Suka Sayang Cinta

Suka Sayang Cinta
BAB 32


__ADS_3

“Kakk … jangan jauh-jauh perginya.” Pintaku pada Kak Jeff.


“Baru juga jalan Claire. Ya dah mau ke mana deh, kamu yang pilih.” Kata Kak Jeff dibalik helm fullfacenya.


“Di minimarket depan itu aja kita berhenti,” jawabku.


Kini Kak Jeff langsung berhenti di minimarket yang aku minta dan aku langsung turun dari boncengan Kak Jeff.


“Sebenarnya Kakak mau ngapain?” Tanyaku masih bingung dengan maksud Kak Jeff.


“Sabar dong. Takut banget aku ajak keluar.” Ujarnya sambil memarkirkan motornya.


Setelah memarkirkan motornya, Kak Jeff menggandeng tanganku dan mengajakku untuk duduk di tempat duduk yang ada di minimarket tersebut.


“Thank you.” Ucapnya setelah kita duduk berhadapan di salah satu meja yang ada di depan minimarket tersebut.


“Buat apa Kak?” tanyaku.


“Supportmu buat aku.” Katanya kemudian menundukkan kepalanya.


Raut wajah Kak Jeff seketika aku merasa berubah menjadi sedih tidak seperti sebelumnya yang terlihat biasa saja.


“Eh iyaa Kak, sama-sama.” Balasku karena bingung merasa suasana di antara kita berdua seketika menjadi canggung.


“Maaf ya Kak kalau tadi kata-kataku ada yang salah.” Kataku mengingat aku sempat terpikirkan apakah kata-kataku tadi sebenarnya berguna untuk Kak Jeff.


“Ngapain minta maaf. Tahu gak, aku baru ngerasa kamu seseorang yang bisa benar-benar dukung aku dan buat aku ngerasa dianggap Claire.” Kata Kak Jeff yang membuat aku sangat terkejut karena dari matanya terlihat berkaca-kaca saat mengucapkan hal tersebut.


“Kamu tadi bilang aku hebat dan gak akan ada orang yang kecewa sama aku. Asal kamu tahu Claire, itu untuk pertama kalinya aku dengar aku bisa buat orang lain gak kecewa sama aku. Bahkan orang terdekatku di keluarga, bokap, selalu bilang aku tuh mengecewakan dia. Dia gak pernah bilang kalau bangga sama aku.” Kata Kak Jeff dengan bulir air matanya yang tiba-tiba jatuh beberapa tetes kemudian langsung dia hapus dengan tangannya.


“Kakk …” Kataku sambil memberikan tissue padanya.


“Hahaha sorry tiba-tiba aku jadi gini. Tapi tadi pas kamu bilang kayak gitu, itu bener-bener ngena banget di sini.” Kata Kak Jeff sambil memegang dadanya.


“Aku senang ada yang support aku kayak gitu. Makanya aku kayak bisa langsung lumayan pede. Pertama kalinya aku ngerasa kayak gitu.” Katanya dengan tatapan kosong ke depan dan sekilas tersenyum tipis.


Dari tatapan matanya, aku merasa sepertinya Kak Jeff menyimpan pilu ataupun masalah yang dia pendam sendiri. Aku baru pertama kalinya melihat kondisi Kak Jeff yang lemah seperti ini. Biasanya dia selalu terlihat kuat dan pemberani.


Tetapi ada satu hal yang kini terlintas di pikiranku saat sesi tanya jawab tadi.


“Kak, aku boleh tanya sesuatu gak?” Kataku dengan berhati-hati setelah suasana di antara kita diselubungi dengan kebisuan satu sama lain.

__ADS_1


“Tanya aja gapapa.” Balas Kak Jefff sambil menatap ke arahku.


“Kenapa waktu Kakak ditanya tentang apa dorongan terbesar Kakak untuk mengajukan diri menjadi calon ketua BEM, Kakak terlihat panik gugup gitu Kak?” Tanyaku akhirnya memberanikan diri.


“Fiuhhhh … kalau itu aku gak bisa jawab buat sekarang.” Katanya dengan tersenyum tipis.


“Sebenarnya alasannya bukan seperti yang tadi aku katakan. Tapi kalau untuk dukungan dari orang sekitar ehh… hmm… itu maksudku kamu.” Kata Kakk Jeff dengan wajahnya kini sedikit memerah.


Mendengar hal tersebut seketika juga membuat wajahku terasa memanas karena aku sama sekali tidak menyangka maksud dari jawaban Kak Jeff yang terakhir itu adalah aku.


“Oh ya, thank you juga tapi dah bantu aku akhirnya bisa jawab itu tadi. Hahaha kamu sengaja ‘kan buat aku untuk natap kamu biar aku gak lihat ke arah audience.” Celetuk Kak Jeff yang aku balas dengan anggukan kecil dan senyum.


“Hmm … kenapa kamu mau ngelakuin semua ini untuk aku?” Tanya Kak Jeff tiba-tiba yang membuatku kini salah tingkah sendiri.


“Ehh …” gumamku kebingungan.


“Drettt … Drettt …” ponsel yang ada di tanganku tiba-tiba bergetar dan saat aku lihat ternyata mama meneleponku kembali.


“Angkat dulu aja gapapa.” Ucap Kak Jeff yang tahu kalau mamaku yang menelepon.


Aku langsung mengangkat telepon mama.


“Kata dokter, kemungkinan muka dia juga ada yang perlu dijahit Claireee. Tapi untuk operasi mukanya, itu perlu tambahan biaya yang lebih lagi Claire. Mama bingung harus bagaimana.” Kata mamaku dengan terisak-isak.


Aku akhirnya menawarkan mamaku bantuan untuk aku kembali ke Blitar membantu mengurus Raymond, tetapi ternyata mamaku menolaknya. Mamaku tetap mengatakan kalau mamaku tetap bisa mengurusnya bersama dengan papaku nantinya.


Aku merasakan mama kini sedang sedih sekali melihat kondisi Raymond yang terbaring di rumah sakit. Aku juga sedih memikirkan bagaimana keadaan Raymond karena terdengar cukup parah kali ini.


Setelah memberi kabar, mama menutup telepon karena ada dokter yang melakukan kunjungan untuk memeriksa Raymond kembali.


“Claire, kalau perlu bantuan kasih tahu aku. Pasti aku bantu.” Kata Kak Jeff setelah aku selesai telepon dengan mamaku yang sepertinya dia mendengarkan percakapanku dengan mamaku.


“Kak, aku mau pulang aja.” Kataku karena tiba-tiba merasa pening sekali kepalaku.


“Okee. Yuk, cabut,” balasnya.


Sepanjang perjalanan pulang, aku terus memikirkan bagaimana keadaan Raymond. Aku takut kondisi Raymond memburuk. Aku tidak sanggup bila melihat mamaku sedih terus menerus seperti itu.


Di sisi lain, aku juga memikirkan tentang biaya yang sempat mamaku tadi katakan untuk operasi wajah Raymond. Mama memang tidak meminta bantuan mencari uangnya padaku tetapi bila harus memikirkan mama dan papaku harus mencari uang lebih sementara untuk semua operasi Raymond aku menjadi sedih sekali.


...--------...

__ADS_1


“Makasih Kak.” Kataku ketika aku sudah sampai di depan kosku kembali.


“Makasih juga buat semuanya Claire. Kalau nanti perlu bantuan, terutama tentang adikmu kasih tahu aku aja gapapa.” Kata Kak Jeff kembali menawarkan bantuan padaku.


Aku hanya membalasnya dengan anggukan dan senyuman kecil kemudian aku langsung masuk ke kos karena aku terpikirkan suatu rencana yang harus segera aku lakukan.


Sesampainya di kamar, aku langsung menelepon Jacob. Maksudku menelepon Jacob untuk meminta dia segera bertemu denganku di hari Minggu besok tidak perlu hari Senin.


“Hmm … kalau aku boleh tahu, kenapa Claire tiba-tiba kamu seperti terburu-buru seperti ini?” Tanya Jacob di seberang sana.


“Ada keperluan yang mendesak,” jawabku singkat.


“Kenapa Claire? Siapa tahu aku bisa bantu kamu,” katanya.


“Hmm … besok aja waktu kita ketemu, aku ceritain,” balasku.


“Okee deh. Nanti aku jemput ya.” Kata Jacob padaku sebelum mengakhiri teleponku.


...--------...


Jefferson:


Sepulang dari mengantarkan dia kembali ke kosnya, aku langsung rebahan di kasurku. Tanpa aku sadari dengan mataku yang terpejam, aku tersenyum sendiri setiap mengingat perkataan dia tadi sebelum aku mulai kampanye.


“Kakak orang hebat Kak, gak akan ada orang yang kecewa sama Kakak.”


“Gue beneran suka sama lu Claire. Gue butuh orang kayak lu di hidup gue.” Batinku dengan tersenyum merasa senang sendiri menemukan seseorang yang seperti ini.


***


Flashback:


“Jeffer, papa bener-bener kecewa sama kamu. Kamu itu mau kampanye osis tapi yang kamu sampein itu hal konyol yang buka selayaknya seorang pemimpin katakan! Siapa yang mau punya pemimpin kayak kamu?” Tegur keras papa saat aku pulang ke rumah.


“Papa paham kamu masih SMP, tapi papa sudah berapa hari ajarin kamu ini itu. Tapi, apa hasilnya? Hasilmu selalu kecewain papa, buat malu papa. Sampai kapan tiap papa ajarin kamu buat jadi orang hebat tapi kamu selalu seperti itu.”


“Lihat aja besok. Kamu pasti kalah! Kapan kamu bisa menjadi seorang pemimpin di dunia sekolahmu kayak papa? Papa dulu bisa, bahkan alumni yang membanggakan masak kamu gak bisa nerusin jejak papa itu?”


Itu titik awal kepercayaan diriku mulai menurun dan merasa sakit hati dengan perkataan papa. Dan itu awal dari kekecewaan papa denganku hingga detik ini papa belum pernah puas dengan apa yang aku lakukan.


***

__ADS_1


__ADS_2