
Sore ini seusai kuliah, seluruh warga Fakultas Kedokteran kampusku berkumpul di hall fakultas karena akan diadakan kampanye secara langsung oleh kedua calon ketua BEM periode yang baru ini, sebelum hari Senin besok akan dilaksanakan pemilunya.
Ini adalah kampanye secara langsung pertama untuk kak Jeff dan kak Arthur karena selama ini mereka baru melakukan kampanye melalui media social saja.
Aku bersama dengan Aurel dan Grace meninggalkan Angel saat sampai di hall tengah karena kita bertiga harus membantu selama acara kampanye ini berjalan. Sesampainya di backstage, aku langsung menghampiri tim humasku.
“Nahh, karena Claire datang yang paling terakhir jadi dia aja ya yang jaga di luar hall.” Kata Kak Daisy ketika aku menghampiri tim humas.
“Maksudnya bagaimana ya Kak?” Tanyaku karena kurang paham dengan maksudnya.
“Jadi, daritadi kita nih diminta tim keamanan acara buat sumbangin satu anggota humas buat jaga di luar hall ini. Kalau ada dosen yang mau datang terlambat atau kakak koas yang datang terlambat, jadi lu yang sambut yang arahin untuk masuk ke hall. Ntar waktu acaranya mulai, lu langsung gabung sama tim keamanan buat keluar jaga di luar.” Kata Kak Daisy menjelaskan padaku yang membuatku merasa kecewa seketika saat mendengarkan tugasku seperti itu.
“Baik Kak,” kataku menjawab.
Aku langsung berbalik badan dan hendak duduk untuk menunggu acara mulai dengan lemas karena sedikit merasa kesal juga dengan Kak Daisy.
“BURG.” Tiba-tiba secara tidak sengaja aku menabrak seseorang dengan bahuku.
“Lagi mikirin apa?” Tanya Kak Jeff yang ternyata aku tabrak.
“Hehehehe gak ada Kak. Oh ya Kak, semangat yaa buat bentar lagi.” Ucapku dengan langsung memasang senyum untuk menandakan aku baik-baik saja.
“Thank you,” balasnya.
“Sebenarnya agak deg-degan sih sekarang ini.” Kata Kak Jeff sambil menatap aku.
“Hmm … jangan terlalu dipikirin Kak. Coba dibawa santai aja, biar gak deg-degan.” Kataku memberi saran Kak Jeff.
__ADS_1
“Sudah. Tapi kalau lagi diem aja aku langsung kepikiran lagi dan deg-degannya kerasa,” ucapnya.
“Ehh Clairee. Haloo.” Sapa Kak Arthur yang tiba-tiba melintas di samping aku dan Kak Jeff.
“Haloo Kak,” sapaku juga.
“Doain kita hari ini kampanyenya lancar-lancar aja ya.” Kata Kak Arthur padaku sambil merangkul Kak Jeff.
“Dari kita berdua, nanti mau pilih siapa nih kamu?” Tanya Kak Arthur yang membuatku langsung salah tingkah sendiri karena kebingungan harus menjawab seperti apa.
“Ngacoh deh lu. Tuh hak dia kali.” Kata Kak Jeff sambil sedikit menyiku perut Kak Arthur.
“Hehehe becanda Claire, gak usah dibawa serius.” Sambung Kak Arthur merasa tidak enak dengan aku.
“Eheemm … Jeff semangattt yaa. Aku yakin kamu pasti bisa.” Kata Kak Daisy yang tiba-tiba datang dan menghampiri Kak Jeff.
“Kalau kamu selama beberapa hari ini nanti perlu bantuan, kasih tahu aku aja gapapa Jeff.” Kata Kak Daisy kembali dengan suara lembutnya yang kali ini membuatku merasa risih karena Kak Daisy sambil memegang tangan Kak Jeff dan sengaja mendekatkan tubuhnya ke Kak Jeff.
Merasa canggung berada di situasi ini, aku akhirnya berniat untuk pergi meninggalkan mereka. Saat aku hendak berjalan meninggalkan mereka, tiba-tiba Kak Jeff memanggilku.
“Claire,” panggilnya.
“Ikut aku bentar.” Kata Kak Jeff dan langsung menarik tanganku untuk mengikuti dia.
Sekilas aku menoleh ke arah Kak Daisy dan Kak Arthur yang aku tinggalkan. Kak Daisy terlihat seperti sangat kesal dengan diriku sedangkan Kak Arthur terlihat senyum tipis melihat aku dan Kak Jeff meninggalkan mereka.
Kini kita berada di sebrang tempat asal kita berdiri tadi dan di sini lebih sepi dibandingkan di tempat yang tadi. Kak Jeff melepaskan tanganku dan menunduk sambil memejamkan kedua matanya.
__ADS_1
“Kak,” panggilku.
“Aku perlu situasi yang tenang sebelum aku menghadapi semua orang yang datang di hall ini. Mereka tadi berisik, aku gak bisa nenangin diri.” Ucap Kak Jeff tetap dengan memejamkan kedua matanya.
“Kak tenang ya. Anggap aja di depan Kakak itu orang-orangnya gak banyak. Nanti kalau Kakak sudah di panggung, Kakak gak usah menatap satu per satu orang yang hadir melihat Kakak. Apa yang ingin Kakak sampaikan, sampaikan aja Kak. Bayangkan kalau seperti saat Kakak bicara sama aku, atau teman-teman Kakak sendiri. Aku yakin Kakak pasti bisa.” Kataku berusaha menenangkan dan meningkatkan semangat Kak Jeff.
“Ini orangnya banyak Claire. Kalau bicara di depan anggota BEM, aku sudah terbiasa. Tapi ini lihat aja, seluruh yang ada di Fakultas Kedokteran kita datang Claire di sini cuma buat dengerin aku. Aku gak mau menang, tapi aku cuma gak mau gagal atau banyak orang yang kecewa sama aku hanya karena ucapanku di kampanye ini Claire.” Ucap Kak Jeff kembali yang seperti terlihat belum bisa menenangkan diri.
“Kak, lihat aku. Kakak orang hebat Kak, gak akan ada orang yang kecewa sama Kakak. Percaya sama aku, Kakak pasti bisa.” Kataku semakin membara menyemangati Kak Jeff.
Kak Jeff kali ini tidak membalas perkataanku kembali melainkan dia hanya menunduk kembali setelah menatapku. Kali ini Kak Jeff terlihat sedang berdoa sebentar dan dari raut wajahnya, dia sudah terlihat sedikit lebih tenang dan bisa mengontrol diri dibandingkan dengan sebelumnya.
“Claire, waktunya kamu jaga di luar. Lima menit lagi acara mulai.” Kata Kak Daisy tiba-tiba di belakangku dengan nada lembutnya yang terkesan dibuat-buat.
“Kak, tugasku untuk hari ini jaga di luar hall. Aku keluar dulu ya Kak. Semangat Kak, Kakak pasti bisa.” Kataku berpamitan pada Kak Jeff dengan memasang senyum padanya.
“Okee. Thank you buat semuanya.” Balas Kak Jeff dengan tersenyum tipis dan menatapku.
Aku langsung meninggalkan Kak Jeff dan sekilas aku melihat Kak Daisy yang memasang senyum ke arah Kak Jeff tetapi tidak ditanggapi oleh Kak Jeff.
...--------...
Sudah setengah jam kira-kira aku menjaga di luar hall bersama dengan tim keamanan acara, tetapi tidak ada satupun dosen atau kakak koas yang datang terlambat untuk mengikuti acara kampanye hari ini.
Aku merasa sangat bosan berada di luar hall ini tanpa ada aktivitas apapun. Di samping itu, aku juga khawatir memikirkan bagaimana kak Jeff di dalam. Sebenarnya aku tadi juga cukup bingung menghadapi kak Jeff yang seperti itu.
Tetapi aku akhirnya mencoba melakukan yang terbaik untuk menyemangati kak Jeff. Kini dipikiranku hanya terlintas satu hal, yaitu sebenarnya kata-kataku itu ada berguna tidak untuk kak Jeff.
__ADS_1
Aku sama sekali tidak menyangka bahwa kepribadian kak Jeff ternyata seseorang yang sangat berbeda dengan tampang luarnya. Selama ini apa yang terlihat dari kak Jeff bila belum banyak mengenalnya cukup berbeda dengan ketika aku sudah mengenalnya dengan lebih dekat.