Suka Sayang Cinta

Suka Sayang Cinta
BAB 36


__ADS_3

Sekarang jam sudah menunjukkan waktunya ishoma, tetapi di jam ishoma ini kakak-kakak koas justru semakin banyak yang datang karena banyak dari mereka yang tadi masih sedang tugas di Rumah Sakit.


Aku melihat di bagian-bagian yang lain, yang menjaga sekarang bergantian. Sebagian ada yang sedang istirahat untuk makan. Tetapi karena aku tidak memiliki pasangan berjaga, akhirnya aku hanya bisa tetap terdiam di mejaku ini tetap menjaga.


Dari mejaku, aku juga melihat Kak Daisy dan Kak Olive berkeliling membagikan makanan pada seluruh tim humas. Tetapi sampai saat ini, hanya aku yang bila aku lihat yang belum mendapatkan jatah makanan.


“Claire, gak istirahat dulu?” Tanya Aurel yang mendatangiku bersama dengan Grace.


“Hehehee, kalian duluan aja deh. Aku gak bisa, gak ada yang gantiin nanti kalau aku istirahat,” kataku pada mereka.


“Lu benar-benar sendiri, gak ada yang bantuin Claire?” Tanya Grace kali ini.


“Hehehe gak ada.” Balasku dengan tersenyum.


“Ya ampun, kak Daisy kok jahat banget sih sama lu. Yang lain gak ada loh yang kayak lu, bahkan di tim kita juga gak ada yang gitu loh.” Ucap Aurel dengan nada kesalnya.


“Dah biarin aja. Suka-suka dia deh,” balasku.


“Ya dah kita temenin lu di sini deh sambil makan,” kata Grace.


“Eh ya ampun, gak usah. Kalian istirahat aja gapapa.” Kataku merasa tidak enak dengan Grace dan Aurel.


“Dah gapapa. Yuk, Grace kita di sini aja makannya.” Ajak Aurel pada Grace kemudian duduk di kursi yang ada di belakangku.


Akhirnya aku menjaga dengan ditemani mereka yang makan di belakang aku. Sesekali kadang kita juga ngobrol membicarakan banyak hal.


“Eh Claire, tadi kata salah satu teman tim gue, katanya tim humas tadi sebelum acara sempet ada ribut di depan hall ya? Kenapa itu?” Tiba-tiba tanya Aurel padaku.


“Hmm … itu aku.” Kataku dengan suara pelan.


“Lohh kok bisa? Tadi emang kenapa? Cerita dong Claire, kita tadi lagi masih urusin yang di luar hall jadi gak tahu apa-apa.” Kata Grace seperti biasa yang selalu kepo.


“Jadi, tadi tuh aku disuruh tata meja yang di dekat pintu itu. Nah, aku angkat mejanya dari luar, masuk ke dalam hall. Terus tiba-tiba waktu aku masih baru mau masukin satu meja ke dalam hall, pintunya itu ketutup tiba-tiba. Nah, kak Arthur marah, kata kak Arthur itu kak Daisy yang ngelakuin. Tapi kak Daisynya jadi marah-marah waktu kak Arthur tegur kayak gitu.” Jelasku pada mereka berdua tentang kejadian tadi pagi.


“Ihhh sumpah deh, gue kesel banget kalau itu tadi emang si kak Daisy yang kayak gitu.” Kata Aurel geram.

__ADS_1


“Tapi kalau yang lihat kak Arthur, gak mungkin salah lah. Dah pasti itu dia. Pasti dia marah-marah gak jelas ke kak Arthur karena dia kaget ada orang yang lihat apa yang dia lakuin. Mana orang lain yang ada di hall ‘kan pasti juga jadi pada lihatin kalian,” kata Grace.


“Eh terus kak Jeff tahu gak pas ada keributan itu?” Tanya Aurel kembali.


“Tahu ada ribut-ributnya. Tapi gak tahu permasalahannya apa,” balasku.


“Lu gak kasih tahu dia ya?” tebak Aurel.


Aku hanya bisa menganggukkan kepala menjawab Aurel.


“Ya ampunnn, gapapa tahu harusnya lu kasih tahu di-“ Kata Aurel yang tiba-tiba melotot dan melihat ke arah belakangku.


Aku akhirnya langsung menoleh ke belakangku dan ternyata Kak Jeff berdiri di sana.


“Aku gantiin jaganya. Istirahat dulu sana, nih makan.” Kata Kak Jeff tiba-tiba datang sendiri dengan membawa kotak makanan yang belum aku dapat.


“Ehh … gak usah Kak gapapa. Ini tugasku,” kataku menolak.


“Nih, tugasmu sekarang dari aku. Makan.” Katanya sambil meletakkan kotak makanan yang dia bawa di mejaku.


“Sudah tadi. Buruan makan dulu sana, dah siang.” Katanya kali ini sambil menarik tanganku untuk berdiri dari kursiku.


Aku akhirnya meninggalkan kursiku dan kini duduk di dekat Aurel dan Grace yang terlihat senyum-senyum sendiri daritadi.


“Cieee … disamperin, digantiin lagi. Perhatian ya dia orangnya.” Celetuk Grace yang tetap senyum-senyum sendiri.


“Hstsssttttt. Nanti dia denger.” Kataku menginstruksikan Grace untuk diam.


“Gapapa, gue setuju kalau lu sampai sama dia. Nanti bantu gue deket sama kak Theo ya.” Kata Grace yang langsung membuat aku tersedak.


Aku langsung mengambil botol minum Aurel dan meminum airnya. Sekilas aku melihat Kak Jeff menoleh ke arahku saat tersedak dan kini dia sudah menghadap ke depan lagi setelah aku minum.


“Graceeeeee … udah deh berhenti. Nanti dia denger gak lucu tahu.” Kataku pada Grace yang tetap senyum-senyum tidak merasa bersalah.


“Becandaaa kali. Gak usah merah gitu dong mukanya.” Kata Grace masih menggodaiku.

__ADS_1


...--------...


Tak perlu waktu lama, kurang lebih lima belas menit makan siangku sudah selesai. Setelah aku selesai makan, Grace dan Aurel juga langsung kembali ke tempat mereka masing-masing karena sudah waktunya mereka untuk bertugas kembali.


Aku juga langsung menuju ke mejaku kembali untuk menggantikan Kak Jeff yang sudah membantuku.


“Makasih Kak bantuannya. Biar sekarang aku lagi yang jaga.” Kataku saat menghampirinya.


Kak Jeff langsung berdiri dari tempat duduknya.


“Kalau perlu bantuan lagi panggil aku gapapa. Kan tadi aku dah ada bilang gitu.” Katanya saat berdiri.


“Aku tadi masih-“


“Dasar keras kepala. Pokok kalau perlu apa-apa langsung panggil aku, titik.” Sahut Kak Jeff memotong perkataanku dengan suara lembutnya, sambil memegang puncak kepalaku yang membuatku seketika mematung sambil mendengarkan perkataannya.


Setelah mengatakan seperti itu, Kak Jeff langsung meninggalkan tempatku. Aku masih mematung dan langsung melihat ke sekitarku apakah kira-kira ada yang melihat kejadian tadi.


Tetapi sepertinya di sekitarku memang sedang sepi sehingga sepertinya tidak ada yang melihat kejadian tadi. Aku langsung mengontrol diriku untuk menenangkan diriku kembali.


...--------...


Saat ini, waktunya para mahasiswa non-koas yang melakukan pemilu. Situasi sekarang ini jauh lebih ramai dibandingkan sebelum-sebelumnya karena jumlah mahawasiswa non-koas lebih banyak.


Aku cukup sibuk kali ini, karena setiap menit terasa selalu ada orang yang mengantri di mejaku untuk celup tinta.


Setelah kurang lebih satu jam yang cukup padat, kini situasi jauh sedikit lebih longgar dibandingkan sebelumnya.


“Claire, bantu gue bentar dong. Gue disuruh buat pindahin tiga kursi itu ditaruh di dekat pintu masuk sana.” Kata Kak Olive tiba-tiba mendatangiku.


“Tapi Kak, ini yang jagain siapa?” tanyaku bingung.


“Gapapa. Bentar doang kok, itu mereka juga belum masuk bilik, masih di absen.” Katanya yang akhirnya aku ikuti.


Ternyata benar seperti yang Kak Olive katakan, tidak perlu waktu lama untuk membantunya. Setelah selesai membantu, aku langsung kembali ke mejaku dan kembali melayani setiap orang yang akan keluar dari hall.

__ADS_1


__ADS_2