
Setelah semua teman sekelompokku selesai, kita oleh Kak Jeff dikumpulkan bersama untuk diberikan informasi tambahan.
Ternyata Kak Jeff memberitahukan tentang pengumpulan tugasnya.
“Ini nomer wa ku sama id lineku, catet ya.” Kata Kak Jeff sambil menunjukkan selembar kertas yang berisikan nomer wa dan id linenya.
“Kalau bisa ngumpulinnya jangan hari ini dulu ya. Kumpulnya pas di hari terakhir aja. Hpku rusak aku mau urusin dulu soalnya. Takutnya nanti chatnya ada yang gak masuk atau ngalami masalah yang lain.” Kata Kak Jeff kembali menjelaskan.
Aku cukup heran kenapa ponsel Kak Jeff bisa tiba-tiba rusak seperti itu. Sekilas saat aku lihat ketika dia menunjukkan padaku tadi, seperti bekas jatuh ponsel tersebut.
“Okee. Untuk praktikum hari ini selesai sampai di sini dulu. Jangan lupa buat dan kumpul untuk laporannya ya.” Kata Kak Jeff sekaligus berpamitan pada kita.
“Jangan lupa, kalau aku chat nanti dibales.” Kata Kak Jeff berbisik di belakangku saat beranjak pergi dari kelompokku.
Aku hanya terdiam dan memastikan tidak ada temanku yang melihat hal itu.
...--------...
“Yukk, kita buruan ke kelas. Angel pasti sudah di sana deh.” Kata Aurel padaku dan Grace saat kita di depan loker ruang praktikum selesai mengambil barang-barang kita.
Aku, Aurel, dan Grace langsung bergegas menuju ke kelas kita untuk jam pelajaran selanjutnya, dan benar saja di dalam kelas Angel tampak duduk sendiri sedang mendengarkan musik melalui headsetnya.
“Angellllll... kamu gapapa?” Tanya Grace sambil memeluk Angel sekilas.
“Hehehehe gapapa kok. Tadi tuh aku sakit perut. Jadi selain di kos aku ambil jas lab, aku tuh juga ke toilet gitu terus aku lupa gak lihat jam. Eh balek-balek dah telat deh.” Kata Angel menjelaskan sambil memasang senyum di wajahnya.
“Teruss kamu gimana? Hari ini tadi ada tugas loh praktikumnya buat laporan.” Kata Aurel memberitahu Angel.
“Iyaa-iyaa gapapa deh. Nanti pulang kuliah aku coba menghadap dokter Kevin deh buat urus tentang hal itu.” Jawab Angel tetap dengan wajah tersenyum.
“Sorry juga ya Ngell, aku tadi bales chatmu lama. Aku gak tau kalau chatnya pending gitu." Kataku mencoba menjelaskan kembali agar Angel tidak sampai salah paham.
“Iyaa, santai-santai. Aku tadi juga dah ada kepikiran kok kalau mungkin aja kena di lab 'kan biasanya jaringannya gak bagus,” jawab Angel padaku.
Setelah itu, kita berempat berbincang-bincang sebentar tentang praktikum hari ini tadi dan tak lama kemudian, dosen pengajar untuk jam ini pun datang.
__ADS_1
Kita berempat langsung berhenti berbincang-bincang dan mempersiapkan diri untuk mendengarkan perkuliahannya.
...--------...
Selesai perkuliahan hari ini, aku, Aurel, dan Grace langsung menuju ke ruang BEM karena kita akan ada pertemuan dengan tim kita masing-masing sesuai yang sudah diberitahukan kemarin.
Sesampainya di ruang BEM, di dalam ruangan sudah terbagi menjadi beberapa lingkaran-lingkaran sesuai dengan tim masing-masing.
Aku berpisah dengan Aurel dan Grace. Aurel dan Grace menuju ke tim acara sedangkan aku menuju ke tim humas.
Aku langsung duduk di dekat salah satu teman angkatanku yang sudah datang terlebih dahulu dibandingkan dengan aku. Di sebelah temanku tersebut, tampak Kak Daisy dan Kak Olive yang sedang berbincang berdua sambil melihat ke ponsel Kak Daisy.
Kini di timku masih kurang dua orang lagi dan kita semua menunggu dua orang tersebut.
Sekilas Kak Daisy tersenyum sinis padaku dan aku tetap membalas senyumannya dengan ramah.
“Sambil menunggu teman kalian yang belum datang, boleh nih kalian bertanya-tanya apapun ke kita berdua tentang BEM. Siapa tahu kita berdua bisa bantu meskipun kita sudah gak akan jabat lagi.” Kata Kak Olive memecah keheningan di antara kita.
“Kak, kenapa Kakak memutuskan tidak melanjutkan lagi di BEM?” Tanya salah satu teman setimku.
“Hmm ... kalau aku karena semakin hari semakin sibuk. Kayak di luar kuliah ini, aku mulai banyak job gitu. Jadi, aku mengorbankan diri gak ikutan BEM lagi padahal sebenernya aku sayang banget sama kekeluargaan BEM ini. Bahkan susah banget sebenarnya aku ngelepasin BEM ini, di BEM ini kayak salah satu penyemangat aku juga selama kuliah soalnya.” Jawab Kak Daisy menjelaskan pada temanku sambil tatapan matanya daritadi aku tangkap seperti sedang melihati sesuatu.
“Eh kalau aku Dek, karena Daisy keluar jadi aku gak ada temennya aku juga keluar deh, hehehehe. Selain itu, juga ada pertimbangan khusus yang gak bisa aku share di sini deh, hehehehe.” Jawab Kak Olive tidak mau terlalu memberitahukan alasannya.
“Tapi kalian pasti betah deh masuk di BEM sini. Kating kalian ganteng-ganteng, keren-keren, dan pada baek semua." Kata Kak Olive dengan senyum-senyum dan tak lama dari itu mendapatkan teguran kecil dari Kak Daisy yang seketika membuat Kak Olive terdiam.
“Nahh okee. Yuk, kita mulai ya. Nih teman kalian sudah datang jadi sudah lengkap ya kita.” Kata Kak Olive yang menurutku memang lebih ramah dibandingkan dengan Kak Daisy.
“Jadi kita perkenalan dulu ya. Namaku Daisy dan ini Olive, kita sedang koas tahun pertama. Di sini kita cuma pendamping sementara kalian di acara pertama kalian yaitu pemilu ketua BEM karena kita di periode baru ini sudah tidak menjabat lagi.” Ucap Kak Daisy sedikit memberikan perkenalan pada kami berlima.
“Nah di bagian humas ini, kalian berlima akan kita bagikan tugas yang harus kalian lakukan agar acara pemilu ketua BEM nanti dapat berjalan lancar.” Kata Kak Olive memberikan sedikit kata pengantar.
“Jadi dengerin yang aku bacain ini ya. Elsa dan Juan nanti harus buat broadcast yang akan disebarin ke seluruh angkatan mahasiswa Fakultas Kedokteran ini melalui grup-grup chat yang ada di setiap angkatan tentang acara pemilu ini. Untuk detailnya apa aja yang harus selalu kalian broadcast, kalian bisa baca di sini ya.” Kata Kak Daisy memberikan penjelasan pada kedua temanku sambil memberikan selembar kertas yang berupa panduannya.
“Lalu untuk Pandu dan Mikha. Kalian bertugas memegang media social dari BEM baik itu instagram, twitter, tiktok, dan media social lainnya untuk selama beberapa hari menuju acara pemilu ini. Tujuannya untuk mempromosikan kepada seluruh keluarga Fakultas Kedokteran agar tahu tentang acara ini. Dan kalian harus mengumpulkan tentang jumlah peserta pemilu nantinya total berapa, kalian harus tahu ya.” Kata Kak Daisy memberikan instruksi pada kedua temanku yang lain lagi. Kini dari kita berlima hanya tersisa aku yang belum mendapatkan tugas.
__ADS_1
“Nah oke, sisa Claire ya.” kata Kak Daisy sambil tersenyum menatapku, yang mana senyum tersebut membuatku bingung karena dari senyum itu seperti tersirat ada sesuatu.
“Claire, kamu pertama harus mengumpulkan seluruh nomer telepon dosen yang ada di Fakultas Kedokteran ini baik yang mengajar di pendidikan dokter ataupun yang mengajar di profesi. Kalau kamu kesusahan mencari tahu dosen yang ada di profesi, bisa bertanya beberapa sama anak-anak yang koas. Total dari seluruh dosen yang ada di sini enam pukuh lima dosen. Setelah kamu mendapatkan semua nomer teleponnya kamu bisa membuatkan mereka grup dosen, di situ nanti setiap broadcast apapun yang berkaitan dengan pemilu harus kamu beritahukan sehingga jangan sampai ada dosen yang terlewatkan dengan acara pemilu ini. Selain itu, untuk karyawan kampus juga sama. Kamu harus kumpulkan data nomer teleponnya lalu kamu buatkan grup untuk karyawan kampus, di mana total seluruh karyawan Fakultas Kedokteran ini ada tiga puluh lima. Semua itu, jangan sampai ada yang terlewat karena dekan kita minta semua warga di Fakultas Kedokteran ini harus bisa terlibat dalam acara pemilu ini. Tujuan dibuat grup tersebut, bila ada informasi apapun seperti saat hari H nanti kamu harus memberikan jadwal jam-jam untuk dosennya datang ke pemilu itu lebih mudah, dan itu semua tanggung jawabmu.” Kata Kak Daisy yang sangat panjang menjelaskan mengenai tugasku dan di akhir sekilas terlihat senyuman darinya lagi yang tak bisa aku pahami ke arahku.
Aku merasa tugas itu cukup berat dan banyak untuk aku kerjakan sendiri. Aku merasa Kak Daisy sengaja memberi aku tugas yang banyak dan sendirian seperti ini.
“Okee dari kalian semua ada yang masih mau ditanyakan ke kita gak?” Kata Kak Olive bertanya pada kita semua.
“Pemilunya kurang lebih hanya tersisa dua minggu lagi. Jadi, diharapkan yang tugas-tugas sebelum hari H kalian bisa selalu on time kerjanya. Apalagi dua hari lagi sudah akan dilakukan pemberitahuan terlebih dahulu tentang siapa kandidatnya. Biasanya setelah kandidat diketahui seluruh warga fakultas pasti banyak yang bertanya-tanya tentang acaranya pada tim humas.” Kata Kak Daisy memberitahu penjelasan tambahan.
“Gimana tim humas? Sudah dibagi kerja tugas?” Tiba-tiba tanya seseorang dengan suara beratnya yang khas.
“Ehh Jeff, sudah nih.” Kata Kak Daisy dengan suara yang seketika berubah menjadi lebih lembut dibandingkan sebelumnya saat memberikan pengarahan ke kita.
“Lihat pembagian tugasnya gimana dong.” Kata Kak Jeff sambil meminta kertas yang ada di tangan Kak Daisy.
“Ehh iy-aa ini.” Kata Kak Daisy memberikan kertas tersebut yang terlihat sedikit tidak ikhlas memberikannya.
“Lu ngebaginya kok kayaknya ada yang gak rata sih.” Kata Kak Arthur saat melihat kertas yang ada di tangan Kak Jeff.
“Lu baginya gak bisa yang adil gitu ya satu sama lain. Ini yang kerja sendiri seharusnya lebih ringan dari yang kerjanya berdua-dua dong.” Kata Kak Jeff dengan nada kesal pada Kak Daisy.
“Sorry. Tapi kenapa itu gak adil. Coba lihat lagi deh, kalian salah kali.” Kata Kak Olive mencoba membela Kak Daisy.
“Gue sama Arthur bakal bantuin si Claire. Lu pikir anak baru satu tahun di sini sudah kenal seluruh dosen di kampus ini?” Ucap Kak Jeff dengan nada kesal sambil mengembalikan kertas tersebut pada Kak Daisy.
“Daritadi kita muter ke tim yang lain, kayaknya gak ada yang gini deh. Kalau gini, ntar kalau orang laen ada yang tahu, mereka kira ntar di bawah pimpinan gue atau Arthur itu berat, gak adil kerjanya. Lu mikir gak kayak gitu tuh.” Kata Kak Jeff yang terlihat makin kesal dengan Kak Daisy.
“Sorry banget Jeff, Thurr. Gue bantu deh kalau gitu si Clairenya.” Kata Kak Daisy dengan suara lembut sambil memegang tangan Kak Jeff yang langsung dihempaskan oleh Kak Jeff.
“Gak usah. Gue sama Jeff aja yang bantu.” Jawab Kak Arthur kali ini dengan lebih bisa mengontrol emosi dibandingkan dengan Kak Jeff yang lebih terlihat sangat kesal dengan Kak Daisy.
“Claire, lu nanti bagi tugas antara dosen sama karyawan sama kita berdua.” Kata Kak Arthur padaku yang kemudian merangkul Kak Jeff untuk meninggalkan kita.
Ketika mereka berdua sudah pergi, Kak Daisy dan Kak Olive sontak menoleh ke arahku dan mereka menatapku dengan sangat kesal.
__ADS_1
Tak lama dari itu, Kak Daisy dan Kak Olive meninggalkan kami berlima.
Aku kini sangat bingung karena gak tahu harus bagaimana. Di satu sisi aku merasa berterima kasih banget dengan Kak Arthur dan Kak Jeff yang mau membantuku tetapi di sisi lain aku juga bingung dengan Kak Daisy dan Kak Olive akan bagaimana dengan aku.