
Sepulang dari kampus, aku langsung memutuskan untuk langsung mandi, kemudian mengerjakan tugas-tugasku yang harus aku kumpulkan untuk besok juga mulai mencicil belajar untuk ujian blok pertama yang tersisa kurang dari satu bulan lagi.
Di tengah-tengah aku belajar, aku baru ingat tentang seharusnya aku menanyakan kondisi kak Jeff yang sebenarnya atau tidak karena jujur saat tahu cerita dari Aurel ternyata dia ada memar seperti itu. Aku merasa makin tidak enak, tetapi aku juga takut kalau chat-chat lagi padahal kemarin dia sudah mengatakan baik-baik aja.
Aku juga menjadi berpikir, apa sebenarnya dia malas atau merasa tidak suka dengan aku ya? sehingga dia tidak mengatakan kondisi yang sebenarnya agar aku tidak perlu sibuk menanyakan dia atau mengganggu dia.
Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya aku memutuskan untuk tidak mengechat dia daripada semakin panjang masalahnya.
Aku memutuskan sekarang untuk mencoba mencari instagram kak Daisy saja. Tanpa berlama-lama, aku langsung menemukan instagram kak Daisy.
Seketika saat melihat kak Daisy, aku merasa sangat minder dan takut.
Pikiranku kini sangat beragam mulai dari takut kalau salah paham itu sudah meluas, takut ke depannya kalau dia apa-apain aku, dan yang jelas sekarang ini aku langsung membuka grup BEM periode baru untuk melihat apakah dia ada melanjutkan kepengurusan di periode yang baru ini.
Setelah melihat grup BEM, rasa lega sedikit menghampiriku karena ternyata dia tidak ada di kepengurusan BEM periode baru ini.
Aku juga langsung terpikirkan tentang mulai saat ini, aku harus mulai menjaga diri terlebih yang berkaitan dengan urusan kak Jeff karena seperti kata Aurel aku sama sekali tidak mau bila sampai harus berurusan dengan kak Daisy.
...--------...
Hari Minggu kali ini, seperti janji Kelvin yang lalu aku akan belajar trading kembali bersama dia dan Jacob.
Ketika jam sudah menunjukkan pukul 12.00, aku langsung mulai bersiap-siap karena satu jam lagi Kelvin akan menjemputku.
Kali ini aku pergi dengan dandanan tipis seperti yang lalu kemudian aku juga lebih memilih memakai atasan kaos berwarna putih dengan celana bahan berwarna coklat muda.
Aku merasa sangat nyaman berpakaian simple seperti ini sehingga aku memilih memakai ini agar ketika nanti aku belajar lama, aku merasa nyaman dengan apa yang aku pakai ini.
“Drettt… drettt…” Ponselku bergetar tanda ada telpon masuk dan ternyata Kelvin yang meneleponku.
“Halo.” Kataku ketika mengangkat telpon Kelvin.
“Aku dah di depan nih, bener kan ya kosmu nomer 8?” Kata Kelvin di sebrang sana yang tampak sedang ragu dengan alamat kosku.
__ADS_1
“Ihh baru beberapa hari lalu dari tempatku, sekarang dah lupa. Iyaa-iyaa bener kok. Bentar aku turun sekarang.” Kataku langsung sambil bersiap-siap memakai sepatu.
“Siap bos, aku tunggu.” Kata Kelvin lalu mematikan telpon.
Setelah memakai sepatu, aku langsung keluar kamar dan mengunci pintu kamarku. Lalu aku langsung turun ke bawah dan sebelum aku pergi, seperti biasa aku ke kamar Angel sebentar untuk berpamitan karena kita berdua bila ada yang pergi sudah terbiasa seperti itu.
“Cepetan, gue dah di bawah nih dari tadi nungguin lu.” Kata cowok yang sedang bersandar di depan gerbang kosku pada seseorang yang diajak bicara di telponnya, dan ternyata cowok tersebut adalah kak Arthur.
“Ehh.. kak.” Sapaku kikuk sambil tersenyum sekilas.
“Halo, mau pergi ya?” Balas kak Arthur yang tidak aku duga.
“Eh… iyaa kak. Ehh.. duluan ya kak.” Balasku pada kak Arthur yang aku sambung dengan berpamitan pada kak Arthur saat melihat mobil Kelvin yang sudah berhenti di depan kosku.
“Okee, hati-hati.” Kata kak Arthur yang aku balas dengan senyuman.
Aku tidak menduga sama sekali bila kak Arthur cukup ramah seperti itu padaku, karena aku tadinya menyapa dia hanya karena merasa canggung bila keluar gerbang dan hanya melewatinya saja.
Aku juga merasa sebenarnya aku dengan kak Arthur tidak pernah berkenalan secara resmi, mungkin kak Jeff atau kak Theo sudah ada bercerita tentang aku ke kak Arthur sehingga dia mengenaliku.
“Ih bukan sapa-sapa, kating asdos doang.” Balasku menanggapi godaan Kelvin.
“Oh asdos, suka ya? Kok tadi kayak kikuk gitu,” Goda Kelvin semakin menjadi-jadi.
“Ihhh apaan sih vinn, sok tahu deh. Gak yaa, tuh kikuk karena sebenernya aku gak terlalu kenal dia, cuma kan gak enak kalau langsung lewatin gitu aja.” Kataku menjelaskan pada Kelvin dengan nada sedikit kesal.
“Hehehehe santai-santai, becanda, gak usah kesel gitu dong. Ya dah yuk-yuk berangkat.” Balas Kelvin yang akhirnya bersiap untuk menyetir.
Sepanjang perjalanan menuju café tempat belajar, aku dan Kelvin banyak bertukar cerita tentang kehidupan kita selama ini di kampus bagaimana.
Bila dibandingkan, kehidupan sehari-hariku dengan Kelvin cukup berbeda. Kelvin masih cukup banyak mempunyai waktu luang sehingga dia masih banyak bisa menikmati waktu kosong.
Hanya saja waktu kosong dia selalu dia usahakan untuk menjadi waktu kerja, sedangkan aku yang seperti setiap hari penuh dengan belajar dan waktu kosong tiap bulan yang hanya bisa terhitung dengan jari.
__ADS_1
“Kamu dah ada suka atau deket sama cowok gak nih meski sibuk gitu?” Tanya Kelvin tiba-tiba padaku di tengah pembahasan kita tentang kehidupan kampus kita.
“Gak ada.” Jawabku langsung tanpa berpikir panjang.
“Kenapa gitu? Bukannya SMA kamu kayak masih banyak deket sama cowok.” Tanya Kelvin kembali yang tampak ingin tahu.
“Ya ampun, sibuk vinn, beneran aku gak boong, kayak buat pacaran gitu-gitu tuh belum kepikir sama aku. Terus cowok-cowok di tempatku kayak di atasku semua, aku kayak kentang gini, mana mau cowok-cowok kayak gitu mau sama kentang gini.” Kataku jujur pada Kelvin.
“Hah kentang gimana? Kamu cantik kali, cantikmu natural.” Kata Kelvin spontan yang entah mengapa membuat diriku seketika merasa malu.
“Gak usah gombal gitu kalau ngomong. Ihh pokoknya cowok-cowok di kampus itu terlalu ketinggian kalau buat aku, gak cocok sama aku yang kentang gini.” Balasku sambil menghadap ke kaca mobil untuk menyembunyikan wajahku yang kurasa sempat memerah.
“Terus kalau kamu anggep dirimu kentang gitu, berarti waktu di SMA, cowok-cowok di sekolah kita pada jelek-jelek ya, makanya masih bisa deket sama kamu? Termasuk aku juga jelek ya berarti?” Kata Kelvin yang langsung membuatku cukup terdiam.
“Bukan gitu maksudku,” balasku dengan suara pelan.
“Duhhhh… kamu gak ngerti rasanya jadi aku gimanaaaaaaaaaaa.” Kataku sambil memukul ringan lengan Kelvin, karena entah mengapa aku sedikit kesal saat ini bila membahas masalah ini.
“Aku banyak minder semenjak kuliah. Dulu SMA, aku merasa aku masih yang pecicilan, trus pemberani juga, kayak aku juga ngerasa gampang bergaul sama temen sana sini gitu. Termasuk kayak sahabatan sama kamu gitu kayak juga bisa kan, tapi gak tau kenapa, semenjak di sini aku tuh minder, apalagi tahu temen-temen aku yang kayak orang tuanya pada punya jabatan gitu-gitu. Aku kalau mau temanan yang bebas gitu jadi takut. Terus kita kalau SMA dulu kayak masih bisa membaur gitu kan tanpa ada perasaan yang gimana-gimana gitu. Kalau di sini aku ngerasa gak bisa membaur banget gitu. Seperti ada sekat-sekatnya, jadi kamu gak bisa gampang deket sama sana sini. Nah, apalagi mau cari cowok, aku masih takut.” Jelasku pada Kelvin dengan jujur.
“Hmmm... jujur awalnya aku juga ngerasa gitu. Nah, makanya aku jadi agak berubah gini tuh karena aku juga mengalami hal yang sama kayak kamu. Aku berubah gini juga kayak ngikutin trendnya gimana, biar aku jadi gampang membaur sama temen yang ada.” Jelas Kelvin menceritakan apa yang dia alami juga.
“Tapi kan kamu tau sendiri, kalau aku gak gampang ngikut-ngikutin orang lain gitu kalau itu gak sesuai sama diriku.” Kataku dengan tersenyum sekilas.
“Hehehehe iyaa sih. Ahh kok suasananya kayak jadi sedih gini sih. Ya dah bahas yang lain aja dahh, daripada kamu juga kayak sedih gitu. Gak suka ahh.” Kata Kelvin akhirnya mengakhiri topik pembicaraan ini.
“Dah ahh nyanyi-nyanyi bareng aja, dah lama kita gak pernah nyanyi-nyanyi bareng lagi. Kangen dengerin suaramu yang jelek itu,” kata Kelvin meledekku.
“Nyebelin bangettttt sumpah. Suara sapa coba yang jelek yang dulu ujian seni suara gak lulus?”
Balasku meledek Kelvin kali ini.
“Dahh gak usah bahas. Nyanyi aja sekarang. Kamu pilih nih lagunya.” Kata Kelvin sambil memberikan ponselnya padaku untuk memilih list lagu yang ada di ponselnya untuk diputar di audio mobilnya.
__ADS_1
Haloo semuanyaa, jangan lupa vote, like, dan comment yaa, biar author semakin semangatt buat ngelanjutin ceritanyaa :D
^^^❤Double Sister^^^