Suka Sayang Cinta

Suka Sayang Cinta
BAB 35


__ADS_3

Lima belas menit sebelum jam sembilan tepat, Kak Arthur dan Kak Jeff mengajak kita semua anggota BEM untuk berkumpul dan berdoa bersama terlebih dahulu.


Setelah itu, kita langsung diperintahkan oleh mereka untuk bersiap-siap di tempat tugas kita masing-masing.


Aku langsung menuju ke tempat aku bertugas. Di sini, aku benar-benar menjaga sendiri dan meja tinta ini berada di pojok dari ruangan ini sebelum pintu keluar.


Jam sembilan tepat, acara langsung dibuka dan para dosen juga karyawan beberapa sudah ada yang siap untuk mengikuti pemilu ini.


Setelah terlibat di acara pembuka, kini Kak Arthur dan Kak Jeff terlihat berkeliling mengecek kerja kita para anggota BEM.


“Claire, kamu jaga sendiri?” Tanya Kak Arthur saat sampai di tempatku.


“Hehehehe iyaa Kak,” balasku.


“Si Daisy ya yang nempatin kamu di sini sendirian?” Tanya Kak Arthur yang raut wajahnya langsung berubah.


“Hmm … iyaa Kak. Tapi Kakak gak perlu khawatir deh, di sini emang bisa kok aku jaga sendiri gini. Cuma kasih tinta aja kok Kak.” Kataku dengan tersenyum karena tidak mau Kak Arthur marah-marah lagi.


“Tapi kalau kamu ada keperluan apa bentar gitu, misal ke toilet siapa yang gantiin? Gak ada, kan?” Kata Kak Arthur yang benar juga menurutku.


“Jujur deh sama aku sekarang, sebenarnya kamu sama Daisy ada apa sih? Gak mungkin Claire tiba-tiba dia kayak gitu ke kamu kalau gak ada apa-apa di antara kalian berdua.” Ucap Kak Arthur yang membuatku bingung apakah memang aku seharusnya mengatakan yang sejujurnya pada dia.


“Eheemm … lagi ngebahas apa nih? Kok kayaknya seru?” Celetuk Kak Jeff saat tiba-tiba datang.


“Hehehehe, ehh … Kak Arthur cuma nanyain aku sudah paham sama tugas aku gak Kak.” Kataku langsung menjawab Kak Jeff.


“Kamu gak ada teman yang bantu?” Tanya Kak Jeff padaku.


“Hehehehe, gak ada Kak,” jawabku.


“Thurr, lu tadi ada di cari anak acara waktu gue ke tempat mereka.” Kata Kak Jeff pada Kak Arthur yang kemudian Kak Arthur langsung melangkah pergi meninggalkan tempatku.


“Sekarang kelihatannya akrab ya kamu sama Arthur.” Celetuk Kak Jeff tiba-tiba yang membuat aku yang mendengarkannya cukup terkejut.


“Ehh … biasa aja sih Kak,” balasku.

__ADS_1


“Sejak kapan jadi dekat gitu?” Tanyanya kembali seperti tidak mendengarkan jawabanku.


“Gak tahu, aku merasa gak dekat kok.” Kataku yang menjadi malas menanggapi Kak Jeff seketika.


“Sama Daisy kenapa?” tanyanya.


“Gak kenapa-kenapa,” jawabku singkat.


“Yang bener. Aku dah berkali-kali nih nanyain kayak gini, tapi kamu selalu bilang gapapa.” Kata Kak Jeff dengan datar yang membuatku semakin kesal mendengarkannya karena aku tidak mau bila Kak Jeff tahu sebenarnya tentang aku dan Kak Daisy.


“Terserah Kakak,” kataku.


“Kenapa jadi marah sama aku?” tanyanya.


“Gak tahu, Kakak buat aku badmood aja. Nanyanya maksa melulu dari yang tadi nanyain Kak Arthur sekarang Kak Daisy lagi.” Kataku jujur karena aku memang kesal dengan dia yang mendesak aku seperti ini.


Tanpa melihat ke arahnya, aku mendengar Kak Jeff membuang napas dengan kencang sepertinya untuk menenangkan dirinya.


“Sorry kalau aku buat kamu badmood. Aku cuma gak suka kalau kamu tutup-tutupin sesuatu dari aku, terutama kalau ada kaitannya sama Daisy.” Kata Kak Jeff meminta maaf padaku sambil mengulurkan tangannya.


“Jeff, buruan lu sini bentar deh.” Kata Kak Arthur tiba-tiba memanggil Kak Jeff.


“Aku tinggal dulu, kalau perlu bantuan buat gantiin panggil aku aja gapapa.” Kata Kak Jeff sebelum meninggalkan aku.


Dari yang aku rasakan, kak Jeff memang selalu perhatian dengan aku. Tetapi aku menjadi takut kalau kak Jeff mulai curiga dengan aku dan kak Daisy.


Oleh karena itu, bila kak Jeff membahas-bahas kak Daisy aku sangat tidak suka karena aku terkadang menjadi kebingungan harus bagaimana menanggapinya.


...--------...


Tak terasa, kini dua jam sudah terlewati dan sekarang waktunya mahasiswa yang melakukan pemilu ini.


Sebelum seluruh mahasiswa melakukan pemilu, kita para panitia diberi waktu sekitar lima belas menit untuk melakukan proses pemilu terlebih dahulu.


Setelah aku mendapatkan kertas suara, aku langsung menuju ke bilik dan langsung memilih di kotak bagian Kak Jeff. Setelah selesai aku pilih langsung aku masukkan pada kotak suara sudah disediakan.

__ADS_1


Selama satu jam ke depan ini yaitu sampai sebelum ishoma, waktunya mahasiswa koas terlebih dahulu yang melakukan pemilu.


Suasananya kali ini terasa lebih ramai dibandingkan tadi saat masih sesi para dosen dan karyawan. Kini aku juga lebih bisa mengetahui banyak kakak koas yang selama ini aku sama sekali banyak tidak tahu.


“Halo, anak semester berapa nih?” Tiba-tiba tanya seorang cowok yang ada di depanku saat aku sudah memberikan tinta pada jari kelingkingnya.


“Semester 3 Kak,” jawabku.


“Nama lu siapa?” tanyanya kembali.


“Woi, lu ngawurr dah. Ketakutan tuh dia lihat lu.” Kata teman cowok tersebut yang ada di belakangnya.


“Ehh … Claire Kak,” jawabku.


“Ohhh, lu Claire yang katanya deket sama Jeff itu ya?” Tanya cowok tersebut yang kali ini tampak terkejut.


Aku hanya bisa diam karena tidak tahu mau menjawab apa. Satu hal yang ada dipikiranku, ternyata benar beberapa kating menjadi tahu dengan namaku pasti itu karena kak Daisy.


“Ehh … lu gak usah takut ama gue. Gue cuma mau kenalan kok. Nama gue Geraldo, biasanya gue dipanggil Aldo.” Katanya dengan tersenyum dan mengulurkan tangannya padaku mengajak berkenalan.


“Ohhh … Ehh … iyaa Kak. Eh … salam kenal.” Kataku dengan canggung membalas uluran tangannya.


“Lu ngapain? Nih tempatnya buat celup tinta doang, bukan buat godain adik tingkat.” Kata Kak Jeff yang kali ini tiba-tiba datang bersama dengan Kak Theo di belakangnya.


“Hahaha iyaa, santai Jeff. Gue cuma mau kenalan doang kok. Bukan ngegodain kayak yang lu pikir,” kata Kak Aldo.


“Dah lu minggir sana. Kan dah selesai urusan lu.” Kata Kak Theo mengusir Kak Aldo bersama dengan temannya.


“Jangan mau kalau diajak kayak gitu lagi terutama sama kating-kating cowok. Teman angkatanku banyak yang buaya.” Kata Kak Jeff yang belum sempat aku jawab kemudian meninggalkanku bersama dengan Kak Theo yang hanya tersenyum padaku.


Aku hanya membalas senyuman Kak Theo padaku dan menatap ke punggung Kak Jeff yang berjalan menjauh dariku. Lagi-lagi, dia membantuku batinku.


“Widihh lu pakek pelet apaan sih? Bagi ama gue dong, gue mau.” Kata Kak Daisy yang tiba-tiba mendatangiku.


“Oh ya btw, bagus tadi lu bisa ngeles kayak gitu ke Jeff. Awas ya lu, jangan sampe lu berani kasih tahu ke Jeff tentang apa aja yang gue lakuin ke lu. Inget selalu itu lu!” Lanjutnya dengan nada mengancamnya.

__ADS_1


Aku hanya bisa menganggukkan kepala karena malas menanggapinya. Setelah mengatakan seperti itu, Kak Daisy meninggalkanku pergi dengan muka songongnya.


__ADS_2