begini, kenapa kalo disini?, kan cuman ada kita berdua?, tapi kalau loe ingin ketempat kita jadian itu, bentar gue ganti baju dulu yang agak tertutup!" kata Susan kemudian pergi ke kamarnya yang berada tidak jauh dari ruang tamu tersebut.


Hilman memandang sang kekasih yang sedang berjalan menuju ke kamarnya sambil berkomunikasi dengan System untuk menanyakan apa sebenarnya apa yang diinginkan oleh Susan yang belum terpenuhi sehingga misinya belum selesai, tapi belum sempat mendapatkan jawaban dari Nui Hilman mendengar suitan dari arah pintu kamar Susan dan melihat kepala Susan yang keluar dari belakang daun pintu dan sementara memanggilnya dengan lambaian tangan.


"Sssssttt...!"


"Beb...! Kesini bentar..." kata Susan dengan suara pelan.


"Masuk dulu...!"


"Ehh..., Beb...?"


"Kalau diluar dingin, mending loe temani gue dikamar ini aja, begini juga nggak masalah!" kata Susan kemudian menarik Hilman masuk kedalam kamarnya dengan hanya mengenakan underwear nya.


"Aduhh...!, loe nekat amat sih?, gimana kalo kita ketahuan bokap sama nyokap loe?"


"Lebih bagus biar!, kita langsung dinikahkan?, hehehe..."


"Buat loe nggak masalah, tapi gue?"

__ADS_1


"Tenang aja mereka sudah istirahat, dan gue cuman kepingin loe melihat bagaimana diri gue seutuhnya tanpa penghalang, begitu juga sebaliknya gue pengen melihat milik gue yang seutuhnya tanpa apapun, nih bantu lepasin" kata Susan dengan sungguh sungguh sambil berbalik belakang dan minta melepaskan kaitan bra yang dikenakannya.


Hilman hanya terpaku dan mulai melepaskan kaitan kain yang melingkar dan membungkus dada Susan sambil dia mulai mencerna keinginan dari sang kekasih yang juga merupakan penyelesaian dari misi kejutannya. Susan kemudian berbalik dan mulai juga melepaskan satu-persatu kancing kemeja Hilman sambil menatap sayu ke wajah sang kekasih dengan penuh permohonan, tanpa ada yang meminta keduanya secara bersamaan mulai berp4g ut4n sampai keduanya polos tanpa sehelai benangpun.


Hilman mengantar Susan kearah dinding kamar dan menyandarkannya di sana sambil terus bergerak liar dan hanya dalam hitungan menit sudah terdapat banyak tanda cinta yang dibuat oleh Hilman di sekujur tubuh Susan, demikian juga sebaliknya Susan yang tak kalah liarnya beberapa kali mengambil sikap jongkok sambil memainkan pusaka milik Hilman.


"Ohh..., Beb...!, cepat!" kata Susan yang mulai meracau dengan suara-suara anehnya ketika dia bergantian dengan Hilman yang saat ini sedang jongkok sambil melu m4t goa surgawi milik Susan.


Permainan liar mereka terjeda ketika terdengar suara jeritan tertahan dari Susan sampai dia terkulai lemas dan hampir tersungkur kelantai, Hilman segera menahan tubuh sang kekasih yang masih melengkung men1km4t1 puncak gelora asmaranya yang pertama kali.


"Uumm..., gendong gue ketempat tidur Beb!" kata Susan yang masih terlihat lemas.


"Yuk..., pegangan ke leher gue!" kata Hilman kemudian menggendong Susan ala bridal style dan membaringkannya keatas tempat tidur.


"Hmm, makasih ya Beb...!, loe udah membuat perasaan hati gue senang, sini tiduran disebelah gue"


"Tapi perasaan gue yang belum senang Beb...!, loe harus bertanggung jawab!, chuupphh..." kata Hilman yang langsung ikut berbaring disisi sang kekasih dan kemudian memeluknya erat sambil memberikan k3cup4an hangat di keningnya.


"Kalau begitu buat diri loe senang sekarang?, karena semua yang ada didepan loe saat ini adalah punya loe semuanya!, jadi lakukan apa saja sesuai keinginan loe, karena gue juga sangat ingin melakukannya bersama loe malam ini!" kata Susan menegaskan niatnya.


"Loe udah siap menanggung semua resikonya nanti?"


"Kita berdua yang harus menanggung resikonya Beb...!"


Hilman tidak bertanya lagi karena sudah sedari tadi dia menahan gejolak yang berada didalam dirinya, sebaliknya Susan juga yang sangat menginginkan suasana panas seperti itu membalas perlakuan Hilman dengan tidak kalah liarnya. Perburuan keduanya mencapai puncak ketika tubuh mereka berdua sama-sama menegang sambil mengeluarkan suara tertahan, ada air mata yang menetes dari kedua sudut mata Susan tapi senyuman bahagia juga terpancar dari wajahnya sementara itu Hilman masih menutup kedua matanya karena sedang men1km4t1 puncak asmaranya yang baru pertama kali dia rasakan.


[🔉Ting..., Selamat Tuan telah menyelesaikan Misi Kejutan (2) dan mendapatkan Hadiah 10.000.000(PP), 20.000.000$), 1 Kotak Misterius Gold, 1 Kotak Misterius Diamond dan Keahlian sebagai seorang Trader dan keahlian sebagai seorang CEO]


"Uhh..., Beb..., sakit!" kata Susan yang bersuara pelan disisi Hilman.


"Ya memang begitu kalau saat kali pertama?, tapi bentar juga hilang? dan minta lagi!" kata Hilman sambil tersenyum karena mendengar Suara Langit.

__ADS_1


"Ihh..., masih sakit tahu?, senyum-senyum lagi, apa nggak boleh dikecilin dikit tuh tongkatnya Beb...? keknya karena itu yang bikin nih...!, sakit banget, sampe nggak bisa gerak" kata Susan yang masih mengeluh sambil mengelus bagian bawah perutnya.


__ADS_2